
"Dan bagaimana dengan kamu Elvano?" tanya Luna.
"Apa kamu sudah membuka hatimu untuk yang lain?" tambah Luna lagi. Tentu saja ia ingin anaknya itu juga berbahagia, menemukan cinta yang lain yang bisa menemani hidupnya.
"Sekarang ini, Elvano sedang sibuk dengan usaha Elvano dan Alvaro, Elvano.... belum punya waktu untuk itu," jawab Elvano sambil menutup kopernya.
"Mama tahu kamu sibuk Elvano, tapi cobalah untuk bersosialisasi, berkenalan dengan beberapa orang gadis. Banyak gadis - gadis cantik dan yang sama baiknya dengan Kanaya di luar sana," ujar Luna. Akhirnya berkata jujur pada Elvano.
Elvano tersenyum.
"Mungkin nanti, Mah. Setelah project Elvano tembus, Elvano mandi dulu ya, Mah." ujar Elvano lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Luna menghela napas dalam sebelum ia keluar dari kamar Elvano. Ia tahu masih sulit bagi Elvano untuk keluar dari bayang - bayang Kanaya.
Elvano yang masuk kedalam kamar mandi segera melucuti pakaiannya dan mengguyur dirinya dengan air shower dingin.
Memang benar banyak gadis lain yang lebih cantik atau pun mempunyai kebaikan hati seperti Kanaya, akan tetapi hanya Kanayalah yang bisa mencuri hatinya. Hingga saat ini, ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan hatinya kembali dari Kanaya. Jika memang rasa ini yang harus di tebusnya karena apa yang di lakukannya di masa lampau, maka biarkanlah. Cukuplah baginya melihat Kanaya bahagia.
******
"Ayah.... dede apan kelual dari pelut Unda?" tanya Alvaro saat Devan sedang membasuh badannya dan memakaikan popok sebelum ia tidur.
Devan melihat ke arah Kanaya yang sedang menyiapkan baju tidur Alvaro di atas kasur Alvaro.
"Sebentar lagi. Alvaro udah nggak sabar ya ingin lihat dede?" tanya Devan sambil memandang Alvaro dengan mimik wajah lucu.
"Kalo ada dede, Ayah ayang Alo ndak?" tanya Alvaro tiba - tiba.
"Lho, kok Alvaro ngomong kaya gitu? Yang pasti Ayah sayang sama Alvaro dan juga sayang Dede. Alvaro kan anak Ayah. Dede juga anak Ayah. Semuanya Ayah sayang." ujar Devan sambil mengangkat tubuh Alvaro dan mendekatkan wajah mereka berdua.
"Benel, Yah?" tanya Alvaro lagi sambil memegang wajah Devan.
"Bener! Kapan Ayah bohong?" tanya Devan sambil mencium pipi Alavaro dengan gemas sehingga Alvaro terkekeh.
"Bunda dan Ayah sayang Alvaro dan juga Dede sampai kapanpun! Dan Alvaro juga harus sayang sama Dede ya!" Ujar Devan kemudian meciumi wajah Alvaro dengan gemas.
Alvaro kembali terkekeh dan menjawab, " Iya Ayah..."
"Nah, gitu dong! Baru jagoan Ayah!" Ujar Devan sambil beranjak berdiri dan membawa Alvaro naik ke atas ranjangnya.
Ia pun memakaikan baju Alvaro dan memberinya susu.
"Ngobrol apa sama Alvaro, Yang?" tanya Kanaya sambil memeluk lengan Devan dan meletakkan kepalanya di bahu Devan.
__ADS_1
"Men Talk," jawab Devan pendek.
Kanaya mengangkat kepalanya dan menatap Devan tak percaya, dan menemukan bahwa Devan hanya bergurau saja. Ia pun mencubit lengan Devan hingga Devan mengaduh, kemudian kembali menyandarkan kepalanya di bahu Devan sambil memperhatikan Alvaro yang sedang minum susu.
Setelah Alvaro tidur, Devan mengangkat Kanaya bride style dan membaringkannya di ranjang mereka.
Ia pun meraba perut besar Kanaya dan mengecupnya beberapa kali.
"Anak gadis Ayah lagi apa?" gumamnya membuat Kanaya tertawa.
"Princess lebih kalem dari Alvaro," ujar Devan sambil merebahkan diri di samping Kanaya sementara tangannya masih mengelus perut Kanaya.
"Mungkin karena dia perempuan," ujar Kanaya sambil memegang tangan Devan di atas perutnya. Dokter Gita memang sudah mengatakan jika anak dalam kandungan Kanaya adalah perempuan.
