
Akhirnya dengan sembunyi - sembunyi, Kanaya meminta kepada seorang pelayan hotel untuk membelikannya sebuah kartu telepon baru agar ia terhindar dari gangguan telepon dan pesan dari orang - orang yang tidak di kenalnya.
Pemberitaan mengenai pernikahannya dengan Elvano pun sudah beredar di media masa, bahkan foto dirinya berhasil mereka dapatkan dari akun media sosialnya ataupun foto yang mereka dapat dari mengikutinya masuk ke dalam rumah sore itu, sudah terpampang jelas di situs - situs berita online dan gosip.
Respon media dan masyarakat pun beragam. Ada yang mendukung mereka, mengucapkan selamat dan mendoakan, ada pula yang menghujat bahkan menyebarkan berita yang meyangkut pautkan kematian Devita dengan pernikahannya ini. Mereka mengatakan jika Kanaya sengaja membunuh Kakaknya Devita hingga ia bisa menggantikannya menikah dengan pewaris tahta kerajaan bisnis Alvarendra.
Kanaya mencoba menghubungi nomor telepon Devan dari nomor yang baru saja di berikan oleh pelayan hotel, namun telepon genggam Devan tidak aktif dan akhirnya Kanaya pun tertidur tanpa bisa berbicara dengan Devan.
Kanaya terbangun pagi itu oleh dering telepon genggamnya. Ia melihat nomer yang sangat di kenalnya dengan baik dan di hafalnya di luar kepala.
"Devan!" sapa Kanaya dengan senang mengangkat panggilan telepon dari Devan.
"Kanaya? Aku mencoba menghubungimu dari kemarin, Ay. Tapi teleponmu tidak pernah aktif," ujar Devan saat mengenali suara Kanaya.
"Iya, Van. Aku terpaksa mengganti nomer teleponku untuk saat ini," terang Kanaya.
"Apa yang terjadi, Ay? Kenapa kamu tidak bercerita padaku kalau kamu akan menikah dengan Elvano?" tanya Devan dengan nada kecewa.
"Maaf Van, aku tidak ingin orang lain tahu sebelum waktunya," ujar Kanaya dengan sangat menyesal. Ia terpaksa berbohong lagi pada Devan.
"Ay, apa aku orang lain buatmu?" tanya Devan dengan nada sedih.
"Bukan begitu, Van. Aku...Aku benar - benar tidak bisa mengatakannya pada siapapun," ujar Kanaya merasa bersalah.
"Kamu dimana Ay? Biarkan aku menemuimu. Aku tidak bisa datang kerumahmu. Karena rumahmu di jaga ketat oleh orang - orang yang tidak membiarkan aku masuk," ujar Devan ia sangat ingin bertemu dengan Kanaya.
Saat mengetahui mengenai pernikahan Kanaya dan Elvano melalui situs berita online yang cepat menyebar, ia mencoba menghubungi Kanaya berkali - kali, namun panggilan teleponnya tidak pernah di angkat oleh Kanaya. Dan ia pun memutuskan untuk kembali ke kota 'D' untuk menemui Kanaya.
"Aku... Aku tidak ada di rumah Van, aku ada di hotel Alvarendra, di kamar 1018," jawab Kanaya.
"Baik Ay, aku akan menemuimu pagi ini," ujar Devan.
"Oke, Van. Aku menunggumu," balas Kanaya.
"Van, bagaimana kabarmu? Kapan kamu pulang?" tanya Kanaya yang sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Devan.
__ADS_1
"Aku pulang tadi malam, Ay." jawab Devan sambil menghela napas berat.
"Aku akan berbohong kalau aku mengatakan aku baik - baik saja, Ay," ujar Devan lagi.
Bagaimana ia akan merasa baik - baik saja saat mendengar berita orang yang dicintainya akan menikah dengan orang lain?
Mereka berdua terdiam.
"Aku akan menghubungimu kalau aku sudah sampai, Ay." ujar Devan.
"Iya, Van." jawab Kanaya kemudian percakapan mereka pun terputus.
Kanaya terdiam lemas di ranjang hotel itu, merasa tidak bersemangat, walaupun ia senang bisa segera bertemu dengan Devan, namun mendengar nada sedih dari suara Devan, ia menjadi tidak bersemangat dan merasa bersalah karena sudah banyak berbohong padanya.
