Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Membeli Hadiah


__ADS_3

"Ayah!" Teriak Alvaro sambil menghampiri Devan. Devan berjongkok dan menangkap Alvaro, kemudian memeluknya dalam gendongannya, sementara Kanaya berbalik dan menatap mereka berdua.


"Alvaro udah ganteng, udah mandi, udah wangi, mau kemana?" tanya Devan.


"Alo au itut, Bunda," ujar Alvaro sambil menunjuk Bundanya yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Ayah di ajak, nggak?" tanya Devan.


"Bun..., Ayah itut ndak?" tanya Alvaro pada Kanaya.


"Boleh, kalau Ayah mau ikut?" ujar Kanaya sambil melihat ke arah Devan dan berjalan menghampirinya.


"Nanti Ayah yang anterin Alvaro ya, kalau Alvaro sudah selesai main, nanti Ayah jemput lagi," ucap Devan sambil menjawab sendiri pertanyaannya.


Kemudian ia menoleh ke arah Kanaya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Gimana sayang, udah siap?" tanya Devan sambil mengecup pipi Kanaya.


"Udah Van," jawab Kanaya.


"Ayo Ayah! Kita Pelgi!" Ajak Alvaro, sambil menunjuk pintu keluar kamarnya.


"Sebentar, Ayah belum ngobrol sama dede. Alvaro udah sayang Dede?" tanya Devan sambil berlutut dan memegang perut Kanaya yang sudah tampak mulai besar, Kanaya memang tengah mengandung anak Devan, dan usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan.


"Ayo sayang Dede dulu," ujar Devan pada Alvaro.


Alvaro pun menuruti kemauan Devan. Ia ikut memegang perut Kanaya.


"Dede angan akal di dalem elut Unda. Bunda ama akak au ain ulu ya" ujar Alvaro sambil berbicara dengan perut Kanaya dan menciumnya seperti yang sering Devan lakukan.


Kanaya dan Devan pun tersenyum geli melihat kelakuan Alvaro.


"Dede dengerin apa kata kakak Alvaro ya. Ayah, Bunda dan Kakak Alvaro sayang Dede," ujar Devan menimpali ucapan Alvaro kemudian ia pun mengecup perut Kanaya sebelum ia bangkit berdiri.


"Ayo Ay, kita berangkat," ujarnya sambil menggandeng tangan Kanaya, sementara tangan satunya menggedong Alvaro.


Sementara itu, Elvano pun telah bersiap - bersiap untuk bertemu dengan Kanaya dan Alvaro. Setelah meetingnya selesai hari ini dengan beberapa rekan bisnis dan investor, ia bergegas pergi ke mall terdekat dan mencari buah tangan untuk Alvaro.


Awalnya ia tidak tahu apa yang ia berikan untuk Alvaro. Menurut Lisa yang pernah berkunjung ke rumah Devan, Alvaro hampir memiliki semua mainan yang di inginkan oleh anak seusianya. Sehingga Elvano menduga bahwa Alvaro sudah memiliki semuanya.Namun, ia tidak bisa datang dengan tangan hampa, apapun itu dia harus membawakan sesuatu untuk putranya.


Pilihannya jatuh ke sebuah scooter untuk usia 2 - 3 tahun, yang merupakan keluaran terbaru dengan tempat duduk. Ia berharap Alvaro akan menyukainya.

__ADS_1



Setelah mandi dan memakai pakaian casual dengan jeans dan kaos dengan berkerah sneaker, ia pergi ke tempat pertemuannya dengan Kanaya dan juga Alvaro.


Tempat yang di tuju adalah sebuah taman bermain indoor dan outdoor. Kanaya sendiri yang memilihkan tempat itu, dan menurutnya tempat itu memang tepat.


Sudah lama ia tidak bertemu dengan mereka dan ia yakin, Alvaro pun tidak mengenalinya, karena terakhir mereka bertemu melalui video call saat ia berusia 5 bulan, sedangkan Alvaro saat ini sudah berusian 20 bulan.


Elvano yang membayangkan apa saja yang Alvaro bisa lakukan saat ini dan ia sangat bersemangat sekaligus gugup untuk bertemu Alvaro.


"Tenang Elvano, anakmu pasti akan sangat senang bertemu denganmu," ujar Raka menenangkannya.


"Aku harap begitu, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya," ucap Elvano.


"Ibunya atau anaknya?" canda Raka sambil melirik penuh arti ke arah Elvano.


