Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Devan Dan Elvano


__ADS_3

Kanaya baru saja turun dan mengecek persiapan di meja makan saat ia mendengar suara gelak tawa Devan, Elvaro dan Alvaro. Ia pun menghampiri mereka.


"Sudah datang, Kak El." tanyanya saat ia masuk ke ruang tamu.


"Iya, belum lama," jawab Elvano sambil menyalami Kanaya.


"Maaf ya, makan siangnya masih di siapin," ujar Kanaya sambil duduk di samping Devan.


"Gak pa - pa santai aja," ujar Elvano tidak keberatan makan siang. Toh, ia sedang asyik bermain dengan Alvaro.


"Unda, liat..... Alo unya ainan alu," ujar Alvaro memamerkan mainan baru miliknya.


"Oh ya? Wah... bagus banget Alvaro. Alvaro sudah bilang terima kasih?" tanya Kanaya menanggapi ucapan anaknya.


Alvaro mengangguk dengan lucunya dan kembali asyik bermain membuat kereta dari lego, dengan panduan Elvano.


"Kak El, mau minum apa?" tanya Kanaya karena melihat belum ada minuman di meja ruang tamu.


"Apa aja Ay, nggak usah repot - repot," jawab Elvano.


Kanaya tersenyum dan menoleh ke arah Devan.


"Kamu mau minum apa, Yang?" tanyanya pada Devan.


"Kopi aja, samain sama Elvano sekalian," ujar Devan.


"Ok tunggu ya," ujar Kanaya lalu ia bangun dan berjalan menuju dapur.


Kanaya membuat kopi sendiri untuk Devan dan Elvano. Ia tahu kedua - duanya suka black kopi tanpa gula.


Tak lama kemudian Alika dan Ratna pun bergabung bersama mereka.


Meskipun awalnya Ratna masih belum bisa menerima Elvano karena apa yang di lakukannya pada Kanaya di masa lalu. Ia pun sudah mulai bisa menerimanya pada saat itu. Apalagi setelah ia melihat itikad baik Elvano dan usahanya untuk dekat dengan anaknya, Alvaro. Bagaimana pun tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Elvano adalah Ayahnya Alvaro.


Mereka semua pun makan siang bersama - sama seperti sebuah keluarga pada umumnya dan memang tingkah pola Alvaro yang membuat suasana menjadi ceria.


Selesai makan siang bersama, Alvaro tampak mengantuk. Ia sudah menguap beberapa kali.


"Ay, Alvaro ngantuk ajak tidur dulu," ujar Ratna melihat cucunya menguap beberapa kali.


Kanaya pun menggendong Alvaro.


"Alvaro, salim dulu sama Papa Elvano," ujar Kanaya sambil menghampiri Elvano.

__ADS_1


"Om Papa salim," ujar Alvaro sambil menyodorkan tangan kanannya dan mengucek matanya yang sudah mengantuk dengan tangan kirinya.


Elvano meraih Alvaro dan memeluk ciumnya.


"Alvaro udah ngantuk ya? Ya udah Alvaro bobok dulu. Besok - besok Papa main lagi ya.." ujar Elvano sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Elvano dengan gemas.


Alvaro mengangguk, ia pun senang jika Om Papa Elpano datang dan main bersama dengannya.


Setelah pamit dari Elvano gantian ia pamit pada Devan.


"Alvaro bobo sama Bunda ya, nanti malam baru sama Ayah," ujar Devan lalu mencium pipi kanan Alvaro.


Alvaro mengganguk saking ngantuknya ia merebahkan kepalanya di pundak Kanaya dan tidak banyak berkata - kata seperti biasanya.


Devan mengajak Elvano mengobrol di halaman belakang dekat kolam.


"Gimana bisnismu Elvano?" tanya Devan mulai pembicaraan.


"Baik. Kebetulan ada beberapa peluang bisnis di sini," jawab Elvano duduk tak jauh dari Devan.


"Oh ya? Di bidang apa?" tanya Devan ingin tahu.


"Properti, kebetulan aku bekerja sama dengan Abian Syahlendra, untuk membuka sebuah perumahan di sini," ujar Elvano.


"Ya, aku mengenal Abian sudah cukup lama," ujar Elvano.