Bunyi bel pintu menyadarkannya dari lamunannya, dan ia pun segera membukanya.
Linda, wanita yang di kenalnya seminggu terakhir ini yang menjadi WO pernikahannya dengan Elvano berada disana. Di tangannya ia membawa pakaian yang tertutup rapi dengan plastik hanger. Kanaya menduga itu adalah kebaya pengantinnya.
"Selamat pagi Mbak Kanaya. Apa sudah siap untuk aktivitas hari ini?" tanyanya sambil melangkah masuk kedalam kamar Kanaya.
"Kita ada rehersal pagi ini setelah breakfast, dan nanti siang Mbak Kanaya akan di antar untuk SPA," ujar Linda.
"Mbak Kanaya sebaiknya mandi dulu, bersiap - siap, kemudian kita bisa sarapan pagi bersama," tambah Linda sambil berjalan keluar ke arah pintu keluar.
"Saya akan kembali nanti ya, Mbak," ujarnya sambil melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya.
Kanaya tidak tahu jika jadwalnya sangat padat hari itu. Ia berharap masih bisa bertemu dengan Devan sebelum pernikahannya dengan Elvano akan di laksanakan.
Sebab, setelah menikah ia akan tinggal bersama Elvano, dan ia tidak tahu apakah bisa bertemu lagi dengan Devan atau tidak. Mengingat Devan akan pindah ke kota B.
Ia pun mengirim pesan pada Devan.
Devan, ternyata aku ada rehersal pagi ini dan nanti siang aku harus pergi. Aku tidak tahu apakah akan bisa menemuimu.
Dan tak lama Devan membalasnya.
__ADS_1
Kita akan bertemu hari ini, Ay. Aku janji.
Kanaya tersenyum dan beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap - siap.
Ia mengenakan gaun lengan panjang berwarna purple sebatas lutut yang mamanya pilihkan untuknya, kemudian membiarkan rambut panjangnya tergerai setelah menjepitkan sebuah jepitan berbentuk bunga di bagian samping rambutnya. Walaupun penampilannya sederhana, apa adanya tanpa make up yang tebal, Kanaya terlihat sangat cantik.
"Kamu cantik sekali, Mbak Kanaya," ujar Linda saat ia telah kembali ke kamar Kanaya untuk mengajaknya sarapan.
"Terima kasih," jawab Kanaya sambil tersenyum pada Linda.
"Apakah Mbak sudah siap?" tanya Linda padanya.
Kanaya mengangguk dan merekapun berjalan keluar kamar Kanaya menuju restoran untuk sarapan mereka.
Mereka hanya sarapan berdua saja pagi itu, Karena Elvano dan juga keluarganya serta Papa dan Mamanya baru akan datang sebelum acara rehersal, kemudian menginap di hotel itu juga.
"Maaf Mbak, Mbak Kanaya tampak murung apa ada sesuatu yang menganggu pikiran Mbak Kanaya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Linda saat mereka sedang sarapan.
Kanaya menggeleng.
"Tidak, terima kasih," jawabnya. Ia tidak mungkin membicarakan masalahnya dengan orang yang baru saja di kenal.
"Biasanya pengantin wanita tampak antusias dan berbahagia ataupun gugup saat menjelang hari pernikahannya. Tapi Mbak Kanaya tidak tampak seperti itu," ujar Linda lagi. Ia tampak sangat perhatian pada Kanaya.
Tentu saja ia heran mengapa orang yang akan menikahi pewaris keluarga Kaya, terpandang dan tersohor di kota itu tampak tidak bahagia?
Kanaya melirik sekilas pada Linda, kemudian meneruskan untuk melanjutkan sarapannya.
"Maafkan saya, kalau saya lancang berbicara seperti itu, Mbak Kanaya. Saya hanya ingin membantu," ujar Linda dan ia pun meneruskan untuk memakan sarapannya.
Tak lama suara telepon genggam Linda berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
"Ya Bu,,? tanyanya pada orang yang menelponnya.
"Ya, Kami sedang sarapan di restoran, setelah itu akan kesana," jawab Linda pada orang yang di ajak bicara melalui sambungan telepon. Setelah itu, ia mematikan percakapan telepon genggamnya.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote.