
"Iya Ay?" tanya Elvano sambil beranjak dari duduknya.
"Kak El, Alvaro... dia mau menginap di rumahmu. Aku dan Devan berpikir, mungkin ada baiknya jika dia menginap beberapa hari di tempatmu. Bagaiamana Kak El? Apa kamu tidak keberatan?" tanya Kanaya.
"Tentu saja nggak, Ay. Berapa hari katamu?" tanya Elvano seperti baru tersadar.
"Alvaro bilang, dia mau menginap selama seminggu. Minggu depan aku dan juga Devan yang jemput kalau kamu tidak keberatan," ujar Kanaya.
"Tentu nggak, Ay!" Ujar Elvano sambil tersenyum lebar. Tentu saja ia senang Alvaro menginap di rumahnya?
"Alvaronya mana?" tanya Elvano sambil mencari sosok anaknya itu.
"Ada, itu...." ujar Kanaya sambil menunjuk dengan matanya ke arah Alvaro yang sedang duduk bersama Devan dan Clara.
"Papa, ikut...."ujar Keira langsung sambil meraih tangan Elvano saat Elvano beranjak hendak menghampiri Alvaro.
"Ayo sini!" Ajak Elvano. Ia berjalan ke arah Alvaro sambil menggandeng Keira.
"Elvano, dia sudah banyak berubah," celetuk Adella, membuat Kanaya yang sedang melihat Elvano, menoleh ke arah Adella.
Kanaya hanya tersenyum menanggapinya. Jika di bandingkan dengan saat ia dan Elvano masih berumah tangga dulu, Elvano memang sudah berubah 360 derajat. Ia menjadi seorang yang lebih sabar, penyayang pada anak - anak dan lebih bertanggung jawab.
"Gimana kabar, Raka?" tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membahas Elvano, yang sama - sama mantan suami mereka. Pasti akan tampak canggung.
"Baik. Dia pulang nanti malam. Makanya sebentar lagi aku pulang ya," ujar Adella.
Adella sudah menikah dengan Raka 2 tahun yang lalu. Raka adalah sahabat Elvano yang akhirnya pindah ke kota B, sejalan dengan bisnis yang mereka tekuni bersama bertumbuh pesat di kota itu.
"Ya sudah tidak apa - apa, padahal Clara sangat senang sekali kalau ada Keira main ke rumah," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Lain waktu biar Keira main kesini setelah pulang sekolah juga bisa," ujar Adella.
Mereka berdua pun asik membicarakan sekolah Clara dan Keira, karena mereka berdua sekolah di sekolah yang sama.
Sementara Elvano, Devan juga asyik mengobrol bersama Alvaro, Clara dan juga Keira.
***********************
Seorang Pramugari cantik berjalan menghampiri Elvano dan menunduk saat berkata "Kita sudah hampir landing, Pak. Silahkan di pakai sabuk pengamannya." Elvano mengangguk dan memakai sabuk pengamannya, setelah itu ia melihat ke arah sampingnya.
"Bisa?" tanyanya saat melihat Alvaro sedang mencoba memasang sabuk pengamannya.
Setelah menarik sedikit sabuk di pinggangnya, Alvaro pun berhasil memasangnya. Elvano tersenyum dan mengusap kepalanya.
Elvano memang mengajak Alvaro untuk berlibur di kota H, karena ia harus menghadiri pertemuan bisnis di sana bersama Raka. Dan saat itu Alvaro tengah menginap di rumahnya.
__ADS_1
Elvano pun sudah meminta izin pada Kanaya dan juga Devan untuk membawa Alvaro bersamanya, sekaligus menghabiskan waktu weekendnya bersama Alvaro, yang langsung di setujui oleh Devan.
Pesawat pribadi Elvano pun mendarat, Elvano, Alvaro dan juga Raka langsung di jemput oleh mobil yang di sediakan oleh hotel mereka di sana.
Alvaro memang sudah pernah ke kota H sebelumnya bersama Ayah, Bunda dan juga Clara, akan tetapi is belum pernah berdua daha dengan Papanya.
