Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Devan


__ADS_3

**Hai... Hai para readerku hari ini author udah Up 3 bab sekaligus yah, jadi jangan pelit dong kasih tombol likenya😭 Jangan lupa kasih juga sajen votenya ya😁 hadiah bunga mawarnya author tunggu nih hehe... Yuk, kalau bisa sampai tembus minimal 50 like author udah seneng banget kok, tapi author nggak maksa kalian sih, hehehe. Besok author kasih hadiah crazy Up 5 bab sekaligus kalau bisa tembus 50 like ya. Gimana - gimana pasti senengkan?


Happy Reading....🤗**


"Pak Devan terima kasih banyak!" Ucap Austin sambil ia menjabat tangan dan memberikan pelukan hangat tanda terima kasih atas pembelaan yang di lakukan oleh Devan atas kasus perusahaannya.


Senyum terukir di bibir mereka karena telah berhasil memenangkan kasus melawan Randy Sanjaya.


"Sama - sama Pak Austin, semua ini berkat kerja sama tim dan bukti - bukti yang kita miliki," ujar Devan merendah. Ia tidak merasa kemenangan mereka atas kasus itu adalah usahanya seorang sendiri, karena ia pun bekerja sama bersama dari Firma Hukumnya.


"Tim yang hebat. Karena pemimpin yang hebat, sekali lagi terima kasih banyak," ujar Austin dengan tulus. Devan tersenyum dan mengangguk, menerima pujian rendah hati itu.


"Pak Devan, saya tahu Bapak akan menyusul keluarga Bapak sore ini, saya sudah siapkan pesawat di air port untuk Bapak berangkat. Nanti, biar Bastian yang mengantar Bapak," ujar Austin sambil menepuk pundak Devan.


"Pak...."


"Tolong jangan di tolak. Karena hanya itu yang bisa saya lakukan," ujar Austin, kemudian menoleh pada Bastian dan berkata sebelum ia beranjak pergi, "Bastian tolong antar Pak Devan dan jaga dia baik - baik."


"Baik Pak." jawab Bastian dan Austin pun pergi dengan pengawalan yang ketat dari anak buah Bastian.


"Kita pulang, Pak?" tanya Beni membuyarkan lamunannya.


"Ya, aku juga akan segera pergi Beni," ujar Devan sambil tersenyum pada asisten sekaligus temannya itu.


Bastian, Devan, dan Beni segera berjalan menuju ke bagian depan gedung pengadilan, dimana Budi, supir Devan telah menunggunya.


Mereka masuk ke dalam mobil. Dalam beberapa detik mobil Devan pun segera melaju.


Bastian seperti biasa tetap waspada,meskipun ia tahu kasusnya telah selesai, tetapi ia masih punya satu tugas untuk mengantarkan Devan ke air port dengan selamat.


"Beni nanti kamu atur urusan di Firma selama saya pergi," ujar Devan.


"Baik Pak." jawab Beni seperti biasa.


"Meskipun kasus sudah selesai, mengenai hal itu, aku minta padamu tetap simpan baik - baik Beni, dan lakukan seperti yang aku minta," ujar Devan sambil menatap penuh arti pada Beni.


"Kamu simpan saja Beni, seandainya terjadi sesuatu..."


"AWAS!" Teriak Bastian tiba - tiba dengan suara yang sangat kencang sambil melihat ke arah jendela pengemudi.


BRUK! BUM! BUM! BUM!


__ADS_1


Ilustrasi gambar. Anggap aja seperti itu oke, hehehe...


Bunyi tabrakan keras menggelar di jalanan itu di ikuti oleh suara teriakan histeris yang membuat siapapun menoleh ke arahnya dan menatap dengan horor.


Sebuah truk tronton besar menabrak mobil yang di tumpangi oleh Devan, sehingga mobil itu terbalik beberapa kali di jalanan itu dan berhenti ketika menabrak pembatas jalan!


**********


"Aaaaaahh!" Pekik Kanaya ketika jarinya tidak sengaja teriris pisau saat ia sedang memotong buah apel.


"Kenapa Ay?" tanya Elvano sambil berjalan mendekat.


"Nggak pa - pa," jawab Kanaya. Namun, tiba - tiba ia merasa gelisah.


Melihat darah mengalir dari telunjuk jari Kanaya, Elvano segera meraih tangan Kanaya dan mengguyur air ke luka itu di wastafel di dekat mereka.


"Hati - hati, Ay." ujar Elvano, sambil mematikan keran air dan segera mengambil tisu untuk mengeringkan tangan dan jari Kanaya secara perlahan. Kemudian ia pergi ke kotak obat yang tak jauh dari kitchen cabinet, dan mengambil sebuah perban berperekat dan antiseptik.


