Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Hukuman Cambuk Lagi


__ADS_3

Panji pun sampai, dan membukakan pintu mobil untuk mereka. Dan seperti biasa Elvano akan berlaku gentlemen dengan mempersilahkan Kanaya untuk masuk terlebih dahulu.


Kanaya masuk ke dalam mobil dan Elvano mengikutinya.


"Pulang, Panji!" Perintah Elvano dengan dingin.


Panji sendiri sampai bergidik saat melihat perubahan ekspresi wajah bosnya itu. Saat ia berada di dalam mobil.


"Kak Elvano," panggil Kanaya, ia ingin menerangkan kejadian yang sebenarnya.


"Jangan bicara!!" Bentak Elvano dengan marah sambil mengacungkan jarinya.


Kanaya pun terdiam dan wajahnya memucat. Ia tahu apa yang akan terjadi nanti.


Mata Kanaya menggenang dan berharap Panji memperlambat laju mobilnya. Namun harapannya sia - sia. Dewi keberuntungan seoalah - olah tidak berpihak kepadanya, saat jalanan malam itu sangat lenggang dan mereka sampai dengan cepat.


Kanaya berjalan pelan memasuki rumah dengan Elvano berjalan di belakangnya.


"Selamat malam Nyonya, Tuan" Sapa Desi sambil tersenyum.


Namun wajah Desi berubah saat ia melihat ekspresi wajah Kanaya. Sesuatu yang tidak baik akan terjadi.


"Desi, tutup semua jendela dan suruh semua keluar!" Perintah Elvano dan membuka jasnya.


"Maaf Tuan, tapi saya harus membantu Nyonya membereskan kamarnya malam ini," dalil Desi mencoba membantu Kanaya


"Apa kamu membantah saya Desi?! Cepat lakukan yang saya perintahkan!" bentak Elvano. Desi pun mengangguk dan undur diri sambil melihat dengan iba pada Kanaya.


"Kamu tahu kan apa kesalahanmu?" tanya Elvano dari tempatnya berdiri sambil menggulung lengan bajunya.


"Kak Elvano, tolonglah, aku hanya tidak sengaja bertemu teman lama. Dia... menemukan kalungku yang jatuh," ujar Kanaya meminta Elvano untuk mendengarkan penjelasannya.


"Aku tidak perduli! Sudah aku katakan padamu, aku tidak suka kau menggoda dan tersenyum pada laki - laki lain, apalagi dia menyentuhmu! Kenapa masih juga kau lakukan? Hah?!!" Bentak Elvano sambil melepas ikat pinggangnya.


"Aku tidak menggodanya Kak El, demi Tuhan. Dia itu teman Devan, dan aku kenal dengannya," ujar Kanaya menjelaskan.

__ADS_1


"Devan?! Apa kau berusaha menghubungi kekasihmu itu?" tanya Elvano bertambah marah saat Kanaya menyebut nama Devan.


"Tidak Kak El, tolonglah jangan lakukan ini," pinta Kanaya memohon agar Elvano tidak menghukumnya lagi. Air mata Kanaya mulai berjatuhan.


"Kau yang menyebabkan ini Kanaya! Kau yang memaksa aku untuk melakukan ini!" teriak Elvano dengan amarah sambil berjalan bolak balik di ruang tamu rumah itu.


Elvano terlihat sangat gusar. Ia mendekati Kanaya dan menyeretnya ke sofa, kemudian mendudukkannya dengan paksa di lantai dengan tubuh Kanaya menghadap ke sofa.


Ya Tuhan kuatkanlah hamba, doa Kanaya saat ia tahu tidak mungkin lagi merubah pikiran Elvano. Ia harus menguatkan dirinya untuk menerima hukuman cambuk lagi dari Elvano.


Cetar!


"Ahhhhh," pekik Kanaya berusaha menahan rasa sakit yang di terimanya.


