
"Alvaro, ini Papa Nak." ucap Elvano sambil menatap Alvaro, kemudian mencium kening dan wajah Alvaro entah sampai beberapa kali, kemudian ia memeluknya. Memeluk darah dagingnya sendiri. Elvano tidak pernah menyangka, jika Kanaya akan memberikannya kesempatan untuk memeluk Alvaro secepat ini. Bukan hanya sebuah foto tetapi membawanya dan menghadirkannya di hadapannya secara langsung dan membiarkannya, menyentuhnya dan memeluknya, menghilangkan rasa kerinduan dan rasa penasarannya selama ini.
Bagaimana rasanya memeluk anaknya sendiri dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri?
Elvano duduk di bangku panjang di dekatnya dengan masih memeluk Alvaro.
Ya Tuhan! Anugerah ini terlalu indah untuknya. Ia begitu terharu hingga ia pun tidak bisa menghentikkan laju air matanya.
Kanaya yang melihat Elvano yang begitu tersentuh pun, ikut terharu.
"Kak El," panggil Kanaya sambil memberinya sebuah tisu, dan menggendong Alvaro kembali padanya.
Elvano memghapus air matanya dengan tisu itu dan Kanaya membiarkan Elvano untuk mengontrol emosinya terlebih dahulu, sementara ia menenangkan Alvaro yang tampak sedikit ketakutan dengan emosi Elvano.
"Maaf Ay, aku begitu bahagia," ujar Elvano setelah ia berhasil mengontrol dirinya kembali.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu akan datang membawa Alvaro padaku," ujar Elvano dengan jujur.
"Tapi kamu melakukannya dan ini... ini membuatku begitu bahagia," ujar Elvano dengan raut wajah yang terharu. Terharu karena apa yang telah Kanaya lakukan padanya dan terharu karena ia bisa melihat anaknya hari itu.
"Tidak apa, Kak El. Bagaimana pun Alvaro adalah anakmu," ujar Kanaya.
"Kamu mau menggendongnya lagi?" tanya Kanaya karena ia tahu waktu Elvano tidak banyak untuk bersama Alvaro, sebab itu ia menawarkan Elvano untuk menggendong Alvaro kembali.
"Ya, tentu Kanaya aku tidak akan membuatnya takut lagi," ujar Elvano kali ini dengan tersenyum.
Kanaya menyerahkan Alvaro kembali kepada Elvano dan Elvano pun tersenyum serta bermain dengannya.
"Coba ini," ujar Kanaya sambil memberikan mainan bebek karet yang bila di pencet akan mengeluarkan bunyi.
Ia membiarkan Elvano bermain dengan Alvaro hingga berakhir masa jam kunjugannya.
Elvano mencium pipi dan kening Alvaro sebelum ia menyerahkan kembali Alvaro pada Kanaya.
"Terima kasih , Ay. Terima kasih banyak karena telah membawa Alvaro," ujar Elvano dengan tulus.
Kanaya mengangguk.
"Jaga dirimu baik - baik, Kak El," ucap Kanaya sebelum Elvano keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Elvano mengangguk dan memandangi dua orang yang sangat di sayanginya itu dari jauh, sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Meskipun sedih harus berpisah dengan Kanaya dan juga Alvaro, tetapi hatinya kini tak lagi berputus asa dan tumbuh harapan baru. Ia lebih bersemangat dari pada sebelumnya untuk bisa segera keluar dari penjara dan menemui anaknya kembali.
****
Kanaya berdiri di depan cermin di hari pernikahannya dengan Devan Permana, sahabatnya, penyemangatnya dan pria dalam hidupnya saat ini, selain Alvaro tentunya.
Siapa sangka bahwa teman bermainnya yang ia kenal sejak 12 tahun yang lalu akhirnya akan menjadi Suaminya dan Ayah dari anak - anaknya.
Kanaya belum bertemu Devan hari itu, sejak bangun tidur pihak wedding organizer mengambil alih semuanya. Mengatur sarapannya, merias wajah hingga ia selesai berpakaian kebaya pengantin. Di sela - sela itu tak lupa ia menyusui Alvaro dan bermain dengannya selama beberapa saat, untung saja ASI Kanaya melimpah, sehingga ia mempunyai persediann yang cukup untuk Alvaro selama acara akad berlangsung.
"Bunda... Bunda... Bunda... cantik sekali," ujar Ratna yang masuk kedalam kamarnya bersama Alvaro.
Kanaya mengalihkan pandangannya dari pantulan cermin dan menoleh ke arah Alvaro dan Mamanya yang sedang berjalan menghampiri.
Alvaro terlihat sangat lucu dengan pakaian jas berwarna putih yang di pesankan secara khusus untuknya dan sama persis dengan bentuk jas yang di pakai Devan untuk hari pernikahan mereka.
"Kesayangan Bunda....." ucap Kanaya sambil meraih Kanaya dari tangan Ratna dan mengangkatnya ke atas membuat Alvaro tergelak dan badannya bergerak senang.
"Alvaro udah ketemu Ayah hari ini?" tanya Kanaya sambil memasang wajah lucu yang membuat Alvaro terkekeh dan meraih wajah Kanaya. Alvaro mungkin tidak tahu apa yang di tanyakan bundanya, ia hanya senang di ajak main oleh Bundanya itu.
