
"Kenapa enggak ngaku aja, kalau emang benar pakai pelet!" ucap Mela.
"Kalau bicara jangan asal, lagian siapa lagi yang pakai pelet?" Tanya Syiffa.
"Iya siapa lagi kalau bukan kamu?" Mana mungkin dulu hanya kerja bagian Qc, sekarang menjadi sekretaris Pak Fattan, sungguh anehkan ucap Cindy.
"Tau nih anak, kasih tau kita dong, apa rahasianya pelet yang kamu pakai untuk menarik perhatian Pimpinan kita!" ucap Mela.
"Jaga ucapmu!" Oh aku tau, kalian iri kan sama aku, karena aku bisa jadi sekretaris Pak Fattan, sedangkan kamu enggak bisa?? Kasihan sekali nasibmu ucap syiffa menatap tajam Cindy.
Wah, kurang ajar kamu. "Sekarang sudah berani sama aku ya, mentang mentang kamu sekarang jadi sekretaris, jadi seenaknya sama aku hah?" ucap Cindy menjambak rambut Syiffa.
"Emangnya kenapa kalau aku sekarang jadi belagu?" Itu juga karena ulah kalian ucap Syiffa sambil ikut menarik dan menjambak rambut Cindy.
Maka terjadilah, saling tarik menarik dan menjambak rambut satu sama lain.
"Stooopp!!! Berhenti kalian." Ucap Ariff mencoba memisahkan keduanya.
"Kenapa kalian berkelahi? Kalian enggak malu apa dilihat banyak orang hah?" Kalian itu sudah dewasa, seharusnya kalian bisa mengontrol emosi kalian ucap Ariff.
"Tau nih orang Pak, asal nuduh aja dan bicara seenaknya!" ucap Syiffa.
__ADS_1
"Lagian kamu tuh yang tadi bicara seenaknya, jadi jangan sembarangan nuduh aku!" kalau ngomong tuh di filter dulu ucap Cindy.
"Ck, orang suka membalikan fakta, dan tidak mau ngaku!" ucap Syiffa.
"Lagian kamu tuh yang harusnya jujur, bilang aja kamu pakai peletkan untuk menarik perhatian Pak Fattan?" Ucap cindy.
"Kamu bicara jangan sembarangan!" Bentak Syiffa.
"Sudah, sudah kalian ini kenapa sih?" Malah dilanjutin ributnya, tuh liat orang pada lihat ucap Ariff.
"Oya pak, mending aku mundur aja deh menjadi sekretaris dari pada aku di tuduh yang enggak enggak!" ucap Syiffa sambil menatap tajam Cindy dan pergi menuju toilet.
"Ya sudah Mel, kita cabut dari sini!" ajak Cindy.
"Semuanya bubar!" ucap Ariff pada karyawannya.
Aduh ada ada aja, ini baru awal dia jadi sekrertaris sudah begini, ada orang yang suka, gimana kalau nantinya dia jadi istri sang pimpinan?? "Hadeeuh" gerutu Ariff.
"Aaaarggght." sialan itu cewek, bicara seenaknya bikin emosi aja. Sekarang aku harus kembali bekerja lagi gerutu syiffa sambil merapihkan rambutnya dan pergi meninggalkan toilet.
"Kamu enggak apa apa kan Syiff?" Tanya Ariff.
__ADS_1
"Enggak apa apa kok Pak." jawab Syiffa yang baru saja duduk.
Baguslah kalau begitu. "Oya kamu jangan di masukan ke hati perkataan si Cindy itu, mungkin dia sirik dan enggak terima kamu jadi sekretaris Pak Fattan." ucap Ariff.
"Iya pak, oh jadi namanya Cindy iya Pak, saya aneh aja padahal saya enggak kenal dia," tapi dia kok bisa segitunya sama saya ucap Syiffa.
Sebenarnya dia waktu testing interview ikutan dibagian untuk jadi sekretaris, tapi__
"Ehmzz.. " Oya Syiff, ini berkas yang harus kerjakan ucap Fattan memotong pembicaraan Ariff.
" Baik Pak," ucap Syiffa langsung melakukan apa yang diperintahkan Fattan.
"Oya Ttan, Saya hari ini pulang duluan ya enggak bisa lembur?" tadi adikku telepon ibuku sakit keras ucap Ariff.
"Pulanglah." ucap Fattan dengan datar.
"Ok, terima kasih Pak Fattan." ucap Ariff.
"Heem." ucap Fattan.
"Ok, saya permisi, oya ingat Tan jaga dia, awas jangan macam macam sama anak orang loh, dan gebet dia!" bisik Ariff langsung pergi.
__ADS_1
Ck, mana mungkin aku tertarik sama dia.