Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Ayah Nakal


__ADS_3

"Tristan, koper saya dan istri saya ada di mana? Bukankah kemarin saya sudah suruh kamu untuk di taruh di dalam kamar?" tanya Devan pada petugas Wedding Organiser, melalui panggilan telepon genggamnya.


"Iya Pak, punya Bapak sama Ibu sudah saya taruh di kamar," jawab Tristan.


"Di sebelah mana? Saya belum melihatnya?" tanya Devan sambil beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pakaian yang di sofa, seketika itu juga Kanaya menoleh ke arah lain karena malu melihat Devan yang berjalan tidak mengenakan pakaian apapun.


Meskipun ia telah melihatnya semalam, namun Kanaya masih merasa malu jika melihatnya langsung seperti pagi itu.


"Ada di closet, Pak," jawab Tristan.


"Di closet?" tanya Devan lagi sambil ia memakai pakaian dalamnya dan menoleh ke arah closet di dekat pintu kamar mandi.


Kanaya yang mendengar itu pun mendekati closet yang di maksud dan membukanya. Dan dua buah koper ada di sana! Satu milik Kanaya dan satu lagi milik Devan. Memang ia dan Devan tidak sempat memeriksanya, mungkin karena terlalu bersemangat dengan malam pertama mereka.


"Ok Tristan, aku sudah menemukannya terima kasih," ujar Devan yang tahu - tahu sudah berdiri di samping Kanaya dan melihat kedua koper itu.


Devan lalu membuka koper milik Kanaya, baru miliknya sendiri.


"Ini Ay, kamu mau pakai baju apa?" tanya ingin membantu Kanaya mencari bajunya.


"Biar aku ambil sendiri, Van. Kamu mandi saja dulu, aku ingin segera bertemu, Alvaro." ujar Kanaya sambil berjongkok memilih pakaiannya.


"Ok, aku mandi dulu ya, Ay." ujar Devan kemudian mengecup kening Kanaya. Sebelum ia beranjak ke kamar mandi.


Devan tidak berlama - lama untuk mandi. Ia pun juga sangat merindukan Alvaro, dan lagi mereka semua belum sarapan pagi itu. Setengah jam kemudian mereka berdua sudah berada di kamar Ratna dan juga Alika.


"Lihat Alvaro, Ayah dan Bunda sudah datang!" Seru Alika yang selalu menggendong Alvaro sambil mengajaknya bermain.


Mendengar kata Ayah dan Bunda, Alvaro langsung menoleh mencari sosok dua orang yang sejak tadi sedang di carinya. Gelak tawa dan senyumannya langsung mengembang tat kala menemukan sosok Kanaya dan Devan yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar hotel.


"Alvaro, jagoan Ayah!" Teriak Devan sambil bertepuk tangan mencari perhatian Alvaro, saat ia melihat anak itu melonjak - lonjak kegirangan karena melihat keduanya.


Devan menggedong Alvaro terlebih dahulu dan menciuminya, sedangkan Kanaya menaruh tasnya dan menyalami Alika dan Ratna terlebih dahulu.


"Alvaro sudah minum susu, Mah?" tanya Kanaya pada Ratna.


"Terkahir jam 6 tadi pagi. Sepertinya ia sudah mulai lapar lagi," jawab Ratna.


Benar saja, awalnya Alvaro tertawa riang bermain bersama Devan, namun tak lama kemudian, ia mencari sosok Bundanya. Alvaro pun merengek ke arah Bundanya saat ia melihat wajah Bundanya ada di kamar itu.

__ADS_1


"Apa sayang?" tanya Kanaya menggoda anaknya itu dengan tidak mendekat.


Alvaro pun makin merengek meminta Bundanya untuk datang menghampirinya. Rupanya ia sudah lapar dan haus. Kanaya pun menghampirinya dan hendak meraihnya dari tangan Devan.


"Eit, nggak boleh! Bunda punya Ayah sekarang!" Canda Devan sambil menjauhkan Kanaya dari Alvaro.


Di bawa menjauh oleh Ayahnya, Alvaro malah menangis, tangannya mencoba menggapai Bundanya dan kakinya bergerak - gerak seolah ia ingin berlari ke arah Kanaya.


Seandainya Alvaro sudah bisa berbicara dia pasti berteriak dan berkata, " Bundaaa..., tolong aku! Ayah nakal!"


Melihat Alvaro yang semakin menangis, Kanaya pun tidak tega dan menghampiri Devan


"Alvaro lapar Ayah..." ujar Kanaya sambil menepuk pundak Devan, kemudian meraih Alvaro.


"Alvaro lapar ya sayang? Ya udah Ayah kasih..." ujar Devan masih sambil bergurau. Kemudian mencium Alvaro dan memberikan Alvaro pada Kanaya.


