
Setelah menarik nafas dalam dan menenangkan dirinya, Kanaya mengangkat panggilan telepon dari Devan.
"Halo, Van!" Sapa Kanaya seperti biasa.
"Halo, Ay! Apa kabarmu baik hari ini? Apa kamu bersenang - senang di sana?" tanya Devan bertubi - tubi"
"Dan bagaimana kabar si ganteng Alvaro? Apa dia merindukanku?" tanya Devan lagi tidak memberikan kesempatan untuk Kanaya menjawab.
Kanaya tersenyum mendengar pertanyaan Devan yang banyak itu.
"Ya?" jawab Kanaya sambil tersipu.
"Sayang, aku menanyakan mu banyak pertanyaan dan jawabanmu hanya satu kata?" protes Devan.
"Apalagi yang harus ku jawab selain, Ya?" ujar Kanaya sambil terkekeh.
"Apa kamu akan menjawab semua pertanyaanku dengan jawaban, Ya." tanya Devan.
"Mungkin, tergantung apa pertanyaannya?" jawab Kanaya.
"Do you miss me?" tanya Devan.
Kanaya tersenyum mendengar pertanyaan Devan.
"Ya, I miss you," jawab Kanaya sambil tersenyum. Sudah tiga hari Kanaya tidak pernah bertemu Devan, karena Kanaya pergi ke kota D saat Devan pun sedang bekerja ke kota G.
" I miss you too, Ay." balas Devan.
"Apa Alvaro baik - baik saja? Katakan padanya I miss him," tanya Devan.
"Iya, dia aktif seperti biasa dia pun rindu padamu," jawab Kanaya.
"Apa kamu sudah pulang kerumah?" tanya Kanaya, memgingat Devan sudah pergi tiga hari pergi bersama Monika.
"Aku baru saja sampai. Kamu jadi pulang besok? Biar aku jemput ya? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu kalian," ujar Devan.
"Ya, sepertinya aku pulang besok," ujar Kanaya namun ia ragu, jika ia akan menemenui Elvano atau tidak.
Kanaya teringat kembali pada apa yang Lisa katakan mengenai Elvano.
__ADS_1
"Kanaya ada apa? Kamu baik - baik saja?" tanya Devan yang memanggil nama Kanaya beberapa kali namun sepertinya Kanaya tidak merespon.
"Ya, ya Van. Aku baik - baik saja," ujar Kanaya segera dan menghapus pikirannya terhadap Elvano.
"Kamu yakin?" tanya Devan yang memperhatikan Kanaya seperti lebih banyak melamun saat bicara dengannya.
'Haruskah aku menceritakan hal ini pada Devan?' batin Kanaya.
"Ay, apa yang kamu pikirkan?" tanya Devan dengan intonasi yang menuntun Kanaya untuk bercerita padanya.
Kanaya terdiam beberapa saat dan Devan masih menunggu Kanaya untuk bercerita. Jelas bagi Devan ada yang menganggu pikiran Kanaya.
"Aku bertemu dengan Lisa, tadi sore," ujar Kanaya akhirnya bercerita.
"Lisa... adiknya Elvano?" tanya Devan memastikan mereka membicarakan orang yang sama.
"Ya, adiknya Kak Elvano." jawab Kanaya.
Terdengar suara Devan yang menarik nafas panjang.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Devan mada suaranya masih tenang, memberi isyarat bahwa dia akan tetap mendengarkan.
"Kami bicara dan....," Kanaya berhenti sejenak mencari kata - kata yang tepat.
"Aku tidak bisa menutupi mengenai Alvaro... maksudku.... sudah jelas bukan?" ujar Kanaya menertawai penampilan dirinya sendiri yang tidak menutupi kehamilannya.
"Kamu takut mereka akan mengambil Alvaro darimu?" tanya Devan menebak kegelisaham Kanaya.
Kanaya tertegun, sebenarnya bukan itu yang ada pikiran Kanaya, meskipun itu mungkin saja terjadi.
"Bukan, Van. Maksudku bukan itu yang aku takutkan sekarang.... untuk saat ini." jawab Kanaya.
Ia merasa gelisah dan beranjak dari duduknya di ranjang hotel.
Devan tidak berkomentaer dan memilih untuk mendengarkan lebih lanjut.
"Aku baru tahu, kalau saat ini, Kak Elvano.... di penjara. Dan Lisa.... dia memintaku untuk menemuinya," ujar Kanaya dengan tarikan nafas panjang, seakan hal itu sangat berat di lakukannya.
