
Kanaya keluar dari gedung Lembaga pemasyarakatan dengan mata sembab. Air mata yang ia tahan tidak bisa lagi ia bendung sesaat setelah Elvano pergi dari ruangan itu.
Kanaya memang tidak ingin kembali bersama Elvano, akan tetapi ia tidak bisa menahan rasa harunya ketika melihat wajah Elvano saat ia mengetahui anak itu adalah anaknya. Bagaimana pun hubungan darah akan tetap ada, dan Kanaya sadar akan hal itu.
Sore itu juga Kanaya kembali ke kota B, dan saat ia mendarat di kota itu, Devan telah menunggunya.
"Ay...." panggil Devan saat ia bertemu Kanaya dan langsung memeluknya. Devan masih menangkap sembab di mata Kanaya. Meskipun Kanaya mencoba menutupinya denga make up yang di pakainya. Dan Devan tahu sebabnya oleh karena itu ia langsung memeluk Kanaya untuk memberinya dukungan.
"Kita pulang ya, Ay." ujar devan mengambil koper yang di pegang Kanaya dan menggandenya menuju ke parkiran mobilnya.
"Kanaya, kamu mau cerita apa yang terjadi?" tanya Devan saat mereka telah sampai di apartemen Kanaya, dan Ratna memberi waktu untuk mereka berdua.
Kanaya memandang Devan sambil tersenyum.
"Aku bertemu dengan Kak Elvano tadi siang," ujar Kanaya memulai ceritanya.
"Dan aku berharap dia bisa bertahan dan kembali bersemangat, itu saja," ujar Kanaya.
"Itu saja?" tanya Devan yang sepertinya tidak percaya.
"Nggak juga. Sebenarnya aku bicara cukup lama dengannya." ucap Kanaya ia tidak bermaksud menutupi hal apapun dari Devan. buat Kanaya, Devan adalah sahabatnya dan juga laki - laki masa depannya.
"Apa reaksinya saat mengetahui soal Alvaro?" tanya Devan ingin tahu.
"Dia sangat bahagia," jawab Kanaya.
"Dan seperti yang kamu bilang. Dia memang berhak tau soal Alvaro," ujar Kanaya.
Devan mengangguk dan tersenyum, namun di dalam hatinya ada rasa cemburu, cemburu karena Elvanolah Ayah biologis Alvaro dan bukan dirinya. Dia tidak ingin kehilangan Kanaya dan juga Alvaro. Bagi Devan mereka berdua adalah permata hatinya.
Kanaya melihat sebersit di mata Devan meskipun ia berusaha menutupinya.
"Devan...." panggil Kanaya sambil meraih tangan Devan dan meletakkannya di perutnya.
"Kak Elvano memang Ayah biologisnya, tetapi aku yakin Alvaro juga sangat menyayangi kamu, seperti juga aku," ujar Kanaya.
Mendengar hal itu, Devan tersenyum dan matanya berbinar.
__ADS_1
"Aku tahu Ay. Aku tahu." ujar Devan sambil menatap mata Kanaya kemudian memeluknya erat.
"Aku sangat menyayangi kalian berdua," ujar Devan kemudian mengecup pucuk kepala Kanaya.
Sementara itu, di sebuah sel tahanan di lapas kota D, Yohanes Elvano Alvarendra tidak bisa tidur, bukan karena panasnya udara di dalam sel tahanan atau pun kerasnya di pan sel itu, tetapi karena benaknya tidak bisa berhenti memikirkan Kanaya dan anak dalam kandungannya. Anak darah dagingnya, putranya bersama Kanaya.
Dia masih tidak percaya betapa yang maha kuasa sudah bermurah hati padanya dengan memberikannya seorang anak.
Dalam hati Elvano bertekad untuk menyelesaikan masa hukumannya dengan sebaik - baiknya, sebagai penebus kesalahannya pada Kanaya. Kemudian saat ia keluar nanti, ia akan berjuang semampunya untuk bisa kembali berdiri tegak seperti dulu. Ia tidak tahu apakah bisa mendapatkan hati Kanaya kembali, akan tetapi ia tahu tidak akan ada yang bisa memutus hubungan darahnya dengan putranya itu.