"Kenapa kamu tidak pernah belajar dari pengalaman rasa sakitmu, Kanaya?! Kau yang membuat aku terus melakukan ini!" teriak Elvano, kemudian menganyunkan ikat pinggangnya ke punggung Kanaya berkali - kali. Membuat Kanaya menjerit kesakitan. Tangan Kanaya menggeram erat tepian sofa untuk menahan rasa sakitnya.


Payet - payet dari gaun Kanaya mulai bertebaran ke lantai, dan rusak karena cambukan Elvano.


"Kak Elvano, tolong hentikan!" Pinta Kanaya dengan lirih.


Buku - buku jari Kanaya memucat karena ia meremas sofa ruang tamu itu demikian keras.


"Ceraikan saja aku..." ucap Kanaya lirih.


"Apa?" tanya Elvano yang mendengar sekilas perkataan Kanaya.


Elvano pun mulai mendekati Kanaya dan memegang wajah sembab Kanaya dengan kasar.


"Apa yang kau katakan?"


"Ceraikan aku saja Kak El, aku berjanji tidak akan pernah menganggumu..." ucap Kanaya sambil merebahkan kepalanya di sofa dan meneteskan air mata yang tiada henti.


Elvano mendengus dengan kasar sambil berdiri


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu Kanaya! Tidak akan pernah! Kamu dengar?" ujar Elvano dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Sebelumnya Kanaya tidak pernah meminta untuk bercerai, seburuk apapun ia memperlakukan Kanaya, gadis itu masih tersenyum padanya.


Tetapi kali ini, Kanaya mengucapkannya, dan hal itu yang membuatnya begitu marah.


"AAAAARRRGGGHHH!" Elvano pun melempar ikat pinggangnya ke lantai, kemudian menendangi meja dan kursi yang ada di dekatnya, hingga berjatuhanlah semua yang ada diatas meja.


"Aku katakan padamu Kanaya, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu, dan kamu tidak akan pernah bisa bersama laki - laki lain!" ujar Elvano di depan wajah Kanaya, kemudian menghempaskannya.


Elvano kemudian setengah berlari ke arah kamarnya, tidak memperdulikan Kanaya yang menggerang kesakitan di lantai ruang tamu.


Setelah Elvano pergi, Kanaya berusaha berdiri dan berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan. Butuh waktu beberapa saat, hingga ia akhirnya sampai di kamarnya dengan tertatih - tatih.


Kanayapun berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pakaiannya yang telah rusak, kemudian mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin. selama beberapa menit.


Kedua Kakinya bergetar hebat dan ia pun terduduk di lantai kamar mandi.


"Nyonya! Nyonya!" samar - samar Kanaya mendengar suara Desi memanggil namanya namun ia teramat lemas, untuk membukakan pintu bagi Desi.


"Cepat, ambilkan kunci candangan," perintah Desi pada seseorang dan orang itu pun segera berlari di lorong yang sepi, meninggalkan suara gaduh di belakangnya.


Tak lama suara langkah kaki orang mendekat, dan pintu terbuka.


"Nyonya! Nyonya!" teriak Desi memanggil Kanaya lagi.


"Ya ampun Nyonya!" pekik Desi saat melihat kondisi Kanaya. Ia pun segera menarik sebuah handuk yang tergantung di rak dan menyelimuti tubuh Kanaya dengan handuk.


"Aaaaah!" Pekik Kanaya kesakitan saat handuk itu justru mengenai lukanya. Desi pun melepas handuk itu dan hanya menutup bagian depan tubuh Kanaya.


"Bella, bantu aku mengangkat Nyonya!" perintah Desi. Desi pun membantu merangkul Kanaya dan membawanya ke luar kamar mandi, kemudian membaringkan tubuh Kanaya di ranjang.


'Ya Tuhan, Kenapa Tuan bisa berlaku seperti ini terhadap Nyonya?' batin Bella pada Kanaya.


Perlahan ia mengeringkan luka punggung Kanaya dengan haduknya, dan Kanaya mengerang pelan.


Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like...like..like...like..like. Di tunggu komentarnya juga, biar bisa Crazy Up lagi loh..🤗


__ADS_2