
"Pah, Papa duduk di belakang sama Clara dong," pinta Clara saat ia hendak masuk ke dalam mobil. Alvaro dan Kanaya sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil di kursi belakang.
"Clara, ayo!" Ajak Kanaya agar Clara segera masuk ke dalam mobil dan Clara menggeleng kemudian mendongak menatap Elvano.
"Gak muat sayang, Clara duduk sama Bunda ya, Papa biar duduk dekat sama Om Arya," ujar Elvano berusaha untuk membujuk Clara agar segera masuk ke dalam mobil tanpa dirinya.
Clara menggeleng dan menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Clara mau sama Papah!" Ujarnya.
"Papanya biar duduk di depan ya dek, nanti adek kesempitan kalau semuanya harus duduk di belakang," ujar Arya, ikut membujuk Clara agar mau naik ke dalam mobil.
Clara menggeleng sambil cemberut.
"Clara?" panggil Kanaya merasa heran. Kenapa Clara bertingkah aneh hari ini. Sudah beberapa kali ia merajuk dan mengambek.
"Clara pengin sama Papah!" Rajuk Clara lagi dengan wajah yang hampir menangis.
"Ya sudah, Papa duduk di belakang, ya" ujar Elvano akhirnya. Sambil meminta Clara masuk terlebih dahulu, tetapi Clara menggeleng dan berkata, "Papa duluan!"
Elvano pun pasrah dan masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Kanaya. barulah Clara mau masuk. Saat itu kursi di belakang sangat penuh di isi 4 orang, sehingga mereka duduk berdesakan.
"Kak, Kakak pindah duduk di depan ya?" pinta Kanaya pada Alvaro yang duduk di sebelahnya di dekat jendela.
"Tapi Alvaro mengantuk, Bun" ujar Alvaro sambil menguap dan memeluk lengan Bundanya. Kanaya pun tidak menyuruh lagi dan pasrah saja duduk berdempetan di belakang.
Mobil pun melaju.
"Pah, geser lagi dong, Clara kesempitan," ujar Clara sambil mendesak tubuh Elvano agar bergeser ke samping Kanaya.
"Tuh, kan Bunda bilang sempit nggak percaya;" ujar Kanaya pada Clara, namun Clara diam saja.
Elvano pun bergeser hingga ia dan Kanaya duduk saling berdekatan dan bersentuhan.
Selama perjalanan mereka berdua terdiam seperti sibuk dengan pikiran masing - masing.
Arya melirik dari kaca spion depan, tersenyum melihat mereka ber empat duduk di belakang. Ia berpikir seandainya mereka adalah keluarga yang sesungguhnya, pastilah sangat bahagia. Lagi pula Bosnya sudah lama menduda dan Kanaya pun sudah setahun menjanda. Dan selama Arya bekerja pada Elvano, belum pernah sekalipun ia melihat Bosnya itu dekat dengan wanita lain selain Kanaya dan juga Adella, mantan Istrinya.
Hubungan Bosnya denga Adella masih sangat dekat, namun tidak mungkin Bosnya itu akan kembali bersama Adella, karena Adella telah menikah lagi dengan Raka. Dan ia berpikir, bukankah sangat cocok jika Ibu Kanaya kembali dengan Pak Elvano?
Lamunan Arya terhenti saat telah sampai di depan rumah.
"Kita sudah sampai Pak," ujar Arya lalu ia membuka pintu mobil dan membiarkan mereka keluar.
Alvaro dan Clara langsung berhamburan keluar dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ay, kamu mau langsung balik ke kantor?" tanya Elvano masih di dalam mobil.
"Iya Kak El, karena aku masih ada meeting nanti sore," ujar Kanaya.
"Aku antar ya, sekalian mau ke kantor," ujar Elvano.
Kanaya mengangguk dan berkata, "Tapi aku kedalam dulu sebentar ya. Kamu ikut?"
Elvano pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah bersama Kanaya.
"Siti, Ibu balik ke kantor ya. Kamu jaga anak - anak dengan baik," ujar Kanaya sambil berjalan ke lantai atas hendak melihat anaknya di dalam kamar.
"Iya Bu," jawab Siti.
Setelah mengecek Alvaro dan juga Clara di kamar mereka. Kanaya pun turun kembali.
"Sudah Ay, kita berangkat sekarang?" tanya Elvano sambil beranjak duduk di sofa.
Kanaya mengangguk dan ikut bersama Elvano keluar rumah.
"Pah!" Tiba - tiba Alvaro memanggilnya sambil berlari menuruni tangga.