Tetapi bukan Devan jika tidak mengerti kegalauan hati Kanaya. Meskipun Devan berharap Kanaya tidak berhubungan dengan Elvano lagi, tetapi ia tahu, menyuruh Kanaya untuk menghindari Elvano tidak akan membuat hati Kanaya tenang. Itu sebabnya Kanaya gelisah, karena sekali lagi, Kanaya tidak bisa mengabaikan orang lain, terutama yang meminta tolong padanya, meskipun hatinya berat untuk melakukannya.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu katakan kalau kamu menemuinya, Ay?" tanya Devan yang ingin tahu apa yang ada di pikiran Kanaya.
"Entahlah, Van? Aku pun tidak tahu, apa yang akan aku katakan atau aku lakukan. Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan menemuinya atau tidak," ujar Kanaya dengan perasaan yang bimbang.
"Lisa mengatakan bahwa Kak Elvano, dia kehilangan gairah untuk hidup. Itu sebabnya ia meminta aku untuk menemui, Kak Elvano. Lisa sangat khawatir akan keadaan Kak Elvano," ujar Kanaya menceritakan apa yang Lisa katakan.
"Ay, apapun keputusanmu, pastikan kamu siap untuk menghadapinya. Mengenai Alvaro, cepat atau lambat Elvano akan tahu, bagaiamana pun dia adalah Ayah biologis Alvaro dan dia berhak untuk tahu hal itu," ujar Devan.
Devan merasa sangat berat saat mengatakan hal yang terakhir. Dari lubuk hatinya ia berharap ia adalah Ayah biologis Alvaro. Akan tetapi sebagai seorang sahabat, ia harus mengatakan yang sebenarnya agar Kanaya bisa menentukan pilihannya dan tidak akan pernah menyesalinya suatu saat nanti.
"Hening sesaat. "Apa kamu mau aku menemanimu? Aku bisa kesana besok pagi?" ujar Devan menawarkan diri menemani Kanaya. Ia tidak keberatan jika harus mengejar pesawat pagi untuk menemui Kanaya dan memberikan dukungan padanya.
Kanaya mempertimbangkan tawaran Devan. Pasti akan lebih mudah jika Devan berada di sisinya saat itu. Tetapi, Kanaya juga tidak ingin selalu merepotkan Devan. Ia tahu Devan punya pekerjaan yang harus di selesaikannya di sana. Apalagi ia baru pulang dari luar kota, pasti banyak pekerjaan tertunda yang harus ia kerjakan. Lagi pula Kanaya sudah merasa cukup dewasa untuk menghadapi hal itu seorang diri. Mungkin sudah waktunya untuk ia bertemu dengan Elvano.
"Terima kasih, Van. Aku rasa, aku masih bisa untuk menghadapinya," ujar Kanaya menolak halus tawaran Devan.
"Tapi aku akan senang sekali kalau kamu akan menjemput kami di bandara besok," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Pasti akan aku lakukan tanpa kamu minta, Ay." ujar Devan juga sambil tersenyum.
"Apa kamu merasa sudah lebih baik sekarang?" tanya Devan yang merasa nada bicaranya sudah lebih tenang saat itu.
"Kurasa. Terima kasih, Devan." jawab Kanaya.
"Pasti, Ay. Aku tahu kamu pasti bisa menghadapinya besok,"
"Usap sayang buat Alvaro, Ay. Sebaiknya kamu istirahat sekarang," ujar Devan sebelum mereka menutup percakapan telepon mereka.
Kanaya tidak segelisah tadi. Meskipun ia harus menghadapi Elvano besok pagi. Akan tetapi ia merasa lebih baik jika sudah berbicara dengan Devan. Ia pun tertidur tak lama setelah telepon dengan Devan usai.
Pagi harinya, Kanaya duduk dalam mobil kantornya siang itu. Pak Bandi, seorang supir dari perusahaan Mahendra Enterprise, duduk di kursi pengemudi, menunggu bersama Kanaya di halaman parkir Lembaga Pemasyrakatan di kota itu. Di tempat itulah Elvano menjalani masa hukumannya. Menurut Lisa, Elvano mendapatkan hukuman tiga tahun penjara karena telah membuat cacat Maya. Maya mengalami kelumpuhan permanen karena amukan Elvano malam itu.
Lima menit Kanaya sudah menunggu disana untuk menemui, Elvano. Sampai ia melihat Elvano berdiri di depan pintu. Ini kali pertama Kanaya bertemu lagi dengan Elvano. Elvano tampak sangat berbeda dari Elvano yang dulu Kanaya kenal.
Elvano sangat terkejut melihat Kanaya duduk di kursi pengunjung hari itu. Raut wajah Elvano berubah saat ia melihat Kanaya, wanita yang sangat ia sayangi dan ia dambakan selama ini.
"Kanaya....."
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like... like... like yang banyak yah.