Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.223


__ADS_3

Aduh gimana ini, mampus nih kalau saya ketahuan berbohong hamil, mana tadi saya ngerjain suami saya untuk menjitak kepala botak orang itu batin Syiffa merasa mulai tidak tenang dan khawatir.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Fattan saat melihat istrinya begitu cemas.


"Enggak apa apa kok kak hehe," ucap Syiffa cengengesan.


"Jadi gimana Dok, keadaan bayi saya?" Tanya Fattan sekali lagi.


Lalu Dokter Lili pun menatap Syiffa sebentar.


Waduh mampus nih, kan Dokter pun pasti kesal kalau saya berbohong gerutu batin Syiffa sambil menatap balik Dokter Lili.


"Sebenarnya-" ucapan Dokter Lili sengaja di gantung lalu menatap Fattan dan Syiffa bergiliran.


"Sebenarnya apa Dok?" Tanya  Fattan sambil mengerutkan keningnya merasa penasaran.


"Sebenarnya kondisi kandungan istri pak Fattan baik baik saja kok. Oya selamat ya Pak Fattan sekarang akan menjadi seorang Ayah." Ucap Dokter Lili.


"Apa? Jadi saya benar hamil Dok?" Tanya Syiffa merasa tidak percaya dan sekaligus senang.


"Iya Nona, anda emang hamil. Selamat ya akan menjadi seorang Ibu." Ucap Dokter Lili tersenyum kepada Syiffa.


"Ya ampun Kak, ternyata saya hamil. Benar benar tidak menyangka sekarang kita akan menjadi seorang Ibu dan Ayah buat anak kita." Ucap Syiffa sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Iya sayang. Terima kasih sayang, kamu sudah mau mengandung anak saya." Ucap Fattam sambil mencium lembut rambut pucuk istrinya.


"Iya kak." Syiffa sambil tersenyum.


"Oya Dok, berapa sekarang usia kandungan istri saya?" Tanya Fattan.


"Usia kandungan istri anda, memasuki 3 minggu." Ucap Dokter Lili.


"Begitu ya Dok, terima kasih ya Dok atas informasinya dan sudah memeriksa kandungan istri saya." Ucap Fattan sambil menatap Dokter Lili.


"Iya Pak Fattan. Nih resep Vitamin sama obat untuk rasa mual dan pusingnya." Ucap Dokter Lili sambil menyodorkan obat tersebut.


"Oke, terima kasih Dok. Ya sudah kalau begitu saya pamit pulang ya Dok," Ucap Fattan.

__ADS_1


"Iya silahkan pak Fattan." Jawab Dokter Lili.


"Ya sudah, ayo kita pulang sayang." Ucap Fattan sambil merangkul pundak istrinya.


"Ya kak, ya sudah saya pemisi ya Dok." Ucap Syiffa sambil menatap Dokter Lili.


"Iya," jawab Dokter Lili sambil tersenyum.


Kirain saya, pak Fattan bakal kasih uang bonus karena sudah memeriksa kandungan istrinya. Ternyata sia sia harapanku. Masa iya pemilik rumah sakit cuma uang gajih saja yang dikasih gerutu batin Dokter Lili sambil melihat Fattan dan Syiffa berjalan yang sudah dekat dengan pintu.


"Dokter Lili?" Panggil Fattan.


"Eh iya Pak Fattan, ada apa?" Tanya Dokter Lili.


"Karena kamu sudah memeriksa istriku, maka gaji kamu saya naikan 2x lipat dan sekarang kamu jadi Dokter pribadi istriku." Ucap Fattan sambil menatap Dokter Lili.


"Pak Fattan seriuskan?" Tanya Dokter Lili merasa tidak percaya.


"Heem," jawab Fattan. Lalu Fattan dan Syiffa sambil berjalan keluar meninggalkan ruangan Dokter Lili.


Akhirnya harapan saya terkabulkan. Kok pak Fattan bisa tahu ya kalau saya tadi di dalam hati membicarakan dirinya. Atau jangan jangan pak Fattan mempunyai mata batin ya? Ucap Dokter Lili pada diri sendiri.


