Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rencana Devan Kembali Ke kota D


__ADS_3

Seorang wanita berkulit putih dan berparas sangat cantik sedang duduk disana, bermain dengan seorang anak laki - laki yang berumur kurang dari 2 tahun.


"Sayang, Devan akan ikut makan malam bersama kita," ujar David pada wanita itu, Rena, Istrinya.


"Apa kabar, Pak Devan?" tanya Rena sambil menyalaminya.


"Baik Bu, maaf saya jadi menganggu makan malam Ibu dan juga Bapak," ujar Devan.


"Ah, tidak Pak Devan. Silahkan duduk," ujar Rena dengan ramah.


Jefri pun segera menyajikan makan malam mereka.


"Nisa, tolong jaga Brayen sebentar," ujar Rena pada Nisa, baby sitter Brayen, yang segera meraih Brayen.


Devan memperhatikan pasangan yang terkenal serasi itu. Memang benar yang di katakan orang bahwa mereka berdua membuat iri orang - orang yang melihat mereka.


Walaupun mereka sangat kaya, tetapi Rena tidak segan - segan melayani kebutuhan suaminya, dan mereka pun tampak harmonis di mata Devan.


Kabarnya David dan istrinya telah saling kenal sejak mereka kecil, namun karena suatu keadaan, mereka tidak pernah berjumpa hingga beberapa tahun yang lalu saat mereka berdua telah dewasa.


Devan pun teringat Kanaya. Seandainya, nasib membawa mereka bersama. ia ingin seperti David dan juga Rena yang di lihatnya sangat romantis saat itu.


Akan tetapi Devan sadar hal itu tidak mungkin terjadi karena Kanaya telah menikah dengan Elvano. Dan kabar terakhir yang di dengarnya, mereka berdua sangat bahagia.


Tanpa di sadarinya, ia menghela napas sangat dalam hingga terdengar oleh David dan juga Rena.


"Ada apa, Devan?" tanya David sambil memandangnya.


"Ah, tidak Pak?" ujar Devan.


David dan Rena tersenyum, namun terlihat mereka tidak percaya dengan apa yang di ucapkannya.


"Melihat Bapak dan Ibu, saya jadi teringat sahabat saya." ujar Devan akhirnya.


"Oh, apakah wajah kami mirip dengan sahabat Pak Devan?" tanya Rena ingin tahu.


"Tidak Bu, bukan wajah yang mirip, tapi....." ujar Devan tertahan.


Rena dan David diam dan menunggu kelajutan kata - kata Devan.


"Tapi, bagaimana kita berinteraksi dulu," ujar Devan akhirnya sambil memaksakan sebuah senyum.


Rena dan David saling pandang.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu mengingatkan saya bagaimana kami biasa memperlakukan satu sama lain," ujar Devan.


"Pasti dia sangat istimewa," ujar David sambil menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.


"Dia memang istimewa," ujar Devan sambil tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.


David dan Rena tidak bertanya lagi. Seperti mereka merasakan kesedihan Devan saat membicarakannya.


Selesai makan David mengajak Devan keruang kerjanya di lantai dua.


David duduk di meja kerjanya dan Devan duduk di depannya.


"Devan, bukannya kamu berasal dari kota D?" tanya David.


"Iya Pak. Saya dulu memang tinggal di kota D," jawab Devan.


"Kalau boleh tahu, ada apa ya Pak?" tanya Devan ingin tahu kenapa David menanyakan kota kelahirannya.


"Saya berencana memulai usaha di kota D dan saya minta bantuanmu untuk mengurus masalah legal di sana," ujar David sambil menaruh kedua sikunya di meja.


"Kira - kira untuk kapan Pak?" tanya Devan tiba - tiba ia merasa antusias untuk kembali ke kota itu.


"Kalau tidak ada perubahan, minggu depan aku minta kamu temani Alvian disana. Alvian akan mengurus masalah yang lainnya dan untuk masalah yang legal akan aku serahkan padamu," ujar David.