"Papa akan membuatmu bangga Nak, suatu hari nanti ujar Elvano pada dirinya sendiri. Setelah itu ia memejamkan matanya sambil tersenyum.
****
Devan berencana mengadakan jamuan makan malam bagi para karyawan dan stafnya di sebuah restoran di hotel berbintang di kota itu. Hal yang secara berkala di lakukan oleh Devan untuk menyenangkan para karyawannya. Dan malam itu Devan mengajak Kanaya untuk ikut serta. Akan tetapi Devan tidak bisa menjemput Kanaya dan meminta supir kantornya untuk menjemput Kanaya di apartemen.
Saat Kanaya dalam perjalanan menuju restoran itu bersama Pak Amran, Devan pun juga dalam perjalanan menuju restoran bersama Beni dan juga Monika. Mereka baru saja selesai menemui salah satu klien mereka.
Monika duduk di bangku belakang dengan Devan, sementara Beni duduk di kursi penumpang di bagian depan.
Devan : Kamu sudah di jalan, Ay?
Langsung di jawab oleh Kanaya.
Kanaya : Sudah Van. Pak Amran yang jemput aku. Kamu?
Devan : Aku juga sudah di jalan. Bilang ke Pak Amran, hati - hati bawa mobilnya.
Terlihat Kanaya sedang typing, akan tetapi tidak ada jawaban selama beberapa saat.
Kanaya : Sudah aku bilangin. Katanya, kamu udah telepon dia terus, berkali - kali bilang hati - hati๐
Devan : hahahaha ketahuan ya?๐
Devan: Aku selalu khawatir kalau belum lihat kamu. Kamu sudah sampai mana?
Kanaya : 10 menit lagi sampai.
__ADS_1
Devan tampak senyum - senyum sendiri saat asyik dengan telepon genggamnya, membuat Monika yang duduk di sebelahnya menjadi kesal dan bosan. Apalagi Devan tidak berbicara sama sekali dengannya selama perjalanan, dan malah sedang asyik membalas text message.
Monika berdehem. Beni dan sopir kantor mereka sempat melihat Monika dari kaca spion dalam mobil.
"Pak, Pak." Panggil Monika dengan suara semanis madu.
"Ya?" respon Devan menoleh sebentar pada Monika, kemudian kembali ke arah layar telepon genggamnya.
"Pak Devan besok malam Pak Raharja jadi di entertain karaoke, Pak?" tanya Monika.
"Bukannya kemarin sudah di pastikan?" tanya Devan.
"Iya Pak. Tapi Pak Raharja maunya Bapak juga ikut?" ujar Monika.
"Bukannya cukup kamu dan Roni saja yang berangkat?" tanya Devan.
Devan sebenarnya enggan untuk ikut meng - entertain koleganya ke tempat hiburan malam atau karaoke. Kalau hanya makan - makan di restoran saja Devan tidak masalah. Namun, kadang - kadang hal seperti itu tidak bisa di hindarinya.
"Pak Raharjanya yang mau Bapak ikut, padahal saya sudah bilang, Bapak besok ada acara keluarga," ujar Monika merajuk.
"Ya sudah lihat saja nanti," jawab Devan kemudian kembali sibuk dengan telepon genggamnya.
Mobil yang di tumpangi Devan sampai terlebih dahulu di drive way hotel dan tepat di belakangnya mobil yang di tumpangi Kanaya pun menepi di depan lobby hotel itu.
Devan, Beni dan Monika keluar dari mobil. Ia hendak berjalan masuk ke restoran bersama dengan Devan, akan tetapi saat melihat Kanaya keluar dari mobil di belakangnya, Devan malah berjalan mendekati Kanaya dan meninggalkan Beni dan Monika.
"Ay, bareng sampainya," ujar Devan sambil memegang bagian punggung belakang Kanaya.
"Ah, iya Van. Ternyata bisa bareng sampainya, balas Kanaya setelah hilang kagetnya saat melihat Devan ada di hadapannya.
"Ayo kita masuk," ujar Devan.
Kanaya merasa lega karena mobil mereka datang hampir bersamaan, sehingga ia tidak akan merasa sendirian di dalam sana. Meskipun Kanaya sudah mengenal beberapa karyawan Devan, akan tetapi akan lebih nyaman jika ia bisa datang bersama dengan Devan.
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1