.


.


Syiffa dan Fattan pun kini sudah berada didalam mobil. Mereka sangat bahagia, saat mereka tahu sekarang bakal jadi Ibu dan Ayah dari anak yang dikandung Syiffa.


"Kak Fattan, Syiffa enggak menyangka bakal hamil. Dan Syiffa pun sangat bahagia saat Dokter mengatakan kalau Syiffa hamil." Ucap Syiffa sambil menatap Fattan yang kini sedang melajukan mobilnya.


"Iya sayang. Ingat kamu harus jaga kesehatan dan jangan pikiran." Ucap Fattan.


"Iya kak," jawab Syiffa sambil mengganggukan kepala.


Lalu Fattan pun tersenyum terhadap istrinya dan merasa bahagia karena Syiffa mau mengandung anaknya.


"Eh sayang, tunggu dulu." Ucap Fattan sambil memberhentikan mobilnya.

__ADS_1


"Tunggu? Maksudnya apa kak?" Syiffa merasa tidak mengerti.


"Iya kamu bilang tadi, kalau kamu bahagia saat Dokter mengatakan kalau kamu hamil?" Tanya Fattan.


"Iya tentu saja bahagia kak, masa iya orang dikarunia anak tidak bahagia sih kak," gerutu Syiffa.


"Jadi kamu waktu ngidam pingin menjitak kepala botak itu bohongkan belum tahu hamil? Dan kamu pasti ngerjain saya ya?" Tanya Fattan sambil menatap tajam istrinya.


Deg, Syiffa pun berusaha menelan salivanya sendiri. Perasaan khawatir yang kini Syiffa rasakan. Karena Syiffa kini sudah membohongi suaminya dan bersiap siap siap menghadapi amukan suaminya.


"Tapi emang benar ngidam kak Fattan, kan kak Fattan tadi pasti sudah dengar usia kandungan Syiffa memasuki tiga minggu jadi walapun Syiffa berbohong, itukan emang ngidam bayi kita yang menginginkan yang tiba tiba membuat Syiffa pingin jitak tuh kepala botak." Gerutu Syiffa.


Lalu Fattan pun menatap Syiffa dan berpikir sejenak.


"Iya juga ya sayang, ya sudah ayo kita lanjutkan lagi perjalan menuju pulang." Ajak Fattan sambil kembali mengemudi mobilnya.


Untung saja, saya punya alasan dan selamat saya terhindar dari amukan suamiku, hufs batin Syiffa sambil menghembuskan nafas kasarnya.


"Oya sayang, katanya kalau orang lagi hamil itu suka ngidam nih, sekarang kamu ngidam apa, Dan mau pingin apa, katakanlah sayang." Ucap Fattan sambil menatap istrinya.


"Tapi serius nih, kak Fattan mau mengabulkan semuanya nih." Tanya Syiffa.


"Tentu saja sayang. Ya sudah katakanlah kamu mau apa sekarang?" Tanya Fattan.


"Saya mau bakso, martabak, hotdog, sosis, pempek, pokoknya jajanan yang ada dipinggir disini." Ucap Syiffa.


"Apa? Yang benar saja sayang." Ucap Fattan sambil menatap istrinya.


"Iya kak, katanya kak Fattan bilang mau mengabulkan keinginanku." Ucap Syiffa merasa kecewa.


"Iya tapi itu enggak sehat sayang." Ucap Syiffa.


"Tapi bayi kita yang mau gimana dong? Biar saja enggak jadi kemauanku, jangan salahkan bila ileran nanti," ucap Syiffa.


"Jangan bilang gitu dong sayang, baiklah kalau begitu saya akan membeli semuanya." Ucap Fattan.


"Nah gitu dong sayang." Ucap Syiffa sambil tersenyum.

__ADS_1


Lalu dengan segera Fattan pun berjalan keluar, menuju makanan yang pertama dituju.


__ADS_2