Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.166


__ADS_3

"Ya sudah sayang, ayo kita masuk mobil sekarang," ucap Fattan sambil membukakan mobilnya. Lalu Syiffa pun masuk ke dalam mobil tanpa menatap Fattan.


Itu anak kenapa ya? Kok kayaknya dia benci banget sama saya? padahal pas tadi bangun tidur dia senang banget diajak jalan jalan sama saya. kayaknya ada sesuatu yang di sembunyikan sama dia, tapi apa ya? batin Fattan lalu berjalan masuk ke dalam mobil.


Kini mereka pun sedang berada di dalam sebuah mobil. tidak ada di antara mereka yang berbicara satu sama lain. Kini Syiffa pun hanya mengarahkan pandangannya keluar melihat pemandangan seiring mobilnya berjalan.


"Syiffa kamu kenapa sih kok diam saja dari tadi?" Tanya Fattan memulai pembicaraannya.


Lalu Syiffa pun hanya menatap Fattan sekilas tanpa menjawab perkataan calon suaminya itu lalu melihat kembali keluar jendela.


"Loh kenapa kamu tidak menjawab perkataanku dan hanya menatap sekilas begitu saja Syiff," ucap Fattan sambil menatap Syiffa.


"Terus saya harus jawab apa dong? lagian saya lagi malas banget ngobrol sama kamu." ucap Syiffa dengan jeleus.


"Kamu kenapa sih Syiffa kayaknya benci banget sama saya. Soal waktu itu saya minta maaf Sayang saya benar benar emosi dan khilap," ucap Fattan merasa bersalah.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi ah sungguh menyebalkan dan memuakkan buat saya," ucap Syiffa.


"Kan saya barusan minta maaf Sayang," ucap Fattan sambil memegang tangan satunya memegang tangan Syiffa lalu mencium tangannya.


"Ih apaan sih Kak. Kan saya bilang barusan sudahlah jangan bahas masalah itu lagi." ucap Syiffa sambil mengibaskan tangan Fattan.


"Baiklah kalau begitu. berarti kamu sudah memaafkan saya dong sayang?" Tanya Fattan sambil menatap Syiffa.


"Iss siapa bilang, lagian bukan berarti saya sudah memaafkan kamu ya. Dan asal kamu tahu ada hal yang membuat saya lebih benci dan muak dengan sikap dan prilaku kamu!" ucap Syiffa dengan datar.


"Maksudnya apa Syiffa kamu berbicara begitu hah? Emangnya apa yang sudah saya lakukan selain kejadian waktu itu?" Tanya Fattan merasa tidak mengerti.


"Sudahlah Kak jangan pura pura tidak tahu dan disembunyikan dari saya. Lagian saya juga sudah tau kok semuanya jadi tidak perlu berbohong lagi kak!" ucap Syiffa menatap tajam calon suaminya.


"Terus apalagi ini, kamu bilang saya berbohong hah? maksudnya berbohong apaan sih sayang sumpah saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan sayang." ucap Fattan merasa tidak mengerti.


"Kakak masih mau membohongi saya iya hah? tapi sayangnya saya bukanlah orang bodoh yang bisa Kakak bohongi!" Bentak Syiffa.

__ADS_1


"Syiff kamu itu apa apaan sih hah bentak bentak begitu sama saya? Lagian saya serius tidak mengerti apa yang kamu ucapkan." Fattan sekilas menatap Syiffa dan mengemudi mobilnya.


"Iya kenapa Kakak membohongi saya dan tidak pernah jujur sama saya, kalau saya ini hanya pelampiasan buat Kakak Kan? lagian cinta dan kasih sayang Kakak itu palsukan buat saya kan?" Tanya Syiffa mencoba menahan airmatanya supaya tidak terjadi.


"Syiffa kamu kalau bicara jangan sembarangan ya. Lagian siapa bilang kalau kamu itu cuma pelampiasan hah? Lagian Saya ini memang serius cinta dan sayang kamu Syiffa. Dan kamu pikir saja buat apa saya membatalkan pertunangan dengan sahabat kamu itu hanya demi ingin bersama kamu? Dan kamu tahu selama Ibumu di rumah sakit saya juga ada disana bahkan saya jarang tidur karena takut sesuatu terjadi menimpamu dan Ibumu karena bagiku kamu adalah jantung hidupku." ucap Fattan.


"Ck, itu hanya alasan saja hah. Kamu bilang tidur di rumah sakit selama Ibuku di rawat? Emangnya Kakak tidur dimana hah? Lagian kalau ke rumah sakit Kakak suka pulang lagi kok." Ucap Syiffa sambil menyunggingkan bibir dengan sinis.


"Kamu itu lupa ya, Saya ini pemilik Rumah Sakit Harapan! Jadi ada tempat khusus buat saya. Dan kamu pernah lihat tidak seorang Dokter atau Perawat melalaikan tugasnya hah? bahkan dia selalu cek keadaan kondisi Ibu kamu se jam sekali karena itu semua perintah dari Saya. Lagian saya tidak rela jika Istriku ini berlarut dalam kesedihan karena Ibunya. Makanya selama buat kamu bahagia maka saya akan lakukan apapun!" Ucap Fattan sambil memegang tangan Syiffa.


deg.


