Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Mengunjungi Orang Tua Kanaya


__ADS_3

Entah mengapa Elvano sangat kesal saat melihat Kanaya hanya melengos dan melewatinya. Dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Kanaya sempat tersentak mendengar perkataan Elvano, namun ia tetap melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin memperlihatkan pada Elvano bahwa ia lemah, walaupun hatinya sakit mendengar perkataan Elvano.


Kanaya pun turun ke bawah dan bertemu Desi di bawah tangga.


"Nyonya kuenya," ujar Desi sambil menyerahkan paper bag sambil tersenyum.


Senyum terkembang di wajah Kanaya saat ia mencium kue itu. Rasa sakitnya mendengar perkataan Elvano terobati dengan bayangan Mamanya yang tersenyum saat ia memberikan kue itu. Wanginya saja sudah menggugah selera.


''Mama pasti senang aku datang membawakan kue ini,' Batin Kanaya.


"Terima kasih Desi, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu," ujar Kanaya dengan tulus.


"Tidak apa Nyonya, saya ikut senang melihat Nyonya tersenyum," ujar Desi dengan mata yang berkaca - kaca. Mengingat penderitaan Nyonyanya di rumah itu. Ia bahkan masih sempat memikirkan kebahagiaan Mamanya. Saat kehidupannya sendiri tidak bahagia. Kalau ia sendiri yang mengalaminya, mungkin ia tidak akan kuat. Tetapi Nyonyanya itu masih bertahan selama berbulan - bulan menghadapi suaminya yang seperti itu.


Desi sendiri juga heran, mengapa Tuannya bisa setega itu memperlakukan orang sebaik Kanaya.


Selama 5 tahun bekerja di rumah itu, Desi baru melihat sisi kejam Elvano hanya saat ia memperlakukan Kanaya dengan buruk, tidak seperti Yohanes Elvano Alvarendra yang dikenalnya.


Ia berharap Tuannya agar segera tersadar dan tidak menyia - nyiakan orang sebaik Nyonyanya itu.


Kanaya pun memeluk Desi dengan hangat dan setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Kanaya terharu karena hanya Desi dan Bella lah yang tahu tentang penderitaannya.


"Ayo Kanaya, apalagi yang kau tunggu!" Ujar Elvano yang tahu - tahu sudah ada di belakangnya.


Kanaya melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipinya. Setelah tersenyum pada Desi, ia pun berjalan menuju pintu keluar dan di ikuti oleh Elvano.


Sesampainya di luar, Kanaya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Panji dan mobil yang biasa dia kendarainya, namun ia tidak bisa melihatnya.


Tit..Tit..


Bunyi suara kunci mobil di matikan dan lampu mobil BMW silfer Elvano menyala.


"Ayo cepat, jangan diam saja di situ!" Ujar Elvano sambil membuka pintu kemudi dan menaikinya.


Kanaya segera menyusul Elvano dan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan.


"Aku pikir kita naik mobil Panji," ujar Kanaya sambil memasang sabuk pengamannya sementara Elvano menyalakan mesin mobilnya.


"Panji libur hari ini," ucap Elvano langsung melajukan mobilnya.

__ADS_1


Kanaya duduk diam tidak bersuara sambil memandang keluar jendela. Ia tidak ingin bercakap - cakap dengan Elvano, toh Elvano tidak pernah mengajaknya bicara jika mereka sedang dalam perjalanan. Kanaya berpikir lebih baik menghemat energinya untuk bersandiwara di depan orang tuanya nanti.


Maya melihat kepergian Elvano dan Kanaya dari dalam rumah dan menghentakkan kakinya dengan kesal.


'Dengan cara apapun aku harus segera hamil. Tunggu saja kau Kanaya, Aku akan segera menyingkirkanmu!' batin Maya.


***


"Apa yang kau bawa?" tanya Elvano sambil melirik paper bag yang ada di pangkuan Kanaya.


"Kue pai. Desi memasaknya untuk orang tuaku," ujar Kanaya sambil melirik sedikit ke arah Elvano yang sedang mengendarai mobilnya.


"Kenapa tidak bilang? kita bisa pesan atau membeli oleh - oleh kalau kamu mau," ujar Elvano tanpa menoleh.


"Tidak apa, buatan Desi juga sangat enak. Aku juga pernah mencicipinya." ujar Kanaya tidak ingin membuat masalah dengan Elvano. Dan Elvano tidak bertanya lagi hingga mereka sampai di rumah keluarga Adi Wiguna.


Kanaya melihat keluar jendela, dan matanya menatap ke arah rumah Devan yang tampak tidak terawat. Dan ia mengerutkan keningnya memikirkan Bunda, ibu Devan.


