
'Ya Tuhan apa yang di lakukan Tuan pada Nyonya?' Batin Desi sambil menatap dengan miris seisi kamar Elvano.
"Desi, cepat bantu aku!" Perintah Elvano yang membuat Desi kembali ke realita dan bergegas menghampiri Kanaya yang terbaring lemah tanpa busana di ranjang Elvano yang berantakan.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Nyonya?" tanya Desi sambil memegang tubuh Kanaya yang panas membara. Pandangannya langsung meneduh pada Tuannya tanpa ia sadari.
"Jangan banyak tanya, cepat bereskan kamar sebelah, aku akan memindahkannya," ucap Elvano sambil membungkus tubuh Kanaya dengan selimut agar menutupi sekujur tubuh Kanaya yang tanpa busana.
Desi pun mengerjakan perintah Elvano dan bergegas ke kamar sebelah, dan merapikannya.
Tak lama, Elvano datang sambil membopong Kanaya dan meletakannya di ranjang di kamar itu.
"Cepat bersihkan tubuh Kanaya sebelum Dokter Adam datang!" Perintah Elvano, kemudian ia berbalik menuju pintu keluar dan berhenti. "Desi, jangan katakan apa yang kau lihat pagi ini pada siapa pun!" Perintah Elvano kemudian ia berjalan ke arah kamarnya.
Desi meneteskan air mata saat ia mengelap tubuh Kanaya dengan air hangat. Saat itulah ia tahu, apa yang Tuannya lakukan pada gadis malang di hadapannya itu. Bercak - bercak merah di sekujur tubuh, memar di pergelangan tangan dan bercak darah di paha Kanaya membuktikan dugaannya.
Elvano masuk kedalam kamarnya dan menendang apapun yang ada di sekitarnya ia merasa geram pada dirinya sendiri. Ia duduk di tepi ranjang dengan terengah - engah, dan tanpa sengaja melihat noda bercak - bercak darah di seprei ranjangnya. Dan sadarlah ia, jika ia telah merenggut kegadisan Kanaya secara paksa, dan kenyataan bahwa Devan tidak pernah menyentuh Kanaya seperti apa yang ia tuduhkan sebelumnya. Kecemburuannya adalah kecemburuan buta yang membuatnya menyakiti Kanaya!
Dokter Adam datang dan lagi - lagi ia menghela nafas melihat siapa yang harus ia periksa. Ia pun memeriksa kondisi Kanaya tanpa banyak bertanya dan memberikan obat peradangan dan penurun panas untuk di minum. Dokter Adam segera pamit saat telah selesai memeriksa Kanaya dan memberitahu Elvano kondisi Kanaya.
Selepas kepergian Dokter Adam, Anton menghubungi Elvano dan mengatakan bahwa rapat pentingnya dengan investor luar negeri akan segera di mulai. Mau tak mau Elvano pun harus meninggalkan Kanaya untuk menghadiri rapat itu.
Elvano berjalan ke tempat Kanaya sedang berbaring, dan duduk di dekatnya, sementara Desi menjaganya dan mengompres keningnya.
"Jangan Kak Elvano...." ucap Kanaya dalan tidurnya.
"Ay....." ucap Elvano sambil menggenggam tangan Kanaya dan menunduk sedih.
"Menurut Dokter Adam, Kanaya bukanlah pingsan, ia masih memiliki kesadaran, namun karena demam tinggi yang di deritanya. Ia berada di awang - awang dan seperti belum tersadar.
Elvano menyentuh kening Kanaya perlahan dan merasa demamnya sudah mulai menurun. Elvano berharap kondisi Kanaya segera membaik dan pulih.
"Desi aku harus segera pergi ke kantor. Aku akan segera kembali nanti. Jaga Kanaya baik - baik," ujar Elvano pada Desi dan Desi hanya mengangguk. Desi sendiri masih merasa kesal pada Tuannya karena apa yang telah di lakukannya terhadap Kanaya.
__ADS_1
Elvano pergi keluar kamar dan berangkat ke kantornya dengan di antar Panji.
***
Devan berlari pagi itu setelah subuh, berkeliling seputar hotel bintang 5 yang di tempatinya. Ia memang terbiasa jogging pagi setiap hari atau melakukan aktivitas olahraga lainnya.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 6, ia pun kembali ke kamar hotelnya, dan ia menjumpai Melisa berdiri di depan pintu kamarnya.
"Melisa, ada apa? Sudah dari tadi kamu ada di sana?" tanya Devan heran Melisa sudah mencarinya sepagi itu.
