
"Pak Devan, bagaimana keadaan Bapak?" tanya Austin, yang memang sudah menunggu kedatangan Devan Permana di ruang tamunya.
Austin Leonard Alfaro adalah Kakak dari Adrena Clarisa Putri, Istri dari Alexander David Mahendra. Ia adalah CEO dari PT. DPA (Dua Pilar Alfaro) Perusahaan keluarga Alfaro yang di pimpinnya. Perawakannya yang tinggi dan gagah, dan usianya pun lebih tua beberapa tahun dari Devan.
"Saya baik, Pak. Karena saat kejadian saya tidak berada di kantor," ujar Devan lagi memahami konteks pertanyaan Austin sehubungan kejadian penyerangan pada kantor Firma Hukumnya.
"Syukurlah.." balas Austin, sambil mengajak Devan untuk duduk di sofa.
"Pak Devan, apakah Pak Devan pikir ini ada hubungannya dengan kasus Randy Sanjaya?" tanya Austin.
"Saya memang belum ada bukti, Pak. Tapi dugaan saya juga ke arah sana," jawab Devan jujur.
"Saya akan jujur pada Pak Devan. Saya pun mendapatkan teror dan ancaman hari ini, namun hanya berupa telepon gelap, dan saya sudah meminta Bastian untuk menyelidikinya," ujar Austin.
"Tetapi terus terang, saya tidak mengira Randy Sanjaya akan menargetkan Firma Pak Devan. Apa Pak Devan menerima ancaman atau hal lainnya selain yang terjadi di kantor?" tanya Austin.
"Ada Pak, beberapa waktu yang lalu saya menerima telepon dari nomor yang tak di kenal yang meminta saya untuk mundur atau akan terjadi sesuatu yang lebih buruk," jawab Devan.
"Terus terang Pak Devan. Saya khawatir karena kasus saya ini menyeret Pak Devan dalam bahaya," ujar Austin.
"Saya tidak pernah kecewa jika saya menggunakan jasa dari Firma Pak Devan, akan tetapi saya mengerti jika Pak Devan ingin mundur dari kasus saya. Bagaimana pun saya tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Pak Devan," ujar Austin.
"Pak Austin, sejak awal saya sudah memutuskan untuk membela kasus Pak Austin dan saya pikir tidak tepat jika saya mundur saat ini. Lebih baik jika kita mempersiapkan segala sesuatunya, karena kita akan memasuki persidangan minggu depan," ujar Devan tak gentar sedikit pun dengan apa yang terjadi.
Devan memang belum pernah berhadapan dengan Randy Sanjaya sebelumnya, meskipun begitu ia pernah mendengar sepak terjangnya. Dan apa yang di lakukannya pada PT. DPA memang sangat merugikan perusahaan tersebut.
Apalagi Austin Leonard Alfaro bukanlah klien baru baginya sehingga ia pun tidak segan untuk membela kepentingan Austin.
"Pak Devan, saya sangat bersyukur sekali mendengar perkataan Pak Devan. Akan tetapi saya merasa khawatir dengan keselamatan Bapak. Kalau Pak Devan mengizinkan, saya akan tugaskan anak buah Bastian untuk mengawal Bapak."
"Terima kasih Pak Austin, kalau memang seperti itu, saya tidak akan menolaknya," balas Devan.
"Dan satu hal lagi Pak Devan, saya minta izin pada Bastian untuk menyelidiki kejadian di kantor Pak Devan tadi sore. Untuk memastikan apakah Randy Sanjaya ada kaitannya dengan ini atau tidak. Saya pikir lebih baik jika kita lebih waspada," ujar Austin lagi.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Saya akan menghubungi Kapten Wira untuk memberitahu mengenai Bastian. Sehingga ia bisa melihat barang bukti yang ada," ujar Devan.
"Bagus sekali, Pak Devan. Saya kira cukup ya Bastian? Nanti kamu temani Pak Devan pulang dan setelah itu, nanti kamu selidiki kejadian di kantor Pak Devan. Jangan lupa juga tugaskan anak buahmu untuk berjaga di rumah Pak Devan, besok pagi," Perintah Austin pada Bastian.
"Baik,Pak." jawab Bastian yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
"Baik Pak Austin, kalau tidak ada hal yang lainnya sebaiknya saya pulang," ujar Devan sambil melihat jam tangannya.
"Ya Pak Devan. Terima kasih sudah datang dan tetap menjadi pengacara saya," ujar Austin sambil menjabat tangan Devan.
Devan pun pulang malam itu dengan di antar oleh Bastian. Dalam perjalanan pulang Devan teringat sesuatu.
