Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.247


__ADS_3

"Kamu yang sabar ya Nak. Kamu harus ikhlas menerima kepergian orangtuamu." Ucap Bu Siti sambil memeluk menantunya yang kini sedang menatap makan kedua orangtuanya.


"Iya Bu. Begitu cepat sekali Bu orangtua Nurul, meninggalkan Nurul sendirian disini. Sekarang Nurul tidak punya siapa siapa lagi Bu," ucap Nurul tidak terasa airmatanya menetes membasahi pipinya.


"Kamu jangan berbicara begitu Nurul. Kamu tidak sendirian Nak, masih ada Ibu, Ayah dan suamimu. Pasti kita disini akan selalu menjaga dan melindungimu." Ucap Bu Siti mencoba menyemangati Nurul.


"Terima kasih Bu." Jawab ucap Nurul sambil memperat pelukannya terhadap mertuanya.


"Iya Nak. Ya sudah sekarang pulang ya Nak." Ucap Bu Siti sambil mengusap lembut rambut Nurul lalu menguraikan pelukannya.


"Iya Bu." Jawab Bu Siti.


Kemudian Nurul, Ariff dan orangtua Ariff pun pergi meninggalkan makam kedua orangtua Nurul dan berjalan menuju mobil untuk pulang ke rumah. Setelah semuanya sudah siap. Lalu dengan segera Ariff pun menjalankan mobilnya dan pergi dari tempat pemakaman mertuanya.


Sekilas Ariff pun, menatap didalam kaca depan mobil melihat istrinya yang begitu terluka karena harus kehilangan kedua orangtuanya dan ada perasaan di dalam hati Ariff, ingin membahagiakan Nurul dan tidak ingin melepaskan Nurul selamanya, apalagi Nurul sedang mengandung anaknya. Lalu Ariff pun tersenyum saat membayangkan percintaan mereka bisa terjadi begitu saja.


"Eh kak Ariff, aku tuh lagi sedih. Kenapa kamu malah tersenyum dan sepertinya kamu bahagia yah hah?" gerutu Nurul yang ketahuan basah menatap dirinya sambil tersenyum.


"Ih ini anak bilang apaan sih ah, emangnya siapa yang tersenyum karena bahagia melihatmu hah karena menderita hah?" tanya Ariff sambil menatap Nurul dari kaca depan mobil.


"Enggak ada sih, tapi kenapa kamu senyum senyum menatapku begitu?" Nurul sambil menatap sinis suaminya.


"Iya karena, aku membayangkan percintaan semalam yang terjadi. Kamu pasti ingatkan?" tanya Ariff mencoba menggoda istrinya.


"Ih apaan sih, kenapa meski harus di ingat ingat lagi. Sudah ah, ingat ada Ibu sama Ayah jadi jangan so ngawur kalau bicara." gerutu Nurul tanpa sadari ada seutas senyuman saat mengingat kejadian tersebut. Bagaimana tidak, menikah karena hamil tapi kok bisa sampai melakukan yang kedua kalinya. Apakah mereka sudah mulai jatuh cinta? Ntahlah itu sangat mustahil bagi mereka.


Mobil yang dikendarai Ariff pun, kini sudah sampai dirumah. Lalu dengan segera Ariff dan yang lain pun keluar dari mobil tersebut dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Bu, Ayah, Nurul mau permisi mau ke kamar pingin tidur dulu. Soalnya ngantuk Bu, semalam Nurul hampir tidak tidur." ucap Nurul sambil menatap mertuanya.


"Iya silahkan ya Nak." jawab Bu Siti sambil tersenyum kepada menantunya.


Lalu Nurul pun, berjalan menuju bedroom.


"Ya sudah Bu, Ariff juga sama mau tidur dulu ya Bu Ngantuk nih." ucap Ariff sambil berjalan menuju bedroom.


"Kak Ariff, mau ngapain kesini?" tanya Nurul merasa kaget saat Ariff ikut merebahkan diranjang.


"Tentu saja mau tidurlah."jawab Arif.


"Tidurnya disofa sajalah kak, jangan disini kak gerah tahu." gerutu Nurul.


"Pokoknya aku mau disini. Lagian enggak nyaman harus tidur di sofa. Kita tidur disini satu untuk berdua." ucap Ariff sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya sehingga hidung mereka saling bersentuhan.


Deg. Jantung Nurul pun berdetak begitu cepat. Napas pun terasa begitu sesak, saat mata hitam mereka saling bertemu.


Dengan segera Ariff pun memeluk istrinya dan melingkarkan tangannya dipinggang istrinya yang kini sama sama terbaring saling berhadapan.

__ADS_1


"Kak Ariff apa apa sih, lepasin kak." ucap Nurul.


"Enggak mau!" jawab Ariff.


"Ih kak-" ucapan Nurul terputus saat Ariff mencium lembut bibir mungil miliknya. Nurul pun terkejut saat Arif melakukannya yang kedua kalinya. Nurul pun semakin heran dengan sikap suaminya yang tiba tiba menciumnya begitu saja, padahal diantara mereka masih dibilang belum memiliki perasaan sama sekali. Kemudian, Nurul pun mencoba untuk merespon setiap ciuman yang Ariff kasih. Sehingga kini mereka saling menikmati satu sama lainnya. Setelah Ariff sudah puas dengan segera Ariff pum melepaskan ciumannya.


