Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bersama Kanaya dan Alvaro


__ADS_3

Alvaro menatap Elvano yang berjongkok di depannya. Ia memperhatikan wajah Elvano seolah - olah ia pernah melihatnya dimana. Ia pun mengulurkan tangannya dan meraih tangan Elvano, kemudian menciumnya.


Elvano pun serta merta memeluk Alvaro dan menciumnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya, namun cepat - cepat ia hapus. Ia tidak ingin Alvaro melihatnya menangis.


"Om nama ciapa?" tanya Alvaro pada Elvano. Elvano menoleh ke arah Kanaya seolah meminta persetujuan.


"Alvaro, boleh panggil temen Bunda, Papa Elvano," ujar Kanaya.


"Om Papa Elpano?" ujar Alvaro dengan polos.


"Iya, Papa Elvano," ujar Kanaya membetulkannya.


"Papa punya sesuatu buat Alvaro," ujar Elvano sambil tersenyum dan menarik scooter di sampingnya dan memberikannya pada Alvaro.


Alvaro terlihat sangat senang, namun ia menatap Bundanya terlebih dahulu sebelum ia menerimanya.


"Itu buat Alvaro, Alvaro boleh terima," ujar Kanaya meyakinkan Alvaro, bahwa tidak apa - apa menerima hadiah itu.


"Alvaro langsung tersenyum lebar dan berhambur langsung ke scooter barunya. Ia pun dengan lincah langsung menaikinya.


"Alvaro, bilang apa sama Papa Elvano," ujar Kanaya mengingatkan Alvaro.


"Om Papa telima acih epedanya," ujar Alvaro sambil melihat sekilas pada Elvano dan kemudian kembali asik bermain dengan scooternya.


"Iya, Alvaro suka?" tanya Elvano sambil membantu Alvaro duduk nyaman di scooter itu. Bibir Elvano tersenyum saat ia bersama dengan Alvaro.


"Cuka Om Papa," ucapnya dengan lucu.


Meskipun Elvano berharap Alvaro menyebutnya Papa, tetapi ia tidak akan memaksa Alvaro, ia pun menerima jika harus di panggil dengan Om Papa, untuk sementara ini. Lagi pula ia telah berbicara dengan Kanaya tadi siang, dan berjanji tidak memberikan terlalu banyak informasi pada Alvaro. Kanaya berpikir sebaiknya ia hanya meluangkan waktu bersama Alvaro saja dulu dan tidak memberitahunya terlalu banyak, karena Alvaro pun pasti belum mengerti.


Elvano pun menemani Alvaro bermain scooter pemberiannya di taman itu. Sementara Kanaya memperhatikan mereka sambil duduk di dekat tempat mereka bermain.


Alvaro pun terlihat senang bermain dengan Elvano, karena Elvano begitu memanjakannya. Setelah bosan bermain scooter di taman outdoor, mereka pun masuk ke dalam taman indoor, dengan Elvano menggendong Alvaro di pundaknya.


Kedua Bapak dan anak itu tampak senang, meskipun Alvaro tidak mengetahuinya jika Elvano adalah ayah Kandungnya. Sekali lagi Elvano menemani Alvaro bermain berbagai macam permainan di taman indoor itu, sementara Kanaya memesankan makanan dan juga minuman.

__ADS_1


"Alvaro, istirahat dulu." Panggil Kanaya pada Alvaro yang tengah bermain mandi bola bersama Elvano.


Alvaro dan Elvano sama - sama menoleh ke arah Kanaya, dan Elvano pun menggendong Alvaro keluar dari tempat permainan mandi bola.


Melihat makanan di meja tempat Bundanya duduk, Alvaro sangat tidak sabar dan berteriak pada Elvano.


"Papa Elpano epat! Alo au emam!"


Elvano tertawa melihat Alvaro yang tidak sabar untuk segera makan.


"Emam, Unda." ujar Alvaro sambil menunjuk makanan di atas meja.


"Kak El, bisa minta tolong cuci tangan Alvaro?" pinta Kanaya pada Elvano.


"Ya, tentu Ay." jawab Elvano sambil tersenyum


Tidak ada yang lebih memyenangkan hatinya daripada menghabiskan waktu bersama Alvaro dan Kanaya. Apa pun akan di kerjakannya agar bisa bersama dengan mereka.


Elvano mencucikan tangan Alvaro di wastafel tak jauh dari mereka. Awalnya Elvano tampak kikuk dan tidak tahu apa yang harus di lakukan, namun ia terlihat berusaha melakukannya dan ia pun berhasil. Setelah itu ia mendudukkan Alvaro di kursi booster yang di sediakan di sana.


