Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Merasa Kecewa Dan Sakit Hati


__ADS_3

"Devan, bangun." Bunda Alika membangunkan Devan pagi itu.


Devan menggeliat namun tidak beranjak seperti biasanya.


"Van, bangun, Nak." ujar Bunda Alika sambil menepuk pundak anaknya itu.


ia bisa menebak apa yang dirasakan putranya saat itu, yang menyebabkannya enggan untuk bangun pagi itu.


Tadi malam Devan pulang setelah seharian minta ijin untuk pergi menemui Kanaya. Saat ia menanyakan kabar Kanaya. Ia hanya terdiam dam masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya tampak sangat terpukul.


Jangankan Devan, Alika saja yang mendengar dan mendapat undangan hanya dua hari sebelum tanggal Pernikahan Elvano dan Kanaya, sangat terkejut. karena ia sama sekali tidak pernah mendengar desas - desus mengenai hubungan Kanaya dan juga Elvano. Dulu ia pernah mencuri dengar jik Kanaya sangat mencintai Elvano, namun sejak Elvano bertunangan dengan Devita, ia tidak pernah mendengar Devan membicarakan Kanaya tentang hal itu lagi. Dan sekarang tiba - tiba muncul berita pernikahan Elvano dan Kanaya yang mengangetkannya.


Alika memang sudah mengira kalau anaknya itu mempunyai hati untuk Kanaya, meskipun saat ia menggoda dahulu, Devan tidak pernah mengakui. Ia selalu mengatakan jika hanya bersahabat saja dengan Kanaya. Tetapi sebagai seorang ibu yang melahirkannya, ia sangat tau perangai anaknya itu, dan bagaimana perhatiannya ia terhadap Kanaya.


Kanaya adalah seorang anak yang baik dan Alika sendiri sangat menyayanginya. Ia tidak berkeberatan. jika suatu hari nanti Devan dan Kanaya bisa bersama, namun takdir berkeberatan jika suatu hari hati Devan dan Kanaya bisa bersama. Namun, takdir menentukan lain. Ia pun harus kecewa apa lagi Devan, ia pasti sangat kecewa dan sakit hati.


"Van, Bunda tahu bagaimana perasaan, kamu. Memang berat melepaskan Kanaya, tetapi ia bukan takdirmu," ujar Alika membuat Devan menerima apa yang telah terjadi.


"Sudah, Bun. Aku masih mengantuk," ujar Devan sambil memejamkan matanya dan menelungkupkan wajahnya.


"Bunda tahu, ini pasti sangat berat bagimu untuk datang kesana. Tetapi mungkin dengan kehadiranmu, kamu bisa meberikan dukungan untuknya dan membiarkan Kanaya untuk bahagia dengan hidupnya yang baru," ujar Bunda.


"Bunda yakin kamu akan segera menemukan pengganti Kanaya yang tidak kalah darinya," ujar Bunda Alika sambil menepuk bahu putranya yang bertelungkup di atas ranjang.

__ADS_1


"Biarkan Devan sendirian dulu, Bun." ujar Devan masih tidak beranjak dari tidurnya.


Alika menghembuskan napas panjang kemudian beranjak dari sisi ranjang putranya itu. Ia pun keluar dari kamar Devan dan membiarkan Devan sendiri, memikirkan apa yang harus di lakukan.


Setelah kepergian Bundanya, Devan beranjak bangun duduk di atas ranjangnya. Matanya menerawang mengenang hari - harinya dengan Kanaya. Kemana - mana mereka selalu bersama. Kadang - kadang bersama dengan Devita, tetapi seringnya mereka berdua saja.


Devan dan Kanaya memiliki hobi membaca, sehingga mereka sering menghambiskan membaca buku bersama - sama, entah di rumah Devan atau di rumah Kanaya atau di halaman belakang rumah Devan, du bawah sebuah pohon mangga besar.


