Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Extra Part 4 Kamu Berhak Bahagia, Kanaya.


__ADS_3

Elvano membawa masuk Kanaya ke dalam kamar utama di rumah pantai itu. Rumah pantai itu ia beli beberap bulan yang lalu dan hanya ada beberapa rumah saja di pulau yang masih asri dan belum terjamah oleh tangan manusia itu.


Rumah - rumah itu di miliki oleh beberapa keluarga pengusaha, selain dirinya ada juga milik Abian Syahlendra dan Sagara pamungkas, seorang pengusaha yang sangat terkenal di kota P.


Ia menurunkan Kanaya di pinggir ranjang mereka sambil tak hentinya memandangi wajah Kanaya yang bersemu merah.


"Nyonya Alvarendra, kamu pikir sikap sentimentilku seksi dan menarik?" tanya Elvano sambil menaruh anak rambut Kanaya ke belakang telinga dengan jarinya.


"Hmmm.... sangat seksi malah," jawab Kanaya.


"Kalau begitu kamu belum pernah melihat yang ini," ujar Elvano sambil berbisik di telinga Kanaya dan mengecup belakang telinganya.


"Melihat Apa?" batin Kanaya bertanya - tanya saat Elvano melepas pelukannya dan memasang musik di telepon genggamnya.


"Kak El, kamu mau apa?" tanya Kanaya saat melihat Elvano mengunci pintu kamar dan mengedipkan sebelah matanya.


"Watch me!" Ujar Elvano sambil berbalik badan.


Kanaya tidak mengerti apa yang akan Elvano lalukan sampai tiba - tiba Elvano berbalik badan ke arahnya dan mulai menari mengikut irama musik yang di stelnya.


"Ka Elvano!" Pekik Kanaya sambil menutup mulutnya, tertawa namun juga tidak menyangka Elvano akan menari untuknya.


Elvano menari gerakan patah - patah mengikuti irama musik lagu pony, membuat Kanaya menawan tawanya.


I'm just a bachelor


I'm looking for a partner


Someone who knows how to ride


Without even falling of


Gotta be compatible


Takes me to my limits


Girl when i break you off


I promise that you won' t want to get off.


"Ya ampun, Kak El," gumam Kanaya sambil tertawa.


Elvano menghampirinya dan mengajak Kanaya ikut menari bersamanya, memutar tubuh Kanaya sebentar sebelum ia mendudukan kembali ke pinggir ranjang.


Dengan gerakan sensual, Elvano kembali menari, namun kali ini Kanaya memekik tertahan saat Elvano membuka kaos yang ia kenakan sehingga memperlihatkan dada bidang tubuh six packnya dan hanya mengenakan celana pendek berwarna.


Kanaya bersorak sambil tertawa melihat gerakan - gerakan sensual yang di pertontonkan Elvano untuknya. Kanaya sendiri heran, betapa ia menikmati pertunjukkan tarian Elvano untuknya.

__ADS_1


Seksi? Sangat!


Elvano terus menari dan ia mulai melepas celana pendek yang di pakainya dan mengerling nakal pada Kanaya, dan melempar celana itu entah kemana! Kanaya menutup matanya untuk beberapa saat secara refleks sambil tertawa, seakan - akan ia belum pernah melihat Elvano tanpa busana.


"Ya ampun... anak - anak tidak boleh melihat Papanya seperti ini!" Batin Kanaya sambil tertawa.


Saat musik berhenti, Elvano berjalan menghampiri Kanaya.


"Bagaimana, apa cukup seksi dan menarik?" tanya Elvano sambil merangkul pinggang Kanaya sambil ia berdiri di atas lututnya sehingga tinggi mereka sejajar.


"What are you? Magic Kak El?" kelakar Kanaya. Bibirnya terus tersenyum, terhibur dan senang dengan tarian sensual Elvano untuknya. Kapan lagi ia akan melihat Elvano melakukan itu?


Mereka berdua tertawa.


"Do you like this magic Elvano?" balas Elvano bertanya.


"Very much," jawab Kanaya sambil menghapus keringat di dahi Elvano. Tubuh bertelanjang dada Elvano pun tampak berkeringat setelah menari untuk Kanaya. Diam - diam Kanaya menghirup tubuh berkeringat Elvano dan ia sangat menyukainya.


"Magic Elvano, you better not make me addicted to this dance of yours," seloroh Kanaya, menunjukkan betapa ia sangat menyukai apa yang Elvano lakukan untuknya.


"Aku tidak keberatan, kalau kamu suka, aku bisa melakukannya kapanpun kamu mau," ujar Elvano kemudian mengecup bibir Istrinya itu.


Kecupan itu di sambut oleh Kanaya yang memang sudah menahan diri sejak ia melihat tarian sensual Elvano untuknya. Bagaimana tidak, melihat Elvano menari seperti itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya tidak dapat terelakkan lagi.


Kanaya dan Elvano berpelukan di atas ranjang mereka sambil meredakan nafas mereka yang terengah - engah setelah melakukan sesi panas mereka entah sudah beberapa kali.


Wajah Kanaya memerah dan mencubit pundak Elvano dengan gemas, karena Elvano menggodanya. Meskipun ia mengakui melihat Elvano menari membuatnya lebih 'liar'


"Aaawwww!" Pekik Elvano berpura - pura sakit dengan cubitan Kanaya.


"Pah? Papah? Kenapa Pah?" terdengar suara Clara di depan pintu kamar mereka.


