
Devan mengendarai mobilnya, menuju Firma Hukum Permana.
Saat ia sampai di sana, semua orang sudah berkumpul, aparat dan juga orang - orang yang menonton dan tak ketinggalan juga pencari berita.
Para pencari berita segera mengerumuni mobil yang di kendarai Devan. Saat ia keluar dari mobil, berbagai pertanyaan di lontarkan oleh para wartawan itu.
"Pak Devan, ada apa ini Pak? Apa ini ada kaitannya denga kasus yang sedang Bapak tangani?"
"Pak Devan, Bapak tahu siapa kira - kira yang melakukannya?"
"Maaf, saya belum bisa menjawab," jawab Devan, sambil menerobos kerumunan para pencari berita yang langsung di sambut oleh Beni yang membantunya terbebas dari wartawan dan mereka berdua masuk ke dalam kantornya.
Dari luar kantor hanya terlihat kaca jendela yang pecah.Akan tetapi di dalam kantor lebih porak poranda dengan banyaknya pecahan kaca yang berceceran di lantai dan meja kerja. Beberapa petugas forensik polisi sedang bekerja di sana, mengumpulkan bukti - bukti yang dapat di gunakan untuk mencari penujuk pelaku pelemparan batu ke dalam kantor itu.
Meskipun pelaku tidak sampai memasuki kantor, tapi kejadian itu juga melukai Pak Basri, petugas keamanan yang sedang bertugas saat itu.
"Selamat sore, Pak Devan." sapa Kapten Wira, sambil menyalami Devan. Tentu saja Devan sudah mengenal Kapten Polisi itu dengan baik.
Sebagai seorang pengacara dirinya telah mengenal dengan baik aparat yang bertugas di kota itu.
"Selamat sore Kapten, apa sudah ada petunjuk mengenai pelakunya, Pak?" tanya Devan sambil ia melihat ke sekeliling kantornya yang porak poranda.
"Kami masih menyelidikinya Pak Devan, kalau ada waktu, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, pada Bapak" ujar Kapten Wira.
"Tentu Pak," jawab Devan sambil menghampiri Pak Basri yang sedang mendapatkan perawatan dari petugas medis.
"Pak Basri, apa lukanya sangat serius?" tanya Devan sambil membungkuk dan memperhatikan luka - luka yang ada di tubuh Pak Basri dengan lebih dekat.
"Ini Pak, luka - luka lecet saja," jawab Pak Basri sambil menunjuk luka - luka lecet yang ada di tangan dan lengannya akibat terkena serpihan kaca.
"Pak Basri sebaiknya Bapa di bawa ke rumah sakit untuk memeriksakan ini," ujar Devan yang menunjuk kepala security itu yang terluka dan berdarah. Mungkin karena terkena lemparan batu atau terkena serpihan kaca.
"Pak tolong, biar Pak Basri langsung di bawa ke rumah sakit, nanti biar kantor yang mengurus pembayarannya," ujar Devan pada petugas medis yang merawat Pak Basri.
Setelah itu Devan pergi ke ruangannnya bersama Beni dan juga Kapten Wira. Di ruangan itu Kapten Wira menanyakan kepada Devan mengenai perkiraan siapa saja yang mempunyai niatan jahat kepadanya.
"Saya tidak bisa memastikan siapa, Pak. Karena dalam bidang yang saya geluti, saya berhubungan dengan berbagai macam orang yang mungkin adalah lawan kami dalam kasus hukum. Dan itu jumlahnya bisa cukup banyak, karena kasus yang kami tangani pun sudah cukup banyak. Kalau melihat kasus yang baru bergulir dan cukup besar, kami memang sedang mengerjakan kasus pemerasaan yang terjadi di PT. DPA. Akan tetapi saya tidak berani menuduh, karena sekali lagi yang seperti Kapten Wira lihat, tidak ada bukti yang mengarah ke arah lawan kami, dan belum juga ada pengakuan atau pun tuntutan darinya," jawab Devan jujur apa adanya.
__ADS_1
Karena meskipun instingnya kuat hal ini ada hubungannya dengan kasus Randy Sanjaya, tetapi ia belum punya bukti yang cukup.
"Baiklah Pak Devan, kami sudah melakukan penyelidikan di kantor Bapak. Jika Bapak ada bukti tambahan, jangan takut untuk mengontak saya atau Detektif Aditya," ujar Kapten Wira, sambil menunjuk seorang pria yang ikut duduk bersama mereka.
