Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rencana Devan


__ADS_3

Devan yang masih di dalam mobil tidak sabar untuk menemui keluarganya. Saat akhirnya Budi memarkiran mobilnya di halaman rumahnya. Ia segera masuk dan mencari Kanaya dan anak - anak, dan langsung memeluk mereka saat ia menemui mereka di halaman belakang rumah.


"Kanaya..." panggilnya dan langsung berjalan menghampirinya.


"Devan!" Seru Kanaya, sambil ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Devan. Mereka pun kemudian saling berpelukan.


"Aku khawatir sekali, Yang." ujar Devan sambil mengecup kening Kanaya. Ia sama sekali lupa bahwa Elvano juga ada di sana.


"Aku nggak pa - pa, Van. Anak - anak juga." ujar Kanaya sambil memeluk Devan dan merebahkan kepalanya di dada Devan. Kanaya lega melihat Devan pulang dengan selamat tidak kekurangan sesuatu apa pun.


"Alvaro! Clara!" Panggil Devan dengan isyarat agar mereka mendekat. Ia pun sangat khawatir, jika terjadi sesuatu pada anak - anaknya.


Alvaro dan Clara pun mendekat dan ikut dalam pelukkan Devan.


"Ayah kenapa? Kok sedih?" tanya Clara yang melihat mata Ayahnya yang menggenang karena haru.


"Ayah nggak sedih. Ayah cuma kangen sama kalian," ucap Devan sambil tersenyum. Ia tidak ingin melihat anak - anaknya melihatnya menangis.


"Ayah kan bisa vidio call kalau kangen," timpal Clara yang tidak mengerti kenapa Ayahnya tampak sangat rindu pada mereka, padahal baru tadi pagi bertemu.


"Iya, tapi Ayah pengin peluk kalian. Ayah pengin tidak terjadi sesuatu pada kalian," ujar Devan sambil tersenyum melihat kepolosan anaknya itu.


"Tenang Ayah, ada Alvaro yang akan jaga Bunda dan juga Clara, kalau Ayah nggak ada," ujar Alvaro sambil menepuk dadanya.


"Iya Ayah percaya, pasti jagoan Ayah akan jaga Bunda dan juga adik," ujar Devan sambil mengusap kepala Alvaro, kemudian ia kembali memeluk mereka bersamaan. Ia bangga pada Alvaro di usianya yang masih 9 tahun sudah mengerti bertanggung jawab.


"Ayah, udah kangenannya? Clara mau main sama Keira," rajuk Clara sambil menunjuk Keira dan saat itulah Devan baru menyadari kehadiran Elvano di sana yang sedang duduk bersama Keira.


Elvano ada di sana sejak tadi dan melihat apa yang terjadi.


"Iya sayang, sudah. Kalau Clara mau main, mainlah," ujar Devan kemudian mencium pipi Clara sebelum putrinya itu berjingkat menghampiri Keira.


"Alvaro juga main dulu ya, Yah." ujar Alvaro yang sedang asyik beramain mobil - mobilan saat Devan datang. Devan mengangguk dan membiarkan Alvaro kembali pergi bermain.


"Yang, aku ambilkan minum yah. Kamu sudah makan?" tanya Kanaya masih merangkul Devan. Rasanya Kanaya tidak ingin melepas pelukannya.


"Belum sayang, aku belum makan," jawab Devan. Ia memang tidak sempat makan karena langsung pulang dari kota A ke rumah.


"Aku siapkan makan dulu ya," ujar Kanaya kemudian ia berjalan menuju ke arah dapur.


Devan berjalan menghampiri Elvano, yang menemani anak - anak bermain.


"Elvano, bisa aku bicara denganmu?" tanya Devan.


"Ya tentu saja," ujar Elvano lalu ia beranjak dari duduknya.


Mereka berdua berjalan menuju ke kursi taman yang berjarak beberapa meter dari tempat anak - anak bermain.


"Elvano, aku sangat berterima kasih padamu, karena telah menyelamatkan anak - anak. Kalau tidak karenamu aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi dengan mereka," ujar Devan sambil memandang Elvano. Meskipun mereka berdua lega tetap merasa was - was. Elvano bisa melihat hal itu dari mata Devan, begitu pula Devan.

__ADS_1


"Kamu tahu, aku akan melakukan apapun untuk mereka, kamu tidak perlu berterima kasih padaku," ujar Elvano.


"Devan, apa ini ada hubungannya dengan kasus Randy Sanjaya?" tanya Elvano.


Devan menghela napas panjang.


"Sepertinya," jawab Devan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Dia orang yang sangat berbahaya Devan. Aku benar - benar melihat mereka mengikuti Kanaya dan juga anak - anak," tanya Elvano.


"Terus terang aku tidak menyangka mereka akan menargetkan keluargaku Elvano, untuk itu aku meminta tolong padamu sekali lagi," ujar Devan.


"Aku minta tolong, ajaklah keluarga ku untuk berlibur sementara waktu. Kemana saja, asalkan jangan di kota ini," ujar Devan.


Elvano memandang Devan ingin memastikan jika ia serius mengatakannya. Dan Devan terlihat sangat serius.


