
Devan tahu ASI memang makanan yang terbaik untuk bayi, tetapi menunda kehamilan sampai Alvaro berusia 2 tahun?
"Ay, kamu tahu bahwa aku sangat menyayangi Alvaro, di anakku juga. Tapi menunda sampai 2 tahun apa tidak terlalu lama?" tanya Devan ia terlihat serius memikirkannya.
Kanaya tahu Devan memang ingin segera memiliki anak darah dagingnya sendiri. Dan ia pun tidak meragukan kasih sayang Devan terhadap Alvaro seandainya nanti Kanaya akan melahirkan anak Devan.
"Kalau 2 tahun terlalu berat mungkin tunggu Alvaro sampai berusia paling tidak 1 tahun?" tanya Kanaya mencoba bernegosiasi. Mencari solusi yanh tidak memberatkan dirinya, Alvaro maupun Devan. Kanaya pikir satu tahun ASI pun cukup. Setelah itu ia tidak perlu menunda kehamilan lagi.
Alvaro bertepuk tangan menarik perhatian Ayah dan Bundanya. Melihat hal itu, Devan mengambil boneka dinosaurus mainan kesukaan Alvaro dan menyembunyikan di belakang punggungnya.
"Alvaro lihat, Ayah punya apa?" tanya Devan sambil memperlihatkan boneka dinosaurusnya dan menyembunyikannya lagi dengan cepat.
Alvaro tidak bisa diam. Tangannya menggapai ke depan meminta pada Devan.
"Yah...," ucapnya.
Devan dan Kanaya tertegun.
"Alvaro tadi bilang apa?" tanya Devan berharap ia tidak salah dengar.
"Alvaro, tadi bilang apa sayang?" tanya Kanaya, ikut menunggu jawaban Alvaro.
"Yah....," ucapnya lagi sambil memandang wajah Devan.
Raut wajah Devan berubah.
"Kamu dengar itu, Ay. Dia panggil aku Ayah!" Seru Devan dengan suka cita.
__ADS_1
Di raihnya Alvaro dan di peluknya dengan erat.
"Ayah!" Ucap Devan lagi sambil menatap wajah Alvaro.
"Yah....," ucap Alvaro mengikuti perkataan Devan.
Devan sangat senang denga kata - kata pertama Alvaro justru memanggil namanya, meskipun tidak penuh, tetapi ia tahu apa yang di maksud Alvaro adalah dirinya. Ayah!
Kanaya pun ikut senang dan memandangi Devan yang sedang mengangkat tubuh Alvaro tinggi ke atas kemudian memeluknya, hingga Alvaro tergelak.
"Aku bahagia sekali, Ay. Kalimat pertamanya, ia menyebutku!" Ujar Devan dengan penuh suka cita, sambil memeluk Kanaya dan Alvaro bersamaan.
Mereka berdua dan saling pandang, dan tiba - tiba Devan berkata, " Ok satu tahun, Ay.Kita tunda selama satu tahun."
"Kamu serius, Van?" tanya Kanaya.
"Yah...." ucap Alvaro lagi membuat Devan dan Kanaya kembali tertawa senang.
"Bunda.... coba bilang Bunda, Alvaro..." ujar Kanaya berusaha mengajari Alvaro.
"Yah....," jawab Alvaro sambil terkekeh.
"Sabar sayang, dia pasti akan bilang Bunda, nanti?" ujar Devan berusaha menghibur Kanaya.
"Iya, Van. Aku tahu," sambil tersenyum. Ia berharap Alvaro bisa segera memanggilnya Bunda, seperti ia memanggil Devan, Ayah!
"Kita keluar yuk, Ay?" ujar Devan tiba - tiba.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Kanaya.
"Ke Mall dekat sini, ada sesuatu yang aku mau beli," jawab Devan kemudian menarik tangan Kanaya agar bangkit dari kasur, sementara tangan satunya menggendong Alvaro.
Sebentar saja mereka sudah berjalan bergandengan di sebuah Mall dan Devan mengajak Kanaya masuk ke sebuah Drugstore.
"Kamu cari apa, Van?" tanya Kanaya sambil mengikuti Devan. Devan tidak menjawab sampai mereka tiba di sebuah rak dan berhenti, kemudian Devan bertanya " Kamu mau yang mana Ay?"
Kanaya mengikuti arah pandang Devan dan mendapati merek pelindung, alat kontrasepsi di rak tersebut.
"Terserah kamu, Van?' jawab Kanaya denga wajah yang memerah.
"Kenapa Devan bertanya kepadaku? Mana aku tahu yang mana?" batin Kanaya sambil menggigit bibir bawahnya.
Seumur - umur Kanaya belum pernah melihat ataupun menyentuh benda itu, bagaimana dia tahu harus memilik merek yang mana dari sekian banyaknya merek yang ada di sana.
Devan menoleh ke arah Kanaya dan tersenyum geli melihat wajah Kanaya yang sudah memerah. Namun ia tidak berkata apa - apa dan mulai mengambil satu kotak dan membaca tulisannya, kemudian mengambil satu kotak lain dan membacanya juga.
Akhirnya Devan mengambil satu kotak dan memasukannya ke dalam keranjang belanja yang di pegang oleh Kanaya. Kemudian ia mengambil satu kotak lagi, dan satu kotak lagi, dan satu kotak lagi. dan akhirnya Devan memasukkan beberapa macam kotak dengan warna dan merek yang berbeda.
"Van, kok banyak banget?" tanya Kanaya bingung, sambil melihat ke kanan dan ke kiri, takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.
"Ini beda - beda, Ay. Ada yang tipis, ada yang bergerigi, ada yang beraroma..." ucap Devan sambil mengangkat beberapa macam kotak, dan menujukkannya pada Kanaya. Kanaya menjadi tidak fokus lagi mendengar penuturan Devan yang selanjutnya yang menerangkan bentuk dan model serta ke istimewaan masing - masing kotak. Ia bahkan tidak tahu bahwa banyak sekali macamnya. 'Buat apa? Toh fungsinya juga sama untuk mencegah kehamilan?' batin Kanaya heran
Bersambung...
Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan juga hadiahnya
__ADS_1