"Tentu saja Kapten, Detektif. Saya juga berharap agar segera di temukan pelakunya dan kasus ini tidak melebar dan berkepanjangan," ujar Devan sambil bediri menyalami Kapten Wira dan Detektif Aditya, kemudian mengatar mereka keluar dari kantor miliknya.
"Beni, apa ada sesuatu yang mencurigakan beberapa hari belakang ini?" tanya Devan sambil mereka berjalan lagi menuju ke ruangan Devan.
"Yah semoga saja. Apa kamu sudah melihat rekaman CCTV- nya ?" tanya Devan.
"Ya Pak, saya tadi sempat melihatnya.Tapi Detektif Aditya telah menyitanya sebagai barang bukti," jawab Beni.
"Apa ada barang kantor yang hilang," tanya Devan lagi.
"Tidak Pak. Karena menurut pengakuan Pak Basri, para pelaku tidak masuk ke dalam dan saya sudah melihatnya dari rekaman CCTV, kalau mereka hanya melempar batu kemudian pergi," ujar Beni.
"Apa Bapak berpikir, seperti yang saya pikirkan?" tanya Beni sambil memandang Devan.
"Jelas pelaku tidak ingin menginginkan barang yang ada di kantor ini, ia hanya membuat teror untuk menakut - nakuti kita. Dan... ya, aku rasa kita berdua punya insting yang kuat akan pelakunya," ujar Devan sambil menatap Beni.
"Lalu apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Beni.
"Hallo?" sapa Devan perlahan.
"Mundurlah! Atau hal lebih buruk akan terjadi!" Terdengar suara seorang laki - laki yang tidak Devan kenal.
"Halo? Siapa ini?" tanya Devan, namun ia tidak mendapat jawaban dan hanya bunyi tut... tut... tut...
"Siapa Pak?" tanya Beni yang melihat ekspresi wajah Devan.
"Aku tidak tahu Beni. Tidak ada ID peneleponnya," ujar Devan.
"Dia bilang ada, Pak?" tanya Beni ingin tahu.
"Dia bilang, 'mundurlah atau hal yang lebih buruk akan terjadi!' Jawab Devan.
"Apa tidak sebaiknya kita beritahu kepada Kapten Wira?" tanya Beni lagi.
__ADS_1
Devan berjalan di dalam ruangan kantornya dan berpikir.
"Mungkin tidak sekarang Beni, biarkanlah polisi yang mencari tahu siapa orang yang melakukan pelemparan batu terlebih dahulu," ujar Devan.
Tok tok tok...
Suara pintu kantor Devan di ketuk dan Beni yang berdiri di dekat pintu kantor Devan membukanya.
"Maaf, bisa saya bertemu dengan Bapak Devan?" tanya seorang pria pada Beni.
Devan tidak bisa melihat wajahnya tetapi ia mengenali suaranya.
Beni yang mengenali orang itu pun membuka pintu lebih lebar dan membiarkannya masuk.
"Selamat malam Pak Devan," sapa orang itu.
"Selamat malam Bastian, ada yang bisa saya bantu?" tanya Devan pada Bastian.
Bastian adalah kepala keamaan keluarga Alfaro. Dia bekerja pada Austin Leonard Alfaro, CEO PT. DPA, yang saat itu kasusnya tengah di tangani oleh Devan.
"Pak Devan, kalau Bapak berkenan Pak Austin ingin bertemu dengan Bapak saat ini," ujar Bastian dengan sopan.
"Hmmm... baiklah. Sebaiknya kita pergi sekarang," ujar Devan, lalu berjalan menuju ke pintu keluar kantor.
"Beni, pastikan kantor dalam pengawasan malam ini" ujar Devan saat ia berjalan melewati Beni.
Visualnya Beni
"Baik Pak. Dari pihak kepolisian sudah menurunkan timnya dan saya juga sudah minta bantuan pada Tim Security," ujar Beni dan Devan pun mengangguk.
Bastian menawarkan diri untuk mengendarai mobil Devan dan mereka berdua kemudian berangkat ke kediaman Austin.
Dalam perjalanan yang berjarak 25 menit dari kantor Devan. Kanaya menghubunginya. Ia terdengar sangat khawatir apalagi melihat pemberitaan dari layar televisi mengenai apa yang terjadi di kantor Devan. Namun Devan mengatakan agar Kanaya tidak perlu khawatir dan akan meneleponnya lagi nanti.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, kome, vote dan hadiahnya.