"Alvaro, nanti ikut kerja Papa dulu ya, setelah itu nanti kita jalan - jalan," ujar Elvano saat ia ada di dalam mobil.
"Iya Pah," jawab Alvaro, sambil melihat pemandangan yang ada di sekitar jalan yang mereka lewati.
Mobil mereka berhenti di salah satu kantor yang ada di kota H dan seorang wanita menghampiri mereka.
"Elvano, Raka, apa kabar? Udah lama ya nggak bertemu!" Ujar wanita itu sambil bersalaman dan memandang ke arah Elvano, dan Raka, kemudian kembali ke arah Elvano, dengan tidak berkedip, sambil memberikan senyuman termanisnya.
Elvano di usianya yang menginjak ke 36 tahun, memang tidak hanya tampak matang dan mapan tetapi juga masih terlihat sangat tampan, karena ia memang rajin berolahraga. Pantas saja semua wanita lajang yang bertemu dengannya akan dengan sengaja menarik perhatiannya.
"Baik Vira, apa Pak Bustomi sudah datang?" tanya Elvano pada wanita itu. Vira adalah salah seorang business respresentativenya di kota H.
"Sudah Elvano, Pak Bustomi sudah menunggu di dalam. Ini siapa?" tanyanya pada Elvano sambil melihat ke arah Alvaro.
"Ini anakku, Alvaro. Alvaro salim sama tante Vira," ujar Elvano.
Vira sangat terkejut Elvano ternyata mempunyai seorang anak laki - laki sebesar Alvaro. Setahu dia, Elvano hanya mempunyai seorang anak perempuan dari pernikahannya dengan Adella.
"Wah, gantengnya sama kaya Papanya! Nanti kalau sudah besar, pasti gantengnya seperti kamu Elvano," ujarnya tanpa malu - malu.
Alvaro melihat ke arah Vira, dan mencium tangannya, seperti yang ia lakukan jika bertemu dengan orang yang lebih tua. Tetapi ia tidak suka melihat cara Tante itu menatap ke arah Papanya. Ia merasa risih.
"Vira, kamu tidak menanyakan aku? Apa aku kalah ganteng?" celetuk Raka setelah ia berdehem sesaat.
"Ah Raka, sudah bosan aku melihat kamu! Ayo kita segera masuk," ujar Vira sambil memutar bola matanya pada Raka.
"Alvaro Papa rapat dulu ya, kamu nanti tunggu di ruang tunggu, disana Alvaro bisa istirahat sebentar," ujar Elvano pada Alvaro dan Alvaro mengangguk.
"Vir, tolong ajak Alvaro ke ruang tunggu agar dia bisa beristirahat," ujar Elvano sebelum ia melanjutkan langkahnya.
"Ah, tentu saja Elvano. Aku pasti akan mengurus dia dengan baik. Ayo, Alvaro ikut Tante yah..." ucapnya dengan sangat manis terhadap Alvaro.
Alvaro mengikuti Tante Vira, meskipun ia tidak suka dengan cara Tante itu berbicara dan mencari perhatian pada Papanya. Alvaro sering memergoki saat ia dan Papanya pergi berdua, ada saja perempuan yang melirik ke arah Papanya itu.
Alvaro memang mengakui jika Papanya itu masih sangat ganteng dan gagah, tetapi ia melihat Papanya itu sangat santai dan tidak menggubris sikap mereka yang sering mencari perhatian pada Papanya. Dan Tante Vira tidak ada bedanya dengan Tante - tante lainnya yang mencoba untuk mendekati Papanya.
Di usianya yang ke 9 tahun Alvaro sudah pernah merasakan tinggal bersama Papanya dan Tante Adella, dan Alvaro melihat bahwa Papanya itu sangat perhatian pada Tante Adella dan juga Keira, adik tirinya.
__ADS_1
Ia pun tidak mengerti ketika tiba - tiba beberapa tahun yang lalu, Papahnya itu berpisah rumah tangga dengan Tante Adella dan Keira, tetapi meski begitu, mereka berhubungan baik. Bahkan mereka berempat atau kadang berlima dengan Om Raka, masih sering pergi bersama.