"Terima kasih Nurul, sudah mau membalas semuanya." ucap Ariff sambil tersenyum kepada istrinya.


Namun Nurul pun hanya tersenyum lalu beranjak dari kasur.


"Mau kemana Nur?" tanya Ariff.


"Mau makan, perutku lapar nih." ucap Nurul.


"Loh bukannya tadi bilang mau tidur ya?" tanya Ariff.


"Tadinya sih iya, tapi tiba tiba jadi enggak ngantuk. Dan malah jadi lapar." Nurul sambil menatap Ariff yang masih berbaring diatas ranjang.


"Ya sudah kalau gitu mari kita makan." ucap Ariff sambil beranjak dari kasurnya dan berjalan menghampiri Nurul lalu merangkulnya.


"Loh emangnya kak Ariff lapar juga hah?" tanya Nurul.


"Iya tentu saja aku juga lapar, emangnya cuma kamu saja apa hah yang lapar." gerutu Ariff sambil menatap Istrinya.


"Biasa saja kali kak, enggak usah sewot begitu ah." ucap Nurul.


"Tapi emang iya, tadi kak Ariff sewot mulu tuh." kekeuh Nurul.


"Sudahlah Nurul, kamu jangan kekeuh mulu dengan pendapatmu. Sekarang, ayo kita berjalan dan kita makan." ucap Ariff.


"Baiklah." Jawab Nurul.


Kemudian Ariff dan Nurul pun berjalan menuju meja makan.


"Loh, bukannya kalian mau tidur ya?" tanya Bu Siti saat melihat Nurul dan Ariff berjalan menuju meja makan.


"Tadinya sih begitu Bu, tapi tiba tiba perutku lapar Bu." ucap Nurul.


"Ya sudah, mari kita makan bersama." Ajak Bu Siti yang kini berada dimeja makan.


Kemudian Ariff dan Nurul pun duduk ditempat meja makan.


"Nih Nak, buat kamu." ucap Bu Siti yang sudah mengalaskan nasi berserta lauk pauknya untuk Nurul.


"Terima kasih Bu." ucap Nurul sambil tersenyum kepada mertuanya.


"Iya Nak." jawab Bu Siti membalas senyuman Nurul.

__ADS_1


"Ibu?" panggil Ariff.


"Iya kenapa Rif?" Tanya Bu Siti.


"Kok Ariff tidak dialasin sih nasinya." Protes Ariff.


"Kan kamu punya tangan sendiri, jadi ambil saja sendiri." Ucap Bu Siti.


"Ih Ibu kok gitu sih, sekarang mah sudah tidak menganggap Ariff anak Ibu ya." Ariff pura pura marah.


"Emang Iya, Ibu enggak mau menganggap kamu anak Ibu lagi." Ucap Bu Siti.


"Ih Ibu kok bilangnya begitu sih, awas saja loh Bu, Ariff tidak akan mempertemukan Ibu sama cucu Ibu." Ancam Ariff.


"Iss main ngancam segala. Lagian Ibu akan bawa kabur ah, Nurul ke itali dan biarkan Nurul bersama Ibu disana." ucap Bu Siti.


Uhuk.... Uhuk.... tiba tib Nurul pun terbatuk.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" tanya Bu siti.


"I-iya baik baik saja kok Bu. Nurul tiba tiba saja tenggorokannya gatal begitu saja," jawab Nurul.


"Makannya hati hati kalau lagi makan itu, pelan pelan." ucap Ariff.


"Iya. Oya Bu, apakah Nurul tidak salah dengar kalau Ibu mau membawa Nurul ke Italia?" Tanya Nurul dengan hati hati.


"Iya sayang tentu saja. Lagian enggak mungkin kan Ariff tinggal di indonesia, dia kan harus meneruskan perusahaan Ayahnya. Apalagi Ayah sudah tidak muda lagi, butuh istirahat." ucap Bu siti sambil menatap Nurul.


"Jadi gimana, kamu maukan ikut bersama Ariff ke Italia?" tanya Bu Siti.


"Gimana ya Bu, tidak mungkin secepat itu untuk bisa pergi meninggalkan Indonesia. Lagian disini terlalu banyak kenangan bersama mendiang Ibu dan Ayah." ucap Nurul sambil menatap Bu Siti.


"Lagian Ibu tidak memaksa kok sayang, jika kamu belum siap. Dan bila nanti kamu berubah pikirin dan sudah siap, maka segera menemui Ibu dan tinggal bersama Ibu disana. Apalagi sebentar lagi Ibu jadi Omah, dan pasti bakal rame dengan kehadiran cucu Omah." ucap Bu siti sambil tersenyum kepada Nurul.


"Iya Bu." Nurul pun membalas senyuman Bu Siti.


"Ya sudah, ayo kita makan lagi." Ucap Bu siti.


"Baik Bu," jawab Nurul.


"Ibu, nasi untuk Ariff mana? masa tega sih, sama anak sendiri." protes Ariff bagaikan anak kecil yang pingin dimanja sama Ibunya.


"Iya bawel, ini Ibu alasin nih." Bu siti sambil mengalaskan makanannya.


"Terima kasih Bu." ucap Ariff kepada Ibunya saat sudah mengalaskan makanan untuknya.


"Iya Nak." jawab Bu siti.

__ADS_1


Kini mereka pun sedang menikmati makan siangnya.


__ADS_2