
Sembilan bulan kemudian.
Kediaman rumah Adijaya.
Disebuah ballroom, ada wanita cantik yang kini sedang merebahkan tubuhnya disofa, dan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Dokter memperkirakan bahwa Syiffa akan melahirkan dalam satu minggu lagi, tapi Dokter juga bilang kalau kemungkinan perkiraan Syiffa melahirkan bisa mundur juga. Kini keluarga Fattan dan keluarga Syiffa pun sedang berkumpul dikediaman Adijaya untuk menyambut cucu pertama sebagai penerus Adijaya.
"Ayo sayang cepat keluarlah jangan betah didalam perut, nanti kalau kamu sudah keluar kita bisa keliling negara dan membeli mainan yang kamu mau." Ucap Syiffa sambil mengelus lembut perutnya dan seolah olah sedang mengajak berbicara anaknya.
"Nih pesanannya, sudah datang nih." Ucap Fattan yang tiba tiba datang membawa fizza, spagheti dan jus strawbery.
"Makasih kak, sudah mau mengabulkan kemauan Syiffa."
"Iya sayang. Lagian demi kamu dan baby kita yang ada diperutmu, kak Fattan akan menuruti kemauan kalian semua." Fattan sambil membukakan makanan tersebut lalu mengambil sepotong pizza dan kemudian menyuapkan ke mulut istrinya.
"Terima kasih. Suamiku ini memang sangat yang terbaik." Syiffa sambil menguyah makanannya yang tadi di suapi oleh suaminya.
"Aww kak, perutku?" Syiffa tiba tiba merasakan sakit dibagian perut.
"Kamu kenapa sayang? Sakit kenapa?" Tanya Fattan, sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Eh enggak kak, sekarang enggak sakit kok hehe," Syiffa cengengesan.
"Sayang, kamu jangan bercanda mulu. Itu sangat mengkhawatirkan saja." Gerutu Fattan merasa kesal saat istrinya hanya bercanda.
"Maaf kak. Tapi tadi serius sakit perut saya kak." Ucap Syiffa.
"Ya terserah kamu saja deh. Nih makan lagi." Ucap Fattan sambil menyuapkan makanan spagheti ke mulut istrinya.
"Aww, kak perutku sakit lagi." Ucap Syiffa sambil meremas baju suaminya.
"Sayang, kamu jangan bercanda deh. Kalau kamu tiba tiba sakit perutnya. Enggak lucu tahu ah." Fattan menatap sebal Syiffa.
"Ini serius kak, perutku sakit kak sekali. Kenapa kak Fattan tidak percaya sama sekali." Ucap Syiffa sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"Bentar sayang, Ibu.... " teriak Fattan sambil memanggil Ibunya yang kini sedang asyik mengobrol dengan Bu Nina.
"Kamu kenapa teriak teriak Fattan, ada apaan hah?" Tanya Bu Angel.
"Maaf Bu. Syiffa Bu, Syiffa...." ucapan Fattan tergantung dan sangat susah mau menjelaskannya.
"Syiffa kenapa hah? Yang jelas bicaranya, Syiffa kenapa hah?" Tanya Bu Angel.
"Katanya Syiffa sakit perut." Ucap Fattan.
"Sakit perut? Loh kok bisa. Emangnya habis makan yang pedas ya?" Tanya Bu Nina.
"Enggak kok Bu. Tapi enggak tahu kenapa kenapa, tiba tiba saja perutnya sakit Bu katanya." Fattan sambil menatap Bu Angel dan Bu Nina.
__ADS_1
"Bu Nina, jangan jangan Syifaa...." Ucapan Bu Angel terputus dan berlari menuju dimana Syiffa berada.
"Iya kayaknya begitu sih Bu Angel," Bu Nina sambil ikut berjalan menuju anaknya.
"Syiffa kamu kenapa?" Tanya Bu Angel.
"Perutku mules sekali Bu, sakit lagi hiks hiks." Syiffa menangis karena tidak tahan merasakan kontraksi kehamilan yang tandanya akan melahirkan.
"Apakah sakitnya hilang, tiba tiba datang lagi?" Tanya Bu Nina kepada anaknya.
"Tentu saja Bu. Gimana dong Bu, sakit banget nih." Syiffa merasa tidak tahan.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit Nak, itu tandanya kamu akan melahirkan." Ucap Bu Angel.
"Apa? melahirkan?" Ucap Fattan merasa tidak percaya dan ada sedikit rasa bahagia akan bertemu dengan calon anaknya.
"Pak Toni, siapakan mobil. Dan Bi Ati tolong bawa persiapan baju baju baby beserta dengan baju Syiffa juga ya buat salin yang kemarin sudah di siapkan." Ucap Bu Nina.
"Siap Bu," jawab Bi Ati langsung berjalan menuju ke kamar untuk mencari persiapan baju buat baby Syiffa.
"Fattan, kenapa diam saja. Ayo kita berangkat ke rumah sakit, lihat istrimu mau melahirkan." Gerutu Bu Nina saat melihat Fattan diam mematung dengan sedikit gemetaran.
"Maaf Bu, habisnya Fattan sangat bahagia dan enggak tahu kenapa tiba tiba gemetaran tubuhku." Ucap Fattan.
"Ck, kamu ini. Ayo kita masuk ke dalam mobil." Bu Angel sambil menarik baju Fattan karena dari tadi diam mematung.
