
Pagi menjelang siang. Siang menjelang sore.
"Sayang, kamu sudah pulang ya?" Tanya Syiffa menghampiri suaminya di ballroom yang kini sudah pulang lalu salim dan mencium tangan punggung suaminya.
"Tumben banget istriku bilang sayang, biasanya juga bilang kakak." Sindir Fattan.
"Ih kamu mah, serba salah ya. Masa iya saya bilang saya enggak boleh sih." Gerutu Syiffa sambil menatap suaminya.
"Tentu saja boleh kok istriku sayang. Cuma aneh saja hehe." Fattan cengengesan.
"Huh dasar suamiku ini. Oya bareng sama kak Ariff enggak kak?" Tanya Syiffa kepada suaminya.
"Tadi bilang sayang, sekarang bilang kakak. Mana yang benar panggil nya sayang." Ucap Protes Fattan.
"Dua duanya kak hehe." Syiffa cengengesan.
"Ck, dasar. Tadi kamu, mau ngapain nanyai Arif?" Tanya Fattan.
"Itu ada istrinya disini. Dan kak Fattan tahu enggak, dari tadi si Nurul betah banget didapur." Ucap Syiffa sambil menatap suaminya.
"Emangnya lagi ngapain si Nurul di dapur?" Tanya Fattan kepada istrinya.
"Dia lagi bikin kue. Jadi gini ceritanya, kan si Nurul tadi bukan youtobe terus ada kue yang membuat ngiler. Nah saya suruh beli dari pada nanti, enggak kecapaian anaknya bakal ileran. Tapi si Nurul enggak mau. Dia malah pingin bikin sendiri. Ya sudah terserah si Nurul saja." Syiffa mencoba menjelaskan kepada suaminya.
"Sahabatmu, benar benar aneh ya. Kan dia sudah punya suami, rumahnya pun sama mewahnya. Ngapain harus di dapur kita." Gerutu Fattan.
"Entahlah. Sudahlah sayang biarin saja. Biarkan dia semaunya, ingat Nurul pun sama lagi hamil loh." Ucap Syiffa.
"Wanita hamil itu, sama sama bikin susah saja." Celetuk Fattan.
"Barusan, kamu bilang apa hah?" Tanya Syiffa sambil menatap tajam suaminya.
"Eh maksudnya bukan sama kamu sayang, itu cuma buat Nurul kok hehe," ucap Fattan.
"Tapi dia sahabatku, saya tidak terima nih sahabat saya dikatain begitu." Syiffa sambil menatap tidak suka suaminya.
"Jangan marah dong sayang, maaf tadi saya khilap bilang begitu." Ucap Fattan sambil merangkul pundak istrinya.
"Lain kali jangan berbicara seperti itu ah kak, tidak baik loh." Syiffa mengingatkan suaminya.
"Iya istriku yang cantik. Terima kasih sudah mengingatkan. Dan kak Fattan sangat bersyukur ternyata istriku ini sudah dewasa ya." Ucap Fattan memijit hidung mancung milik suaminya.
"Ih kak Fattan mulai deh. Sakit nih, hidungku." Gerutu Syiffa.
"Maaf hehe." Ucap Fattan cengengesan.
Ehmzz.... "Ingat disini ada orang, biasakan ditempatnya jangan sembarangan." Ucap Ariff tiba tiba datang menghampiri Fattan dan Syiffa yang kini saling merangkul pinggangnya.
"Iss apaan sih Kak Ariff, kalau bicara. Mentang mentang sudah menikah, pikirinnya jadi mesum nih." Sindir Syiffa.
"Apaan sih Syiff, enak saja kamu bilang." Ariff sambil menatap sebal Syiffa.
"Eh iya saya lupa. Dari tadi dikantor mau nanya, tapi lupa mulu." Ucap Fattan.
"Emangnya, mau bicara apaa hah?" Tanya Ariff.
"Mau bertanya, gimana semalam sudah menghabiskan berapa ronde tuh? Gimana sangat nikmat dan puaskan?" Tanya Fattan sambil menatap Ariff.
"Pertanyaan macam apaan itu hah? Tidak bermutu sekali. Dengar ya itu masalah pribadi, jadi anda jangan ikut campur!" Ucap Ariff.
"Iss galak benar sekarang. Mentang mentang sudah mer-" ucapan Fattan terputus saat seseorang datang tiba tiba.
"Syiffa, nih kue taraa.... sudah jadi." Ucap Nurul datang tiba tiba.
