Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Melahirkan


__ADS_3

Devan terus berceloteh sambil menunjukkan bagian - bagian rumah itu, sementara Kanaya memandangnya dengan tidak berkedip.


"O iya, aku mau nujukin kamu ruangan di atas," ujar Devan dengan mata berbinar.


"Aaaah, Devan! Pekik Kanaya sembari melingkarkan lengannya di leher Devan saat tanpa peringatan, Devan meraih tubuh Kanaya dan menggendongnya bride style.


Devan terkekeh namun tidak menurunkan Kanaya dari gendongannya.


"Aku nggak mau kamu naik tangga sayang, pegangan yang erat," ujar Devan, sambil memandang wajah Kanaya yang hanya beberapa centi menter jauhnya dari wajahnya sendiri, membuat Kanaya tersipu malu.


Devan mengecup pipi Kanaya sebelum ia berjalan dan menggendong Kanaya masuk kedalam rumah dan naik ke lantai dua. Tanpa kesulitan ia menggendong tubuh Kanaya, menahan berat badan Kanaya di tubuhnya yang kekar tanpa ia terlihat lelah sama sekali


Kanaya berpegangan erat pada leher Devan sambil matanya melihat sekeliling rumah yang masih asing baginya, melewati beberapa puluh anak tangga hingga mereka sampai ke lantai 2 dan berhenti di depan sebuah pintu.


"Bisa kamu buka pintunya, Yang?" pinta Devan pada Kanaya, karena ia tidak bisa membuka pintu saat kedua tangannya masih menggedong Kanaya.


Kanaya melakukan hal yang di minta Devan, dan Devan pun melangkah membawa Kanaya masuk kedalam ruangan itu dan menurunkannya di sana.


Ruangan itu masih sepenuhnya kosong, akan tetapi melihat dari bentuknya, Kanaya yakin ruangan itu adalah sebuah kamar yang cukup besar dengan glass wall besar di satu sisinya yang menghadap, ke halaman belakang rumah, yang membuat rumah itu tampak terang di siag hari, meskipun tanpa cahaya lampu.


"Ini?" tanya Kanaya saat masuk kedalam ruangan itu dan Devan menurunkannya di sana.


"Kamar kita?" jawab Devan pendek. Ia lalu menggandeng tangan Kanaya dan menunjukkan apa saja yang ada di kamar mereka.


Sebuah walking closet besar yang cukup untuk menampung pakaian mereka berdua, sebuah kamar mandi dalam yang memiliki ruang shower, toilet dan bathtub terpisah dinding kaca dan sebuah wastafel besar dengan sebuah cermin besar memanjang di salah satu sisi dinding kamar mandi itu. Kanaya bisa membayangkan kamar mandi itu akan terlihat sangat bagus jika sudah di tambahkan aksesoris pelengkapnya.


"Bagaimana menurutmu? Kamu suka Ay?" tanya Devan sambil memeluk Kanaya dari belakang saat mereka tengah menghadap cermin besar di kamar mandi itu.


Kanaya melihat wajah Devan di pantulan cermin di hadapannya saat tangan Devan melingkar di perutnya.


"Aku suka sangat suka, Van." jawab Kanaya dengan jujur karena ia memang menyukai rumah itu dan membayangkan bahwa mereka bertiga Kanaya, Alvaroo dan Devan akan tinggal di sana sebagai sebuah keluarga yang bahagia. Benar - benar seperti impian Kanaya.


"Kalau kamu mau dalam beberapa hari ke depan, kita bisa ketemu sama interior designer dan mulai mengisi rumah ini. Kamu ingin kamar kita seperti apa, dapur, ruang tamu, taman, semuanya nanti bisa kita diskusikan. Aku yakin dalam 1 - 2 bulan kedepan kita bisa mulai pindah dan tinggal di sini," ujar Devan.


Ucapan Devan membuat Kanaya terharu. Tidak pernah terpikirkan dalam benak Kanaya bahwa Devan sudah jauh berpikir di depan mengenai hubungan mereka, masa depan mereka, bahkan membangun sebuah rumah yang tidak bisa di bilang kecil untuk keluarga mereka.


Kanaya bahkan tidak tahu sejak kapan Devan membangun rumah itu, karena Devan tidak pernah menceritakannya padanya. Kanaya benar - benar di buat terkejut olehnya.


Apa yang Devan telah lakukan untuknya selama ini sudah tidak terhitung banyaknya. Bahkan sampai perhatian sekecil apapun membuat Kanaya sangat tersentuh. Kebahagiaan yang di rasakan Kanaya terlalu berlebihan di hatinya, hingga ia pun tidak dapat menahan air mata bahagia yang menetes di pipinya.


"Ssst.... Ay, jangan nangis?' ujar Devan sambil membalikkan tubuh Kanaya menghadapnya dan menghapus air mata Kanaya dengan jarinya.


"Terima kasih, Van. Semua yang kamu lakukan untukku, kamu selalu baik padaku," ujar Kanaya tidak bisa menahan rasa harunya.


