
"Malam Bu Kanaya," sapa Beni yang berjalan ke arahnya dan menjabat tangannya.
"Malam Beni."balas Kanaya sambil tersenyum.
Monika pun ikut menghampiri mereka. Walaupun ia sangat kesal melihat kehadiran Kanaya, tetapi di hadapan Devan ia harus bersikap baik padanya.
"Malam Bu," sapa Monika dengan ramah pada Kanaya.
"Malam Monika,"balas Kanaya sambil tersenyum kemudian ia berjalan mengapit tangan Devan, sementara Beni berjalan di belakang mereka.
Monika menghetakkan kakinya dengan kesal.
'Dia lagi dia lagi? Kapan sih Pak Devan bisa terlepas dari wanita bunting itu?' batin Monika kesal.
Meskipun Monika baru di firma hukum Devan, akan tetapi ia sudah mencari tahu data pribadi Kanaya.
Segala desas desusnya hubungannya dengan Devan dan apa yang terjadi sebelumnya hingga ia bisa bercerai dari Suaminya. Ia pun sempat mencuri dengar percakapan Devan dan juga Kanaya melalui telepon beberapa hari yang lalu saat ia sedang berada di kota G bersama Devan. Saat itu, Kanaya mengatakan bahwa ia akan bertemu mantan Suaminya yang ternyata sedang ada di dalam penjara.
Menurut Monika sangat mengherankan jika ia tidak tahu kabar Yohanes Elvano Alvarendra yang telah di penjara. Bukankah beritanya cukup tersebar luas di kalangan penasehat hukum? Mustahil jika Devan Permana tidak mengetahui hal itu. Atau... Devan sengaja tidak memberitahukannya?
Monika pun hanya bisa cemberut melihat Kanaya duduk di kursi sebelah Devan saat jamuan makan malam mereka. Apalagi Devan kerap memegang tangan Kanaya di atas meja.
"Monika, udah sih jangan di lihatin terus nanti kamu sakit hati sendiri!" ujar Silvya teman kantornya tiba - tiba. Ia memang tahu jika Monika memiliki hati pada Bosnya itu.
"Lagian udah di bilangin juga kalau Bos itu udah ada yang punya, jangan coba - coba deh, kecuali kamu mau sakit hati!" Tambah Silvya memperingatkan.
Monika bukannya mendengarkan perkataan Silvya, malah tersenyum sinis kepada Kanaya.
Kanaya memang bisa merasakan pandangan Monika padanya, akan tetapi Kanaya hanya mengacuhkannya saja. Ia tidak ingin membuat masalah, apalagi yang berkaitan dengan lingkungan kerja Devan.
Kanaya sendiri sedang berdiri di lobby hotel itu. Menunggu Devan yang sedang menerima telepon dari salah satu koleganya beberapa meter dari tempatnya mereka berdiri.
"Halo Bu Kanaya, saya dengar Ibu kemarin pulang ke kota kelahiran Ibu ya?" tanya Monika tiba - tiba.
"Hm, ya," jawab Kanaya sambil tersenyum simpul.
"Saya dengar dari Pak Devan, katanya Ibu bertemu mantan Suami Ibu. Gimana Bu, kabarnya Pak Elvano? Saya ikut prihatin ya Bu, Bapaknya dari anak Ibu di penjara" ujar Monika.
Kanaya tidak menjawab pertanyaan Monika dan mencoba tenang di hadapan wanita itu.
"Ibu kenapa baru sekarang jenguk Pak Elvano? Kasihan loh Bu, Pak Elvano harus menghadapi semua itu sendiri," tambah Monika lagi.
"Monika maaf ya, tolong jangan ikut campur masalah pribadi saya," ujar Kanaya masih berusaha sabar meskipun ingin mendamprat Monika, akan tetapi Kanaya tidak ingin membuat keributan di hotel itu, apalagi di depan karyawan Devan yang lainnya.
__ADS_1
"Ah, memangnya Ibu baru tahu kalau Pak Elvano masuk ke dalam penjara?" ujar Monika tidak mau berhenti berbicara.
"Monika...." baru saja Kanaya hendak menegurnya dengan keras, tiba - tiba Monika memotong ucapannya.
"Memang Pak Devan nggak kasih tahu kalau Pak Devan di penjara?" tanya Monika mengeluarkan kartu trufnya.
Kanaya tertegun. Devan tahu?
"Maaf Bu, mobil saya sudah sampai," ujar Monika langsung meninggalkan Kanaya yang masih tertegun. Saat mobil yang di tumpangi oleh Monika berjalan meninggalkan drive away hotel itu, Monika tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Kanaya yang terdiam.
