Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Berterima Kasih


__ADS_3

"Kanaya... Kanaya...!" Ujar Devan sambil mendekati Kanaya yang panik dan menghentikkan gerakannya yang mondar - mandir dengan gugup.


"Tidak apa Ay, kamu bisa cerita padaku," ujar Devan mencoba menenangkan Kanaya.


"Apa Elvano memaksakan kehendaknya padamu?" tanya Devan dengan hati - hati.


"Memaksamu untuk berhubungan intim dengannya?" tanya Devan lebih spesifisik, walaupun ia merasa geram mengatakannya. Namun, ia berusaha tidak menampakkannya.


Tubuh Kanaya bergetar hebat saat Devan menanyakan hal itu. Pikirannya kembali pada kejadian malam itu, yang telah merenggut harga dirinya sebagai seorang wanita. Elvano telah memperkosanya dan memaksakan kehendaknya dengan paksa malam itu,tidak hanya sekali, namun berkali - kali.


Melihat Kanaya yang bergetar hebat dan tidak bisa mengendalikan emosinya, Devan segera memeluk Kanaya. Tanpa Kanaya menjawab pertanyaannya. Ia tahu apa yang di ceritakan Bundanya adalah benar, Elvano telah memperkosa Kanaya malam itu.


"Tidak apa, Ay. Aku disini, aku akan menjagamu. Dia tidak akan menyentuhmu lagi. Aku janji, Ay. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi." ujar Devan sambil memeluk Kanaya erat dan mengecup kepala Kanaya.


Dalam hati Devan berjanji akan membuat Elvano membayar semua yang dia lakukan pada Kanaya dengan menjebloskannya ke penjara.


'Maafkan aku, Ay. Seharusnya aku melindungimu saat itu' batin Devan sambil mengecup kepala Kanaya berkali - kali.


Devan menenangkan Kanaya dan mendudukkanya di sofa.


"Ay. Aku tahu apa yang kamu alami sangatlah berat. Akan tetapi kalau kamu ingin berpisah dengan Elvano, kamu harus bisa menghadapinya. Dan aku akan membantumu, Ay. Aku akan selalu ada di setiap langkahmu," ujar Devan maeyakinkan Kanaya, bahwa ia akan di sisi Kanaya dalam menghadapi Elvano.


"Tetapi aku hanya bisa membantumu, jika kamu membiarkan aku untuk membantumu. Kamu mungkin harus membuka lukamu dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan begitu, Elvano akan mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan padamu," ujar Devan memberitahu Kanaya akan apa yang akan di hadapinya ke depan.


Devan membiarkan Kanaya beristirahat pagi itu, sementara itu dia pergi ke rumah Alexander David Mahendra untuk mengucapkan terima kasih.


Saat sampai di kediaman David. Ia di terima oleh Jefri, kepala asisten rumah tangga di rumah itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak Devan. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Jefri pada Devan pagi itu.


"Saya ingin bertemu dengan Pak David." ujar Devan dengan sopan.


"Baik Pak Devan, silahkan tunggu sebentar," ujar Jefri sambil mempersilahkan Devan untuk duduk di sofa ruang tamu besar itu.


Jefri pun pergi menemui David di ruang kerjanya di lantai 2. Ia mengetuk pintu ruang kerja David, kemudian masuk ke dalam setelah mendengar suara David mempersilahkannya masuk.


"Ada apa Jefri?" tanya David saat melihat Jefri masuk kedalam ruang kerjanya. David tampak sibuk membalas emailnya pagi itu.


"Maaf Pak, Pak Devan ada di bawah ingin bertemu dengan Bapak,"


"Baiklah, saya akan turun sebentar lagi Jefri." ujar David sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


Jefri mengangguk dan mengundurkan diri dari ruang kerja itu. Lalu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan dua buah cangkir kopi untuk Devan dan juga David.


David yang telah selesai mengirimkan email paginya, turun ke bawah untuk menemui Devan, bersamaan dengan Jefri yang membawa dua cangkir kopi ke ruang tamu."