"Tolonglah Elvano, mereka akan aman bersamamu," pinta Devan.


"Sampai kapan?" tanya Devan.


"Proses sidang akan berakhir sampai minggu depan, dan aku harus memastikan mereka aman paling tidak sampai sidang selesai," jawab Elvano.


"Bagaimana denganmu? Kanaya sangat mengkhawatirkanmu, dia tidak akan mau pergi tanpamu," ujar Elvano.


"Aku akan baik - baik saja, Elvano. Ada Bastian yang akan menjagaku di sini. Biar aku bicara pada Kanaya nanti," ujar Devan sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau itu maumu. Tetapi aku berharap kamu mau mundur dari kasus itu Devan. Bagaimana pun aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk padamu," ujar Elvano.


Devan tersenyum sambil memandang Elvano.


"Terima kasih Elvano, jangan khawatirkan aku. Selama kamu menjaga mereka, aku tidak akan khawatir lagi," ujar Devan sambil menyalami Elvano dan memberikan pelukan sebagai tanda terima kasihnya.


"Yang, makanan sudah siap," ujar Kanaya sambil berjalan menghampiri mereka.


"Ya, Yang. Ayo Elvano. Kita makan - makan sama - sama," ujar Devan sambil mengajak Elvano berjalan ke ruang makan.


Malam harinya setelah mengantar anak - anak tidur, Kanaya dan Devan masuk ke dalam kamar mereka.


Devan naik ke atas ranjang dan bersandar pada kepala ranjang. Memperhatikan Kanaya yang sedang membersihkan wajahnya di meja rias.


Kanaya melirik ke arah Devan dan tersenyum, kemudian menghampirinya dan menaiki ranjang Ia pun duduk di sebelah Devan dan Devan pun merangkulnya, membiarkan Kanaya menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan.


"Yang, apa kamu mau cerita apa yang terjadi tadi siang? " tanya Kanaya sambil melihat sekilas ke arah Suaminya itu.


Jari jemari Devan mengusap lembut helai demi helai rambut Kanaya kemudian ia mengecup keningnya.


"Tidak ada yang terjadi. Aku hanya panik karena tidak bisa menghubungimu, dan kamu pun belum sampai di rumah. Itu sebabnya aku meminta Elvano untuk menjemput kalian," ujar Devan beralasan.


"Maaf aku lupa mengembalikkkan nada dering di Hp ku," ujar Kanaya merasa menyesal.

__ADS_1


"Lain kali, jangan lakukan lagi! Kau membuatku khawatir, tau tidak?" ujar Devan sambil memencet hidung Kanaya dengan canda.


"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Kanaya.


"Tapi, apa benar cuma itu?" tanya Kanaya sambil ia mendongak dan menatap wajah Devan.


Devan melihat ke arah wajah Kanaya dan tersenyum.


"Ya, apalagi memang,aku terlalu khawatir pada keluargaku, sehingga aku bertindak over reactive," jawab Devan dengan nada bergurau dan menarik Kanaya agar lebih dekat padanya.


Kanaya pun terkekeh dan melingkarkan tangannya di pinggang Devan.


"Ay, Elvano mengatakan bahwa ia akan pergi ke kota L untuk beberapa hari dan mengajak keluarga kita untuk liburan," ujar Devan mendekap erat Kanaya.


Kanaya mengerutkan dahinya.


"Benar Kak Elvano berbicara seperti itu? Ini kan belum waktunya untuk liburan sekolah?" tanya Kanaya dengan heran.


"Ya memang belum, dan sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Kalian pergilah dahulu dengan Elvano nanti aku akan menyusul kalau kasusku sudah selesai," ujar Devan.


"Yang, aku tidak mau pergi kalau tidak sama kamu," protes Kanaya.


"Aku bilang aku akan menyusul nanti Kanaya, hanya tinggal beberapa hari terakhir sidang, dan kita bisa liburan di sana," ujar Devan membujuk Kanaya agar mau mengikuti rencananya.


"Rencana kapan liburannya?" tanya Kanaya.


"Lusa," jawab Devan.


"Lusa? Kenapa mendadak? Bagaimana sekolah anak - anak?" tanya Kanaya dengan terkejut.


"Aku akan meminta izin pada guru mereka," ujar Devan yang di ikuti oleh tatapan mata Kanaya.


"Hanya beberapa hari, sayang.Tidak apa - apa, sekali - kali mereka tidak ke sekolah," ujar Devan sambil menyeringai.


Setelah beberapa saat memandang wajah Devan, Kanaya pun akhirnya tidak menolak.


"Cepat selesaikan kasusmu, Yang. Aku tidak ingin lama - lama tanpa kamu," ujar Kanaya sambil memeluk tubuh Devan dan memejamkan matanya. Ia pun lelah dan mengantuk dan memutuskan untuk istirahat.


Dalam beberapa menit saja, Kanaya sudah tertidur pulas, tapi tidak halnya dengan Devan. Ia masih terbangun dan memikirkan sesuatu.


"I love you Ay. Aku tahu kalian di tangan yang tepat," ucapan Devan sebelum memejamkan matanya dan tertidur sambil memeluk Kanaya.



Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2