Dan Tante Vira ini, tidak ada bedanya dengan Tante - tante lainnya yang mencoba mendekati Papanya.
Alvaro di ajak ke sebuah ruangan yang sangat nyaman dengan sofa dan televisi besar dan beberapa buah makanan kecil dan minuman yang di sediakan di meja dan ia bisa leluasa mengambilnya.
"Siapa namanya? Alva ya?" tanya Vira pada Alvaro.
"Al...." Alvaro hendak menjawabnya namun langsung di potong oleh Vira.
"Alva, tante tinggal dulu ya. Alva tunggu di sini dulu ya, nanti kalau Papanya sudah selesai rapat, pasti Tante kesini lagi." ujar Vira dengan sangat manis. Namun Alvaro tahu ia hanya berpura - pura padanya, bahkan menyebut namanya saja ia salah.
Kemudian Vira meninggalkan Alvaro di sana.
Alvaro mencoba menyibukkan diri, dengan bermain game di telepon genggam miliknya dan mendengarkan musik dari headset yang di kenakannya.
Setelah hampir 2 jam menunggu Papanya rapat, mereka akhirnya pergi ke waterboom dan mereka bertiga bermain di sana.
Alvaro sudah pernah kesana sebelumnya dengan Devan dan keluarganya, sehingga ia tidak merasa takut lagi, melihat tingginya wahana yang ada di sana, meskipun ia belum pernah mencob semuanya, karena ia belum memunuhi tinggi badannya saat itu.
"Alvaro, ayo kita coba yang itu!" Ujar Elvano sambil menunjuk Twin Racer dan Alvaro belum pernah mencoba sebelumnya, namun kali ini ia sudah bisa.Alvaro melihat wahana itu dengan terlihat ragu.
"Ayo Alvaro! Jangan takut. Kalahkan Papa Elvano!" Ujar Raka memberi semangat anak itu,
"Ya, it's going to be fun!" Bujuk Elvano sambil menatap Alvaro dengan penuh tantangan.
"Alvaro mengangguk dan ia berlari menuju ke arah wahana itu, dan Elvano mengikutinya sambil tertawa senang. Kedua Ayah dan anak itu terlihat bersenang - senang sore itu.
Setelah bersenang - senang mereka pun istirahat di sebuah cafe tak jauh dari waterboom dan makan di sana.
Saat sedang santai, siaran televisi di cafe itu menyiarkan sebuah berita.
"Randy Sanjaya terakait pada kasus pemerasaan dan korupsi pada PT. DPA telah di tahan dan dalam penyelidikan pihak terkait. PT. DPA yang di pimpin oleh Austin Leonard Alfaro, telah mengajukan tuntutan yang di pimpin oleh pengacara Devan Permana, SH. Kasus ini sudah bergulir beberapa minggu lamanya dan sekarang telah sampai pada babak baru..."
"Elvano, apa Devan pernah bicara mengenai kasus ini?" tanya Raka saat itu. Kebetulan Alvaro sedang pergi ke toilet dan tidak bersama dengan mereka.
"Tidak." jawab Elvano.
"Dia harus berhati - hati, Elvano. Randy Sanjaya orang yang sangat berbahaya. Temanku Gatan, pernah berhubungan dengannya, dan dia orang yang sangat jahat," ujar Raka mengingatkan.
"Apa maksudmu? Devan Permana adalah pengacaranya Austin. Kasus ini antara Randy Sanjaya dan Austin Leonard Alfaro." ujar Elvano berpikir, seharusnya kejadian ini tidak akan menyeret Devan dalam bahaya.
"Aku katakan padamu, temanku Gatan, dia pun harus pindah keluar negeri karena kasusnya dengan Randy Sanjaya. Dia bukan orang yang mau melepas begitu saja orang yang sudah menghalangi jalannya. Aku hanya mengingatkan, karena kau kan orang yang paling dekat dengan Devan. Aku takut sesuatu akan terjadi pada Devan Permana atau pun keluarganya," ujar Raka sambil menatap Elvano penuh arti dan pembicaraan mereka terhenti karena Alvaro sudah kembali.
Mereka pun langsung kembali ke hotel karena Alvaro sudah mengantuk.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.