"Sudah pak David, saya sudah menemukan sahabat saya," ujar Devan sambil tersenyum dan menjabat tangan David.


"Dan saya sangat berterima kasih kepada Bapak atas bantuannya. Kalau tidak atas bantuan Bapak dan Gilang, akan sangat sulit menemukan sahabat saya itu." ujar Devan lagi, benar - benar berterima kasih dan bersyukur.


Sementara itu, Jefri menaruh dua cangkir kopi di meja ruang tamu untuk mereka.


"Silahkan diminum, Pak," ujar Jefri mempersilahkan mereka.


"Terima kasih, Jefri." ucap David.

__ADS_1


"Saya benar - benar senang mendengarnya, Devan. Dan sebenarnya saya tidak melakukan apapun mengenai hal itu. Gilang lah yang telah membantu Pak Devan, sementara saya hanya memberikan dukungan dan doa semoga masalah Pak Devan bisa segera selesai," ujar David, sambil menatap Devan, memperhatikan raut wajahnya.


Meskipun Devan telah menemukan sahabatnya kembali tetapi ada sedikit kelabu, di raut wajah Devan, yang membuat David berpikir bahwa masalahnya belum lah tuntas.


Gilang pun telah menyelesaikan tugasnya dan memberikan laporan pada David secara pribadi tadi malam. Dan Gilang juga telah memberitahu David kejadian di kota D dan siapa sebenarnya sahabat Devan serta kecurigaan Gilang bahwa Kanaya Zavira telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangganya bersama Yohanes Elvano Alvarendra, salah seorang pebisnis yang sukses di kota D. Kalau bisa di bilang yang tersukses di sana.


Berdasarkan cerita Gilang padanya. Elvano mungkin tidak akan tinggal diam, saat ia mengetahui Devan telah melarikan Istrinya ke luar kota. Oleh karena itu David tetap meminta Gilang tetap memonitor keselamatan Devan dan Kanaya tanpa sepengetahuan Devan.


"Bagaimanapun tanpa campur tangan Bapak, kami akan sulit keluar dari kota D tadi malam," ujar Devan mengingat betapa ketatnya penjagaan di Bandara komersial dan blokade jalan - jalan penghubung antar kota. Jika tanpa izin David untuk menggunakan pesawat pribadinya, mungkin mereka tidak akan bisa keluar dari kota D.


David tersenyum dan mengangguk.


"Lantas, apa rencanamu Devan? Saya dengar suami dari sahabatmu adalah Yohanes Elvano Alvarendra? Saya rasa ia tidak akan tinggal diam begitu saja." tanya David.


"Iya benar, Pak. Yohanes Elvano Alvarendra adalah suami dari teman saya Kanaya Zavira. Dan memang hal itulah yang saya takutkan, Pak. Tetapi Kanaya sahabat saya sudah tidak ingin bersama dengannya lagi dan ingin bercerai dari suaminya," ujar Devan.


"Dan yang bisa saya lakukan hanyalah membantunya dan memberikan dukungan padanya," ujar Devan.


"Tidak, jika kepulangannya mengancam jiwanya dan keselamatannya saya akan berusaha semampu saya untuk melindunginya," ujar Devan dengan tekad yang kuat.


David mengangguk melihat tekad Devan.


"Berhati - hatilah Devan, kalau kau membutuhkan bantuan apa pun, tinggal katakan saja," ujar David sambil menepuk pundak Devan.


"Sekali lagi terima kasih, Pak David. Mohon maaf saya telah menganggu waktu Bapak," ujar Devan karena sudah waktunya ia undur diri.


"Sama sekali tidak Devan, sebagai kawan kita seharusnya sudah saling membantu. Kamu pun sudah sering membantu perusahaan saya jika mengalami batu sandungan dengan hal legal, jadi kita sama - sama membantu." ujar David sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Devan pun undur diri, dan segera kembali kerumahnya. Ia belum merasa aman untuk meninggalkan Kanaya di rumahnya tanpa penjagaannya.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2