
***Note. Hari ini ada crazy up loh😄 Gimana - gimana senengkan? ya pasti senenglah😂 Yuk jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya...🤗
🌹🌹🌹Happy Reading.....🤗***
Kami tidak sempat mengobrol karena pembawa acara mulai mengumumkan bahwa acara akan segera di mulai.
Dan kami pun duduk di kursi masing - masing. Ada 8 orang di meja kami. Aku, Devan, Pak David, Ibu Rena, Adella, Elvano, Pak Abian dan Renata, tunangan Pak Abian yang duduk di sebelahku.
Kami pun duduk di tempat yang sudah di sediakan dan mengikuti jalannya acara. Di mulai dari acara sambutan hingga sampai kepada acara hiburan.
Kak Elvano terlihat sangat senang malam itu, Ia pun tersenyum saat ia mengobrol dengan Adella.
Aku tidak bermaksud untuk memperhatikannya, namun secara tidak sengaja beberapa kali melihat mereka saling tertawa. Dalam hati aku ikut senang jika Kak Elvano menemukan seseorang untuk bersama dengannya. Bagaimana pun hubungan kami berdua adalah masa lalu, dan bahkan Kak Elvano sekalipun berhak untuk bahagia dengan hidupnya.
Aku kembali memperhatikan acara yang di gelar di panggung malam itu.Sambil sesekali tertawa mendengar pembawa acara Gala Dinner kali itu membawakannya dengan sangat menghibur.
Saat itu dua orang pelawak berakting sebagai Suami - Istri sedang berada di atas panggung dengan setting di sebuah ruang tamu. Aku dan Devan saling pandang kemudian memperhatikan kedua orang pelawak itu.
Si Istri bertanya sambil merengut dan berkata, "Mas, kenapa sih setelah kita menikah, Mas nggak pernah ajak aku jalan - jalan lagi?"
Wajah si Istri sangat lucu sehingga memancing tawa penonton saat itu.
Sang Suami menjawab, "Coba di ingat - ingat kita menikah karena apa?"
Terlihat ekspresi heran dari sang Istri yang membuat hadirin tertawa.
Kemudian si istri menjawab, "Ya, karena JODOH Mas!"
Devan menoleh ke arahku dan tersenyum kemudian menggenggam tanganku. Rupanya kata - kata 'Jodoh' membuatnya teringat pada hubungan kami.
Samar - samar ku dengar pelawak yang berperan sebagai Suami berkata, "Nah itu udah tau!Kan ada pepatah, kalau JODOH nggak akan keman - kemana!"
Di susul dengan tawa penonton yang ada di sana.
Tapi bagiku dan Devan di ruangan itu seperti hanya ada kami berdua. Devan pun mengecup buku - buku jariku dan keningku dengan sayang.
******
Yohanes Elvano Alvarendra POV Part 1
__ADS_1
Malam itu aku menjemput Adella jam 7 tepat, tapi dia memang tidak tepat waktu dan membiarkanku menunggunya selama 10 menit!
"Hei, jangan protes! Kau pikir mudah jadi perempuan? Kalau aku tidak tampil cantik, apa tidak mengacaukan nama baikmu?" ujar Adella saat aku protes karena aku menunggunya terlalu lama.
Aku tertawa mendengarnya mengatakan hal itu. Apa lagi hal yang mengacaukan nama baikku selain orang - orang tahu aku mantan narapidana? Ternyata tidak membawa wanita cantik sebagai pasangan bersamaku akan mengacaukan nama baikku?
"Berhenti tertawa dan jalankan mobilnya," katanya sambil melihat telepon genggamnya yang bergetar dan kulihat Frans menghubunginya. Tanpa ia sempat menduga, kurebut telepon genggamnya.
"Elvano, apa yang kau lakukan?"tanyanya sambil mencoba merebut telepon genggamnya kembali.
Bukannya mengembalikannya ku angkat panggilan telepon itu.
"Hallo," ucapku pada Frans, pacarnya.
"Siapa ini?" tanya laki - laki itu.
"Elvano," jawabku pendek.
"Kenapa kau yang mengangkat teleponnya? Kemana, Della?" tanyanya.
"Oh, Della. Dia ada bersamaku, kami sedang berkencan dan teleponmu sungguh menganggu!" Ujarku dengan cueknya. Sementara Adella membelalakan matanya padaku.
"Berhentilah menghubungi, Adella! Dia sedang bersamaku!" Ujarku kemudian ku matikan panggilan teleponnya.