'Tidak biasanya Bunda tidak merawat rumahnya. Apa yang terjadi?" Batin Kanaya.


"Kanaya Zavira!! Apa kamu kesini untuk menemui kekasihmu itu?" tanya Elvano dengan ketus dan sedikit emosi.


"Tidak Kak El, apa maksudmu? Kamu tahu sendiri kan, aku kesini untuk mengunjungi orang tuaku," ujar Kanaya membela diri. Ia tidak ingin Elvano emosi lagi dan kembali mrncambuknya hanya karena cemburu pada sosok Devan yang tak ada saat itu.


"Ya ampun Kak Elvano itu hanyalah rumah," ujar Kanaya.


Kanaya pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu rumah, kemudian memencet belnya. Tak lama Elvano pun datang dan berdiri di sampingnya.


"Tunggu aku kalau kau mau turun," ujar Kanaya sambil menarik Kanaya dalam rangkulannya.


Pintu pun terbuka dan Ratna berdiri di depan mereka membukakan pintu.


"Kanaya! Elvano!" Seru Ratna dengan wajah senang, melihat putrinya datang.


"Mama!" panggil Kanaya sambil memeluk Mamanya itu. Ia sangat rindu pada orang tuanya. Walaupun ia bisa berbicara melalui telepon dengan mereka, namun bertemu langsung pasti berbeda.


"Kanaya, gimana kabarmu sayang?" tanya Ratna pada Kanaya.


"Baik mah, Kanaya kangen ingin bertemu dengan Mamah," ujar Kanaya dengan mata yang menggenang.


"Mama juga, sudah lama kita tidak bertemu," ujar Ratna sambil tersenyum dan memandang wajah putrinya.

__ADS_1


"Elvano masuklah," ujar Ratna sambil melepaskan pelukan putrinya.


"Apa kabar, Mah?" tanya Elvano sambil mencium tangan dan pipinya.


"Baik Elvano. Mamah baik - baik saja. Ayo masuk Papa ada di dalam," ujar Ratna. Sambil memberi ruang untuk mereka bisa melangkah masuk ke dalam rumah.


Ratna menggiring mereka masuk ke dalam menuju ruang keluarga dimana Rayhan sedang duduk dan menonton televisi.


"Pah, lihat siapa yang datang?" ujar Ratna pada suaminya.


Rayhan menoleh dan tampak tersenyum melihat kedatangan Kanaya.


"Kanaya apa kabarmu, Nak! Apakah kamu sehat?" ujar Rayhan sambil berdiri dan memeluk Kanaya kemudian memperhatikan sosok anaknya itu.


"Baik Pah, Kanaya sehat. Papah bagaimana?" tanya Kanaya sambil mendudukkan Papanya yang sudah tampak lebih tua dari terakhir kali ia melihatnya. Sedih hati Kanaya melihat Papanya sering sakit - sakitan akhir - akhir ini. Dan ia hanya bisa bicara melalui telepon.


"Papa baik - baik saja, Nak. Yang penting kamu juga sehat." ujar Rayhan masih memandangi anaknya sambil tersenyum. Sudah lama ia tidak menatap langsung putrinya itu.


"Papa jangan kuatirin Kanaya, Kanaya sehat dan baik - baik saja." ujar Kanaya.


Rayhan mengangguk dan kemudian menoleh kepada Elvano.


"Elvano, bagaimana kabarmu?" tanya Rayhan sambil menjulurkan tangannya dan Elvano pun mencium punggung tangan Rayhan.


"Baik Pah," jawab Elvano pendek.


"Maaf, kami baru bisa kesini," ujar Elvano.


"Tidak apa, kami tahu kamu sibuk," ujar Rayhan sambil tersenyum


"Bagaimana kabar Papah dan Mamahmu?" tanya Rayhan dengan ramah.


"Mereka baik, Pah" jawab Elvano.


Kanaya meninggalkan Elvano dan juga Papanya untuk mengobrol, sementara ia berjalan ke arah dapur dan menghampiri Mamanya.


"Mah, ini Kanaya membawa kue pai." Ujar Kanaya sambil meletakkan kuenya di atas meja dapur.


"Kelihatannya lezat, Kanaya. Kita makan sama - sama ya," ujar Ratna. Sambil mengeluarkan kue itu dari dalam paper bag. Dan Kanaya pun membatu Mamanya untuk membuatkan teh hangat untuk mereka.


"Mama gimana kabarnya?" tanya Kanaya sambil menoleh ke arah Ratna.

__ADS_1


"Ya begitulah Ay, walaupun usaha Papa sedang sangat sulit saat ini, tapi Papa dan Mamamu masih baik - baik saja. Di syukuri saja. Buat Mama dan Papa, yang penting kamu sehat dan bahagia," ujar Ratna tersenyum.


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2