
"Aohhmmm... " Clara menguap beberapa kali, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan ia sudah selesai mengerjakan PR nya.
"Tidur yuk, Ra," ajak Kanaya, saat melihat anaknya itu sudah menguap dan mengucek - ngucek matanya beberapa kali.
"Clara mau bobo, sama Papah," ujarnya sambil melihat ke arah Elvano.
"Clara, Papa Elvano kan mau pulang. Ini sudah malam," ujar Clara sambil melihat ke arah Elvano.
"Clara, Papa Elvano kan sudah mau pulang, ini kan sudah malam," ujar Kanaya merasa tidak enak jika harus merepotkan Elvano lagi.
"Nggak mau! Clara mau bobo sama Papah!" Ujar Clara bersikeras dan berjalan menghampiri Elvano dan duduk di pangkuannya.
"Nggak pa - pa Ay, biar aku yang temani Clara sampai dia tidur," ujar Elvano sambil ia menoleh ke arah Kanaya.
Kanaya hanya pasrah saja yang melihat kelakuan Clara seharian ini seperti menempel pada Elvano.
"Alvaro juga sudah selesai, Pah. Alvaro juga mau tidur," ujar Alvaro.
"Besok Papah anterin Alvaro ke sekolah ya, Pah?" tanya Alvaro pada Papanya dengan wajah yang memohon.
"Alvaro?!" Tegur Kanaya.
"Nggak pa - pa, Ay. Aku nggak keberatan. Kebetulan besok aku nggak ada meeting pagi," jawab Elvano sekali lagi.
"Clara mau bobo sama Papah, pokoknya Papah nggak boleh pulang!" Teriak Clara sambil melingkarkan tangannya di leher Elvano dan merebahkan kepalanya di dada Elvano sambil menutup matanya. Ia sudah sangat mengantuk. Kanaya speechless di buatnya, menyadari ia tak ada pilihan lain selain membiarkan Elvano menemani Clara tidur.
"Sebaiknya aku langsung bawa Clara ke atas," ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya, menggendong Clara yang masih memeluknya erat.
Alvaro dan Kanaya pun ikut berdiri dan berjalan ke atas.
Elvano merebahkan Clara di kasurnya dan Clara tidak melepaskan pelukannya pada Elvano.
"Papah..." gumam Clara. Ia tidak ingin Elvano meninggalkannya saat ia tertidur. Ia sudah merencanakan ini bersama Alvaro tadi sore Dan tugas Clara adalah membuat Elvano di rumah mereka malam itu.
Elvano pun terpaksa ikut merebahkan diri dan tidur bersama Clara dalam pakaian kerjanya dan Kanaya memperhatikan itu.
Kanaya keluar kamar Clara dan menengok ke kamar Alvaro yang sudah naik ke atas kasurnya juga. Dan ia pun masuk ke dalam kamarnya dan berjalan menuju closet.
__ADS_1
Dulu closet itu, di isi oleh separuh pakaiannya dan separuhnya lagi pakaian milik Devan. Namun, sejak Devan tidak bersamanya lagi, closet itu tidak tampak penuh. Sebagian besar pakaian Devan sudah dia hibahkan agar lebih bermanfaat untuk orang lain. Ia hanya menyimpan beberapa buah pakaian Devan untuk mengenangnya dan mengobati rindunya saat ia sangat merindukan Devan. Ada beberapa setelan jas dan pakaian rumah favorit Devan yang sering Devan pakai masih di simpannya di sana.
Kanaya mengambil sweat pants dan kaos oblong milik Devan, dan membawanya ke kamar Clara. Setelah mengetuk pintu dengan pelan ia masuk ke dalam.
Di lihatnya Clara yang telah tertidur lelap tetapi Elvano masih terbangun.
Kanaya tidak berbicara ia menaruh pakaian ganti itu di meja belajar Clara dan menepuknya memberi isyarat pada Elvano bahwa ia bisa memakainya. Ia pun keluar setelah itu.
Setelah memastikan Clara tertidur lelap. Elvano bangun perlahan dan membuka pelukan tangan Clara di tubuhnya.
Ia mengambil pakaian yang di siapakan untuknya dan menyadari jika itu adalah milik Devan yang masih di simpannya. Meskipun begitu, ia memakainya juga. Bagaiaman pun pakaian itu lebih nyaman ia gunakan di bandingkan baju kerja yang ia kenakan saat itu.
Kanaya tidak bisa tidur lelap malam itu. Ia gelisah, hatinya gundah karena Elvano ada di sana, di rumahnya malam itu. Belum lagi karangan bunga yang di berikannya. Elvano belum pernah memberinya karangan bunga, kenapa sekarang tiba - tiba ia membelikannya? Dan ada apa dengan jantungnya yang tak beraturan berirama hari ini? Tidak mungkin kan kalau ia merasakan perasaan seperti itu lagi pada Elvano?
Kanaya beranjak dan berjalan keluar kamar. Ia merasa membutuhkan segelas air agar ia bisa tenang dan berharap bisa segera tidur setelahnya.
Sesampainya di lantai bawah, Kanaya langsung berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. Ia meneguknya dengan penuh dahaga. Ia merasa benar - benar membutuhkan air itu untuk menjernihkan pikirannya dan mengimbangi rasa hangat yang ada di dalam dirinya yang datang tidak terduga.
Setelah merasa cukup, ia hendak kembali ke kamarnya sambil membawa segelas air putih di tangannya, ketika matanya menangkap buket bunga yang di berikan oleh Elvano. Langkah kakinya terhenti dan tanpa ia sadari, ia berjalan ke arah buket bunga itu. Di pandanginya buker bunga itu. Benar kata Siti, buket bunga - bunga itu memang cantik dan setiap helainya melambangkan sesuatu. Ia mengambil sebatang bunga mawar merah dan menghirup wanginya.
Saat Kanaya menoleh Elvano berjalan ke arahnya mengenakan pakaian Devan yang ia berikan padanya.
Kanaya seperti terhipnotis memandang Elvano dengan pakaian itu. Ia tidak pernah menyangka jika Elvano dan Devan memiliki postur yang hampir sama, pakaian itu pas di pakai Elvano, meskipun sedikit agak terlalu pas. Karena tubuh Elvano agak besar sedikit di banding Devan.
Saat Kanaya tersadar Elvano sudah ada di hadapannya. Cepat - cepat di taruhnya bunga mawar tadi ke dalam vasnya, dan ia mengikat jubah tidurnya dengan erat agar menutupi gaun malam yang di pakainya malam itu.
"Kamu tidak harus memberikan bunga ini, Kak El." ujar Kanaya sambil menunduk.
"Aku ingin Ay. Kamu cantik dan baik, dan kamu pantas mendapatakannya," ujar Elvano sambil menatap Kanaya yang tertunduk di hadapannya.
"Dan kamu tahu? Bunga - bunga ini melambangkan sesuatu? Sesuatu yang aku ingin kamu tahu..." ujar Elvano sambil mendekatkan dirinya ke arah Kanaya.
"Bunga Lili ini, sebagai ungkapan permintaan maafku padamu. Atas apa yang aku lakukan padamu dulu. Selamanya aku akan tetap merasa bersalah," ujar Elvano dengan jujur sambil mengambil setangkai bunga Lili putih pada Kanaya.
"Aku berharap kamu bisa memaafkan aku," ujar Elvano lagi.
"Dan ini..." ujarnya setelah beberapa saat, sambil ia meraih mawar merah di tangannya dan memberikannya pada Kanaya.
__ADS_1
"Ini menyatakan bagaimana perasaanku padamu. Aku menyayangimu Ay, sangat menyayangimu," ucap Elvano sambil menatap Kanaya yang tetap tertunduk.
Kanaya tidak bisa mengendalikan detak jantungnya saat itu, sehingga ia tidak sanggup menatap Elvano. Ia takut Elvano akan mengetahui apa yang di rasakannya dan ia belum siap untuk itu.
"Kak Elvano...." ucap Kanaya berusaha untuk menghentikkan ucapan Elvano karena ia belum siap untuk hal ini.
Akan tetapi Elvano meraih dagunya dan membuatnya menatap matanya. kemudian memegang erat tangan Kanaya.
"Ay, aku ingin membuat lembaran baru antara kita. Kamu, Aku, Alvaro dan juga Clara. Aku sangat menyayangi kalian, dan aku ingin menjadi bagian dari hidup kalian," ujar Elvano.
"Kak El..." ucap Kanaya sambil mengalihkan pandangannya dari Elvano dan menaruh 2 kuntum bunga yang di berikan Elvano kembali ke dalam vas.
"Maafkan aku Kak El... Aku... aku belum siap untuk ini," ujar Kanaya sambil berjalan beberapa langkah menjauhi Elvano. Ia merasa membutuhkan jarak antara dirinya dan Elvano, agar ia dapat berpikir dan bernafas dalam degupan jantungnya yang tidak berirama.
"Gak pa - pa, Ay. Aku paham. Aku akan tunggu sampai kamu siap menerima aku," ujar Elvano meskipun ia kecewa, tetapi ia mengerti.Meskipun setahun sudah Devan meninggalkannya, akan tetapi ia tahu kehilangan Devan sangat berat bagi Kanaya. Selain sahabatnya Devan adalah pahlawan dalam hidup Kanaya yang menyelamatkan dari monster yang ada di diri Elvano dulu.
"Aku... aku nggak ingin memberikan harapan yang akan membuat kamu kecewa nantinya... aku... aku... sungguh tidak tahu kapan aku akan siap," ujar Kanaya tidak ingin Elvano kecewa karena menunggunya.
Meskipun Kanaya merasakan sesuatu atas perlakuan Elvano, tetapi belum siap ia melepas rasa yang ada di hatinya untuk Devan. Dan ia tidak tahu, kapan ia akan siap untuk itu.
"Ay, aku akan tunggu sampai kapanpun," ujar Elvano sambil mendekatinya dan menggenggam erat tangannya kembali.
'Kanaya, aku tidak masalah untuk menunggumu selama, sebulan, dua bulan, bahkan setahun lagi, asalkan kamu mau memberikan hatimu untukku. Ay, seandainya kamu tahu, berapa lama aku sudah menunggumu....' batin Elvano.
Bersambung.....
**Alhamdulilah Triple Up lagi...
Ayo like dan komentarnya banyakin dong.... masa author aja yang update Kakak nggak dukung di kolom komentarπ π π π
Author seneng banget kalau Kakak semua banyak yang komentar, berasa kalau Kakak semua puas sama ceritanya gitu... jadi author semakin mood nulisnya.π€**
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya.serta rate bintang 5 yah.
__ADS_1