
Devan tersenyum saat melihat Kanaya keluar kamar dengan memakai gaun simple berwarna violet sebatas lutut yang cantik membungkus tubuhnya. Rambut Kanaya terurai indah menambah kecantikan wajahnya yang di poles natural.
Devan sendiri mengenakan jas berwarna dark navy sehingga sangat sesuai jika di padankan dengan gaun Kanaya. Mereka berdua terlihat serasi.
"Kanaya.... sudah siap?" panggil Devan sambil meraih tangan Kanaya dan mengecupnya.
Kanaya mengangguk dan tersenyum, ini kali pertama mereka makan malam berdua dengan pakaian seperti ini. Seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Alika berdehem.
"Jangan pulang terlalu malam, ingat anak gadis orang!" Ujar Alika dengan berpura - pura galak. Ratna yang berdiri di sebelahnya berusaha menahan tawanya.
"Bunda....?" ucap Devan protes dengan menghela nafas dan memutar bola matanya.
Dalam hatinya dia menggerutu, 'Ya ampun Bunda, nggak usah di omongin! Devan juga udah besar!'
Kanaya, Ratna dan Bunda Alika pun tertawa melihat mimik wajah Devan.
"Berangkat Bun, Tante...," ujar Devan sambil menyalami Alika dan juga Ratna, begitu pula Kanaya.
Mereka berdua pun berangkat menuju restoran yang sudah Devan booking untuk makan malam mereka.
"Kamu mau ajak aku makan malam dimana, Van?" tanya Kanaya sambil menoleh ke arah Devan.
"Restoran ini sebenarnya baru buka, Ay. Katanya masakannya enak. Dan aku mau mencobanya bersama kamu," ujar Devan sambil melirik ke arah Kanaya.
"Aku senang sekali, kamu mau ajak aku," ujar Kanaya juga melirik ke arah Devan.
"Tentu saja aku ajak kamu, Ay? Memangnya siapa lagi yang mau aku ajak?" ujar Devan sambil meraih tangan kanaya dan mengecupnya beberapa kali.
"Aku sayang kamu, Ay," ujar Devan sambil melirik sekilas ke arah Kanaya.
"Aku juga sayang kamu, Van," balas Kanaya pelan dan malu - malu.
Tiba - tiba Devan menghentikkan mobilnya dan meminggirkannya di tepi jalan.
"Ay..," ucapnya sambil menarik tubuh Kanaya mendekat dan mencondongkan wajahnya ke arah wajah Kanaya.
Kanaya sangat terkejut dengan gerakan Devan, namun matanya langsung terpejam saat dirasanya bibir Devan menyentuh bibirnya dan menyesapnya lembut, mengulumnya, melepas sesaat dan menyesap lagi. Semua itu ia lakukan dengan perlahan dan penuh kelembutan, hingga Kanaya bisa merasakan apa yang Devan rasakan. Betapa Dalam cinta Devan padanya. Kanaya menarik nafas dalam, sebelum ia membuka matanya dan mendapati mata Devan menatapnya.
"Maafkan aku, Ay. Harusnya aku bisa menahan diri. Tetapi, aku selalu ingin menciumu sejak dulu," ujar Devan dengan wajah yang memerah, merasa malu karena ia tidak bisa menahan gejolak hatinya.
Kanaya berkedip. Mencerna apa yang baru saja terjadi. Apa yang baru saja Devan lakukan dan juga pengakuan Devan. Anehnya, Kanaya tidak merasa keberatan, dan ia pun menginginkannya juga.
Devan beergerak mundur, hendak kembali mengendarai mobilnya.
"Devan...." panggil Kanaya, ia tidak bergerak dari tempatnya.
Devan pun menoleh.
"Itu tadi.... luar biasa.... " ujar Kanaya.
__ADS_1
Devan tertegun. Luar biasa?
"Bisa... kamu lakukan lagi?" pinta Kanaya sambil menelan ludahnya.
Entah kerasukan apa malam itu, hingga ia berani mengatakan hal itu.
Raut wajah Devan berubah antara ingin tertawa geli dan juga deg - degan untuk mencium Kanaya kembali. Ia pun melepas sabuk pengamannya dan bergeser maju mendekati Kanaya.
Mereka berdua saling tatap.
Jantung Kanaya berdebar kencang dan ia menahan nafasnya menunggu Devan untuk menciumnya lagi seperti tadi.
Devan mendekati Kanaya. Pandangannya turun ke bibir Kanaya yang sedikit terbuka, menunggunya untuk di raih.
Tangan kanan Devan meraih pinggang Kanaya dan tangan Kirinya reflek meraih tengkuk Kanaya saat bibirnya menyentuh bibir Kanaya seiring matanya terpejam. Disesapnya perlahan dan penuh perasaan dan tanpa di duga Kanaya membalasnya.
Devan terkejut dan melepaskan tautan di bibirnya. Mereka saling pandang sesaat sebelum saling menautkan bibirnya kembali, dengan lebih dalam dan intens, menghilangkan dahaga yang selama ini terpendam.
Mereka berdua saling tersenyum malu dengan nafas yang terengah - engah saat akhirnya tautan bibir mereka terlepas.