"Tak bisa membuat Devan Permana meninggalkan Kanaya biarlah Kanaya yang meninggalkan Devan Permana," batin Monika sambil tersenyum.
Kanaya masih tertegun dengan perkataan Monika.
Selepas kepergian Monika, Kanaya menerima panggilan telepon beberapa dari tempatnya berdiri.
Apa benar Devan tahu kalau Kak Elvano di penjara dan ia tidak mengatakan padanya? Apa itu sebabnya Devan tidak terkejut saat mengatakan di telepon bahwa Elvano masuk penjara?
"Ayo Ay kita pulang?" ujar Devan, tahu - tahu sudah berada di depan Kanaya dan mengajak Kanaya memasuki mobil kantor Devan yang sudah berhenti di dekat mereka.
Kanaya pun memasuki mobil dan duduk di kursi belakang bersama Devan.
"Apartemen Clara Sky Garden, Pak Amran." ujar Devan pada supirnya.
Pak Amran pun mulai melajukan mobilnya.
Kanaya hanya menoleh dan tersenyum pada Devan.
Telepon Devan berdering lagi dan ia pun mengangkatnya. Rupanya Devan memang sedang sibuk dengan beberapa kasus, sehingga sampai malam pun masih saja ada orang yang berdiskusi mengenai permaslahan hukum dengannya.
Kanaya pun tidak banyak bicara dia hanya diam saja, bahkan saat Devan meraih tangannya dan mengenggamnya sembari ia menerima panggilan telepon.
15 menit perjalanan terasa cepat saat mereka akhirnya sampai di lobby apartemen.
"Pak Amran parkir dulu ya, Pak. Saya antar Kanaya sebentar," ujar Devan.
"Ya Pak," Pak Amran pun mengikuti perintah Devan.
Devan mengantar Kanaya naik ke lantai apartemennya di lantai 7.
"Kamu capek Ay?" tanya Devan saat Kanaya merasa hanya diam saja dari tadi.
"Sedikit," jawab Kanaya pendek.
__ADS_1
"Mau aku gendong?" tanya Devan dengan pandangan yang menggoda.
"Nggak usah," jawab Kanaya dengan menggeleng.
Meskipun Kanaya menjawabnya dengan intonasi biasa, namun Devan melihat ada sesuatu yang di pikirkan Kanaya dari tatapan mata Kanaya.
Kenapa dengan Kanaya? Sepertinya di hotel tadi dia masih baik - baik saja, pikir Devan.
Ding! Dan mereka pun sampai di lantai 7 dan mereka pun berjalan menuju unit Apartemen Kanaya.
"Devan, aku langsung istirahat ya," terima kasih sudah antar aku," ujar Kanaya tanpa menawarkan Devan untuk masuk.
Devan merasa aneh.
"Ada apa?" tanya Devan selalu saat ia melihat ada sesuatu yang janggal.
Apa ia melakukan suatu kesalahan? Ia tahu bahwa wanita hamil memang sangat sensitif, berdasarkan pengalamannya selama menemani kehamilan Kanaya.
"Nggak ada apa - apa aku cuma mau istirahat," jawab Kanaya, lalu ia membuka pintu apartemennya dan masuk. Saat hendak menutup pintu, Devan menahan pintu itu dan ikut masuk bersama Kanaya.
"Van, sebaiknya kamu cepat pulang. Pak Amran sedang menunggu kamu," alasan Kanaya.
Devan mengambil telepon genggamnya dan menelepon Pak Amran.
"Pak Amran santai dulu Pak. Saya mungkin akan agak lama di atas," ujar Devan kemudian menutup percakapan teleponnya dan mengangkat alisnya pada Kanaya.
"Ada apa? Ayo cerita! Aku tidak terburu - buru?" desak Devan.
Kanaya tidak membuka mulutnya hanya memandangi Devan.
"Kalau kamu nggak mau cerita aku akan tetap disini!" Ujar Devan sambil duduk di sofa ruang tamu Kanaya. Ia sangat nyaman duduk di sana.
"Devan!" Protes Kanaya.
"Ay, jangan anggap aku orang lain! Kalau ada masalah, kamu bisa mengandalkanku!" Ujar Devan tidak mau mengalah sambil duduk santai di sofa ruang tamu Kanaya.
Kanaya tahu kalau sudah begini Devan tidak akan bergerak sampai ia menceritakan apa yang ada di pikirannya.
Kanaya menghampiri Devan dan duduk di sebrangnya dan bukan di sampingnya.
"Van, apa kamu sudah tahu kalau Kak Elvano selama ini di penjara?"
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.