"Aku melakukan ini semua untukmu, Ay. aku mencintaimu dan aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih lagi," ucap Devan sambil menatap Kanaya dengan tersenyum.


"Tetapi, apakah semua ini tidak memberatkanmu? Ini semua pasti mahal harganya, Van," tanya Kanaya.


Melihat besarnya rumah itu, dan letakkanya di kawasan perumahan elit, sudah bisa di bayangkan harga rumah itu yang pastinya sangatlah mahal.


"Buat kamu, nggak ada yang terlalu mahal, Ay" ujar Devan sambil menatap Kanaya dan sambil tersenyum.


"Jangan kan rumah, apapun yang kamu minta, pasti aku beri," ujar Devan.


"Lagipula aku tahu kamu tidak bisa hidup tanpa aku," tambah Devan membuat Kanaya tersenyum tersipu. Meskipun yang di katakan Devan benar apa yang di rasakannya. Tetapi Kanaya menolak mengiyakan dan ia hanya tersipu malu dan menunduk.


"Sudah, jangan nangis lagi masih ada yang mau aku tunjukkan padamu," ujar Devan sambil merangkul Kanaya dan membawanya keluar kamar mandi, menyeberangi ruang kamar mereka menuju sebuah pintu. Devan membuka pintu itu dan mereka sampai di sebuah kamar yang tidak terlalu besar dengan dinding berwarna baby blue.

__ADS_1


"Ini adalah kamar Alvaro," ujar Devan sambil mengelus perut Kanaya, seakan ia berbicara dengan anak dalam kandungan Kanaya.


"Alvaro tidur di sini?" tanya Kanaya heran.


"Iya Ay, kamar ini khusus untuknya sampai ia berusia 2 - 3 tahun. Nanti dia bisa pindah ke kamar sebelah kalau sudah lebih besar," ujar Devan seakan sudah memikirkan segala sesuatunya.


Kanaya memutari kamar itu, dan berhenti di depan sebuah jendela yang juga menghadap ke arah kolam di halaman belakang. Devan mengikutinya dan merangkul pundak Kanaya.


"Dan kamar ini, nantinya bisa di gunakan lagi oleh adiknya Alvaro, kalau Alvaro sudah tambah besar," tambah Devan, yang membuat Kanaya menoleh padanya saat ia mengatakan ' Adiknya Alvaro' Devan ikut menoleh ke arah Kanaya dan mengedipkan sebelah matanya pada Kanaya kemudian menyeringai.


"Auuuu!" Teriak Devan, saat Kanaya mencubit dadanya yang bidang.


Wajah Kanaya merona, namun ia sempat masih mencubit Devan sebelum ia berjalan menjauhi Devan, menutupi wajahnya yang saat itu sudah memerah.


Tentu saja Kanaya ingin mempunyai anak bersama dengan Devan, akan tetapi pikiran saat ia tengah bersama Devan ' Menciptakan adik Alvaro lah yang membuatnya menjadi tersipu dan membuat tangannya berkeringat.


"Kanaya, kenapa kamu harus malu, Sayang?" tanya Devan menggoda Kanaya, sambil mensejajari langkah Kanaya dan memeluknya untuk menghentikannya berjalan.


"Bukankah bagus, kalau kita mempunyai banyak anak, agar Alvaro juga tidak kesepian?" ujar Devan lagi masih menggoda Kanaya.


'Banyak anak? Berapa banyak anak yang Devan mau?' Batin Kanaya.


"Lagi pula, sebagai suamimu, aku pasti akan bercinta denganmu setiap hari," bisik Devan di telinga Kanaya.


"Devan!" Protes Kanaya karena Devan mengatakannya tanpa sungkan, sudah pasti Devan wajah Kanaya bertambah merah.


Devan terkekeh dan tidak melepaskan pelukannya.


"Jadi.... bagaimana? Will you marry me?" tanya Devan menuntut jawaban dari Kanaya.


Mata mereka saling menatap


"Kamu sudah tahu kan jawaban aku," jawab Kanaya.


"Aku tahu, tapi aku ingin mendengar kamu mengatakannya." balas Devan.


"Yes, I will marry you," ucap Kanaya tanpa sedikit pun keraguan di dalamnya.


"Yes!" Teriak Devan dengan lantang, sambil ia mengepalkan tangannya di udara dan hampir saja membuat Kanaya terkejut.


"Kamu dengar itu Alvaro? Ayah dan Bundamu akan segera menikah!" Ucapnya pada bayi dalam kandungan Kanaya sambil mengecupinya entah sampai berapa kali untuk mengekspresikan kebahagiaannya.


Devan kemudian berdiri dan menatap Kanaya dengan penuh ke kaguman, rasa sayang dan terima kasih yang mendalam. Ia pun menarik nafas perlahan sambil tersenyum dan melangkah mendekati Kanaya.


"Aku berjanji, Ay akan selalu membahagiakan kamu," ucap Devan di hadapan Kanaya. Setelah itu, ia pun menarik lembut tubuh Kanaya dan meraih bibirnya dan menyesapnya penuh perasaan seakan - akan tidak akan ada hari esok.