"Kita mau terus begini atau mau makan dulu?" tanya Devan di depan wajah Kanaya.
Kanaya tersenyum geli dan menoleh ke arah lain, tidak tahan melihat wajah jenaka Devan.
"Aku serius, Ay. Kalau kamu masih mau meneruskan, aku nggak keberatan," ujar Devan sambil menahan tawanya.
"Kok aku sih, Van?" protes Kanaya menahan malu, tidak mau di bilang kalau ia yang menginginkan berciuman dengan Devan. Devan tertawa melihat wajah tersipu malu Kanaya.
"Aduh sayang, ampun!" Pekik Devan memanggil sayang untuk pertama kalinya membuat pipi Kanaya tambah merona.
"Ya udah, kita makan dulu ya, Yang," ujar Devan berbisik di telinga Kanaya, kemudian mengecup pipinya dan Kanaya mengangguk.
Senyum tersungging di bibir Devan, saat ia mulai melajukan mobilnya kembali menuju restoran.
Sesampianya di restoran, Devan menyerahkan kuncinya pada vallet service dan menggandeng Kanaya masuk ke dalam restoran mewah itu.
"Reservasi atas nama Devan Permana," ujar Devan pada recepsionist restoran.
"Devan! Kebetulan sekali bertemu di sini!" Tiba - tiba Alexander David Mahendra datang dan menegur. Ia bergandengan tangan dengan Rena, Istrinya.
"Pak David! Kebetulan sekali, Pak. Kapan kembali dari California?" tanya Devan dengan ramah sambil menjabat erat tangan David.
"Kemarin Devan. Mbak Kanaya apa kabar?" tanya David. Tak lupa menyalami Kanaya.
"Baik Pak." jawab Kanaya.
Devan dan Kanaya pun menyalami Adrena Clarissa Putri, Istri David.
"Apa kabar, Bu?" tanya Kanaya saat cipika - cipiki dengan Rena.
"Baik Mbak Kanaya. Wah, Mbak Kanaya ini makin cantik saja setiap kali saya bertemu," puji Rena.
__ADS_1
"Ibu bisa saja," jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Kalian baru datang," tanya David.
"Iya, Pak. Kami baru saja sampai," jawab Devan.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Atau... Pak Devan dan Mbak Kanaya sedang merayakan sesuatu?" tanya David.
"Ah, tidak Pak. Kami tidak merayakan sesuatu," jawab Devan. Namun, terbesit di benaknya, apa Pak David sudah tahu, kalau sudah ada putusan cerai?
"Ah, bagus kalau begitu. Kita bisa makan malam bersama!" Ujar David sambil menepuk tangannya bersemangat.
"Mbak, tolong di gabung saja, reservasi kami?" ujar David pada recepsionist restoran.
"Tentu, Pak David. Silahkan, Pak," ujar recepsionist itu sambil menunjukkan jalan ke meja makan.
Ternyata meja pesanan Pak David berada di area VVIP dan terpisah dengan pengunjung restoran yang lainnya.
Mereka duduk di meja untuk empat orang. Sehingga memungkinkan bagi mereka untuk berbincang akrab.
"Bagaimana liburan Bapak ke California?" tanya Devan mulai berbincang setelah mereka selesai memesan makanan dan minuman.
"Wah, menyenangkan sekali Pak Devan, apalagi Brayen, dia senang sekali," ujar David sambil tersenyum, seperti mengenang perjalanan liburan mereka.
"Tapi sebenarnya, liburan itu hadiah buat Istri saya, Rena." ujar David sambil melirik Istrinya, bertepatan dengan Rena melirik David dan mereka berdua pun tersenyum.
Melihat hal itu Devan dan Kanaya pun saling menatap dan ikut tersenyum.
"Liburan itu hari jadi ulang tahun kami berdua," ujar David sambil menggenggam tangan Rena.
"Jadi Bapak dan Ibu dulu sempat berpacaran?" tanya Devan
"Berpacaran? Mmm... sebenarnya dulu saya yang memaksa Rena untuk jadi pacar saya," jawab David sambil tertawa kecil dan melirik pada Rena.
"Benar Pak Devan. Saya terpaksa jadi pacar Pak David," timpal Rena sambil tersenyum geli mengingat kejadian saat itu.
"Tapi kamu tidak menyesal kan, Yang?" tanya David sambil menggoda Rena.
"Kalau sekarang mungkin tidak, tapi dulu..... kalau bukan karena lamborghini," ujar Rena balas menggoda David.
"Adrena Clarissa Putri?!" Seru David sambil membelalakan matanya, membuat Devan dan Kanaya terkejut.
"Yang, masa kamu kaya gitu aja masih marah sih?" tanya Rena sambil tersenyum geli.
"Nggak, Yang. Aku cuma bercanda," jawab David dengan mimik wajah yang tiba - tiba berubah 180 derajat dan langsung mengecup kening Rena.
"Maaf ya, Pak David memang suka begitu," ujar Rena sambil menoleh ke arah Kanaya dan Devan.
"Ah, nggak pa - pa, Bu. Tandanya Pak David sangat cinta dengan Ibu," ujar Kanaya sambil tersenyum melihat keromantisan David dan Rena.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.