"Devan bagaimana, Mah?" tanya Kanaya sambil membuka kancing kebayanya dan mulai menyusui Alvaro.
Ratna duduk di samping Kanaya.
"Devan baik - baik saja. Sedikit gugup tapi dia terlihat.... sangat bersemangat," ujar Ratna sambil tersenyum pada Kanaya.
'Ah, Syukurlah,' batin Kanaya.
"Ada Bagas, Beni dan Bunda Alika di dalam kamarnya, jadi kamu tidak perlu khawatir," ujar Ratna.
Kanaya mengangguk. Kanaya tidak mengkhawatirkan Devan, ia hanya ingin tahu bagaimana kabarnya. Sejujurnya Kanaya, telah terbiasa bertemu dengan Devan setiap pagi dan ia belum bertemu dengannya pagi itu.
"Kanaya," panggil Ratna sambil meriah tangan Kanaya, membuat Kanaya menoleh pada Mamahnya itu dan menunggu apa yang akan di katakannya.
"Kalau Papamu masih ada, dia pasti sangat bahagia melihat kamu bersama Devan. Sejak dulu yang di inginkan Papamu agar kamu selalu bahagia, dan Mama sangat yakin, Devan bisa membahagiakanmu," ujar Ratna. Mata Ratna mulai menggenang. Ia terharu melihat anak gadisnya yang akan menikah dengan Devan hari itu.
"Devan seorang laki - laki yang sangat baik dan bertanggung jawab dan bisa di percaya terlebih lagi rasa sayangnya terhadapa Alvaro dan kamu itu tulus. Mama bisa melihat itu. Dan Mama pun tahu kalau kamu mencintainya. Mama yakin kali ini kamu tidak salah memilih. Mama doakan yang terbaik untuk kalian," ujar Ratna sambil mengelus lembut wajah Kanaya dan kemudian rambut Alvaro.
__ADS_1
"Terima kasih, Mah. Terima kasih atas doa Mama Kanaya memang sangat bahagia, dan Kanaya berharap Papa juga bisa melihat itu," ujar Kanaya kemudian ia memeluk Mamanya.
Kedua Ibu dan anak itu saling berpelukkan dengan Alvaro di pangkuan Kanaya. Anak itu sama sekali tidak tahu apa - apa dan memandang kedua wanita yang selalu ada bersamanya itu bergantian. Sambil berceloteh tidak jelas seperti bayi pada umumnya.
Setelah melepaskan pelukannya Ratna tersenyum dan memberikan tisu pada Kanaya dan juga untuk dirinya sendiri. Mereka berdua begitu terharu hingga meneteskan air mata.
Pintu terbuka dan menyembulah Kanza, petugas wedding organizer yang mendampingi Kanaya.
"Bu Kanaya, acara sudah akan segera di mulai," ujarnya sambil memandang pada Kanaya, Ratna dan juga Alvaro.
"Baik Mbak Kanza, apa Devan sudah di sana?" tanya Kanaya.
"Sebentar lagi," jawab Kanza. Ia kemudian memanggil perias pengantin untuk membenahi Make Up dan merapikan pakaian Kanaya setelah itu Kanaya di pandu untuk turun ke tempat acara.
Di kamar hotel tak jauh dari kamar Kanaya. Devan, Alika, Bagas dan juga Beni sedang menunggu waktu pelaksanaan akad nikah.
"Van! Jangan gugup, ini Kanaya yang bakal lo kawinin!" Seloroh Bagas pada Devan sambil menepuk pundak temannya itu.
"Lagian dari dulu udah ngebet, kenapa sekarang jadi keringat dingin begini?" canda Bagas lagi, di timpali dengan tawa oleh Alika dan juga Beni.
"Justru karena itu, Gas." jawab Devan sambil tersipu malu.
Sejak dulu memang Devan sudah menantikan hari bahagianya ini. Bagaimana tidak, saat ia menyadari ia mencintai Kanaya, ia harus mengikhlaskan Kanaya untuk menikah dengan Elvano, dan selama hampir setahun mencoba untuk melupakan Kanaya, Kanaya kembali kepadanya dalam keadaan yang sama sekali tidak pernah di duganya. Bercerai dan mengandung anak mantan Suaminya. Tetapi cinta Devan kepadanya tidak pernah padam, dan bahkan semakin bertambah. Ia bahkan ikut mencintai Alvaro, anak Kanaya dan Elvano. Sejak bocah itu masih dalam kandungan Kanaya. Ia jatuh cinta padanya sejak pertama kali ia melihat Alvaro di layar monitor rumah sakit, masih berupa calon bayi yang lemah, kecil dan tubuhnya hanya sebesar buah apel.
Devan tidak ragu untuk menikahi Kanaya. Sangat wajar jika ia menjadi gugup. Apalagi wanita yang akan di nikahinya adalah wanita pujaannya dan sangat di cintainya. Setelah hari ini ia dan Kanaya akan menjadi sepasang Suami - Istri yang akan hidup berdampingan seumur hidupnya.
"Sudah waktunya, Pak Devan," ujar Tristan petugas dari wedding organizer yang akan mendampinginya.
"Ayo Devan, kamu sudah siapkan?" tanya Alika sambil merapikan jas putih milik Devan.
"Sudah Bun, Devan sudah siap!" Jawab Devan pada Bundanya.
Mereka pun berjalan keluar dari kamar menuju ke tempat acara akad nikah.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1