Dalam gendongan Ibunya Alvaro pun langsung berhenti menangis, namun terlihat tidak sabar ingin menyusu. Dengan tidak sabar, tangan dan mulutnya menggapai pabrik susu yang ada di hadapannya.


"Alvaro udah nggak sabar, yah!" Ujar Devan yang ikut duduk di sandaran sofa tempat Kanaya duduk. Padahal, sebelum menikah, biasanya ia akan menjauh dan mengambil jarak jika Kanaya akan menyusui Alvaro.


Alvaro memang sudah tidak sabar, begitu pabrik di buka ia pun langsung melahapnya, dan benar - benar tidak ingin di ganggu. Bahkan tangan Devan yang memegang pipinya pun di tangkis oleh Alvaro, dan membuat Devan terkejut.


"Ayah sih nakal!" timpal Kanaya membela Alvaro.


"Hmmm... Alvaro belum lihat aja kalau Ayah lagi nakal," ujar Devan sambil melirik ke arah Kanaya dan membuat Kanaya melotot ke arahnya.


Devan tertawa dan pindah tempat duduk di samping Kanaya. Ia merangkul Kanaya dan mengecup kening Kanaya, kemudian tangannya mengusap - ngusap puncuk kepala Alvaro dengan sayang. Dan tampaknya Alvaro tidak terganggu dengan hal itu. Sementara ia asyik minum susu, melepaskan lapar dan dahaganya.


Ratna dan Alika saling pandang dan tersenyum melihat ke arah Kanaya, Devan dan Alvaro yang tampak sangat harmonis sebagai sebuah keluarga. Mereka berdua lega, Kanaya dan Devan akhirnya bisa bersama.


Setelah Alvaro tidak rewel, Devan dan Kanaya pun turun ke restoran untuk sarapan pagi mereka.


Di sana mereka bertemu beberapa kerabat dan juga keluarga yang menginap di hotel itu.


"Wah pengantin baru selamat pagi!" Goda Bagas saat ia bertemu dengan Devan. Devan pun menyalaminya dengan hangat.


"Gimana, bisa tidur tadi malam atau malah sedang begadang?" goda Bagas lagi.


"Menurut lo?" Devan bertanya balik pada Bagas, sambil ia mengambil minuman untuknya dan juga Kanaya.

__ADS_1


"Menurut gue....," ujar Bagas sambil mengerling dan berpura - pura memperhatikan Devan.


"Bolehlah beberapa ronde..?" jawabnya sambil terkekeh geli.


"Anjrit loh!" Seru Devan sambil tertawa.


"Welcome to the adulthood, Mas bro!" Ujar Bagas sambil menepuk pundak Devan dan tertawa.


'Bisa aja Bagas,' ucap Devan dalam batin sambil ikut tersenyum bersama Bagas.


Saat Devan kembali ke mejanya, Kanaya dan kedua Ibunya sedang bercakap - cakap. Sedangkan Alvaro sedang berbaring di kereta bayinya di sebelah Kanaya.


"Kanaya, Devan," tiba - tiba Luna datang menghampiri mereka. Mereka memang menginap di hotel itu untuk menghadiri acara pernikahan Kanaya dan juga Devan kemarin.


"Mama, Lisa," ucap Kanaya sambil beranjak dari duduknya dan menyalami mereka begitu pun Alika, Ratna dan juga Devan.


Meskipun Kanaya telah bercerai dari Elvano, terapi hubungan Kanaya dengan keluarga Elvano tetap baik. Apalagi setelag mereka mengetahui Kanaya sedang hamil anak dari Elvano. Mereka kerap sekali menghubungi Kanaya.


"Kanaya, bolehkan kita ajak Alvaro duduk di sana dan bertemu dengan opanya?" Luna meminta ijin pada Kanaya.


"Tentu saja boleh, Mah," jawab Kanaya. Kemudian memandangi Alvaro yang sudah di bawa ke meja mereka.


"Lihat Mah, Alvaro mirip sekali dengan Elvano saat Elvano masih kecil dulu," ujar Sean sambil memandangi Alvaro.


Lisa bahkan telah meminta Dimas, pengacara keluarga mereka untuk datang ke lapas ke tempat Elvano di tahan. Kemudian menghubunginya melalui vidio call.


"Kak Elvano, kami sedang ada berada di kota B, bersama Alvaro?"


"Mana Alvaro, Lis? Biar aku melihatnya?"


Lisa lalu mengalihkan vidio callnya ke arah Luna yang sedang memangku Alvaro di samping Sean.


"Alvaro, itu Papa," ujar Luna, sambil menujukkan wajah Elvano yang ada di layar ponselnya


"Alvaro sayang, ini Papa, Nak."


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2