
**Hay... hay! Kalian yang mau baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Happy reading semuanya....🤗**
"Kak El, ampun...." teriak Kanaya sambil tertawa geli, meminta di lepaskan. Kanaya tidak peduli seberapa keras ia berteriak, karena Villa tempat mereka menginap benar - benar terjaga priviasinya. Jika tidak pastilah Kanaya sudah sangat malu dengan teriakannya semalaman saat bersama Elvano.
"Kak El, ayolah kita perlu keluar dan berjalan - jalan sebentar," bujuk Kanaya agar Elvano mau melepasnya.
Elvano berhenti menggelitik Kanaya, mempertimbangkan perkataan Kanaya. Tidak ada salahnya berjalan - jalan keluar dan menikmati pemandangan pulau.
"Tapi janji ya, nanti kita membuat adik lagi buat Clara dan Alvaro," ujar Elvano.
Ucapan Elvano membuat Kanaya berpikir.
"Kak El, apa kamu yakin untuk memberi adik buat Clara saat ini?" tanya Kanaya karena saat ini mereka berdua belum membicarakannya.
"Ya. Memang kamu tidak mau?" tanya Elvano sambil menatap Kanaya.
"Aku belum memikirkannya. Aku pikir kita seharusnya perlu untuk membicarakannya lebih dulu," jawab Kanaya.
"Kamu benar Ay. Kita harusnya membicarakannya. Aku mengerti kalau kamu belum menginginkannya sekarang. Tetapi aku harap kamu mau memikirkannya lagi, karena..." ujar Elvano seperti berpikir.
Kanaya menunggu Elvano untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Karena aku ingin punya seorang anak lagi bersama kamu. Merasakan bagaimana kamu mengandung anak kita, melihatnya lahir dan membesarkannya. Aku ingin sekali merasakan moment itu bersama kamu," ujar Elvano sambil menatap mata Kanaya.
"Aku akan pikirkan, Yang." jawab Kanaya setelah beberapa saat.
"Aku harus ke kamar mandi dulu, bukankah kita mau keluar dan berjalan - jalan?" tanya Kanaya dengan antusias. Mencoba menyemarakkan suasana.
"Ya, kamu duluan, Sayang." ujar Elvano sambil mengecup kening Kanaya.
Kanaya pun masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan aktifitas paginya. Ia mengambil alat make upnya di atas meja wastafel kamar mandi dan Pil KB nya di sana. Ia mengambilnya dan tampak ragu.
"Haruskah aku meminumnya? Tetapi Kak Elvano sangat menginginkan seorang anak," batin Kanaya.
Ia berpikir sambil membilas badannya dalam pancuran air hangat.
Ia tidak ingin hal itu berulang pada Elvano. Apalagi Elvano benar - benar ingin merasakan semua pengalaman itu bersamanya. Mengapa tidak?
Kanaya mengeringkan tubuhnya dan mengambil Pil KB miliknya dan membuangnya dalam tempat sampah yang berada di dekatnya.
***********
Deeeerrrt deeeerrrt deeerrrrt...
Bunyi getar telepon membangunkan Kanaya dan Elvano yang sedang tertidur lelap pagi itu. Mereka masih lelah karena aktifitas mereka beberapa jam yang lalu. Namun, getar telepon itu mau tak mau membangunkan keduanya.
Elvano yang terlebih dahulu mengangkat panggilan Video Call itu. Ia tersenyum saat melihat dua orang permata hati mereka yang ada di layar telepon miliknya.
__ADS_1
"Papah! Bangun Pah!" Teriak Clara dengan nyaringnya.
"Iya Papah sudah bangun, sayang," Jawab Elvano sambil membetulkan letak duduknya di atas ranjang. Kanaya yang berada di sebelahnya segera meraih gaun tidurnya di lantai dan memakainya. Sementara Elvano memilih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Bunda mana, Pah?" tanya Alvaro karena tidak melihat Kanaya dalam layar teleponnya itu.
Kanaya langsung mendekati Elvano yang langsung merangkulnya dengan mesra.
"Hallo sayang," sapa Kanaya pada kedua anak kesayangannya itu.
"Bunda kok baru bangun jam segini?" tanya Clara yang heran melihat Bundanya yang baru bangun itu, apalagi dengan rambut yang berantakan tidak seperti biasanya.
"Ah? Oh ya? semalam Bunda tidur kemalaman," alasan Kanaya sambil menahan senyumannya.
Elvano pun menahan senyumannya mendengar alasan Kanaya yang tidak sepenuhnya benar. Tetapi tentu ia tidak bisa mengatakan kepada anak - anak apa yang Papa nya sudah lakukan hingga membuat Bundanya bangun kesiangan dan rambutnya berantakan.
"Bunda! Bunda, tidak ingat apa kata Dokter? Bunda kan, tidak boleh capek atau kurang tidur!" Ujar Clara memarahi Bundanya, membuat Kanaya dan Elvano saling pandang.
Bersambung...
Nantikan terus kisah mereka ya..!
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1