Aku hanya tersenyum dan mengemudikan mobil sewaanku kembali.
Adella cemberut, karena apa yang telah aku lakukan, tapi dia tidak mengatakan apa - apa. Saat kulihat Frans menelepon telepon genggamnya kembali, kulihat ia tidak mengangkatnya dan menaruhnya di dalam tasnya.
"Aku tersenyum melihatnya. Sudah waktunya dia meninggalkan laki - laki itu." batinku.
Akhirnya kami sampai di Hotel Grand tempat Gala Dinner berlangsung. Kuberikan kunci mobilku pada valet service dan kami masuk kedalam.
Acara hampir saja di mulai saat kami tiba. Untung saja kami masih sempat masuk dan petugas acara kami menunjukkan kami tempat duduk kami. Aku terkejut saat kami mengetahui satu meja bukan hanya dengan Pak David dan Pak Abian, namun dengan Devan dan juga Kanaya.
Mataku langsung melihat kepada Kanaya yang saat itu sedang bicara dengan Ibu Rena, Istri Pak David. Aku tahu ia memang dekat dengan Ibu Rena, bahkan Kanaya juga bekerja di Apartemen miliknya.
"Elvano, suatu kebetulan kita bisa duduk bersama - sama,"
Devan menyapaku terlebih dahulu, dan aku tersenyum padanya.
__ADS_1
Aku melihat Kanaya menoleh dan ia tersenyum padaku, Ya Tuhan, cantik sekali dia malam itu!
Banyak wanita cantik di sekelilingku, entah mengapa dia yang paling menarik perhatianku.
Bahkan mengetahui ia sedang mengandung anak Devan pun ia tidak membuatnya less interesting bagiku, kurasa saat hati sudah mulai bicara, maka mata dan pikiran akan menurut pada apa yang hati katakan.
Devan ada di sebelahnya dan merangkulnya lembut. Membuatku tersadar jika dia bukan lagi milikku.
"Kanaya," sapaku dan dia menyapaku balik.
Aku melihat matanya beralih ke seseorang di sebelahku, barulah aku teringat, aku datang bersama dengan Adella.
"Kenalkan ini Adella, Adella ini Pak David dan Pak Devan, Ini Kanaya dan Ibu Rena,"
Mereka pun saling menjabat tangan. Namun kami tidak sempat mengobrol, karena pembawa acara sudah meminta kami semua untuk duduk di kursi kami masing - masing.
Acara itu memang sangat meriah, selain di hadiri pengusaha - pengusaha terpandang di kota itu, tapi menurutku merupakan peluang untuk memperluas bisnisku, namun juga cukup menghibur dengan adanya artis - artis dan entertainer yang ikut memeriahkan acara Penggalangan Dana itu. Dan yang aku tahu pada akhir acara, dana yang di dapat pun cukup besar.
Namun bagaiamana pun meriahnya acara itu, pusat perahatianku tetap pada Kanaya. Aku harus berusaha cukup keras untuk menikmati acara malam itu dari pada memandangi Kanaya yang duduk berseberangan denganku dan juga Adella.
"Elvano, cobalah untuk tidak memandanginya terus," ujar Adella sambil menyikut pinggangku lumayan kencang.
"Sakit tau!" Ucapku tapi sambil pura - pura tertawa padanya. Adella pun berpura - pura tertawa dan berkata, "Rasain! Jangan membuatku malu dengan memandangi mantanmu terus!"
"Aku tidak memandanginya, Adella!" Sangkal ku masih sambil tertawa.
'Tidak mungkin ada orang lain yang melihatku sedang memandangi, Kanaya," ucapku dalam batin.
Adella memutar matanya dengan malas. Mengetahui aku telah berdusta. Terserahlah!
Aku mencoba fokus memperhatikan acara malam itu. Dua orang pelawak berakting seperti sebagai pasangan Suami Istri, membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah panggung dan tertawa menyaksikan lelucon mereka. Namun, dari ujung mataku aku bisa melihat bagaimana Devan menatap Kanaya dengan penuh cinta kemudian mengecup, jari - jarinya dan keningnya.
'Ya Tuhan, seandainya itu aku, aku akan menjadi laki - laki paling bahagia di muka bumi ini!' Batinku menjerit.
Betapa pun aku berusaha mengikhlaskannya, namun hatiku tidak bisa berdusta! Sungguh aku masih sangat mencintainya.
Semua orang tertawa yang ada di sana tertawa menyaksikan pelawak di panggung, dan aku pun mencoba untuk tertawa saat hatiku menjerit.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.