Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.243


__ADS_3

Sarapan pagi pun sudah selesai, orangtua Ariff hari ini harus pergi keluar negeri untuk menjalankan bisnisnya disana. Sebenarnya Ariff adalah anak pengusaha juga, yang menanamkan modalnya di italia. Disana perusahaan milik orang tua Ariff sangat berkembang pesat. Ariff pun sudah disuruh oleh kedua orangtuanya untuk menggantikannya, tapi Ariff masih menolak dan tetap ingin bekerja di perusahaan pt. Juhes adijaya karena lebih baik bekerja perusahaan orang lain dari pada diperusahaan sendiri, lebih tepatnya lagi pingin mencari pengalaman dan pingin mandiri. Dan Ariff pun akan berjanji meneruskan usaha Ayahnya ketika Ariff sudah beristri.


"Ya sudah sayang, Ibu dan Ayah pamit dulu dan maaf tidak bisa  menemani kalian disini." Ucap Bu Siti kepada menantunya dan memeluknya.


"Iya tidak apa apa kok Bu, Ibu hati hati dijalannya semoga selamat sampai tujuan." Nurul sambil menguraikan pelukannya.


"Iya Nak, terima kasih atas doanya. Dan semoga sehat selalu dan maaf sayang, omah tidak bisa menemani kalian. Nanti kalau ada waktu Omah pasti bakal kesini lagi untuk melihat cucu Omah." Ucap Bu siti sambil mengusap perut Nurul yang masih rata dan seolah olah berbicara kepada cucunya.


"Iya Omah." Jawab Nurul, menirukan suara anak kecil.


"Ya sudah kalau begitu Ayah pamit dulu ya. Dan ingat kamu, Ariff janjimu itu." Ucap Ayah Joe.


"Iya Ayah, pasti Ariff selalu ingat kok janji Ariff." Jawab Ariff sambil terseyum kepada Ayahnya.


"Baguslah kalau begitu. Sehat selalu buat kalian dan jaga selalu cucu Opah." Ayah Joe tersenyum kepada Nurul.


"Iya Ayah." Jawab Nurul.


Lalu Ariff dan Nurul pun salim dan mencium tangan punggung Ayah Joe dan Ibu Siti. Sebenarnya Nurul menolak untuk menikah dirumah Ariff, tapi orangtua Nurul memaksa tetap menikah dirumah Ariff. Karena kedua orangtua Ariff merasa malu Nurul menikah karena hamil diluar nikah. Orangtua Nurul pun, setelah selesai acara hajatan langsung pulang kerumahnya.


Kini orangtua Ariff pun pergi meninggalkan Nurul dan Ariff dirumah tersebut. Setelah selesai mengantarkan kedua orangtuanya sampai halaman rumah, dengan segera Nurul dan Ariff pun berjalan masuk ke dalam rumah.


"Akhirnya Ibu sama Ayah, sudah pergi juga ke luar negeri." Ucap Ariff sambil berjalan menuju ballroom.


"Aneh banget ya ini orang. Masa orangtua sendiri pergi ke luar negeri senang banget ya. Dasar anak durhaka." Gerutu Nurul sambil menatap suaminya.


"Kamu bilang barusan apa hah?" Ucap Ariff sambil menatap tajam Nurul.


"Ini orang budeg atau gimana ya, masa aku bicara tadi tidak dengar sih. Wah perlu diperiksa sama Dokter nih telinganya." Ucap Nurul.


"Ehmz.... punya istri benar benar kurang ajar ya. Tadi bilang anak durhaka, sekarang bilang budeg. Bagus sekali ya  hah." Gerutu Ariff sambil menyunggingkan bibir kanan atasnya.


"Eh buset, ternyata dia enggak budeg ya hehe. Lagian maaf kak, aku cuma bercanda kok." Ucap Nurul cengengesan.


"Kagak ada bercanda candaan, hatiku sudah terlalu sakit sama ucapanmu. Sekarang juga, aku kasih hukuman kamu." Ariff sambil menatap kesal Nurul.


"Ternyata hatinya bisa sakit juga, kirain aku enggak tuh." Celetuk Nurul.


