
** Flashback ON **
Saat sedang menunggu Melisa mencoba pakaian yang akan di belinya, Devan secara tidak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita.
"Jadi gimana reaksi Elvano saat kau kasih tahu hubungannya dengan temannya itu?" tanya seorang wanita pada temannya.
Elvano? Sekilas Devan teringat pada Elvano, suami Kanaya. Tapi ia segera membuang pikiran itu jauh - jauh dan berpikir itu adalah orang lain yang memiliki nama yang sama.
"Oooh Lisda! Kali ini Elvano sangat marah! Aku belum pernah melihat Elvano semurka itu sebelumnya!" Ujar wanita yang satunya lagi sambil tertawa seakan - akan ia mendapatkan apa yang di inginkannya.
"Oh ya? Kamu pikir apa yang akan dia lakukan pada Kanaya, Maya?" tanya wanita yang bernama Lisda.
"Kanaya?" gumam Devan sambil terduduk tegak mendengar nama Kanaya di sebut oleh dua orang wanita itu.
Elvano dan Kanaya.... tidak salah lagi, mereka pasti membicarakan Kanaya Zahira sahabatnya.
"Dia cukup beruntung jika Elvano hanya mencambuknya seperti sebelumnya! Tetapi, melihat raut wajah Elvano semalam, aku yakin Elvano akan berbuat lebih dari itu. Aku harap Elvano mengusirnya tanpa uang sepeser pun atau bahkan lebih baik jika Elvano melenyapkan Kanaya dari muka bumi ini!" Ujar Maya sambil tertawa bahagia.
'Mencambuknya? Melenyapkan Kanaya? Apa maksud mereka? Apa Elvano menyiksa Kanaya selama ini?' ' batin Devan dengan terkejut. Ia tidak bisa menerima jika Elvano sampai memperlakukan Kanaya seperti itu.
Devan pun segera bangkit dan menghampiri kedua wanita yang duduk membelakanginya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Devan dengan wajah yang serius, menatap kedua wanita itu. Sontak ia pun mengenali mereka sebagai teman Almarhumah Devita.
Maya dan Lisda sangat terkejut melihat Devan yang ada di hadapan mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
"A... apa maksudmu?" tanya Maya berpura - pura tidak mengerti maksud perkataan Devan
"Jangan berpura - pura! Aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan! Katakan kepadaku, apakah Elvano menyiksa Kanaya selama ini?" tanya Devan tidak sabar sambil mencengkram pergelangan tangan Lisda dan Maya agar mereka berdua tidak pergi melarikan diri.
"Devan, ada apa ini?" tanya Melisa yang baru keluar dari fitting room dan mendapati Devan tengah berseteru dengan dua orang wanita.
"Cepat jawab!" Tanya Devan lagi pada Maya dan juga Lisda
"Atau aku akan menuntut kalian sampai kalian masuk penjara karena perkataan kalian!" Gertak Devan pada Lisda dan juga Maya.
"Baik, baik aku akan katakan," ujar Lisda yang tidak ingin masuk penjara.
__ADS_1
"Lisdaa!" Sergah Maya pada sahabatnya itu sambil melotot.
"Cepat katakan!" ucap Devan sambil menatap tajam Lisda dan mempererat cengkramannya. Lisda sampai meringis kesakitan.
"Elvano... pernah memukul, mencambuk dan bahkan sampai mencekik Kanaya hingga hampir tewas!" Ujar Lisda sambil berteriak karena Devan mencengkram tangannya makin kuat.
Melisa sangat terkejut mendengar pengakuan Lisda dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Wajah Devan langsung memerah dan ia melepaskan cengkramannya dengan kasar langsung berbalik dan keluar dari butik.
"Devan!" Teriak Melisa memanggil Devan dan mengejarnya.
"Devan, kamu mau kemana?" tanya Melisa yang tampak ngeri melihat wajah Devan yang sangat geram.
"Aku harus mencari Kanaya!" Ujar Devan sambil men deal nomer Kanaya berkali - kali, namun tidak ada jawaban.
Devan berhenti. Ia tidak bisa meninggalkan Melisa begitu saja.
"Kembalilah ke hotel dan bersiap - siap untuk pulang, aku harus menemui Kanaya. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya," ujar Devan sambil menghentikkan sebuah taksi untuk Melisa.