"Saya rasa saya bisa Pak." ujar Devan setelah berpikir sesaat mengenai jadwal kasus yang sedang ia tangani langsung di kota B.


Devan pun membalas senyuman David.


"Jadi, kamu masih ada keluarga yang tinggal disana?" tanya David.


"Kalau keluarga tidak ada. Tetapi saya masih punya beberapa teman yang saya kenal di sana," ujar Devan sambil tersenyum.


"Baiklah, saya rasa kamu akan menikmati waktumu di sana. Segala akomodasi dan transportasi nanti biar Alvian yang urus, tinggal katakan saja kalau kamu menginginkan sesuatu," ujar David.


"Baik Pak, kalau tidak ada lagi, saya pamit," ujar Devan sambil melihat jam tangannya.


"Tentu Devan, terima kasih sudah datang," ujar David sambil menyalami Devan.


"Dalam perjalanan pulang Devan tersenyum, sudah lama ia tidak alasan untuk kembali ke kota D, dan sekarang David memberinya itu. Ia berpikir mungkin,bisa mengunjungi Bagas dan juga Kanaya? Bolehkah Kanaya bertemu dengannya? Terakhir kali ia bertemu Kanaya, Elvano sangat cemburu dan melarang mereka untuk bertemu.


***


"Desi, Kanaya Mana?" tanya Luna langsung masuk saat Desi membukakan pintu rumah.

__ADS_1


"Nyonya Kanaya ada di atas, Nyonya Luna," ujar Desi namun, ia tidak berani mengatakan Kanaya sedang berada di kamarnya.


"Apa dia baik - baik saja? Aku dengar dia sakit," ujar Luna sambil berjalan ke lantai dua dan di ikuti oleh Desi.


Desi tidak menjawab, ia benar - benar tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Nyonya besar.


"Kanaya? Kamu di dalam?" tanya Luna. Sambil mengetuk pintu kamar Elvano.


"Nyonya Luna, Nyonya Kanaya tidak ada di sana?" ujar Desi ragu - ragu.


"Dimana dia? Elvano mana?" tanya Luna bingung. Bukankah Desi bilang Kanaya sedang ada di kamar?


"Tuan Elvano sedang di rumah sakit, menemani Non Maya. Sedangkan Nyonya Maya....." ujar Desi ragu - ragu.


"Kanaya ada dimana Desi! Jangan membuat saya bingung! Katamu Kanaya ada di kamar, dan sekarang kamu bilang Kanaya tidak ada disini!" Ujar Luna kesal karena Desi berbicara berputar - putar.


"Maaf Nyonya, Nyonya Kanaya ada di sana," ujar Desi sambil menunjuk kamar tidur tamu


beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Luna mengerutkan keningnya. Namun, ia berjalan juga ke arah pintu kamar yang di tunjuk Desi.


Desi pun membuka pintu kamar itu, dan Luna masuk ke dalam.


"Kanaya?" panggilnya heran saat melihat Kanaya duduk di atas ranjang sambil memegang Hand Phonenya. Sementara lehernya di gips.


Kanaya menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat kedatangan Luna di kamarnya.


"Kanaya apa kamu baik - baik saja? Kenapa lehermu?" tanya Luna sangat khawatir.


"Aku tidak apa - apa, Mah." ujar Kanaya pelan dengan suara serak.


Dokter Adam tidak memperbolehkan Kanaya untuk banyak bicara ataupun bergerak agar pita suaranya kembali normal.


"Aku...Kemarin terjatuh," ujar Kanaya dengan susah payah.


"Maaf Nyonya Luna, Nyonya Kanaya tidak boleh banyak bicara ataupun banyak bergerak," ujar Desi memberitahu Luna.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Desi?" tanya Luna sambil memperhatikan wajah Kanaya.


* Yeahhhh... Akhirnya Devan bakalan balik nih, ke Kota D. Gimana yah reaksi Devan saat tahu Keaadaan Kanaya yang sebenarnya?


Akankah perlakuan jahat Elvano kepada Kanaya akan terbongkar? *

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka, Ya~~


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.


__ADS_2