"Hey Nurul, dengerin ya. Aku ini manusia juga bukan patung kali." Gerutu Ariff.


"Yey biasa aja, enggak usah sewot gitu kali ah. Sudah ah, pusing tau enggak berantem sama suami jadi jadian." Nurul sambil berlalu pergi meninggalkan Ariff. Tapi sayangnya Ariff menahan lengan Nurul.


"Heh, kamu mau kemana hah?" Tanya Ariff sambil menahan lengan istrinya.

__ADS_1


"Ya mau ke kamar lah, mau ngambil handphone. Sekarang lepasin tangan aku." Gerutu Nurul sambil menatap Ariff.


"Kagak mau! Aku akan melepaskanmu tapi setelah aku menghukummu." Ucap Ariff.


"Ck, pakai main hukuman segala. Emangnya mau kasihan hukuman apa hah?" Tanya Nurul kepada suaminya.


"Hukumannya kamu harus membuatkan kopi untukku." Jawab Ariff.


"Kirain mau kasih hukuman apaan, ternyata cuma ingin membuatkan kopi. Lagian kan disinikan ada asisten rumah tangga, kenapa enggak nyuruh saja sama mereka." Gerutu Nurul.


"Enggak mau! Aku maunya kamu yang buat. Jika kamu enggak mau juga, aku kasih hukuman kamu untuk mengepel seluruh ruangan ini, gimana hah? Ayo pilih yang mana?" Tanya Ariff .


"Benar benar gila punya suami yah, masa orang hamil disuruh mengepel seluruh ruangan sih." Ucap Nurul sambil menyunggingkan bibirnya atasnya.


"Lho emangnya kenapa, kalo aku menyuruh kamu untuk mengepel seluruh ruangan ini. Bukannya bagus tuh buat ibu hamil. Katanya sih biar persalinannya lancar." Ucap Ariff.


"Tapi kehamilanku masih muda Kak, jadi jangan capek-capek. Lagian kak Ariff benar-benar gila ya, ini ruangan besar loh, masa saya yang menyuruh untuk mengepel. Kak Ariff mau ya, Kalau terjadi sesuatu sama aku hah?" Nurul sambil menatap tajam suaminya.


"Ya nggak mau lah, ya sudah sekarang kamu bikin kopi buat saya. Tidak boleh banyak menolak dan membantah, titik." Ucap Ariff


"Baiklah kalau begitu kak." Jawab Nurul sambil berjalan ke dapur.


Dimana tempat garamnya ya? Nurul sambil mencari tempat garam. Eh, kenapa malah mencari garam, bukannya tadi kak Ariff menyuruh aku untuk membuatkan kopi ya? Wah ini mah disuruh sama otor nih, buat ngerjain kak Ariff. Tapi bagus deh tor, terima kasih untuk idenya aku akan ngerjain kak Ariff dengan kopi rasa pahit asin hahaha, tawa Nurul sambil menuangkan satu sendok kopi ditambah dua sendok garam.


Sudah sekarang kondisikan ekspresimu Nurul, jangan sampai kak Arif tahu kalau aku ngerjainnya ucap Nurul sampai berlalu dari dapurnya lalu berjalan menuju ballroom di mana suaminya berada.


"Nih kak, kopinya sudah jadi nih." Ucap Nurul sambil menaruhnya di atas meja.


Lalu Arif pun hanya diam saja tidak membalas perkataan Nurul, lalu menatap Nurul dan kopi tersebut. Dan Ariff pun mulai mencurigai dengan kopi buatan Nurul.


" Kenapa kak Ariff,menatapku seperti itu hah?" Tanya Nurul.


" Coba jelaskan sama aku, Apakah kamu mengerjaiku?" Tanya Ariff penuh curiga.


"Ih kak Ariff, orangnya suka suudzon ya. Maksudnya ngerjain apa hah? Aku sudah cape cape loh bikinin kopi buat kak Ariff, tapi kak Ariff malah menuduhku yang nggak eggak." Gerutu Nurul merasa kecewa.