"Bagaimana di Firma?" tanya balik Elvano.


"Baik, masih struggling dengan beberapa kasus," ujar Devan sambil tersenyum.


"Kamu hebat Devan, dalam waktu yang cukup singkat kamu bisa memiliki semua ini," puji Elvano tulus.


Devan tersenyum.


"Aku hanya beruntung," ujar Devan merendah.


"Kamu memang hebat dan Kanaya beruntung bersama kamu," ujar Elvano.


Mereka berdua hening.


"Apa kamu bertemu seseorang?" tanya Devan tiba - tiba.


Elvano melihat ke arah Devan sesaat sebelum menjawab, " Aku belum punya waktu untuk itu. Mungkin nanti, kalau usahaku sudah settle, tapi untuk sekarang, aku masih belum memikirkan hal itu," jawab Elvano menutupi apa yang di rasakannya terhadap Kanaya.

__ADS_1


Devan mengangguk, meskipun ia dapat menangkap apa yang ada di balik kata - kata Elvano, tapi ia tidak akan memaksa Elvano untuk mengungkapkannya.


"Devan, aku ingin kamu tahu, bahwa aku tidak akan menganggu hubunganmu dengan Kanaya. Kanaya bahagia bersamamu, dan aku pun ikut senang. Tujuan ku datang ke kota ini tidak lain agar aku bisa di dekat dengan Alvaro, itu saja. Dan aku akan senang jika kalian mau menganggap aku teman," ujar Elvano meyakinkan Devan bahwa ia tidak akan menganggu rumah tangganya.


"Oke Elvano, aku percaya kata - kata mu," jawab Devan sambil menatap mata Elvano.


"Dan aku sangat berterima kasih padamu karena sudah membesarkan Alvaro dan menyayanginya seperti dia anakmu sendiri, sesuatu hal yang tidak bisa aku lakukan di waktu lampau," ujar Elvano lagi.


"Tidak apa, aku memang sangat menyayangi Alvaro, dan aku pun menganggapnya anakku sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai Alvaro. Dan aku pun tidak akan melarangmu untuk mengunjungi Alvaro selama kita masing - masing berpikir yang terbaik untuknya." ujar Devan menimpali ucapan Elvano.


Sejak saat itu kedua pria yang berada dalam hidup Kanaya itu pun mempunyai saling pengertian satu sama lain. Baik Devan maupun Elvano, mereka lega telah saling bicara dari hati ke hati.


****


Malam harinya Elvano menemani Raka pergi ke Albatros Pub, hanya untuk mengobrol, minum dan mencari udara segar.


"Minum apa, El?" tanya Raka.


"Coffe Black," jawab Elvano.


"Yakin?" tanya Raka sambil memperlihatkan Elvano beberapa daftar minuman yang mengandung alkohol.


"Ya, kopi saja." jawab Elvano. Ia sudah lama meninggalkan kebiasaan minumnya. Ia bahkan tidak tertarik mencobanya atau pun melihat menu bagian minuman beralkohol. Ia sudah belajar dari kesalahannya di masa lalu. Apalagi ia sudah punya Alvaro sekarang.


"Oke... gue pesen... classic martini," ujar Raka pada pelayan pub itu.


"You should loosen up a little bit Elvano," ujar Raka sambil matanya melihat ke sekeliling Pub. Raka memag masih single dan selain untuk mengobrol, minum dan mencari udara segar, ia memang berniat mencari teman kencan malam itu.


Elvano terkekeh. Kalau bukan Raka yang memintanya, ia tidak akan mau datang ke Pub.


"Bukannya gue nggak mau loosen up, tapi gue punya priority sekarang. Gue punya anak." ujar Elvano. Jelas maksud Elvano ia tidak ingin bermain perempuan lagi.


Setelah Raka mendapatkan teman kencan, ia akan langsung pulang ke hotel. Namun bukan itu rencana Raka.


Raka berencana untuk mengajak temannya itu untuk bersenang - senang, sehingga ia bisa melupakan wanita yang di cintainya yang sekarang sudah menjadi istri orang.


"Hey!" Raka melambai pada dua orang wanita yang baru masuk ke dalam Pub.



Visualnya bang Raka Adipura


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2