Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Cemburu


__ADS_3

Dari kejauhan Elvano melihat Kanaya tengah bercakap - cakap dengan hangatnya kepada seorang pria.



Timbul rasa cemburu dan panas di hatinya melihat seorang pria mendekati Kanaya. Hal ini jauh berbeda saat Kanaya dan Devan masih bersama. Pada saat itu, Elvano sudah merelakan Kanaya bersama dengan Devan. Karena ia tahu, hanya Devan lah yang bisa membahagiakan Kanaya. Namun, kali ini ia tidak rela.


Setelah kepergian Devan, Elvano tetap menahan dirinya terhadap Kanaya. Meskipun, ia sangat mencintai Kanaya akan tetapi ia tidak berani berharap bahwa Kanaya akan menerima cintanya kembali, setelah apa yang di lakukannya pada Kanaya di masa lampau. Dan Elvano tahu itu, ia tidak akan bisa bersaing dengan cinta Kanaya pada Devan. Meskipun Devan telah tiada.


Namun, melihat orang lain mendekati Kanaya. Ia tidak rela. Ia tidak rela Kanaya akan bersama orang lain lagi.


Elvano berjalan menuju Kanaya, yang tidak menyadari kedatangan Elvano.


"Ay, sudah siap?" tanya Elvano mencoba untuk tidak memperlihatkan emosinya.


Kevin dan Kanaya menoleh ke arah Elvano secara bersamaan.


"Kak El, sudah datang?" tanya Kanaya dengan terkejut, sedangkan Kevin memandang Elvano dengan tajam.


"Iya, baru saja," jawab Elvano sambil menatap balik Kevin.


"Oh iya, kenalkan Kak El. Ini Pak Kevin. Pak Kevin tinggal di apartemen ini. Pak Kevin, kenalkan ini Kak Elvano, teman saya." ucap Kanaya memperkenalkan mereka.


Elvano sedikit kecewa Kanaya memperkenalkan dirinya hanya sebagai teman, tetapi itulah yang sebenarnya. Apa yang Elvano harapkan, kekasih?


Bibir Kevin sedikit melengkung ke atas mendengar kata 'Teman', yang berarti dirinya dan pria yang ada di hadapannya ini masih memiliki kesempatan yang sama untuk menarik hati Kanaya.


Mereka berdua pun berjabat tangan dalam perang dingin yang hanya kedua orang itu yang tahu.


"Pak Kevin, kami berangkat dulu ya," ujar Kanaya memecah keheningan sambil melihat ke arah jam tangannya yang sudah hampir pukul 11 siang.


"Iya Mbak, hati - hati di jalan. Mungkin lain waktu kita bisa makan siang atau malam bersama," ujar Kevin tanpa segan mengatakan itu di depan Elvano, membuat Elvano menatap tajam dirinya.


"Kak El. Ayo, nanti kita terlambat," ujar Elvano sambil memegang lengan Elvano, membuat Elvano tersenyum dan menoleh pada Kanaya.

__ADS_1


"Ayo, Ay." timpalnya sambil berbalik arah, menaruh tangannya di pinggang Kanaya dan mereka berjalan masuk ke dalam mobil.


Elvano tidak berbicara banyak di dalam mobil, ia masih kesal kepada Kevin yang tidak segan - segan mendekati Kanaya, dan ia merasa tidak bisa berbuat apa - apa mengenai hal itu.


"Kak Elvano, kita sudah sampai," ucap Kanaya sambil mengguncang lengan Elvano.


Kanaya melakukan itu, karena Arya sudah mengatakan pada Elvano, jika mereka sudah sampai sejak tadi, tetapi Elvano seperti tengah melamun dan tidak berada di sana.


Elvano tersentak kemudian melihat ke arah Kanaya dan juga Arya yang tengah memandangnya.


"Oh ya, ayo kita keluar," ujar Elvano lalu membuka pintu di sisinya dan membantu Kanaya keluar lewat pintu yang sama.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke dalam kelas Alvaro di lantai 2 bangunan gedung sekolah dasar itu. Di depan kelas Elvano telah hadir beberapa orang tua siswa kelas tersebut yang akan ikut dalam kegiatan pengenalan profesi.


Alvaro yang melihat kedatangan Papa dan Bundanya pun langsung berjalan menghampiri mereka dan mencium tangan kedua orang tuanya.


"Pah, Bun. Ayo masuk, acaranya akan di mulai," ujar Alvaro sambil menggandeng Elvano dan Kanaya masuk ke dalam ruang kelas.