"Papa, nanti malam kesini ya. Alvaro ada tugas yang sulit," ujar Alvaro.
"Alvaro, nanti kerjakan sama Bunda ya. Papa Elvano kan capek kalau harus bolak balik ke rumah," ujar Kanaya merasa tidak enak merepotkan Elvano. Lagian ia bisa membantu Alvaro dengan tugas sekolahnya.
"Nggak pa- pa, Ay. Nanti malam biar aku yang kesini," ujar Elvano.
"Papa berangkat kerja dulu ya Alvaro, nanti malam Papa masih ada meeting jam 7, Papa kesini mungkin sekitar jam 8?" ujar Elvano pada Alvaro dan Alvaro pun mengangguk.
Alvaro masuk ke dalam rumahnya setelah menyalami kedua orang tuanya.
"Maaf Kak El, kami selalu merepotkan," ujar Kanaya selama dalam perjalanan mereka balik ke kantor.
"Nggak pa - pa Ay, mereka kan anak - anakku juga," ujar Elvano tidak merasa terbebani.
"Terima kasih Kak Elvano," tambah Kanaya sambil tersenyum dan memandang Elvano sekilas.
Ya Tuhan, kalau saja dia Istriku sudah pasti ku peluk dan ku cium saat ini juga. Bantin Elvano, memandang sosok wanita yang ada di sebelahnya dengan penuh rasa sayang.
"Terima kasih banyak Kak El, Pak Arya." ujar Kanaya setelah mereka telah sampai di depan lobby apartemen Clarissa Sky Garden.
"Sama - sama Ay." ujar Elvano sambil tersenyum, melihat Kanaya turun dari mobilnya, melambaikan tangan ke arahnya dan masuk ke dalam lobby apartemen.
"Ke kantor Pak?" tanya Arya.
__ADS_1
"Ya," jawab Elvano sambil melihat layar telepon genggamnya yang saat itu telah berdering.
Luna menghubunginya dan ia segera mengangkatnya.
"Ya, Mah?" sapa Elvano langsung saat mengangkat panggilan telepon itu.
"Elvano, apa kabarmu?" tanya Luna.
"Baik, Mah. Mamah gimana? Semua baik dan sehat?" tanya Elvano balik.
"Baik Elvano, Mamah sibuk dengan cucu," jawab Luna dengan tertawa. Terdengar suara anak - anak yang sedang bicara di latar. Ya, yang di maksud Luna adalah anak - anak Lisa dengan Anton yang tinggal bersamanya di kota D.
"Bagaimana dengan Alvaro? Mamah sudah lama sekali tidak berbicara dengannya. Dia pasti sudah tumbuh besar sekarang," ujar Luna. Sudah beberapa bulan Luna tidak berjumpa dengan Alvaro dan ia pun rindu ingin bertemu dengannya.
"Baik Mah, Elvano baru saja antar Alvaro pulang," jawab Elvano
"Kanaya?" tanya Luna.
"Kanaya juga baik," jawab Elvano.
"Elvano....."
"Kenapa Mah? Elvano baik - baik saja," ujar Elvano tidak ingin membuat Mamanya ikut khawatir.
"Apa kamu masih mengharpakan Kanaya? Kenapa kamu tidak mengakui saja pada Kanaya kalau kamu masih sayang padanya? Ini sudah setahun Elvano, dia pasti sudah menerima kepergian Devan," ujar Luna.
Elvano menghela napas dan duduk bersandar pada sandaran bangku mobil.
"Elvano, usiamu sudah 37 tahun. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Alvaro sangat membutuhkan figur kedua orang tuanya, dan Mama lihat, Clara pun sangat sayang padamu. Mama rasa Clara akan bisa menerima mu?"
"Tidak semudah itu, Mah?"
"Bisa menjadi mudah, asal kamu mau melakukannya. Lagi pula, sampai kapan kamu akan menunggu Kanaya sampai siap? Kamu tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, bukan?" tanya Luna.
Menyesal?
"Pak, kita sudah sampai," ujar Arya, lalu ia keluar dari mobil dan membuka pintu mobil Elvano.
"Maaf Mah, Elvano kerja dulu ya, nanti Elvano telepon lagi," ujar Elvano tidak menanggapi ucapan Luna untuk saat itu. Ia masih harus memikirkan lagi apa yang di katakan Mamanya itu.
"Iya Elvano, kamu pikirkan baik - baik apa yang Mama katakan, untuk kebaikan kalian," ujar Luna.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.