"Aduh!" Pekik Kanaya tiba - tiba meringis, melepas tautan bibir mereka. Tangannya memegang perut bagian bawah saat perutnya menegang.


"Kenap Ay? Alvaro nendang lagi?" tanya Devan sambil melihat ke arah perut Kanaya. Sampai saat itu Devan masih menyangka jika Alvaro menendang seperti biasa.


"Arrrgh...!" Erang Kanaya lagi kali ini lebih keras, wajahnya pucat dan mulai timbul bintik - bintik keringat di dahinya.


Saat itulah Devan merasa Alvaro tidak menendang seperti biasa. Ia berpikir Kanaya akan segera melahirkan.Devan pun langsung membopong Kanaya dan membawanya turun.


"Bertahan sayang," ucap Devan di antara erangan Kanaya, sambil ia berjalan cepat menuruni tangga dan mendudukan Kanaya di kursi belakang.


"Devannnnn... sakit," erang Kanaya.

__ADS_1


"Tahan sayang, kita ke rumah sakit," ujar Devan menenangkan Kanaya dan melajukan mobilnya keluar dari rumah itu menuju ke rumah sakit.


Devan sendiri harus tetap tenang dan tidak panik agar ia bisa membawa Kanaya ke rumah sakit segera.


"Dokter Gita, sepertinya Kanaya akan segera melahirkan!" Seru Devan melalui pengeras suara saat ia menghubungi Dokter kandungan Kanaya sambil mengendarai mobilnya.


"Apa ada keluar darah atau air ketuban?" tanya Dokter Gita.


Devan melihat ke arah Kanaya dan melihat ke arah kaki Kanaya. Ia tidak melihat darah ataupun air di sana.


"Nggak ada!" Seru Kanaya sambil meringis. Rupanya ia mendengar pertanyaan Dokter Gita.


"Nggak ada, Dok," jawab Devan.


" Bagaimana kontraksinya?" tanya Dokter Gita lagi.


Devan benar - benar tidak tahu bagaimana kontraksi Kanaya karena ia langsung membawa Kanaya ke dalam mobil dan mengemudi, sehingga ia tidak memperhatikan.


"Saya tidak tahu, Dok?" jawab Devan.


"Ok nggak pa - pa, segera bawa Bu Kanaya ke rumah sakit, saya sedang di rumah sakit sekarang," ujar Dokter Gita dengan suara yang tenang namun tidak dapat di bantah.


"Baik Dokter," Devan pun menutup sambungan teleponnya.


"Devannnn!" Teriak Kanaya sambil memegang perutnya.


" Sabar sayang sebentar lagi kita sampai," ujar Devan sambil memandang Kanaya melalui kaca spion mobil di dalamnya.


Tidak sampai 10 menit mobil Devan sudah sampai di depan pintu emergency rumah sakit, perawat serta Dokter Gita telah menunggu mereka di sana. Dengan segera mereka memindahkan Kanaya ke kursi roda dan membawa Kanaya keruang persalinan.


Tangan Kanaya berada dalam genggaman Devan selama perjalanan menuju ke ruang persalinan, hingga seorang perawat mencegat Devan.


" Pak, Bapak pakai ini dulu, nanti baru bisa masuk," ujar perawat itu.


"Devannn..." panggil Kanaya. Ia tidak ingin berpisah dari Devan. Kanaya takut dan hanya ada Devan di sampingnya.


"Nggak pa - pa, Ay. Ada Dokter Gita nanti aku segera menyusul," ujar Devan mencoba menenangkan Kanaya dan mengecup keningnya.Setelah itu ia melepas tangan Kanaya yang masih berpegangan padanya dan membiarkan suster membawa Kanaya masuk ke dalam ruang persalinan.


Setelah memakai seragam yang di berikan oleh perawat itu, Devan masuk ke ruang persalinan Kanaya. Di lihatnya Kanaya tengah setengah berbaring menahan sakit yang dirasakannya.


Devan memilih menanyakan kondisi Kanaya terlebih dahulu, sebelum dia menghampiri.


"Bagaimana Dokter?" tanya Devan pada Dokter Gita.


"Bu Kanaya sedang ada dalam pembukaan 5 Pak Devan, kita harus menunggu sampai pembukaannya sempurna," ujar Dokter Gita.


"Apa ada yang bisa saya lakukan?" tanya Devan.


" Temani Bu Kanaya dan berikan semangat karena itulah yang sangat di butuhkan oleh Ibu Kanaya saat ini," ujar Dokter Gita sambil tersenyum.


Selama 6 jam ke depan Devan menemani Kanaya di ruang persalinan. Bagi Devan itu adalah pengalaman pertamanya yang teramat berharga.


Hingga akhirnya Kanaya tersenyum bahagia dengan peluh di dahinya saat ia mendengar suara buah hatinya untuk pertama kalinya di ruangan itu.


Kira - kira bagaimana mana yah, reaksi dari Elvano? Jika tahu Kanaya telah melahirkan anaknya?


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen dan Vote.


__ADS_2