Kedatangan mereka, menarik perhatian oeang tua murid yang lain, karena tak menyangka jika seorang Yohanes Elvano Alvarendra akan menghadiri acara seperti itu di sekolah. Bahkan guru kelas Alvaro tampak berseri - seri melihat kehadiran Elvano.


"Iya Bu,"


"Melinda Pak. Saya wali kelas Alvaro," jawabnya sambil tersenyum.


"Bu Melinda, saya akan ikut dalam acara pengenalan profesi mewakili Alvaro," ujar Elvano pada guru Melinda.


"Oh iya Pak Elvano. Kemarin Alvaro sudah mengatakan bahwa Papanya akan datang, tetapi saya tidak menyangka bahwa Pak Elvano yang akan datang kesini." ujar Guru Melinda tiada berhenti tersenyum.


Kanaya berdehem.


"Oh iya, ini Bundanya Alvaro juga ikut datang," ujar Elvano sambil menunjuk Kanaya.


"Oh iya Bu Kanaya, maaf Bu, saya tidak melihat Ibu datang," ujar Guru Melinda, sambil tersenyum merasa malu karena tidak memperhatikan Kanaya masuk saat tadi. Ia bahkan tidak ingat kapan Kanaya masuk dalam kelasnya karena terlalu fokus memperhatikan Elvano.

__ADS_1


Kanaya merasa heran dengan ucapan Guru Melinda, karena sejak tadi ia tepat berada di samping Elvano! Apa ia tidak terlihat. Batin Kanaya.


"Hmmm... tidak apa Bu Melinda," jawab Kanaya sambil melirik ke arah Elvano yang sedang menahan tawanya.


"Silahkan duduk Pak Elvano, Bu Kanaya, kita segera mulai saja acaranya," ujar Guru Melinda.


Acara pengenalan profesi di kelas Alvaro pun di mulai. Ada 5 orang anak yang mengenalkan profesi orang tuanya. Ada yang bekerja sebagai Dokter, Guru, Pejabat pemerintah, Arsitek dan yang terakhir Elvano sebagai Pengusaha.



Elvano mendapatkan kesempatan kedua untuk bercerita mengenai profesinya, dan Elvano yang sudah terbiasa berbicara di dalam forum, memukau siapapun yang berada di sana, Teman - teman Alvaro, Guru, Para orang tua dan bahkan guru - guru yang lainnya yang ada di sekolah Alvaro banyak yang berdatangan untuk ke kelas Alvaro untuk melihat acara pengenalan profesi hari itu setelah mengetahui jika Yohanes Elvano Alvarendra hadir di sana.


Kanaya ikut memperhatikan Elvano. Ia sendiri sudah lama tidak melihat Elvano berbicara di forum, dan Kanaya mengetahui jika Elvano memang sangat lihai dan memukau dalam mempresentasikan profesinya di depan teman - teman Alvaro. Kanaya dapat melihat betapa bangganya Alvaro akan Papanya itu, sehingga saat gurunya memanggilnya untuk berdiri bersama Elvano, senyum lebar menghias wajah Alvaro, dan ia memandang Elvano dengan rasa bangga.


Satu jam berlalu dan akhirnya acara itu pun usai.


"Pak Elvano, terima kasih banyak karena sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke sekolah dan sudah berbagi pengalamannya dengan siswa dan siswi di sini," ujar Guru Melinda, menyalami Elvano saat mereka ajan keluar dari ruangan kelas karena sudah waktunya pulang sekolah.


"Sama - sama Bu, saya juga ikut senang bisa ikut berpartisipasi. Alvaro juga pasti senang sekali mengikuti acara seperti ini," jawab Elvano.


"Baik Pak Elvano, kalau boleh, saya minta nomer telepon Bapak? Nanti kalau ada apa - apa yang berhubungan dengan sekolah Alvaro saya bisa hubungi Bapak," ujar Guru Melinda yang tersenyum pada Elvano dan tak berhenti memandanginya.


"Tentu Bu Melinda, saya harap tidak ada masalah dengan sekolah Alvaro?" ujar Elvano, sekaligus ingin tahu. Ia pun saling pandang sesaat dengan Kanaya.


"Oh tidak Pak. Tidak ada masalah. Alvaro seorang murid yang sangat baik, dan cepat tanggap menerima pelajaran," puji Guru Melinda sambil mengelus rambut Alvaro.


Elvano dan Kanaya tampak lega. Elvano pun memberikan Guru Melinda, nomor teleponnya.


"Baik Bu Melinda, kalau tidak ada hal yang lainnya, kami permisi," ujar Kanaya sebelum Guru Melinda berbicara lebih banyak hal lagi.


Mereka harus segera pamit dan menuju ke kelas Clara, karena Clara pasti sudah menunggunya di kelas.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2