
keesokan Harinya.
Ariff pun terbangun dari tidurnya, lalu menatap jam dinding menunjukan pukul 06.00 pagi.
Ternyata sudah pagi. Tubuhku tidak nyaman sekali harus tidur disofa, rasanya pingin remuk ini tubuh. Mau tidur diatas kasur, tapi tidak bolehin sama si Nurul. Benar benar ya itu punya istri, masa sama suami gitu sih. Ini yang punya kamar siapa, tapi malah dia yang berkuasa huh gerutu Ariff sambil menghembuskan nafas kasarnya. Lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju bathroom.
1 jam kemudian.
Ariff pun sudah selesai mandinya, lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengambil bajunya. Tiba tiba Nurul pun terbangun dari tidurnya, dan betapa terkejutnya saat melihat tubuh polos suaminya.
"Ah...." teriak Nurul.
"Kamu kenapa berteriak?" Tanya Ariff lalu berjalan menuju Nurul, karena merasa khawatir dengan Nurul.
"Ih kak Ariff nih apa apaan sih, kenapa mendekatiku cepat pakai bajumu memalukan saja." Gerutu Nurul sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
"Eh iya aku lupa hehe...." Ariff sambil cengengesan. Lalu berjalan mengambil baju yang tadi Ariff lempar ke sembarangan arah, karena tadi merasa terkejut dan khawatir saat Nurul berteriak.
"Kak Arif, sudah belum pakai bajunya? Saya pingin ke airnya nih, mau mandi juga." Tanya Nurul dengan tangan masih menutupi wajahnya.
"Bentar lagi." jawab Ariff.
"Lama sekali. Lain kali ya Kak, kalau ganti baju itu jangan disini. Di wc tuh gantinya. Membuatku cemas tahu enggak." gerutu Nurul sambil membayangkan saat ada sesuatu yang aneh dari tubuh Ariff.
"Lagian ini kamar aku, ngapain kamu harus melarang larang hah? Tidur pun, aku malah disuruh tidur disofa, tubuh tidak nyamaan sakit nih dan remuk sekali harus tidur di sofa." gerutu Ariff.
"Terus harus tidur berdua disini gitu ya hah? Ogah banget. Sudah ah, aku mau mandi dulu." ucap Nurul sambil beranjak dari kasurnya lalu berjalan menuju bathroom. Tapi tiba tiba Nurul pun terjatuh saat berjalan tiba tiba merasa licin.
"Ah...." teriak Nurul.
Lalu tiba tiba datanglah seseorang menahan tubuh Nurul agar tidak terjatuh. Lalu kini mereka saling menatap satu sama lainnya dan mata mereka saling betatapan(ala film begitulah).
Ternyata kalau dekat, Nurul sangat cantik batin Ariff lalu Arif pun semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nurul, sehingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.
Tanpa sadar kini Ariff pun langsung mencium lembut bibir mungil milik istrinya, Nurul pun sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Arif. Lalu Nurul pun memberontak dan sambil mendorong dada bidang suaminya, namun sayang tenaganya tidak sebanding dengan suaminya. Ariff pun semakin menikmati bibir mungil istrinya saat Nurul merespon setiap ciuman yang diberikan oleh istrinya. Ariff pun semakin bersemangat dan kini hasratnya semakin memuncak. Nurul lebih memilih pasrah dan menuruti kemauan suaminya, karena Nurul sadar kalau sekarang dia sudah menjadi istri Ariff. Karena kewajiban istri yaitu menuruti kemauan suami. Nurul mencoba belajar ikhlas dari sekarang meski cinta belum tumbuh. Dan Nurul yakin dengan seiringnya waktu, pasti cinta bakal tumbuh.
Kemudian Ariff pun menggendong Nurul menuju kasur dan mentidurkannya. Karena hasratnya tidak terbendung lagi, dengan segera Ariff pun membuka baju miliknya.
"Ah cacing eh ular...." teriak Nurul merasa kaget melihat tubuh polos Ariff dan melihat yang kedua kalinya pusaka milik suaminya.
"Sstt.... kamu jangan berteriak Nurul, memalukan sekali. Sekarang buka bajumu." ucap Ariff.
"Enggak mau kak." ucap Nurul sambil mengelengkan kepala.
__ADS_1
"Ayolah Nurul, kasihanilah suamimu ini karena...." ucapan Ariff sengaja di gantung.
"Karena apa kak?" tanya Nurul merasa pensaran dengan ucapan suaminya yang digantung.
"Karena pingin merasakan seperti orang lain yang sudah menikah, dan aku sudah tidak tahan lagi." ucap Ariff.
"Tidak tahan kenapa?" tanya Nurul.
"Sudahlah Nurul, jangan bertanya." Ariff tepaksa membuka baju milik Nurul satu persatu hingga kini mereka sama sama polos.
"Tidak apa apakan Nurul?" Tanya Ariff.
Nurul pun bingung harus berkata apa, disisi lain Ariff adalah suaminya. Di sisi lain juga bingung karena mereka tidak ada cinta.
"Iya kak." ucap Nurul sambil menganggukan kepalanya. Nurul lebih memilih pasrah dan mencoba ikhlas.