Kanaya memberikan Alvaro minum air putih terlebih dahulu sebelum ia mengambilkan mangkok makanan Alvaro yang berisi nasi dengan potongan Ayam kecil - kecil di tambah brokoli dan jagung. Dan Alvaro pun langsung memakannya sendiri.


Elvano yang melihat Alvaro memakan makanannya sendiri merasa takjub sekaligus merasa kehilangan waktunya bersama Alvaro, ia tidak melihat perkembangan Alvaro sebelumnya hingga ia sampai di usianya yang sekarang.


"Minum Kak El," ujar Kanaya sambil menaruh es jeruk di hadapannya.


"Tadinya aku mau pesankan kamu kopi, tapi kamu kelihatannya haus dan butuh yang segar," ujar Kanaya sambil tersenyum dan menyeruput es jeruknya.


"Gak apa Ay. Aku memang ingin minum yang segar," jawab Elvano kemudian meminum es jeruknya.


Perhatian kecil saja dari Kanaya sudah membuatnya sangat senang.


Bagi banyak orang duduk di meja dan menikmati makanan bersama keluarga adalah hal yang biasa dan setiap hari di lakukan. Tetapi bagi Elvano saat itu, di meja taman bermain itu ia, Kanaya dan juga Alvaro makan bersama sambil tertawa dan mengomentari kelakuan Alvaro adalah hal yang sangat berharga. Tidak setiap hari ia bisa merasakan kemewahan seperti itu. Ya, mewah! Karena berapa pun harganya tidak dapat di beli dengan uang.


********

__ADS_1


Sejak hari itu, Elvano semakin sering pulang dan pergi ke kota B. Ia bahkan mulai merintis usaha propertinya di sana. Selain mengambil peluang usaha di sana, ia juga melakukan itu agar dapat lebih sering bertemu dengan Alvaro.


"Elvano, apa kamu akan ke kota B lagi?" tanya Luna saat ia berkunjung ke rumah Elvano dan melihat Elvano sedang mengepak bajunya dan membawa serta beberapa buah mainan yang ia beli untuk Alvaro.


"Iya Mah," jawab Elvano sambil tersenyum dengan lebar.


"Bagaimana Alvaro, El," tanya Luna ikut tersenyum melihat senyum mengembang di bibir Elvano.


"Alvaro sehat Mah, dia sangat lucu, sekarang dia sudah mulai mengenali Elvano setiap kali Elvano datang," ujar Elvano dengan mata yang berbinar - binar membayang kan wajah Alvaro di benaknya.


"Mamah juga kangen sama Alvaro," ujar Luna.


"Mama mau ikut?" tanya Elvano pada Mamanya itu.


"Tidak sekarang Elvano, karena Lisa sudah mau melahirkan anaknya, mama harus temani Lisa," ujar Luna. Elvano pun mengangguk mengerti maksud Mamanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kanaya?" tanya Luna hati - hati.


Luna bukannya tanpa alasan menanyakan hal ini. Ia menduga jika Elvano masih menyimpan hati pada Kanaya. Karena sampai saat ini pun, Elvano belum terlihat mempunyai hubungan dengan wanita lain. Padahal dengan apa yang telah di capainya saat ini, banyak sekali wanita cantik yang mendekatinya. Apalagi sekarang Elvano tampak sangat matang dan mapan. Siapa saja bisa melihat kharisma dan wibawa yang di miliki oleh Elvano.


Elvano sempat tertegun dengan pertanyaan Mamanya. Ia tahu Mamanya mengkhawatirkannya. Khawatir jika ia belum bisa move on dari Kanaya. Meskipun ia tahu Mamanya benar, akan tetapi ia tidak ingin menunjukkan kepada Mamanya.


"Baik Mah, Kanaya memperlakukan Elvano dengan baik. Elvano rasa tidak ada masalah," jawab Elvano berpura - pura sibuk memilih pakaian yang akan di bawanya.


"Elvano, kamu tahu bukan itu bukan maksud Mama," ujar Luna sambil memegang pundak anaknya.


Elvano terdiam kemudian berbalik dan tersenyum pada Luna.


"Elvano baik - baik saja dengan Kanaya, kami sudah berteman dengan baik begitu pula dengan Devan," ujar Elvano.


"Kanaya sudah berbahagia dengan Devan. Devan.... seorang laki - laki yang baik, Mah. Dan Elvano sudah merelakan Kanaya..." ujar Elvano lagi. Meskipun berat mengatakannya, tetapi semua yang di katakannya adalah benar. Baginya cukup melihat Kanaya berbahagia meskipun bukan dengan dirinya.



Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2