
Elvano sebenarnya memperhatikan Kanaya beberapa kali. Ia sering melihat gadis itu hadir bersama papanya di acara - acara yang di selenggarakan asosiasi pengusaha ataupun acara amal di kota mereka. Ia bisa merasakan jika Kanaya tertarik padanya, hanya saja gadis itu tidak menarik baginya.
Kanaya tidak pandai bergaya dan bersolek seperti gadis - gadis lainya yang tampil mempesona dengan pakaian yang mengundang tatapan mata laki - laki. Gadis itu memilih menggunakan pakaian panjang yang menutupi tubuhnya dan modelnya pun sudah ketinggalan jaman. Sangat tidak menarik dan jauh dari penampilan Devita, yang langsung menarik perhatiannya saat pertama kali ua melihatnya. Elvano langsung jatuh hati pada Devita pada pandangan pertama.
Elvano tidak menampik jika Kanaya tampak sangat cantik di hari pernikahan mereka, karena penampilan baju rancangan desainer yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sangat indah berbeda dengan pakaian sehari - hari yang biasa Kanaya pakai. Di tambah lagi MUA yang ia pakai mampu menonjolkan kecantikan alami yang di miliki oleh Kanaya.
'Ya Tuhan, Kak Elvano, Kenapa Suamiku bisa berkata seperti itu?' Batin Kanaya sambil mengelus dadanya saat Elvano membanting pintu kamar mandi.
perlahan ia bangkit dan duduk di kursi yang ada di kamar itu dan meminum segelas air untuk menenangkan dirinya.
Ia menunggu Elvano yang tengah mandi di kamar mandi sambil menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Elvano dari dalam kopernya. pakaian kaos berkerah dan celana pendek chino untuk acara pagi santai mereka.
Kemudian Kanaya mengambil dari dalam kpoer yang di bawanya dari rumah beberapa hari yang lalu, sebuah blus panjang dan rok di bawah lutut.
Setelah 10 menit, Elvano keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobenya.
"Kak Elvano, aku sudah menyiapkan pakaianmu," ujar Kanaya sambil menunjuk pakaian Elvano di atas ranjang tanpa berkata apapun.
Kanaya pun masuk ke dalam kamar mandi, mengerjakan kebiasaan paginya serta mandi dan memakai pakaian yang sudah ia bawa.
"Pakaian apa yang kamu pakai itu?!" bentak Elvano tiba - tiba saat Kanaya keluar dari kamar mandi.
"Ini...ini bajuku," ujar Kanaya sambil melihat ke arah baju yang dikenakannya
"Kamu itu sekarang istriku kanaya! Apapun yang kamu pakai harus bisa mencerminkan siapa dirimu!" ujar Elvano dengan pandangan jijik.
"Cih! Aku tidak ingin keluar bersamamu dengan pakaian seperti itu!" cemooh Elvano.
"Cepat kembali masuk dalam kamar mandi dan lepas semua yang kamu pakai! Dan keramas rambutmu!" perintah Elvano kemudian ia meraih telepon genggamnya.
"Tapi apa yang harus aku pakai?" tanya Kanaya. Ia tidak membawa banyak pakaian saat ia berangkat ke hotel beberapa hari yang lalu dan gaun satu - satunya yang ia bawa sudah ia kenakannya saat rehersal dua hari yang lalu dan ia tidak mungkin menggunakannya kembali.
"Kerjakan saja apa yang aku katakan cepat!" ujar Elvano sambil mendeal nomer telepon Anton.
__ADS_1
Kanaya pun masuk ke dalam kamar mandi dan mengerjakan apa yang Elvano katakan.
"Anton, cepat kesini dan bawakan pakaian wanita yang bagus untuk Kanaya!" perintah Elvano pada Anton asistennya.
"Tapi pak, ini masih pagi apa harus saya pergi kerumahnya dan mengambil pakaiannya?" tanya Anton.
"Carikan dia pakaian baru! Aku tidak perduli dimana kamu mendapatkannya, kau harus sudah sampai disini dalam waktu setengah jam, atau kau ku pecat!" perintah Elvano kemudian menutup teleponnya.