"Aku nggak pa - pa, Kak El. Ini cum luka kecil," ujar Kanaya saat Elvano merawat lukanya.


"Nah, sudah nggak pa - pa sekarang," ujar Elvano sambil tersenyum dan melirik ke arah Kanaya.


"Terima kasih," ujar Kanaya, sambil mengambil kembali apel yang tengah di irisnya tadi.


Elvano segera mengangkat panggilan telepon itu, saat mengetahui Rakalah yang meneleponnya


"Ya Raka?" sapa langsung Elvano.


"Elvano, apa kamu ada di dekat Kanaya?" tanya Raka.


"Ya, ada apa?" tanya Elvano santai, sambil melirik ke arah Kanaya.


"Pergilah menjauh darinya, ada sesuatu yang ingin ku beritahu padamu," ujar Raka.


Elvano mengerutkan keningnya, merasa heran, namun di ikutinya ucapan Raka.


Ia pun keluar dari cottage dan berdiri di teras cottage itu.


"Ada apa, Raka?" tanya Elvano dengan was - was. Tiba - tiba perasaannya menjadi tidak enak.


"Elvano, maaf aku harus menyampaikan ini. Devan baru saja mengalami kecelakaan,"ujar Raka perlahan.


Ucapan Raka, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

__ADS_1


"A.... apa? apa maksudmu Raka?" tanya Elvano dengan terkejut. Ia masih tidak percaya dengan apa yang sedang di dengarnya.


"Devan kecelakaan Elvano. Dan aku pikir sebaiknya kalian segera kembali," ujar Raka lagi.


Elvano terperangah, menyadari bahwa Raka sedang tidak bergurau. Devan kecelakaan?


"Bagaimana kondisinya? Apakah dia baik - baik saja?" tanya Elvano berharap Devan akan baik - baik saja.


"Aku belum tahu bagaimana kondisinya. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit," ujar Raka.


"Bagaimana kejadiannya?" tanya Elvano.


"Aku pun belum tahu pasti. Tetapi dari yang aku dengar...." Raka menceritakan kepada Elvano apa yang ia ketahui.


Setelah menutup panggilan telepon dari Raka, Elvano berdiri dan berpegangan pada pagar kayu di teras itu. Ia merasa sangat sedih dan khawatir. Ia tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi pada Devan.


Apa yang harus aku katakan pada Kanaya? Namun bagaimana pun ia harus bisa berada di samping Kanaya dan menguatkannya.


Elvano menelepon Arfan, asistennya untuk menyiapkan pesawat jet pribadinya petang itu juga. Setelah itu ia masuk ke dalam cottage dan melihat Alvaro dan Clara yang sedang bermain di ruang tamu cottage itu. Dalam hati Elvano berharap, Devan tidak apa - apa. Anak - anak itu masih membutuhkannya.


"Kak Elvano, apa Devan telepon? Apa dia jadi kesini? Aku mencoba menghubunginya tapi teleponnya tidak aktif " tanya Kanaya dengan ekspresi wajah khawatir. Elvano tahu, Kanaya telah menunggu Devan pulang.


"Ay, Devan... nggak jadi kesini, dia... masih ada pekerjaan," jawab Elvano berbohong.


"Oh?" terlihat ekspresi kecewa di wajah Kanaya.


"Aku... mendadak ada meeting di kota B, dan aku pikir sebaiknya kita segera pulang ke kota B," tambah Elvano.


"Oke, kapan rencananya kita pulang, Kak El?" tanya Kanaya setelah berpikir sesaat. Ia berpikir jika Devan memang tidak bisa pergi ke kota L, sebaiknya ia dan anak - anak ikut pulang bersama Elvano. Lagi pula, anak - anak juga masih harus sekolah.


"Sekarang Ay," ujar Elvano berusaha untuk mencoba berbicara senormal mungkin.


Ia tidak mungkin memberitahu Kanaya, apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Karena lokasi mereka masih terlalu jauh dari kota B, bagaimana kalau nanti Kanaya histeris? Bukankah akan membuat segala sesuatunya semakin kacau? Dan bagaimana dengan Alvaro dan Clara? Karena itulah ia berbohong pada Kanaya. Elvano memilih akan memberitahukannya saat mereka sudah sampai di kota B.


"Sekarang? Kamu serius, Kak El?" tanya Kanaya dengan terkejut.


"Ya, aku harap kamu tidak keberatan. Biar aku bantu packing?" ujar Elvano, sambil menuju kamar Kanaya dan anak - anak.


"Tunggu Kak El, ada apa sebenarnya?" tanya Kanaya sambil memegang lengan tangan Elvano, menghentikannya dari apa yang tengah di lakukannya.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2