"Anak gue lah!" Jawab Elvano berusaha menyembunyikan perasaannya pada Kanaya. Ia tidak ingin orang lain tahu, jika ia masih sangat mencintai Kanaya. Bagaimana pun Kanaya adalah kekuatan sekaligus kelemahannya, dan ia tidak ingin orang lain tahu itu.


Raka tertawa.


"What ever you say man!" Ucap Raka sambil menepikan mobilnya di taman bermain itu.


Mereka melihat ke sekeliling, namun nampaknya Kanaya belum sampai.


"Ok, good luck man!" balas Raka kemudian ia meninggalkan Elvano di sana.


Elvano menenteng scooter yang di belinya untuk Alvaro dan masuk ke sebuan cafe persis di depan pintu masuk taman bermain itu,dan ia menunggu di sana.


****


Devan merangkul Kanaya dalam pelukannya, sementara Alvaro asyik bernyanyi dan duduk di antara mereka berdua.


"Citcat citcat di dindin diam diam melayap datang ceekol amuk hap! Lalu di tangkap!"


Suara Alvaro menyanyikan lagi cicak - cicak di dinding membuat semua orang yang ada di dalam mobil tersenyum. Alvaro begitu lucu menyanyikannya sambil bertepuk tangan dengan semangat.


"Pak, kita sudah sampai." ujar Pak Budi, sambil menepikan mobilnya di depan taman bermain itu.


"Yang, aku pergi dulu ya," ujar Kanaya pada Devan sambil menatapnya.


"Jangan gugup sayang.Kalau ada apa - apa kamu bisa telepon aku," ujar Devan sambil menggenggam tangan Kanaya. Kanaya mengangguk dan Devan pun tersenyum.

__ADS_1


"Biar aku antar ya," ujar Devan pada Kanaya kemudian dia menggandeng tangan Alvaro dan menurunkannya melalui pintu di sampingnya, sementara Kanaya keluar dari pintu yang di sisi lain dan di bukakan oleh Budi.


Elvano yang menunggu di dalam cafe melihat kedatangan mereka. Meskipun ia tidak berharap melihat Devan ada di sana, akan tetapi ia mengerti jika Devan hanya ingin mengantar mereka.


Elvano pun terkejut saat melihat Kanaya tengah berbadan dua.Meskipun ada sebersit rasa sakit dan cemburu di hatinya, namun ia tidak menampakkannya. Ia tidak boleh kehilangan moment berharganya bertemu Alvaro. Itu tujuannya datang kesana.


Ia pun berdiri dan berjalan menghampiri mereka.


Devan dan Kanaya pun berjalan menghampirinya dengan Alvaro yang saat itu telah pandai berjalan, menggandeng tangan mereka berdua.


"Elvano," sapa Devan sambil tersenyum dan menyalami tangan Elvano.


"Devan," balas Elvano juga sambil tersenyum dan menyalaminya.


"Aku tinggal kalian, agar bisa mengobrol," ujar Devan, sedikit memecah kecanggungan. Elvano pun mengangguk.


"Terima kasih, Devan!" Ucap Elvano.


Devan mengangguk dan berjongkok untuk berbicara pada Alvaro.


"Ayah tinggal dulu ya. Nanti Alvaro main sama Bunda. Jangan nakal ya," pesan Devan pada Alvaro.


"Iya Ayah, anti Ayah jemput Alo ya..."


"Iya, nanti Ayah jemput," ucap Devan kemudian mencubit hidung Alvaro dengan gemas.


Setelah itu, ia pun bangkit.


"Aku pergi du ya, Yang." ucap Devan pada Kanaya kemudian mengecup pipinya dan pergi naik ke dalam mobilnya.


"Unda... ini temen unda ya..." ujar Alvaro tiba - tiba sambil menunjuk Elvano, namun matanya melirik ke arah scooter di samping Elvano.


Kanaya tersenyum dan menggandeng Alvaro berjalan mendekati Elvano.


"Kak El, ini Alvaro," ujarnya pada Elvano saat jarak mereka sudah dekat.


Elvano mengangguk. Mata Elvano sudah berkaca - kaca sejak beberapa saat yang lalu ia pun berjongkok dan memandang Alvaro sambil tersenyum.


Kanaya membungkukan badannya, karena ia kesulitan berjongkok dengan perut besarnya.


"Alvaro, ini temen Bunda," ujar Kanaya pada Alvaro.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2