"Bastian, kamu masih berkontak dengan Gilang?" tanya Devan.
Devan teringat dengan Gilang. Kalau keadaan menjadi lebih buruk, ia akan membutuhkan bantuan Gilang untuk melindungi keluarganya.
"Gilang, Pak? Saya sudah lama tidak bertemu lagi dengannya?" jawab Bastian sambil melihat Devan dari kaca spion dalamnya.
"Hmmm..." gumam Devan.
Gilang memang sudah berhenti bekerja dari Alexander David Mahendra lebih dari 6 tahun yang lalu. Menurut yang di ceritakan oleh David, Gilang mengundurkan diri secara tiba - tiba dan pergi meninggalkan kota B hari itu juga. Tidak ada yang tahu kemana ia pergi. Gilang memang masih sangat misterius, tidak ada yang tahu dari mana ia berasal atau siapa itu Gilang Narendra sebelum ia bekerja pada Alfaro 18 tahun yang lalu.
"Tidak, hanya penasaran saja dimana keberadaan Gilang sekarang," jawab Devan. Tidak enak jika ia mengatakan ingin Gilang melindungi keluarganya.
"Coba nanti saya tanyakan pada Rafael, mungkin ia tahu dimana Gilang berada," ujar Bastian.
Rafael adalah tangan kanan Gilang saat ia bekerja pada David. Dan setelah kepergian Gilang Rafaelah yang sekarang menggantikan posisi Gilang.
Devan mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu mereka tidak bicara lagi.
Saat sampai di rumah Devan. Bastian berkata pada Devan, "Besok pagi teman saya akan kesini dan menjaga Bapak. Jam berapa biasanya Pak Devan berangkat ke kantor?"
"Biasanya jam 7 pagi, Bastian. Apa temanmu itu bisa berpenampilan santai? Saya tidak ingin membuat Istri saya ketakutan atau berpikir yang tidak - tidak," ujar Devan.
"Tentu Pak. Saya mengerti," jawab Bastian sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah mengantar Devan sampai pintu rumah, Bastian pun pamit dan menaiki mobil yang menunggunya yang ada di depan gerbang rumah Devan.
Saat Devan masuk ke dalam rumah, ia melihat Kanaya yang sedang tertawa bersama Elvano sambil melihat telepon genggam Elvano di ruang keluarga. Devan sempat tertegun, dan terbesit sedikit rasa tidak rela melihat Kanaya dan Elvano bersama. Meskipun begitu, ia berjalan masuk seperti biasa.
"Yang, kamu sudah pulang!" Seru Kanaya saat melihat Devan, dan berhambur menghampirinya dan merangkulnya.
Kanaya sangat khawatir dengan apa yang terjadi dan ia pun tidak tenang hingga ia bertemu Devan.
"Iya, kamu lagi apa?" tanya Devan sambil melirik ke arah Elvano dan tersenyum.
"Aku lagi lihat foto - foto Alvaro saat berada di kota H. Dia terlihat senang sekali," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Kak Elvano akan mengirimkannya nanti, jadi kamu bisa melihatnya juga." tambah Kanaya sambil mengajak Devan untuk duduk di sofa.
"Aku ambilkan minum ya,Yang." ujar Kanaya lalu ia pergi ke dapur.
"Bagaimana keadaan di kantor, Van?" tanya Elvano.
"Masih dalam penyelidikan," jawab Devan pendek.
"Aku pikir kamu sudah pulang, Elvano." ujar Devan saat melihat jam tangannya.
Mendengar itu, Elvano merasa tidak enak. Tadi sore ia memang berencana untuk pulang. Namun saat melihat kecemasan di wajah Kanaya saat melihat berita mengenai apa yang terjadi di kantor Devan. Ia memutuskan untuk menemani Kanaya sampai Devan kembali lagi.
"Maaf Devan, Kanaya tadi sangat khawatir dan aku pikir... sebaiknya aku menemaninya sampai kamu kembali," ujar Elvano berterus terang.
"Minum Yang," ucap Kanaya sambil duduk dan memberikan segelas air untuk Devan. Devan pun meminumnya.
"Aku sebaiknya pulang," ujar Elvano sambil mengambil telepon genggam dan dompetnya di atas meja dan beranjak pergi.
Devan dan Kanaya bangkit menyalami Elvano.
"Hati - hati Kak Elvano, terima kasih sudah mengantar Alvaro pulang," ujar Kanaya pada Elvano, sedangkan Devan hanya tersenyum padanya.
Elvano pun membalas senyuman Devan dan beranjak pergi.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.