Setelah semuanya sudah siapa dengan perlengkapannya, dengan segera pak Toni pun, menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
"Sabar ya sayang. Emang begitulah nikmatnya melahirkan." Ucap Fattan.
"Kak Fattan barusan bilang nikmat hah? Yang ada sakit tahu. Kak Fattan enggak merasakan sakitnya ini perutku." Ucap Syiffa sambil mencubit pinggang suaminya.
"Sayang sakit tahu, galak benar sekarang kamu itu." Gerutu Fattan.
"Sakit mana dengan saya, kak? Ini lebih sakit hiks hiks." Syiffa mulai sambil mengusap mengelus ngelut perutnya dan terisak nangis.
"Fattan, kamu ini gimana sih, coba tenangkan istrimu kasih semangat bukan mancing emosi istrimu. Lagian emang benar yang dikatakan Syiffa kontraksi kehamilan itu sangat sakit, bagaikan tulang yang ditarik kuat kuat." Ucap Bu Nina.
"Iyakah begitu? Ya ampun kasihan sekali istriku ini." Fattan sambil merangkul pundak istrinya.
"Beginilah perjuangan seorang Ibu, dia harus rela menerima kontraksi kehamilan dan ketika akan melahirkan seorang Ibu berjuang antara hidup dan mati. Maka begitu sangat besarnya perjuangan seorang Ibu yang tidak akan bisa terbalas oleh siapapun." Ucap Bu Nina.
"Sayang, kamu yang kuat ya sayang. Kamu pasti bisa melalui semua ini." Fattan mencoba menenangkan istrinya yang kini menahan rasanya sakit saat kontraksi dan sambil menangis.
Mobil yang dikendarai pak Toni pun kini sudah sampai di rumah sakit.
Lalu dengan segera Syiffa, Fattan, Bu Nina, Bu Angel dan Bi ati segera keluar.
__ADS_1
"Ayo Nak, kita keluar." Ucap Bu Angel sambil menuntun Syiffa masuk ke dalam rumah sakit bersama Bu Nina.
"Ayo sayang sini duduk dikursi roda, jangan banyak kecapean." Fattan sambil membawa kursi roda. Kebetulan tadi Fattan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah sakitnya.
Lalu dengan segera Fattan pun mendorong kursi roda tersebut saat Syiffa sudah berada duduk dikursi roda menuju ruang persalinan.
**Ruang persalinan.
Disinilah Syiffa berada, diruang persalinan dan akan melahirkan sebentar lagi.
"Sekarang sudah pembukaan berapa Dok?" Tanya Bu Nina.
"Pembukaan 8 Bu." Jawab Dokter Lena.
"Sebentar lagi tuh, kamu akan melahirkan sayang." Ucap Bu Nina sambil menatap istrinya yang kini sedang mencengkram erat tangan suaminya karena kesakitan yang luar biasa.
"Sayang sabar. Kata Ibumu barusan tidak akan lama lagi baby kita akan akan segera keluar." Fattan sambil mengusap rambut pucuk istrinya dan mencoba bersabar saat Istrinya terus mencengkram tangannya dengan kuat.
"Kak, sudah tidak kuat lagi hiks hiks. Harus berapa jam lagi." Syiffa sambil menarik narik baju Suaminya sehingga suaminya bagaikan boneka yang hanya diam saja dan ikut oleng.
"Sabar sayang, kamu bisa melewati semuanya." Fattan sambil mencium lembut pucuk rambut istrinya.
"Kak Fattan, saya ngompol banyak banget." Ucap Syiffa.
"Apa kamu ngompol?" Fattan sambil melihat celana Syiffa yang basah kuyup.
"Heem. Kak, Syiffa pingin buang air besar kak." Teriak Syiffa dan merasakan sakit sangat luar biasa.
"Sayang kamu sabar. Loh kamu pecah ketuban sayang." Ucap Bu Nina saat melihat celana Syiffa yang basah.
"Dokter Lena, Syiffa sudah siap melahirkan nih." Ucap Bu Angel. Lalu dengan segera Dokter Lena, berjalan menghampiri Syiffa.
"Kalau begitu saya dan Bu Nina tunggu diluar saja. Tidak sanggup melihat darah." Ucap Bu Angel.
"Iya silahkan." Jawab Dokter Lena.
"Ayo Syiffa, tarik napas dalam dalam." Ucap dokter Lena. Lalu Syiffa pun menuruti apa kata dokter Lena.
"Dok, pingin ke air pingin buang hajat." Ucap Syiffa.
"Sudah disini saja," ucap dokter Lena.
"Dokter jorok sekali masa disuruh disini. Ahh.... sakit hiks hiks," Syiffa saat kesakitan saat kontraksi lagi.
"Sudah kamu jangan banyak bicara Syiffa, kamu tenang. Enggak apa apa disini juga. Ayo tarik napas dalam dalam, terus buang napas. Dan mengejan." Ucap dokter Lena.
Lalu Syiffa pun menuruti perintah dokter Lena. Ayo mengejan lagi dan tarik napas.
__ADS_1
"Sayang, kamu pasti bisa. Ayo tarik napas dan mengejan." Ucap Fattan menyemangati istrinya dan mencium lembut kening istriya.
Oe.... Oe... Oe.. suara tangisan bayi.