"Iya maaf deh, thank's sudah buatin kopi." Ucap Ariff sambil menatap istrinya.


"Iya sama-sama Kak. Ya sudah kalau begitu aku permisi ya, mau ke kamar dulu Kak mau mengambil handphone." Nurul sambil berlalu meninggalkan  suaminya sendiri.


"Iya." jawab Arif lalu sambil mengambil kopi yang sudah dibuatkan oleh Nurul.


Ketikan Nurul, menaiki tangga kemudian Nurul pun menghitung angka 1, 2, 3 . Dan tiba-tiba terdengar teriakan lalu dengan segera Nurul pun mempercepat jalannya dan berlari menuju kamar dengan segara menguncinya.

__ADS_1


"Nurul...." teriak Ariff dengan emosi yang memuncak.


Punya istri benar benar ya, menyebalkan sekali. Masa iya aku dikerjai sama si Nurul dengan membuat kopi rasanya asin sih. Benar benar itu anak ya. Aku harus kasih pelajaran sama dia gerutu Ariff  sambil berjalan menuju bedroom, di mana Nurul berada.


" Nurul buka pintunya!"


"Enggak mau kak, lagian mau ngapain sih hah?" Teriak Nurul.


"Aku ingin hukummu, karena kamu sudah kurang ajar. Sekarang buka pintunya." Teriak Ariff.


"Aku bilang enggak mau kak. Sudahlah kak, jangan ganggu aku mau tidur lagi nih." Ucap Nurul.


"Baiklah, kalau kamu enggak mau maka aku akan mendobrak pintunya." Gerutu Ariff.


"Coba saja kalau bisa." teriak Nurul.


"Baiklah aku akan mendobrak pintunya, Jika kamu tidak membukanya dalam hitungan 1, 2, 3."


Namun tiba tiba pintu pun terbuka saat Ariff mendobrak pintunya. Kemudian Ariff pun jatuh kebawah lantai.


Aww.... sakit sekali pantatku. "Nurul...." teriak Ariff sambil menatap Istrinya.


Hahaha.... "Iya kenapa kak? Lagian suruh siapa sih, untuk mendobrak pintu jadinya beginikan haha." Nurul tertawa terbahak bahak.


Lalu dengan segera Ariff pun diri dan berjalan menghampiri Nurul.


"Oh jadi sekarang, kamu mau main main dengan saya iya hah?" Tanya Ariff sambil berjalan menghampiri Nurul. Namun Nurul mencoba melangkah kebelakang saat Ariff terus jalan mendekatinya.


"Maksud kak Ariff apaan hah? Mau kita main petak umpet gitu? Ya sudah ayo, kita mau petak umpet. Tapi sebelum memulai kita suit dulu, siapa yang kalah dia harus-" ucapan Nurul terputus saat Ariff menatap tajam dirinya.


"Kamu itu benar benar ya Nurul, kamu sudah membuat diriku-" ucapan Ariff terputus saat tiba tiba handphone miliknya berbunyi. Lalu Ariff pun menatap sejenak Nurul yang kini sudah hampir dekat dengan wajahnya. Kemudian Ariff pun lebih memilih mengangkat handphonenya yang dari tadi terus berbunyi. Dengan segera Nurul pun menghembuskan napas kasarnya dan merasa lega.


untung saja, ada panggilan masuk menelponnya. Jadi aku selamat deh batin Nurul.


Ariff pun kini sudah selesai mengobrol dengan seseorang. Lalu berjalan menghampiri Nurul.


"Oya Nur, aku harus pergi dulu ke kantor sekarang juga." Ucap Ariff.


"Mau ngapain emangnya kak? Bukannya ini masih cuti iya?" Tanya Nurul.


"Iya. Tapi Fattan bilang ada hal penting yang harus dibicarakan." Ucap Ariff.


"Ya sudah kalau begitu, sana cepat pergi." Ucap Nurul.

__ADS_1


"Kamu! Sudahlah, cape ribut sama kamu mah. Aku enggak ada waktu, harus pergi juga sekarang." Ucap Ariff sambil berlalu pergi meninggalkan Nurul.


__ADS_2