
"Iya Bi Ina ada apa ya?" Tanya Syiffa.
"Syiff kamu yang sabar ya, kamu harus ikhlas menerima semuanya ya Syiff." ucap Bi Ina.
"Maksud Bi Ina apa ya? Maksudnya harus ikhlas apaan Bi? Syiffa bener enggak ngerti Bi." ucap Syiffa bingung.
"Bapakmu syiff.... Bapakmu.... " Ucap Bi Ina tidak melanjutkan perkataan nya.
"Bapak Syiffa kenapa Bi? Ada apa dengan Bapak Syiffa bi?" Ucap Syiffa dengan khawatir.
"Bapakmu Syiff sudah me-meninggal dunia Syiff." ucap Bi Ina dengan bicara kaku.
"Apa Bi?? Jangan bohong Bi? Bi Ina cuma sandiwara kan, Bi Ina bohong kan? Enggak mungkin bapak sudah meninggalkan Bi. Bi Ina jawab bi, kalau yang di katakan Bi Ina itu bohong Bi." Ucap syiffa dengan mulai air mata yang menetes.
"MA-maaf Syiff." Ucap Bi ina sambil menggelengkan kepala kode kalau yang dikatakan nya benar tidak berbohong.
"Enggak mungkin. Bapaaaakkkkkkkkkk... " Teriak Syiffa sambil berlari ke dalam rumah.
"Maaf ya bu, ngomong ngomong kalau boleh tau, ada apa ya bu di rumah nya syiffa banyak orang Bu?" Tanya Ariff.
__ADS_1
"Itu... Emmm... Bapaknya Neng syiffa meninggal." ucap bi ina tetangga Syiffa.
"Oh... Gitu ya Bu." ucap Ariff.
"Maaf kalo boleh tau kalian ini siapa nya Neng Syiffa ya?" Tanya Bi Ina.
"Oh.. Kenalkan Bu, saya Ariff dan itu teman saya Fattan. Kebetulan kami rekan kerjanya Syiffa!" ucap Ariff.
"Oh.. Kalian rekan kerja nya. Semoga aja ya Neng Syiffa bisa sabar dan ikhlas menerima cobaan yang sedang di hadapinya." ucap Bi Ina.
"Ya Bu dan semoga alm. Bapaknya di terima disisi sang maha kuasa dan di ampuni segala dosanya, aamiin." ucap Ariff.
"Aamiin. " ucap bi ina ikut menimpali. Ya sudah saya permisi ya pamit mau pulang. "assalamualaikum." Ucap Bi Ina.
"Ya sudah yuks kita masuk ke rumah Syiffa!" ucap Ariff.
"Mau ngapain ke rumah dia?" Tanya Fattan.
"Ya ampun Ttan. Syiffa lagi berduka cita masa kamu seorang calon pimpinan perusahaan enggak ada sedikit rasa empati kepada karyawan nya sendiri." ucap Ariff.
__ADS_1
"Iya... Iya.... Ya sudah kamu duluan jalan nya." ucap Fattan.
Lalu mereka berdua pun pergi berjalan menuju rumah Syiffa yang sederhana itu.
"Ibuuuuuuu.." tlTeriak Syiffa memeluk ibu nya dan menangis sejadi jadinya.
"Kamu harus sabar ya Nak, kamu harus kuat harus ikhlas menerima kepergian bapakmu Nak." ucap Bu Nina mengusap lembut punggung Syiffa.
"Tapi kenapa Bu, bapak begitu cepat meninggalkan kita Bu? Kenapa tuhan dengan cepatnya mengambil nyawa Bapak Bu?" Ucap Syiffa dengan isak tangis.
"Sssttt.... Kamu enggak boleh bicara gitu Syiff, jangan salahkan yang Maha kuasa." Tiap yang bernyawa pasti akan mati. Mungkin ini sudah saat nya takdir Bapakmu harus kembali pada sang pemilik-Nya." ucap Ibu Nina mencoba menenangkan putri nya.
"Iya Bu tapi Syiffa belum pernah membahagiakan Bapak Bu? Syiffa belum membalas semua jasa bapak terhadap Syiffa Bu."
"Sudahlah Nak. Bagi bapak kamu menjadi anak yang baik dan berbakti sama orang tua itu sudah lebih dari cukup Nak." ucap Bu Nina.
"Tapi Bu.."
Sudah jangan berlarut larut Nak menangisi Bapakmu, ikhlaskan kepergian Bapakmu. Gimana bapakmu mau tenang di alam sana kalau kamu masih menangisi kepergian bapakmu? Sekarang yang Bapakmu butuhkan adalah "Doa." Jadi doakan lah bapakmu semoga diterima ibadahnya, di ampuni segala dosanya dan di tempatkan di tempat yang terbaik Ucap Bu Nina sambil mengusap air mata Syiffa.
__ADS_1
Iya Bu ,aamiin. "Pasti Syiffa akan selalu mendoakan bapak, dan syiffa juga akan selalu mendoakan Ibu selalu sehat terus ya Bu." ucap syiffa.
"Makasih iya Nak." ucap Bu Nina memeluk Syiffa.