Lalu dengan segera Ariff pun, melakukan penyatuannya milik dirinya ke milik istrinya.
"Kak, sakit." ucap Nurul.
"Sabar Nur, kamu tahan ya." ucap Ariff.
Lalu Nurul pun tidak membalas perkataan Suaminya, Nurul hanya menganggukan kepalanya. Ini bagi Nurul yang kedua kalinya melakukan hubungan intim setelah kejadian waktu itu, pantes saja masih sakit.
"Terima kasih Nurul." Ucap Ariff.
"Sudah ah kak, awas aku mau mandi nih. Gerah sekali tubuhku ini." Nurul mendorong tubuh Ariff lalu berjalan menuju bathroom dengan keadaan tubuhnya yang polos.
"Ck, bukannya menjawab perkataanku malah main pergi saja." gerutu Ariff sambil menatap istrinya berjalan menuju bathroom. Kemudian Ariff pun tersenyum saat mengingat apa yang barusan dilakukannya. Lalu dengan segera Ariff pun memakai kan bajunya saat ada yang mengetuk pintu.
Tok.... Tok.... tok.... suara seseorang mengetuk pintu. Lalu Arif pun berjalan menuju pintu tersebut saat sudah selesai menggantikan bajunya.
"Maaf Den, mengganggu. Saya disuruh sama Ibu untuk memanggil Aden dan Non Nurul untuk sarapan pagi." ucap Bi Lala.
"Iya Bi. Nanti saya dan istri saya kesana, kebetulan Nurul lagi mandi dulu." ucap Ariff.
"Baiklah kalau begitu Den, saya permisi dulu." ucap Bi Lala.
"Iya silahkan Bi." jawab Nurul.
Lalu Bi Lala pun pergi meninggalkan Ariff dan berjalan menuju ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Setelah selesai mandi, dengan segera Nurul pun menuju walk in closset untuk mencari pakaiannya.
__ADS_1
"Kak Ariff ngapain masih disini?" tanya Nurul.
"Loh emangnya kenapa?" tanya balik Arif.
"Pergilah keluar, aku mau pakai baju dulu." gerutu Nurul.
"Ya sudah tinggal pakai baju, kenapa harus mengusirku. Lagian aku sudah tahu semuanya kok dan melihatnya." ucap Ariff.
"Ih kak Ariff menyebalkan sekali. Sekarang kak Ariff keluar dulu." ucap Nurul dengan kekeuh.
"Iya bawel, ini mau keluar nih." ucap Ariff sambil pergi keluar.
Ada apa dengan diriku ini ya? Kenapa jantungku begitu berdetak sangat cepat. Apalagi saat membayangkan kejadian tadi, ya ampun bagaimana bisa aku sampai merelakan dan menikmatinya. Eh apa apaan sih Nurul kenapa berbicara ngaco, sudahlah sekarang pakai baju dan pergi kebawah untuk sarapan pagi ucap Nurul pada diri sendiri lalu dengan segera Nurul pun memakaikan bajunya. Kemudian Nurul pun berjalan menuju keluar dari kamar.
"Sudah beres nih, pakai bajunya?" tanya Ariff tiba tiba saat Nurul membukakan pintunya.
"Iss kak Ariff, kaget tahu. Lagian ngapain kak Ariff disini hah?" Tanya Nurul.
"Lagi nungguin kamu," jawab Ariff.
"Lagian kenapa harus nungguin, sudah duluan saja ke meja makannya." ucap Nurul.
"Kamu itu istriku jadi tidak ada salahnya kan nungguin dan bareng berjalan ke meja makannya." ucap Ariff.
Lalu Nurul pun hanya diam saja, tanpa menjawab perkataan Ariff. Ada rasa senang dan bahagia saat Ariff ada perhatian kecil terhadap dirinya.
"Sudah ayo kita kesana mereka lagi nungguin kita tuh, kasihan bila mereka nunggu kita lama lama." ucap Ariff sambil mengeratkan tangannya ke tangan Nurul.
"Baik kak." jawab Nurul sambil tersenyum kepada suaminya. Lalu Nurul pun menatap sekilas tangannya yang dipegang erat oleh suaminya.
Kemudian Ariff dan Nurul pun berjalan menuju tempat makan, dimana mereka sedang menunggu dirinya.
"Semangat pagi semuanya." Sapa Ariff kepada keluarga yang ada dimeja makan.
"Pagi juga. Ciee ada yang bahagia nih." ucap Luna.
"Tentu saja bahagia, karena sekarang tidak sendirian lagi." ucap Ariff.
"Ck, sombong sekali. Mentang mentang sekarang sudah menikah." ucap Luna.
"Sudah ah, jangan mulai cari gara gara deh." Gerutu Ariff sambil menatap adiknya.
"Ya sudah, ayo duduk Nak disini." ucap Bu Siti memanggil menantunya. Lalu dengan segera Nurul pun berjalan menuju tempat makan yang sudah sediakan untuk dirinya dan Ariff. Setelah semuanya berkumpul dengan segera mereka pun menikmati sarapan paginya.
__ADS_1