
"Rendy.... ! Sudah puas, kamu menertawakan saya hah?" Fattan sambil menatap Rendy dengan penuh amarah.
"Sangat puas hahaha." Rendy masih tertawa terbahak bahak.
"Ini orang, senang banget ya tertawa di penderitaan orang lain hah? Saya sumpal tuh mulutmu," ucap Fattan sambil menyumpal mulut Rendy pakai tisu.
"Fattan, kamu ini apa apaan sih. Malah menyumpal mulutku dengan tisu. Kalau mau sumpal mulutku dengan ayam goreng, kan enak tuh dari pada tisu." Protes Rendy.
"Ck, menyebalkan sekali dirimu itu. Kamu harus tanggung jawab terhadap istri saya, karena kamu yang sudah mengomporinya." Gerutu Fattan sambil menatap kesal Rendy.
"Maksudnya mengompori apa Tan? tadi saya cuma bercanda sama istrimu, tapi istrimu malah serius. Lagian Sabar Tan, istrimu lagi hamil tuh. Jadi wajar dia sensitifan." Ucap Rendy mengingatkan.
"Terus harus gimana nih? istriku dari tadi nyuekin mulu dan malah memalingkan wajahnya mulu." Fattan sambil menatap Syiffa yang kini sedang asyik berbincang dengan Pelita.
"Ntahlah Tan. Itu mah derita kamu." Gerutu Rendy.
"Iss.... menyebalkan sekali mulutmu bilanng begitu," Fattan sambil menatap kesal Rendy.
"Sayang pulang yuk. Ini sudah malam nih, dari tadi kita disini mulu bosen nih." Ucap Fattan sambil menatap istrinya.
"Kamu bilang bosen? Dari tadi kita happy disini, saling bercerita dan tertawa tawa. Ini kamu kok bilang bosen." Rendy menatap Fattan.
"Iya itu kamu Rendy, senang menertawakan penderitaan orang lain kan. Ck, kamu pikir saya tidak tahu apa hah?" Fattan semakin melihat tingkah Rendy.
"Sudahlah Kak, ayo kita pulang. Dari tadi kalian ini adu mulut." Gerutu Syiffa.
"Dia yang mulai tuh Syiffa," ucap Rendy sambil menatap Syiffa.
"Kamu duluan Rendy yang memulainya. Terus malah ngomporin istri saya lagi." Gerutu Fattan.
"Sudahlah kak, ayo kita pulang. Jangan ribut mulu ah," Syiffa sambil menatap suaminya.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Fattan sambil merangkul pundak istrinya.
"Ya sudah Kak Rendy, Pelita. Saya permisi dulu mau pulang." ucap Syiffa sambil menatap Rendy dan pelita bergiliran.
"Iya silahkan Syiffa." Jawab Pelita.
Lalu Syiffa dan Fattan pun berjalan menuju mobil. Setelah sampai, dengan segera Fattan dan Syiffa pun masuk ke dalam mobil. Kemudian Fattan pun dengan segera menjalankan mobilnya. Didalam mobil tidak ada yang bersuara, mereka hanya diam saja. Seolah olah tidak kenal.
Satu jam kemudian.
Mobil yang dikendarai Fattan pun, kini sudah sampai dirumah. Lalu keduanya turun dari mobil. Dengan segera Syiffa pun berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu suaminya.
"Sayang, jalannya pelan pelan. Awas nanti jatuh." Teriak Fattan kepada istrinya, saat melihat istrinya berjalan dengan terburu buru.
Istriku ini, kenapa sih? Tadi tidak apa apa dan sekarang malah ngambek lagi gerutu Fattan pada diri sendiri sambil menatap istrinya yang kini berjalan terburu buru.
__ADS_1
"Selamat malam Bu, Ayah?" Sapa Syiffa kepada mertuanya yang kini berada di ballroom.
"Malam juga Nak. Baru pulang ya Nak?" Tanya Bu Angel.
"Iya Bu." Jawab Syiffa.
"Oya, tidak bareng sama suamimu Syiff?" Tanya Ayah Anwar.
"Bareng kok Ayah. Tapi Syiffa duluan jalannya. Oya Bu, Ayah. Syiffa permisi ya, ngantuk pingin tidur." Ucap Syiffa sambil menatap suaminya yang ingin menghampirinya.
"Syiffa....!" Teriak Fattan.
Tapi Syiffa tidak memperdulikan ucapan Fattan. Dia terus berjalan menuju bedroom.
"Husstt Tan, kalau panggil istrimu tuh jangan teriak, tapi harus dengan suara lembut. Apalagi istrimu lagi hamil." Ucap Bu Nina.
"Eh, iya Bu. Maaf hehe." Fattan cengengesan.
"Lagian ada masalah apalagi sih sama istrimu." Tanya Bu Angel.
"Fattan juga tidak mengerti Bu, tiba tiba Syiffa marah begitu saja." Bohong Fattan.
"Ya sudah, kamu susul istrimu dan bicara dengan baik baik. Apa yang membuat Syiffa seperti itu." Ucap Bu Angel.
"Iya siap Bu." Jawan Fattan. Lalu berjalan menuju bedroom untuk menemui istrinya.
Setelah sampai di gerbang pintu bedroom, dengan segera Fattan pun membukakan gagang pintu dan berjalan menghampiri istrinya. Kemudian Fattan pun berjalan menghampiri istrinya yang kini sudah selesai mengganti bajunya dengan baju piyama. Lalu memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, kamu itu kenapa sih? Kok marah marah mulu ya." ucap Fattan.
