
Mengandung Adegan 21 + harap bijak.
Secara reflek Kanaya melingkarkan tangannya pada leher Devan dan melilitkan kakinya di pinggang Devan, untuk mencegahnya terjatuh.
Kanaya berfikir Devan akan membaringkannya di ranjang, namun tidak.
Devan malah duduk di tepi ranjang dan malah mendudukan Kanaya di pangkuannya menghadap Devan dengan kedua kakinya di samping tubuh Devan. Posisi seperti itu membuat Kanaya semakin menginginkan Devan. Pandangan mereka bertemu dan menyadari gelora yang membuncah dalam diri mereka. Dalam beberapa detik saja bibir mereka sudah bertautan bagaikan magnet yang saling tarik menarik.
Tangan Devan mendekap erat tubuh Kanaya dan Kanaya pun mempererat rangkulannya di leher Devan.
Kanaya bahkan dapat merasakan sesuatu yang keras dari bawah tubuh Devan, saat ia tak sengaja menggeser duduknya di pangkuan Devan dan menyentuhnya. Dan apa yang dirasakan Kanaya melepaskan ******* di bibirnya. Mendengar hal itu, Devan pun semakin menggelora dan ia pun semakin berani. Tangan Devan hendak melepaskan tali bathrobe yang di kenakan oleh Kanaya, saat tiba - tiba Kanaya menahannya.
"Devan!" Ucap Kanaya tiba - tiba. Membuat mereka berdua saling berhenti bergerak. Entah kenapa Kanaya selalu mengingat luka - luka yang berada di punggungnya itu, dan ia merasa malu. Bagaimana jika Devan melihatnya? Apa yang akan Devan rasakan? Apa ia akan merasa jijik? pikiran horor menghantuinya dan ia merasa rendah diri dan merasa tidak pantas.
"Ay?" tanya Devan sambil memandang kedua mata Kanaya, mempertanyakan kenapa Kanaya menahannya. Apa Kanaya tidak menginginkannya?
"Devan Aku.... aku tidak sempurna..." ujar Kanaya sambil menatap Devan. Bagaimana pun ia harusa memberitahu Devan apa yang sedang di rasakannya.
Seketika itu Devan paham apa yang di maksud Kanaya. Yang Kanaya tidak tahu bahwa Devan pernah melihat luka - luka di tubuh Kanaya sebelumnya dan Devan tidak pernah mempermasalahkannya.
"Aku tidak menginginkan kesempurnaan Kanaya, aku hanya ingin menginginkanmu," ucap Devan sambil menatap mata Kanaya dengan penuh ketetapan hati. Ia ingin Kanaya tahu bahwa dimatanya, ia sempurna dengan segala ketidak sempurnaannya.
Sebaris kalimat yang akan di kenang Kanaya sumur hidupnya, hingga dia tidak lagi protes saat Devan mengagakat tubuhnya dan membaringkannya di ranjang dan perlahan tapi pasti tangan Devan melepas tali bathrobe yang di kenakannya, menanggalkan penutup tubuhnya yang terkahir. Dan Kanaya membiarkannya. Membiarkan Devan menatap tubuhnya, menikmatinya karena mulai hari itu dirinya hanya milik Devan.
Kanaya menelan ludahnya dan menyentuh dada bidang Devan saat Devan merendahkan tubuhnya dan melayang di atas tubuh Kanaya dengan kedua lengannya menyangga tubuhnya di samping tubuh Kanaya.
"Kamu milikku dan aku milikkmu," ucap Devan di hadapan Kanaya sambil menatap kedua manik mata Kanaya.
"Aku milikmu dan kamu milikku," balas Kanaya, dan setelah itu tidak ada jalan bagi mereka berdua.
__ADS_1
Dan saat penyatuan itu terjadi, mereka bergerak secara harmonis seakan - akan tubuh mereka tahu, apa yang harus di lakukan untuk memuaskan satu sama lain karena hati dan perasaan mereka telah menyatu.
Saat itu adalah kali pertama bagi Devan dan Kanaya bercinta, dan hal itu terjadi begitu indah, bukan hanya nafsu atau gelora yang menggebu - gebu karena ketertarikan fisik semata, tetapi lebih dari itu hati mereka telah menyatu.
Devan menjatuhkan tubunya di atas tubuh Kanaya saat ia baru merasakan pelepasan untuk pertama kalinya di tubuh seorang wanita. Kanaya, Istrinya.