"Iya Devan, aku lupa membawa cahrger Hp ku, aku mencoba menghubungimu sejak tadi, tapi tidak kau angkat telepoku, sampai - sampai Hp ku mati karena meneleponmu," ujar Melisa dengan cemberut sambil melipat tangannya di depan dadanya.
"Oh ya?" tanya Devan heran, karena ia tidak mendengar dering telepon saat ia tengah berlari. Ia pun meraba - raba kantong baju dan celananya, namun tidak menemukan telepon genggamnya. Dan ia teringat meletakkan telepon genggamnya di kamar mandi tadi saat berganti pakaian olahraga.
"Sepertinya aku tidak membawa Hp ku," ujar Devan sambil membuka kunci pintu kamar hotelnya, dan masuk ke dalam.
"Mana Hp mu Melisa?" tanya Devan sambil meminta telepon genggam milik Melisa. Melisa pun memberikan telepon genggamnya yang telah mati dayanya kepada Devan, dan Devan pun mengecasnya.
"Ya, ada di kamar mandi," ujar Devan.
Melisa pun masuk ke dalam kamar mandi dan meraih telepon genggam Devan yang tergeletak di meja wastafel.
"Ada Melisa?" tanya Devan dari luar kamar mandi.
"Ya, ada." jawab Melisa sambil membuka kunci telepon genggam Devan yang telah di ketahuinya.
Ia pun melihat beberapa notifikasi misscall darinya, dan beberapa dari penelepon lain. Dan sebuah pesan masuk dari "Kanaya".
Melisa tertegun sejenak dan menoleh melalui sela - sela pintu yang tidak ia tutup rapat ke arah Devan yang tengah meminum sebotol air putih.
Tadinya ia tidak ingin membuka pesan dari Kanaya, akan tetapi ia penasaran dengan apa yang di tulis gadis itu pada pacarnya pagi - pagi sekali. Dan Melisa pun membukanya.
Devan, tolong aku....
__ADS_1
Tolong aku? pikir Melisa dengan kening berkerut.
Untuk apa ia meminta tolong Devan pagi - pagi? Bukankah ia mempunyai seorang Suami? pikir Melisa.
"Mel, kamu nggak apa - apa?" tanya Devan dari luar kamar mandi saat tidak mendengar suara Melisa berbicara atau pun keluar pada kamar mandi.
"Ya, aku baik - baik saja! Agenku belum mengangkat teleponnya," ujar Melisa beralasan sambil menghubungi nomor telepon agentnya yang di ingatnya di luar kepala."
"Terima kasih," ujar Melisa sambil mengembalikan telepon genggam Devan.
"Aku akan kembali ke kamar untuk bersiap - siap. Kita sarapan bersama?" tanya Melisa sambil melingkarkan lengannya ke leher Devan dengan manja.
"Ya, kita sarapan bersama. Aku sebaiknya mandi dulu sekarang," ujar Devan sambil melepaskan pelukan Melisa dan berjalan menuju kamar mandinya.
"Bawa saja chargernya," seru Devan sambil menutup pintu kamar mandi.
Melisa mendesah, tidak mengerti kenapa Devan masih saja menjaga jarak dengannya padahal mereka telah berpacaran sebulan lamanya. 'Apa yang membuat Devan menahan dirinya?' batin Melisa.
Melisa pun kembali ke kamarnya dan bersiap - bersiap untuk sarapan bersama Devan di hotel. Dan rencananya siang ini mereka akan kembali ke kota B dengan menggunakan pesawat pribadi milik Alexander David Mahendra bersama Alvian, asisten David.
Setelah sarapan, Devan menemani Melisa berbelanja di beberapa butik yang ada di kota D. Devan sendiri tidak begitu paham butik - butik yang bagus dan terkenal disana, karena Devan tidak pernah menemani Kanaya berbelanja di butik. Kanaya yang di kenalnya adalah seorang yang sederhana dan jarang membeli barang - barang yang mahal meskipun saat itu ia mampu membelinya.
Akhirnya Melisa sendiri yang mencari tahu melalui teman - temanya yang pergi ke kota D dan mereka pun berbelanja disana.
Saat sedang menunggu Melisa mencoba pakaian yang akan di belinya, Devan secara tidak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita.
Setelah mendengar percakapan ke dua wanita tadi Devan begitu marah.
"ELVANOO! DIMANA KANAYA?" Teriak Devan.
Terima kasih sudah membaca. Maaf masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, dan vote
__ADS_1