"Siapa yang marah enggak kok kak. Sudahlah kak, Syiffa ngantuk nih pingin tidur." Ucap Syiffa sambil membalikkan badanya hingga kini mereka saling bertatapan.
"Tapi tadi kamu marah marah sama saya kok. Coba jujur kenapa hayo?" Tanya Fattan.
"Lagian Syiffa juga tidak tahu kak, kenapa Syiffa begitu tiba tiba suka marah dan kesal sama kakak." Gerutu Syiffa sambil menatap suaminya.
"Asal kamu tahu sayang, kak Fattan ini setia kok sama kamu. Lagian mana mungkin kakak menikah lagi dan menjadikan kamu istri kedua. Punya satu istri saja ini sudah cantiknya kebangetan, sudah itu pintar lagi. Terus mau cari wanita yang gimana lagi?" Ucap Fattan.
"Iss.... punya suami gombal ah, kan Syiffa jadi terharu." Ucap Syiffa.
"Kalau ada orang yang memuji harusnya senang, bukan terharu sayang." Fattan sambil memijit hidung istrinya.
"Aww.. sakit kak, ih Kak Fattan kebiasaan deh,"gerutu Syiffa.
"Maaf sayang hehe." Fattan cengegesan.
"Ih dasar kak Fattan ini," Syiffa sambil menggelitiki perut suaminya, lalu Fattan pun membalas kembali terhadap istrinya. Maka terjadilah saling menggelitiki satu sama lainnya.
__ADS_1
"Kak, haaha.. sudah capek kak hhaha." Syiffa benar benar geli saat suaminya terus menggelitinya.
"Ya sudah kalau kamu cape, mending kita tengokin baby kita." Fattan sambil mengendong istrinya dan membawanya ke atas ranjang.
"Kak Fattan mau ngapain sih?" Tanya Syiffa saat suaminya membuka satu persatu baju yang dipakainya tadi hingga kini tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
"Mau tengokin baby kita sayang\," Bisik Fattan. Lalu dengan segera Fattan pun melepaskan baju yang dipakian istrinya satu persatu. Sehingga mereka kini sama sama polos tanpa benang sehelaipun. Kemudian Fattan menci*m lembut bib*r mungil milik istrinya sebagai pemanasan sampai kini keduanya merasakan hasrat yang tinggi. Lalu dengan segera Fattan pun melakukan penyatuannya milik dirinya ke area int*m istrinya. Hingga kini mereka sedang menikmati nikmatnya surga dunia.
Fattan pun, segera melepaskan penyatuannya setelah sudah puas menikmatinya. Lalu mencium lembut bib*r istrinya dan mencium kening istrinya.
"Terima kasih sayang, sudah memenuhi hasratku." Ucap Fattan.
"Iya kak, itu sudah kewajibanku harus melayani kak Fattan." Jawab Syiffa.
"Ya sudah sekarang, ayo kita mandi bareng." Ucap Fattan sambil mengendong istrinya menuju bathroom dengan keadaan tubuh mereka polos.
"Ih kak Fattan, kita mandinya sendiri sendiri sajalah," gerutu Syiffa.
"Sudah jangan banyak bicara kita mandi bareng sayang." Fattan sambil memasukan tubuh istrinya ke dalam bathroom bersama dirinya.
Satu jam sudah mereka menghabiskan mandinya bersama didalam bathroom. Lalu dengan segera Syiffa dan Fattan pun memakaikan handuknya dan berjalan menuju lemari untuk mencari pakaiannya.
"Nih kak, bajunya." Ucap Syiffa sambil memberikan bajunya terhadap istrinya.
"Sayang, kenapa harus memakai baju ini? Masa iya, pria harus memakai baju warna pink sih. Sungguh ngeri sekali." Gerutu Fattan.
"Kan kita couplean kak, pakaian baju piyamanya. Ya sudah kalau enggak mau, enggak apa apa." Syiffa sangat kecewa.
"Jangan marah gitu dong sayang. Iya saya pakai nih." Fattan sambil memakaian bajunya yang dipilih Syiffa tadi.
"Nah gitu dong kak, kan sama nih kita couplean. Nanti kalau baby kita lahir jadi bertiga pakai baju ini haha." Syiffa sambil tertawa.
"Ada ada saja kamu itu ya." Fattan sambil menatap istrinya dan menggelengkan kepalanya.
"Saya ngantuk nih kak, pingin tidur." Syiffa sambil berjalan menuju atas ranjang.
"Ya sudah sana tidur, dan istirahatlah sayang." Ucap Fattan.
"Iya kak. Oya kak Fattan mau kemana?" Tanya Syiffa saat melihat suaminya berjalan menuju keluar.
"Mau ngambil laptop dulu, ada pekerjaan yang harus dibereskan. Lagian tadi kerjaannya belum kelar. Tapi demi kamu dan baby kita, rela melakukan apapun." Fattan sambil menatap istrinya.
"So sweet, terima kasih sayang. Ya sudah Syiffa tidur duluan ya kak." Ucap Syiffa.
"Iya sayang." Jawab Fattan.
Lalu Fattan pun segera meninggalkan istrinya dan berjalan menuju ruangan tempat kerja untuk mengambil laptop dan mengerjakan pekerjaan yang belum beres.
__ADS_1
Kemudian Syiffa pun merebahkan tubunya diatas kasur. Dengan segera Syiffa pun menarik selimutnya dan dengan perlahan lahan Syiffa pun tertidur hingga kini berada di alam bawah sadarnya.