"Nurul?" Ucap Ariff merasa tidak percaya, dengan penampilan Nurul penuh dengan tepung dimana mana.
"Eh, ada kak Ariff disini ya?" Tanya Nurul yang baru sadar ada suaminya.
"Kamu lagi ngapain disini hah? Kenapa penampilanmu menjijikan sekali." Gerutu Ariff.
"Lagi main sama Syiffa. Terus aku ngiler nih pingin buat kue, ya sudah aku bikin saja disini." Ucap Nurul.
"Kamu itu benar benar tidak tahu malu ya, ini punya orang loh. Kalau mau bikin, dirumah bukan disini." Gerutu Ariff.
"Habisnya maunya disini. Kan baby kita yang menginginkannya." Ucap Nurul sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Lalu Ariff hanya diam saja, tanpa membalas perkataan Nurul.
"Ya sudah, sekarang ayo pulang." Ajak Ariff sambil menarik tangan istrinya.
"Ih kak Ariff, main tarik saja. Nanti kuenya jatuh nih. susah tahu, mau bikinnya. Lagian bentar lagi, kita nikmati dulu makan kuenya." Gerutu Nurul.
"Boleh juga tuh. Kayaknya enak tuh, dari wangi kuenya." Ucap Syiffa.
"Tentu saja, ini enak loh. Kalau enggak percaya ayo coba." Ucap Nurul.
"Boleh tuh." Ucap Syiffa sambil mengambil kue yang sudah dipotong.
"Tunggu dulu Syiff!" Ucap Ariff mencoba agar Syiffa tidak memakan kue buatan istrinya.
__ADS_1
"Ada apa kak Ariff? Kenapa malah mencoba mengagalkan untuk mencicipi kue tersebut. Enggak boleh ya, saya memakan kue buatan Nurul hah?" Tanya Syiffa menatap kesal Ariff.
"Lagian kenapa kamu, melarang larang istriku untuk tidak mencoba mencicipi kue tersebut hah?" Fattan mencoba membela istrinya.
"Bukannya tidak boleh, tapi...." ucapan Ariff sengaja digantung lalu menatap Nurul.
"Tapi kenapa hah?" Tanya Fattan sambil mengerutkan keningnya dan merasa penasaran dengan ucapan Ariff yang digantung.
"Takut saja, si Nurul ngerjain kalian kalian berdua." Ucap Ariff sambil menatap istrinya.
"Eh kak Ariff, kalau bicara itu dijaga ya. Enak saja, dibilang kalau aku ngerjain mereka. Kalau enggak percaya, ya sudah kak Ariff coba." Ucap Nurul sambil menatap suaminya.
"Enggak mau! Kamu duluan yang makan, nanti kita ikut makan juga." Tantang Ariff.
"Oke, kalau enggak percaya aku makan nih." Ucap Nurul sambil mengambil kue tersebut dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. "Enak kok, malahan enak banget loh. Nih kak Ariff coba." Ucap Nurul sambil menyuapkan potongan kue yang tadi sudah gigitnya ke mulut suaminya.
"Ya enak juga. Ya sudah Syiffa, Fattan, kalian boleh mencoba. Dan ternyata kuenya enaaakk banget." Ucap Ariff sambil mengancungkan jempolnya.
"Tadi mau mencicipi tidak boleh, sekarang kaliann yang duluan mencoba baru boleh. Bilang saja jangan mendahului, so alesan." Gerutu Fattan sambil menatap Ariff.
"Bukan begitu Tan, tapi saya tadi dikerjain sama istriku ini. Masa iya disuruh bikin kopi rasanya asin sih. Kurang ajar bangetkan punya istri." Gerutu Ariff sambil menatap istrinya.
"Iyakah begitu Nurul?" Tanya Syiffa kepads Nurul untuk menyakinkan ucapan Ariff.
"Iya syiffa hehe." Ucap Nurul cengengesan.
"Hahaha.... bagus Nurul, kamu benar benar istri yang pintar. Kalau boleh kamu kasih juga engrid hahaha." Fattan tertawa terbahak bahak.
"Fattaan.... kamu benar benar-benar kurang ajar! Kamu mau menyuruh istriku untuk membunuhku ya hah? Ariff sambil menatap tajam Fattan.
"Maaf Riff, lagian saya cuma bercanda kok. Habisnya sih lihat kelakuan istrimu keterlaluan Banget suami ya. Ya sudah sekalian saya suruh pakai engrid haha." Fattan tertawa terbahak-bahak.