Ia pun merasakan pelepasan Kanaya sesaat sebelum ia mendapatkan miliknya. Dan Devan lega bisa membuat Kanaya merasakan apa yang ia rasakan. Surga dunia yang membuat siapapun jika merasakannya akan terlena saat semua saraf di tubuhnya merasakan sensasi yang luar biasa.
Devan mengangkat wajahnya dari ceruk leher Kanaya dan melihat Kanaya tengah mengeluarkan air mata.
"Ay, kenapa sayang? Apa aku menyakitimu?" tanya Devan dengan gugup sambil jari tangannya menghapus air mata di pipi Kanaya.
Devan baru pertama kali bercinta dengan seorang wanita. Ia tidak tahu apakah yang di lakukannya benar atau salah. Ia hanya mengikuti instingnya.
Apakah ia menyakiti Kanaya? Atau ia terlalu kasar? Pikiran itu memenuhi benaknya. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Kanaya apalagi sampai membuatnya menangis.
Kanaya menggeleng, namun tidak mengatakan apa pun, ia masih terisak dan berusaha untuk mengontrol perasaannya.
Melihat kebingungan Devan. Kanaya merasa harus memberitahukannya apa yang dirasakannya.
"Aku... bahagia, Van. Aku.... belum merasa seperti ini..." ucap Kanaya sambil mentap mata Devan dan memegang wajah Devan dengan tangannya.
"Kamu... membuatku merasa sempurna..." ujar Kanaya sambil meneteskan air mata.
Devan menghembuskan napas lega.
"Kamu memang sempurna Ay, kamu memang sempurna untuk aku," ujar Devan kemudian mencium kening Kanaya dengan rasa sayanga.
Ia pun kemudian turun dari tubuh Kanaya dan merebahkan dirinya di samping Kanaya, untuk kemudian menarik tubuh Kanaya dan merangkulnya.
__ADS_1
"Aku senang kamu merasa seperti itu. Aku pun merasakan hal yang sama. Aku sangat kuatir kalau aku menyakitimu," ucap Devan sambil mrngecup pucuk kepala Kanaya.
Kanaya menghela napas lega dengan membenamkan wajahnya di dada Devan, dan merasakan hangatnya pelukan dari pria yang di cintainya. Hidungnya mengendus dan mulai terbiasa dengan wangi tubuh Devan yang menghipnotisnya, dan membuatnya memejamkan matanya sambil tersenyum.
Aku sempurna untuknya...
***
Devan masih tertidur saat Kanaya bangun pagi itu dan matahari sudah menampakkan semburatnya dan sinarnya mulai melalui jendela di dinding kamar hotel mereka.
Kanaya mencoba bangkit dari ranjang dan perlahan berdiri dan mengambil bathrobenya yang tergeletak di lantai dan memakainya. Ia merasa sedikit nyeri pada bagian intinya saat ia bergerak, saat akhirnya ia memilih untuk berjalan perlahan - lahan menuju ke dalam kamar mandi.
Sambil berjalan, ia mengambil pakaian Devan yang tergeletak di lantai yang di lewatinya, kemudian menyampirkannya pada sandaran sofa bersama dengan jas pengantin yang Devan pakai tadi malam saat resepsi. Setelah itu, Kanaya berjalan meneruskan berjalan ke kamar mandi.
Kanaya melakukan aktivitas rutinnya pagi itu, ia teringat Alvaro dan harus segera mandi dan menemuinya. Selain sudah rindu pada Alvaro, ia pun khawatir dengan ASI cadangan Alvaro yang telah habis tadi malam.
Setelah menyikat giginya, Kanaya membuka bathrobe yang di pakainya, hanya untuk terkesima oleh pantulan pada cermin di depannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Devan meninggalkan banyak sekali jejak kemarahan di tubuhnya.
Kanaya pun meneliti tubuhnya satu persatu dan menemukan banyak lagi di beberapa tempat yang lainnya.
"Ah, Devannn!" Gumam Kanaya sambil tersenyum malu. Mengingat kembali apa yang mereka berdua lakukan tadi malam dan dini hari tadi. Apalagi saat mereka melakukannya tadi pagi, kali itu Devan bermain lebih lama dan lebih bervariasi dari pada kali pertama mereka melakukannya. Kanaya bahkan sampai memerah wajahnya hanya mengingat kejadian itu saja.
Saat tersadar ia pun cepat - cepat mandi karena ia tidak ingin Alvaro sampai menangis menunggunya.
Hingga saat itu, Kanaya belum tahu dimana kopernya berada. Ia berniat untuk mencarinya pagi itu. Ia memakai bathrobenya kembali sebelum ia keluar dari dalam kamar mandi.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Nantikan terus kisah mereka ya!
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like yang banyak yah...