Hati Syiffa merasa tersentuh. Apa yang dikatakan oleh Fattan emang benar adanya. Dia juga merasa bersalah sudah berpikir yang tidak tidak terhadapnya. Dia merasa berhutang budi padanya karena sudah banyak membantu Ibunya selama dirawat dirumah sakit.


"Maafin saya ya Kak sudah bentak bentak tadi sama Kakak, dan maafin saya tadi juga sudah cuekin Kakak," ucap merasa bersalah dan tersenyum pada Fattan.


"Iya tidak apa apa kok Sayang. Nah gitu dong senyum bukannya cemberut saja dari tadi," ucap Fattan sambil mencubit gemas pipi Syiffa.


"Habisnya gemas banget sih sama kamu hehe," ucap Fattan cengengen.


"Iss dasar ya. Oya sebenarnya kita mau kemana sih Kak?" Tanya Syiffa


"Kamu maunya kemana?" Tanya balik Fattan.


"Yaelah Kak, kok balik nanya sih." kesal Syiffa.


"Ya ini kan special buat Istriku tercinta. Jadi saya tawarin maunya kamu kemana?" Ucap Fattan sambil menatap Syiffa.


"Nih orang dari tadi bilang Istri Istri mulu, Lagian ya kita belum nikah Kak masih calon Kakak," ucap Syiffa merasa gemas melihat Fattan.


"Ya sama sajalah sayang. calon atau Istri juga nanti juga kamu memang bakal jadi Istri saya." Ucap Fattan dengan percaya diri.


"Iss kepedean banget ini orang ya. Terus Kakak kenapa tadi bilang sama Ibu kalau kejadian tadi pagi seoalah olah kita melakukan tindakan yang tidak senonoh hah?" ucap Syiffa menatap tajam Fattan.

__ADS_1


"Hehe... jangan marah sayang. Lagian tadi saya cuma bercanda kok." ucap Fattan cengengesan dan menelan salivanya dengan susah payah.


"Tapi itu tidak lucu Kak, saya jadi kelihatannya dimata Ibu saya kesannya itu jelek Kak. Pasti Ibu kecewa deh dia selalu mewanti wanti anaknya menjaga harga dirinya tapi anaknya tidak mendengar dan melakukannya Kak. Kakak itu jahat tau enggak sudah mencoreng nama baik saya tahu." ucap Syiffa merasa kecewa.


"Iya maafin deh Sayang, Saya janji deh nanti saya jelasin semuanya sama Ibu kamu kalau kejadian yang tadi pagi itu tidaklah benar." Ucap Fattan sambil satu tangannya menggenggam tangan Syiffa.


"Baguslah kalau gitu. Lagian emang seharusnya bilang sama Ibu itu jujur. Kualat tahu sama orang tua bohong," ucap syiffa.


"Iya ya Sayang bawel. Tapi enggak apa apa bohong juga kali, kan lumayan kita secepatnya menikah besok. Soalnya saya bosen peluk bantal guling mulu. Kan kalau kita sudah menikah bisa peluk kamu dan.." ucapan Fattan sengaja digantung lalu menatap atas sampai bawah kaki Syiffa.


"Ihh apaan sih Kak mes*um ih pikirannya." ucap Syiffa merasa sebal lalu mencubit pinggang Fattan.


"aww sakit Sayang galak benar ya ini orang. Oya kita mau jalan jalan kemana nih?" Tanya Fattan pada Syiffa.


"Saya pingin jalan jalan ke Mall beli baju, beli tas, beli asesoris, beli celana, pokoknya banyak deh kak tapi satu yang paling penting saya pingin berkunjung ke tempat yang menyediakan macam eskrim!" ucap Syiffa sambil menatap Fattan.


"Yang benar saja kamu meminta sebanyak itu hah?" Tanya Fattan merasa tidak menyangka dengan keinginan Syiffa.


"Loh emanng nya kenapa Kak? Enggak mampu ya hah?" Tantang Syiffa.


"Siapa bilang Saya tidak mampu hah? Lagian kamu lupa ya saya kan anak orang kaya, perusahaan pun dimana mana bahkan sampai ke luar negeri lho." ucap Fattan sambil menatap Syiffa.


"Eh iya juga ya Kak hehe, kenapa saya jadi kayak orang bego gini ya sudah jelas calon suamiku ini orang kaya ya. Lagian tadi saya cuma bercanda kok Kak hehe," ucap Syiffa cengengesan. Padahal tadi emang benar Syiffa sengaja ngerjain Fattan.


"Tapi tidak apa apa kok nyata juga demi Istriku ini. Ya sudah ayo kita berangkat ke Mall." ucap Fattan sambil melajukan mobilnya berjalan ke Mall.


"Eh tapi Kak-"


"Sudah jangan banyak protes!" ucap Fattan menatap Syiffa.


"Baiklah Kak," ucap Syiffa.


Lalu Fattan pun menjalankan mobilnya menuju sebuah Mall yang terkenal bersama Syiffa. Dan Kini Syiffa pun sampai melupakan yang awalnya ingin bertanya tentang hubungan dia dengan mantan kekasihnya itu yang selalu menggangu pikirannya dan menyakiti hatinya karena gara gara melihat sisi kebaikan Fattan yang begitu besar telah membantunya.

__ADS_1


__ADS_2