"Lagian tidak lucu tahu bercandanya, sudah ah aku mau pulang sekarang juga. Lama-lama disini aku bisa stress. Ayo kita pulang sekarang juga Nurul," ucap Ariff sambil menarik tangan istrinya.
"Baiklah Kak. Ya sudah sih Syiffa, ini kuenya buat kamu saja, dan kamu jangan khawatir kan kue ini rasanya enak kok. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya." ucap Nurul.
"Iya silakan Nur." ucap Syifa.
Lalu Nurul dan Ariff pun pergi meninggalkan Syiffa dan Fattan. Dan berjalan menuju keluar. Namun langkah Nurul terhenti saat seseorang berteriak namanya.
"Nurul...." teriak Bi Ati.
Lalu Nurul pun berbalik badan dan menatap kearah sumber suara.
"Iya Bi, ada apa memanggilku?" tanya Nurul kepada Bi Ati.
"Itu celemek kesayangan Bibi, jangan kamu bawa pulanglah." Gerutu Bi Ati.
"Kamu itu ya Nurul, masih muda lho sangat disayangkan bila pelupa." Ucap Bi Ati sambil menatap Nurul.
"Tapi baru sekarang Nurul jadi pelupa Bi. Ya sudah kalau begitu Nurul pamit Bi, dan terima kasih bantuannya." Ucap Nurul sambil tersenyum kepada Bi Ati.
"Iya Nurul." Jawab Bi Ati.
Lalu Nurul dan Ariff pun berjalan keluar dan pergi meninggalkan rumah kediaman Fattan dan Syiffa.
"Tadi Nurul bilang berterima kasih sama Bibi. Emangnya ini kue buatan siapa?" Tanya Syiffa kepada Bi Ati.
"Tentu saja buatan Bibi. Nurul cuma mandorin doang dan bantu sebentar Bibi." Ucap Bi Ati.
"Jadi kue Ini bukan buatan Nurul?" Tanya Syiffa.
"Tentu saja bukan Non, itu buatan Bibi." Ucap Bi Ati.
"Benar benar ya. Dasar Nurul...." teriak Syiffa merasa kesal karena telah dibohongi.
"Sudahlah sayang, ngapain dipikirin. Sahabatmu benar benar gini." Ucap Fattan sambil memiringkan telunjuk tangannya dijidatnya.
"Iya juga ya kak. Ya sudah kak ayo kita ke kamar." Ajak Syiffa sambil merangkul pinggang suaminya.
"Wah istriku sudah siap saja untuk bertarung." Celetuk Fattan.
"Bertarung? Maksudnya apa kak?" Tanya Syiffa merasa tidak mengerti.
"Iya mem-"
"Ih enak saja, lagian Syiffa mengajak kak Fattan ke kamar karena Syiffa mau merebahkan tubuh dan bobo cantik nih." Ucap Syiffa sambil memotong pembicaraan suaminya saat tahu maksudnya.
"Ck, alasan saja." Gerutu Fattan.
"Serius kak. Sudah ah, ayo kita ke kamar jangan banyak bicara." Ucap Syiffa.
"Baiklah sayang." Jawab Fattan.
Kemudian Fattan dan Syiffa pun berjalan menuju Bedroom.
.
.💞💞
__ADS_1
Di tempat lain.
"Nurul, siapa yang menyuruh kamu ke rumah Syiffa?" Tanya Ariff sambil menatap Nurul dan sedang mengendarai mobilnya.
"Tidak ada yang menyuruh kak. Cuma tadi Nurul jenuh saja dirumah, jadi main deh ke rumah Syiffa." Jawab Nurul.
"Kalau mau main kemana mana, harap bicara dulu sama suami jangan asal main tanpa pamit sama suami." Gerutu Ariff.
"Emangnya enggak boleh ya, Nurul main Syiffa?" Tanya Nurul sambil menatap suaminya.
"Bukannya enggak boleh Nurul, tapi kamu itu sudah jadi tanggung jawab aku. Aku inikan suamimu jadi harus bilang dulu. Apalagi tadi ke rumah Syiffa memakai motorkan? Nanti kalau terjadi apa apa sama kandunganmu gimana hah?" geram Ariff sambil menatap kesal istrinya.
"Iya maaf deh kak. Tapi...." Nurul sengaja menggantung ucapannya dan tidak melanjutkan pembicaraanya.