"Mungkin, aku rasa dia seperti Ibunya, cantik, kalem dan baik hati." ujar Devan sambil melirik ke arah Kanaya.
"Hmmm... dia harus lebih baik dari pada aku," ucap Kanaya sambil mendekatkan dirinya ke arah Devan.
Mereka berdua terdiam, menikmati keheningan sambil mencari gerakan bayi di perut Kanaya.
"Ay, aku berfikir untuk mengundang Elvano ke rumah untuk makan siang besok," ujar Devan tiba - tiba pada Kanaya.
Kanaya menoleh ke arah Devan, mencoba memahami maksud Devan mengundang Elvano.
"Itu kalau kamu tidak keberatan, Ay. Tapi kalau kamu keberatan aku mengerti," ujar Devan.
"Aku nggak keberatan, Van. Apa kamu sendiri tidak apa - apa?" tanya balik Kanaya.
"Ya. Aku melihat itikad baiknya,Ay. Dan lagi pula, dia tidak akan macam - macam denganmu. Kalau dia macam - macam dia harus hadapi aku." ujar Devan sambil menyeringai.
"Apa - apaan sih, Van!" Ujar Kanaya sambil tertawa dan menepuk dada bidang Suaminya.
Devan ikut tertawa dan merangkul Kanaya dalam pelukannya.
"Kita tidur sayang," ujar Devan sambil memeluk erat Kanaya.
*******
Taksi online yang Elvano naiki berhenti di depan sebuah rumah yang ia yakini adalah rumah Devan dan Kanaya. Rumah indah dan besar itu terletak di kawasan elite di kota itu. Menunjukkan bahwa jika Devan telah menjadi seorang pengacara yang sukses. Tetapi memang benar, siapa yang tidak mengenal pengacara kondang Devan Permana?
Seorang pelayan laki - laki membukakan gerbang untuknya dan menanyakan keperluannya.
"Saya Yohanes Elvano Alvarendra, Pak Devan dan Ibu Kanaya mengundang saya makan siang," ujar Elvano padanya.
__ADS_1
"Ooh Pak Elvano, silahkan masuk Pak. Pak Devan sudah menunggu Bapak."
Taksi itu pun masuk dan berhenti di depan pintu masuk rumah itu, dan berhenti setelah Elvano turun.
"Silahkan masuk, Pak." ujar Joni membukakan pintu rumah itu.
"Silahkan duduk Pak, saya beritahu Bapak dulu," ucap Joni lalu ia pergi meninggalkan Elvano di ruang tamu rumah itu.
Tak berapa lama Devan turun sambil menggendong Alvaro.
"Elvano selamat datang," sapa Devan sambil tersenyum dan menyalami Elvano.
"Terima kasih Devan," balas Elvano, saat ia menyalami Devan, kemudian matanya langsung menoleh ke arah makhluk kecil menggemaskan di samping Devan.
"Alvaro, salim sama Papa Elvano," ujar Devan pada Alvaro. Alvaro pun melepas pegangan tangannya dan mencium tangan Elvano.
Elvano berjongkok dan menarik Alvaro hingga ia bisa memeluk dan mencium Alvaro.
"Papa bawa sesuatu buat Alvaro," ujar Elvano sambil menarik paper bag yang ia taruh di meja dan mengeluarkan isinya sebuah buku cerita dan lego duplo my first train.
"Yeay!" Teriak Alvaro saat ia melihat Elvano mengeluarkan hadiah untuknya.
"Om Papa Elpano, apa ni?" tanyanya saat memegang kotak lego yang di bawanya.
Mereka duduk di sofa dan mulai membuka mainan yang di bawa Elvano untuk Alvaro.
"Ini lego. Alvaro nanti bisa buat kereta seperti ini," ujar ujar Elvano sambil menujuk gambar kereta di box mainan itu dan mulai membuka serta menyusunnya.
"1.. 2... 3... 4.... 6... 10..." ucap Alvaro saat ia melihat angka - angka yang tertera di kereta lego mainan itu.
"Ooh iya pinter. Alvaro udah bisa baca angka yah?" ujar Elvano takjub menyadari Alvaro sudah bisa mengenali angka - angka yang ada di kereta mainan lego itu.
"Alvaro, sudah bisa hitung sampai 10," ujar Devan sambil tersenyum.
Devan pun membiarkan Alvaro bermain bersama Elvaro sambil menunggu makan siang mereka siap.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.