
Rumah sakit Harapan.
"Akhirnya Ibu sadar juga, Syiffa sangat bersyukur sekali. Ibu tahu Syiffa selalu mengkhawatirkan Ibu?" Ucap Syiffa sambil mencium tangan Ibunya.
"Maafin Ibu iya Nak, sudah membuat kamu cemas dan khawatir sama Ibu." Ucap Bu Nina.
"Iya tidak apa apa kok Bu. Yang penting sekarang Ibu sudah baik baik saja." Syiffa tersenyum pada Ibunya.
"Iya Nak." Jawab Bu Nina.
"Oya sekarang Ibu makan dulu nih, terus minum obat biar cepat cepat sembuh." Syiffa sambil mengambil makanannya lalu menyuapinya.
"Iya Nak, terima kasih banyak Nak." Bu Nina lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan makanan yang Syiffa kasih.
"Terima kasih untuk apa Bu?" Tanya Syiffa.
" Iya terima kasih karena kamu sudah menjadi anak yang berbakti dan sudah rela menjadi tulang punggung buat Ibu, maafin Ibu iya sudah membebanimu." Ucap Bu Nina.
"Seharusnya Syiffa yang terima kasih sama Ibu, karena Ibu yang sudah mendidik dan merawat Syiffa sampai sekarang. Karena Ibulah Syiffa menjadi anak yang berbakti. Lagian Ibu enggak boleh bicara begitu, Syiffa ikhlas kok bekerja demi Ibu. Lagi pula Syiffa bekerja tidak seberapa bila dibandingan dengan pengorbanan Ibu selama ini demi Syiffa." ucap Syiffa menyuapi lagi Ibunya.
"Ternyata anak Ibu sudah dewasa, kini kamu tumbuh menjadi gadis cantik yang berbakti, penyayang dan rendah hati." Puji Bu Nina.
"Iya harus dong Bu. Kan biar tidak malu maluin Ibunya dan mereka pasti bakal merasa bangga pada Ibu karena berhasil mendidik anaknya menjadi apa yang diinginkan setiap orang tuanya." Syiffa cengengesan.
"Kamu itu iya Nak, Sok kepedean sekali. Emangnya kamu sudah menjadi apa yang Ibu inginkan gitu?" Tanya Bu Nina.
__ADS_1
"Ih Ibu Kok jadi berbicara begitu sih, tadi Ibu memuji Syiffa. Tapi kenapa sekarang Ibu bilang begitu." Syiffa cemberut.
"Idih anak Ibu marah nih, maaf Nak lagian Ibu bercanda kok." Ucap Bu Nina tersenyum pada anaknya.
"Lagian Syiffa juga ngerti kok. Tadi cuma bercanda kok." Ucap Syiffa.
Lalu keduanya pun tertawa bersama.
"Karena makannya sudah beres, sekarang Ibu minum obat dulu iya Bu biar cepat sembuh." Ucap Syiffa lalu membantu meminumkan obatnya.
"Terima kasih iya Nak." Ucap Bu Nina.
"Ih Ibu kayak sama siapa saja, bilang terima kasih mulu ih." Protes Syiffa.
"Loh emangnya kenapa? tidak salah dong seorang Ibu ucapin terima kasih sama anaknya." Ucap Bu Nina.
"Iya Nak. Ya sudah sana ambil obatnya, lagian Ibu juga ngantuk mau tidur sekalian istirahat dulu." ucap Bu Nina.
"Iya baik Bu. Cepat sembuh ya Bu." Ucap Syiffa.
"Iya Nak." Jawab Bu Nina.
Lalu Syiffa pun pergi keluar untuk mengambil obat, kebetulan tadi dokter bilang stok obatnya habis dan sekarang sudah ada dan harus dibawa.
Syiff... Syiffa.... Teriak seseorang memanggil.
__ADS_1
Karena merasa ada yang memanggil lalu Syiffa pun menoleh ke arah sumber suara.
"Eh Pak Rendy?" Ucap Syiffa merasa terkejut karena bisa bertemu di rumah sakit.
"Iya Syiff, kamu ada disini juga ternyata? lagi ngapain?" Tanya Rendy.
"Iya Pak. Lagi nemenin Ibu Pak. Kebetulan Ibu saya sedang dirawat di rumah disini." Ucap Syiffa.
"Oh,, semoga cepat sembuh iya Syiff Ibu kamu dan sehat kembali seperti biasa lagi." Ucap Rendy
"Aamiin. Terima Kasih iya Pak. Oya Pak Rendy sendiri lagi ngapain disini?" Tanya Syiffa.
"Saya lagi nganterin Ibu saya kesini. sama Ibu saya juga sakit." Ucap Rendy.
"Oh.. Terus Ibu Pak Rendy nya mana?" Tanya Syiffa saat tidak melihat Ibunya Pak Rendy di sisinya.
"Mau apa emangnya nanya Ibu saya?" Tanya Rendy.
"Kan tadi Pak Rendy bilang bahwa Ibu Pak Rendy sakit. Tapi kok saya tidak melihat Ibu Pak Rendy nya sih." Ucap Syiffa.
"Oh begitu toh, dia sudah masuk ke dalam bersama Bi ijah. Dan saya tunggu diluar saja." Jawab Rendy.
"Oh begitu iya Pak." Jawab Syiffa.
"Iya. Eh kirain saya kamu nanyain Ibu saya mau meminta restu hubungan kita hehe." Canda Rendy.
__ADS_1
"Apaan sih Pak Rendy ini ngaco deh kalau bicara." Ucap Syiffa.
Lalu mereka pun tertawa bersama tanpa mereka sadari ada seseorang yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka dan kini seseorang itu merasa terbakar api cemburu.