Melisa pun mendengar pengakuan Lisda tadi mengenai Elvano. Suami Kanaya yang sering menyakitinya, dan ia teringat pesan yang di kirim Kanaya tadi pagi.
"Apa? Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" tanya Devan dengan sedikit marah karena Melisa tidak memberitahukannya mengenai hal ini. Bagaimana jika ia telah terlambat dan terjadi sesuatu pada Kanaya.
"Maafkan aku Devan, aku pikir bukan hal yang serius," ujar Melisa dengan menyesal.
"Kembalilah ke hotel dan tunggu aku di sana," ujar Devan sambil memasukkan Melisa ke dalam taksi dan menutup pintunya, kemudian ia mengatakan alamat hotel mereka kepada pengemudi taksi dan memberikannya sejumlah uang.
** Flashback OFF **
***
Ciiiiitt!
Tiba - tiba terdengar suara mobil berhenti dengan tergesa - gesa di rumah Elvano, dan masuklah Devan dengan melangkah cepat.
"ELVANOO! DIMANA KANAYA?" teriak Devan. pada Elvano yang terduduk di tangga.
__ADS_1
Elvano dan semua orang yang ada disana langsung memandang padanya.
Desi tidak mengetahui siapa laki - laki itu, namun ia mengenali pemilik wajah yang marah sekaligus cemas itu dari foto - foto yang ia pungut tadi pagi di lantai di dekat meja makan. Foto - foto yang Tuannya lemparkan pada Kanaya tadi malam. Dialah laki - laki yang telah menyebabkab kemurkaan Tuannya pada Nyonyanya!
Elvano memandangi Devan yang datang ke arahnya tanpa ekspresi, dan ia pun tidak melawan saat Devan memegang kerah bajunya dan mengangkat tubuhnya dengan geram.
"Katakan dimana Kanaya! Apa yang telah kamu lakukan padanya, Elvano?!" Tanya Devan dengan emosi sambil mengangkat kerah baju Elvano tinggi - tinggi.
"Lepaskan Tuan!" Ujar Desi sambil memegang tangan Devan, mencoba melepaskan tangan Devan di kerah baju Elvano yang tampak seperti orang yang tak berdaya.
"Aku tidak tahu dimana dia," jawab Elvano tanpa perlawanan.
"Apa yang kamu lakukan padanya, Elvano! Apa kau menyakitinya?" tanya Devan dengan emosi.
"Jawab!" Teriak Devan lalu mendaratkan sebuah pukulan ke arah Elvano.
Bug!
"Tuan," teriak Desi dengan terkejut sambil melerai mereka berdua. Begitu pula pelayan yang lain membantu menjauhkan Devan dari Elvano.
"Tuan, apa anda tidak apa - apa?" tanya Desi pada Elvano.
Darah mengalir dari sudut bibir Elvano, dan rahangnya tampak lebam, tetapi ia mengangguk.
Devan meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman pelayan pria di rumah itu.
"Katakan dimana Kanaya!" Teriak Devan tidak gentar, sampai ia bisa menemukan Kanaya. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Kanaya setelah apa yang di dengarnya dari Maya dan juga Lisda.
"Aku tidak tahu dimana dia, Devan. Aku pun sedang mencarinya," ujar Elvano dengan berterus terang.
"Pembohong! Katakan dimana kamu menyembunyiakan Kanaya?!" Teriak Devan masih di tahan oleh pelayan rumah itu.
"Tuan, Tuan saya tidak bohong dia tidak tahu dimana Nyonya, dan kami sedang mencarinya," ujar Desi mencoba menerangkan pada Devan.
"Ibu Desi, coba lihat ini. Saya tahu kemana Nyonya," ujar pelayan laki - laki yang Desi tugaskan untuk mengecek CCTV.
"Kalau anda masih tidak percaya, mari ikut saya. Kita cek bersama - sama," ujar Desi pada Devan.
__ADS_1
"Ayo Tuan," ujar Desi sambil membantu Elvano bangkit dari duduknya dan berjalan ke atas ruang baca, dimana mereka bisa melihat rekaman CCTV.
Jangan lupa like, komen dan vote.