"Sial! perempuan kampung itu benar - benar tidak bisa berdandan! Apa yang harus aku katakan pada kolegaku, jika bertemu di restoran nanti?" gerutu Ekvano.
Anton yang tengah bersantai di rumahnya pun langsung menghubungi beberapa desainer kenalannya, menanyakan pakaian untuk Kanaya.
Setelah beberapa menit Kanaya keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang ia ikat talinya dengan erat.
"Duduk di kursi dan tunggu," ujar Elvano tanpa melihat ke arah Kanaya, sebelum Kanaya sempat menanyakan pakaian apa yang harus ia kenakan.
Tak lama pintu kamar di ketok dan Elvano membukanya.
"Belum Linda, apa kamu bisa membantu istri saya untuk bersiap - siap? Ia kelihatannya agak sedikit lelah pagi ini," ujar Elvano tiba - tiba mempunyai ide untuk meminta seseorang membantu Kanaya bersolek.
"Oh tentu saja Pak," ujar Linda sambil tersenyum kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ibu Kanaya, apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum dan menjabat tangan Kanaya.
"Baik Mbak," jawab Kanaya.
"Kebetulan pakaian istri saya tertinggal, dan sedang di ambilkan oleh asisten saya. Sambil menunggu, bisa Mbak Linda membantu istri saya bersiap - siap?" ujar Elvano sambil tersenyum dan memegang pundak Kanaya dengan lembut.
"Baik, Pak. Mari Bu, saya bantu keringkan rambutnya," ujar Linda sambil mengajak Kanaya ke arah kamar mandi.
Kanaya beranjak dan mengikuti Linda ke dalam Kamar mandi.
"Apa ibu baik - baik saja?" tanya Linda pada Kanaya saat pintu kamar mandi telah di tutup.
__ADS_1
"Ya. Tolong panggil saya Kanaya saja tidak perlu memanggil Ibu." ujar Kanaya yang merasa sungkan di panggil Ibu.
"Saya tidak enak dengan Pak Elvano, jika saya hanya memanggil Ibu dengan nama saja. Tapi, kalau tidak ada beliau saya rasa tidak apa - apa." jawab Linda.
Linda pun memgeringkan rambut Kanaya dengan Hair dryer yang di sediakan di kamar mandi hotel itu dan menata rambut Kanaya.
"Rambut Mbak Kanaya bagus, di gerai seperti ini saja sudah sangat cantik sekali." ujar Linda saat ia selesai mengeringkan rambut Kanaya.
"Terima kasih, Linda." jawab Kanaya sambil tersenyum dan memegang rambutnya yang sudah di rapikan oleh Linda.
"Saya bantu Mbak Kanaya berdanadan ya?" ucap Linda lagi.
Kanaya pun memberikan peralatan make up seadanya yang di milikinya pada Linda. Dan Linda pun mulai mendandani Kanaya.
Tepat setengah jam, setelah Anton datang dengan tergesa - gesa. Ia sangat takut kehilangan pekerjaannya.
"Berikan pada Kanaya di dalam kamar mandi!" Perintah Elvano saat Anton datang membawa beberapa buah gaun santai yag sedang trendy.
"Baik Pak." ujar Anton dan ia pun berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Ibu Kanaya, ini Anton. Saya membawakan ibu baju," ujar Anton dari luar kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan tampaklah Linda.
"Terima kasih, Pak." jawab Linda sambil mengambil pakaian yang di bawa Anton dan menutup pintu kamar mandi kembali.
"Ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Anton.
"Tidak ada untuk sekarang, Kamu pulanglah atau sarapan dulu di hotel," ujar Elvano pada asistennya itu.
"Baik Pak, Kalau ada apa - apa Bapak bisa hubungi saya lagi," ujar Anton sambil undur diri kemudian keluar dari kamar itu.
Jangan lupa like komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like ya. Di tunggu komentarnya, biar semangat untuk nulis.
__ADS_1