"Nggak Ra, Papah nggak pa - pa!" Jawab Elvano segera saat mendengar anaknya itu ada di depan pintu kamar mereka. Apa yang Clara lakukan di sana? Semoga saja ia tidak mendengar apa yang ia dan Kanaya lakukan baru saja.


"Pah, jalan - jalan keluar yuk Pah," ajak Clara sambil ia berusaha membuka pintu kamar utama. Untung saja Elvano sudah menguncinya tadi.


Elvano dan Kanaya bergegas beranjak. Kanaya masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Elvano memakai bajunya dengan cepat sebelum ia membuka pintu untuk Clara.


"Pah, jalan - jalan di luar yuk, di luar langit bagus," ujar Clara sambil menarik tangan Papanya keluar.


"Bunda mana, Pah?" tanya Clara sambil melihat ke dalam kamar orang tuanya dan tidak menemukan Kanaya di sana.


"Bunda lagi mandi sore sayang. Clara mau jalan - jalan kemana? Kakak sama Dede dimana?" tanya Elvano ingin tahu.


"Di luar Pah, Clara mau melihat matahari terbenam bagus deh, Pah!" Ujar Clara sambil menarik Elvano keluar rumah pantai itu dan bergabung dengan yang lainnya di luar.


"Clara, katanya mau ke kamar mandi kok sama Papah?" tanya Siti yang sedang menggendong Berlin. Ia yang merasa tidak enak karena Clara yang menemui mereka. Karena Desi sudah berpesan padanya untuk tidak menganggu Tuan dan Nyonya itu.

__ADS_1


"Iya Bi, Clara mau main sama Papah dan Bunda!" Jawab Siti sambil melihat Bi Siti.


Elvano pun mengikuti kemauan Clara dan beramain bersama Clara dan Alvaro sementara Twins B sedang bersama Desi dan Siti.


Setelah selesai mandi, Kanaya keluar dari rumah. Ia tersenyum melihat Elvano, Clara dan Alvaro saling berkejaran di pantai dan saling mencipratkan air laut di antara mereka.


"Sini, Desi dan Siti biar Twins B bersama saya," ujar Kanaya sambil menarik stoller Twins B ke arahnya dan membawanya ke lounger. Desi dan Siti pun mengikuti Kanaya dari belakang.


Twins B yang melihat kedatangan Ibunya, langsung merengek ke hausan Kanaya pun kemudian menyusui Twins B secara bergantian dan di bantu oleh Desi dan Siti yang masih setia menemaninya.


Sambil menyesui Twins B, ia memperhatikan Alvaro dan juga Clara yang tertawa bahagia saat bermain dengan Elvano dengan latar belakang matahari terbenam yang memperlihatkan semburat kemerahan yang sangat indah di belakang mereka.


Kanaya teringat Devan. Apa yang di katakannya mengenai matahari terbenam saat itu, saat ia harus melepaskan Devan.


"Karena keindahan matahari terbenam akan tetap di ingat meskipun matahari itu telah hilang, disini," itu yang di katakan Devan saat itu.


Dan Devan benar. Meskipun ia telah pergi meninggalkan mereka, akan tetapi kenangan manis tentangnya akan terus di ingat.


"Bunda, sini!" Teriak Alvaro memanggil Kanaya agar ikut bergabung bersama mereka bermain air di pantai itu.


"Sayang, Ayo!" Ajak Elvano sambil melambaikan tangannya dan berjalan mendekati Kanaya.


Kanaya menyudahi menyusui Twins B dan beranjak dari duduknya dan menitipkan Twins B pada Desi dan Siti lagi.


Elavno meraih tangan Kanaya dan berjalan ke arah pantai untuk bergabung dengan Alvaro dan juga Clara yang sudah basah kuyup oleh air laut.


"Serang Bunda!" Teriak Alvaro sambil menciprati Kanaya dengan air laut yang di ambilnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aaaaahhh!" Teriak Kanaya saat ia mendapatkan cipratan air laut dari Clara dan Alvaro, membuat Elvano tertawa terbahak - bahak.


Kanaya tidak tinggal diam dan membalas mengejar dan menciprati Clara dan Alvaro bergantian, hingga mereka semua basah kuyup dan terengah - engah karena berlari.


Senyum bahagia tampak jelas di wajah mereka semua.


"Kak El, kamu ingat ada satu hal yang ingin aku bicarakan denganmu tadi," ujar Kanaya saat mereka tengah berbaring di pantai karena kelelahan berlari.


"Oh, ya apa?" tanya Elvano seperti teringat perkataan Kanaya.


"Yang ketiga, kamu membuat aku sangat bahagia. Aku mempunyai keluarga yang sempurna dan kamu telah melengkapinya," ujar Kanaya sambil tersenyum dan menatap Elvano.


"Itu kata - kata yang terindah yang pernah aku dengar Kanaya," ujar Elvano menatap balik Kanaya.


"Kamu berhak bahagia, Kanaya. You deserve to be happy!" Ujar Elvano kemudian mengecup kening Kanaya dengan penuh rasa sayang.


... ***** TAMAT*****...


Terima kasih sudah membaca Extra Part ini semoga, bisa mengobati rasa rindu para readers pada Kanaya, Elvano dan Devan. Author minta maaf kalau ada kesamaan cerita dalam pembuatan novel ini. Terima kasih juga yang sudah rela dan ikhlas memberikan vote dan hadiahnya... maaf saya tidak dapat memberikan balasan apa - apa selain doa semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berlimpah pada readers semua.

__ADS_1


__ADS_2