"Kalau lagi bicara itu, biasakan diteruskan. Barusan kamu mau bicara apaan hah? Tapi kenapa?" Tanya Ariff.
"Iya maksudnya mau nelpon kak Ariff gimana, kan aku belum tahu nomor handphone kak Ariff." Ucap Nurul.
"Oh my good, benar juga apa yang kamu katakan. Sekarang berikan handphonemu." Ucap Ariff.
"Emangnya mau ngapain kak?" Tanya Nurul.
"Sudah siniin handphonenya, jangan banyak nanya!" Ketus Ariff.
Kemudian Nurul pun, memberikan handphonenya kepada suaminya. Lalu Ariff pun mengambil handphone milik Nurul.
"Nih handphonemu, aku berikan. Disana sudah ada nomorku." Ucap Ariff.
"Jadi cuma untuk memasukan nomormu tuh. Bilang dari tadi." Gerutu Nurul.
"Sudah jangan banyak bicara." Ucap Fattan sambil menatap Nurul.
"Baiklah kak." Jawab Nurul.
Kemudian Ariff pun, mempercepat laju mobilnya. Tiba tiba Nurul meminta suaminya untuk berhenti.
"Kak Ariff, stoop!" Ucap Nurul meminta Ariff untuk berhenti mobilnya.
Stiitt....mobil pun tiba tiba berhenti.
"Ada apaan, menyuruhku untuk berhenti hah?" Tanya Ariff kepada Nurul.
"Lapar kak, pingin makan tapi dengan sate dan ayam geprek." Ucap Nurul.
"Kirain aku, kamu mau ngapain. Mengkagetkan saja dirimu itu." Gerutu Ariff.
"Maaf hehe." Ucap Nurul cengengesan.
"Ya sudah, kita cari restoran dulu." Ucap Ariff sambil menjalankan kembali mobilnya dan mencari restoran sesuai keinginan istrinya.
"Ya sudah kita berhenti disana saja." Ucap Nurul sambil menunjuk tempat tersebut.
"Yang benar saja, kamu makan disana hah?" Tanya Ariff.
"Lah emangnya kenapa kak, kalau makan dipinggir jalan?" Tanya Nurul.
"Pokoknya enggak boleh. Kita makan direstoran." Ucap Ariff dengan datar.
"Tapia Nurul maunya disana kak. Lagian apa salahnya sih makan disana juga." Gerutu Nurul.
"Bukannya enggak boleh Nurul, tapi ingat kamu itu lagi hamil anakku. Jadi aku enggak mau kamu makan ditempat yang tidak tahu apakah bersih dan aman buat kita." Ucap Ariff menjelaskan.
"Ya ampun, kenapa kak Ariff sampai berpikiran seperti itu. Lagian pastilah juga menjaga tata tertib kesehatan." Gerutu Nurul.
"Aku bilang enggak boleh, ya enggak boleh! Kamu keras kepala banget ya kalau dikasih tau." Ariff tetap ngotot menolak.
"Baiklah kalau begitu kak." Jawab Nurul memilih untuk mengalah.
"Nah gitu dong, nurut sama suami." Ucap Ariff sambil mengusap lembut rambut Nurul.
"Itu juga terpaksa." Nurul sambil menatap Ariff.
Namun Arif pun tidak membalas ucapan Nurul. Ariff lebih memilih fokus menyetir mobil dan mencari restoran yang cukup nyaman buat dirinya dan Nurul.
Kini Ariff pun sudah mengfakirkan mobilnya di restoran yang dituju.
"Ayo Nurul, sekarang kita keluar dari mobil." Ucap Ariff.
"Baik kak." Jawab Nurul.
Kemudian Ariff dan Nurul pun berjalan masuk ke dalam restoran tersebut. Kini mereka pun sudah berada di tempat meja makan di restoran tersebut.
"Oya Nurul, tadi kamu mau pesen makanan apa?" Tanya Ariff kepada Nurul.
"Pingin sate ayam sama Ayam geprek kak." Jawab Nurul.
"Aneh benar kamu itu Nur, lagain dua duanya sama sama daging ayam. Masa sama sama ayam." Gerutu Ariff
"Eh dengerin ya kak. Meski sama sama ayam, tapi beda cara bikinnya sama penyajiannya juga. Dan juga beda rasa kak." Protes Nurul.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu kemauan kamu." Ucap Ariff sambil memanggil sang pelayan.