Kanaya memang sahabatnya, tetapi ia memiliki perasaan yang lebih besar dari pada sekedar sahabat. Hati Devan begitu hancur saat semalam Elvano mengatakan bahwa Kanaya telah berpacaran selama sebulan dengan Elvano tanpa memberitahukannya. Bagaimana mungkin Kanaya menutupi semua itu darinya? Dan ia pun baru mengetahui pernikahan mereka melalui media, bukan dari mulut Kanaya sendiri.


Ia merasa Kanaya tidak menghargainya sebagai seorang sahabat, dan seseorang yang telah meluangkan banyak waktu bersamanya. Ia kecewa dan sakit hati.


Tetapi tidak menghadiri hari berbahagia sahabatnya juga bukanlah keinginannya. Ia ingin selalu ada untuk Kanaya, meskipun hatinya hancur berkeping - keping.


Devan pun beranjak dan memutuskan untuk hadir di hari pernikahan Kanaya ia harus ada di sana untuknya.


Bersama Bundanya Devan datang ke acara pernikahan Kanaya dan juga Elvano.


Taman di laksanakannya akad nikah telah di sulap sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang sangat indah dengan bunga - bunga ornamen - ornamen cantik serta meja - meja cantik yang menyajikan berbagai macam makanan untuk menghadiri acara akad nikah. Semua tamu undangan tampak sangat berbahgia, mereka datang dengan tersenyum, mengenakan pakaian terbaik mereka, memberi restu atas pernikahan kerajaan bisnis Alvarendra dengan putri satu - satunya keluarga Adi Wiguna.


Devan duduk bersama Bundanya di deretan bangku kelima dari depan dan berada di sisi jalan red karpet. Mereka berdua datang saat acara baru saja dimulai, dan Kanaya belum terlihat di sana.


Setelah beberapa kata sambutan dan petuah - petuah dan pembacaan ayat suci. Barulah Kanaya berjalan keluar dari dalam hotel dan berjalan di atas karpet merah. Semua orang memandang kearah pengantin wanita, begitu pula Devan. Kanaya terlihat sangat cantik, berjalan dengan anggunnya mengenakan kebaya yang melekat indah di tubuhnya.

__ADS_1


Mata mereka saling bertemu. Devan berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya bagaikan di iris sembilu.


Kanaya seperti membeku sesaat, diam dan tak bergerak, sampai Linda menyentuh sikunya perlahan dan mengarahkannya untuk bergerak maju menuju tempat akad nikah.


Walaupun ada rasa sedih di hatinya, Namun Kanaya senang dan bersyukur Devan bisa hadir ke acara pernikahannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Zahira Binti Rayhan Adi Wiguna dengan maskin tersebut di bayar, tunai,"


Akhirnya kata - kata itu keluar dari mulut Yohanes Elvano Alvarendra. seulas senyum tampak di bibirnya.


Dan begitu pula dengan tamu - tamu yang hadir di sana, tapi tidak halnya Devan, yang menghela napas dengan berat.


'Ya Tuhan, Aku harus bisa mengikhlaskannya,' batin Devan mencoba tegar.


Kanaya mengadahkan tangan saat penghulu membaca doa - doa bagi mereka berdua. Ia sudah pasrah pada hidupnya, karena mulai saat itu ia adalah Istri dari Yohanes Elvano Alvarendra.


Ia pun mulai mencium tangan Elvano setelah Elvano menyematkan sebuah cincin kawin di jari manisnya dan memberinya kecupan di keningnya.


Setelah prosesi Akad Nikah selesai acara pun dilanjut dengan ramah tamah kepada seluruh tamu undangan yang hadir untuk akad itu. Mereka bergantian memberi selamat dan berfoto dengan mempelai. Elvano memperlakukan Kanaya dengan begitu manis, dan Kanaya mencoba untuk tersenyum setiap saat, membuat semua orang yang mengira jika mereka benar - benarv pasangan yang sangat berbahagia.


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like yang banyak yah..,di tunggu komentarnya~~

__ADS_1


Mari kita ramaikan kehaluan cerita ini😁


__ADS_2