
Di Tempat lain.
Disebuah perusahaan, kini ada seorang Pria dengan berpakain kemeja berlengan panjang berwarna putih dan celana katun panjang berwarna hitam serta di sertai dengan jas nya berwarna hitam yang kini semakin kelihatan tampan, yang membuat orang yang melihatnya begitu iri dengan tubuh yang ada pada diri seorang Pimpinan tersebut yang begitu hampir sempurna. Kini Fattan pun sedang memimpin rapat tersebut yang dihadiri oleh para pengusaha.
Semua para pengusaha yang hadir disana pun memberikan sambutan dan tepuk tangan sangat meriah saat Fattan selesai memimpin rapat tersebut.
"Saya sangat bangga padamu Pak Fattan, dan terima kasih atas apresiasinya hari ini sangat memuaskan untuk kita semuanya." Ucap Pak Ramzi mewakili pembicaraan yang lain.
"Thank you very much. Semoga kita tetap menjalin persaudaraan dan Saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya, semoga ke depannya kita semua makin maju dan berkembang pesat." Ucap Fattan sambil tersenyum terhadap para pengusaha yang hadir.
Lalu semuanya memberikan tepuk tangan. Setelah semuanya selesai rapat, satu persatu para pengusaha yang hadir pun mulai berpamitan pulang. Kini hanya ada Fattan, Della dan Ariff.
"Saya sangat bangga sama kalian, dan Saya ucapkan terima kasih karena kalian sudah banyak membantu Saya." Ucap Fattan sambil menatap Ariff dan Della bersama sama.
"Jadi gimana nih? Ada bonus dong buat naikin gaji karena sudah berhasil membantu kamu sukses." Ucap Ariff sambil menaikan dua alisnya.
"Ck, kamu itu selalu saja minta bonus. Tapi tidak apa apalah nantu gaji kalian akan saya kasih bonus 50 persen." Ucap Fattan.
"Seriusan Pak?" Tanya Della merasa tidak percaya
"Heem." Jawab Fattan singkat.
"Terima kasih Pak Fattan, baik deh." Ucap Della.
"Dari dulu, Saya sudah baik. Setiap orang yang sukses membuat perusahaan samakin berkembang pesat maka akan Saya kasih uang bonus." Ucap Fattan.
"Mzz.. jadi begitu ya." Jawab Della.
"Ya sudah, ayo kita makan diluar karena sekarang waktunya makan siang." Ajak Fattan.
"Baik Pak Bos." Jawab Ariff dan Della bersamaan.
Lalu Fattan, Della dan Ariff pun meninggalkan ruangan rapat dan berjalan menuju mobil untuk makan siang di restoran. Namun tiba tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabrak Fattan.
Buuggkk.. aww... ringis wanita tersebut saat bertabrakan dengan sang pemilik perusahaan Adijaya group.
"Maaf Pak, Saya tidak sengaja." Ucap Wanita tersebut sambil membungkukan tubuhnya.
"Iya tidak apa apa." Jawab Fattan.
__ADS_1
Lalu mereka pun saling menatap satu sama lain.
"Kamu?" Ucap Fattan dan Wanita tersebut bersamaan.
"Hei apa kabar Fattan, sudah lama ya kita tidak berjumpa." Ucap Laras.
"Iya." Jawab Fattan dengan datar.
"Oya Fattan lagi ngapain disini?" Tanya Laras sambil menatap Fattan yang kini menjadi dingin.
"Emangnya kamu tidak tahu, siapa dia hah?" Tanya Ariff.
"Maksud kamu apa?" Tanya Laras merasa tidak mengerti maksud Ariff.
"Ck, pura pura tidak tahu. Dia kan Pimpinan kita disini, jadi untuk beberapa bulan Fattan akan tinggal disini berurusan dengan proyek yang sedang dijalankan dikota lain." Gerutu Ariff sambil menatap Laras.
"Oh jadi ini perusahaan milikmu? Wah keren banget ya, apalagi sedang membangun proyek lagi. Selamat ya Fattan." Laras sambil tersenyum kepada Fattan.
"Heem." Jawab Fattan.
"Oya Kak Laras lagi ngapain disini?" Tanya Della.
"Bekerja? Emangnya kamu tidak kerja lagi dirumah sakit?" Tanya Fattan.
"Tidak, semenjak aku menikah dengan Rio sudah tidak bekerja lagi disana. Ketika resmi bercerai dari Rio, Aku berniat mau kerja lagi dan melamar katanya disana sudah tidak menerima lagi. Kebetulan ada Pak Gali menawarkan bekerja di perusahaan ini sebagai Dokter pribadi di perusahaan ini untuk para pegawai dan para Staff Staff bila ada yang sakit, aku pun setuju." Ucap Laras sambil tersenyum.
"Kasihan banget ya nasib Kak Laras. Tapi untung ada orang yang berbaik hati menawarkan pekerjaan." Ucap Della.
"Iya. Aku merasa terkejut ketika mengetahui kalau perusahaan ini milik orang yang pernah hadir di dalam kehidupanku. Aku pun sangat senang bisa bertemu kembali bersama dia." Ucap Laras sambil menatap Fattan.
"Ekhmzz.. ya sudah kita berangkat!! Sebelum mulai kembali bekerja." Ucap Fattan sambil menatap Ariff dan Della.
"Baik Pak." Jawab Ariff dan Della.
"Fattan!! Kamu kenapa sih, kayaknya benci banget sama aku hah? Emang aku tahu, dulu aku memang salah Fattan." Ucap Laras menarik lengan Fattan.
"Lepasin tanganmu ini!! Sudahlah Laras, yang lalu biarlah berlalu jangan bahas yang tidak penting lagi." Ucap Fattan sambil menatap tajam Laras.
"Kamu tahu tidak Fattan, aku disini selalu berharap bisa bersamamu kembali. Aku tahu kamu pasti masih sayang kan sama aku?" ucap Laras.
__ADS_1
Lalu Fattan pun hanya menatap sekilas Laras tanpa berbicara sama sekali.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku Fattan? Apakah emang benar kamu masih mencintaiku kan?" Tanya Laras.
"Ck, so kepedean sekali kamu ini hah. Maaf dihatiku sekarang bukan namamu yang berada. Jadi maaf jangan terlalu berharap kita bisa bersatu kembali." Ucap Fattan sambil menatap sinis Laras.
"Oh aku tahu, pasti dihatimu ada Istrimu itu kan? Orang yang sudah merebut pujaan hatiku yang sangat aku cintai. Sungguh sialan banget Istrimu." Ucap Laras.
"Kamu!! Ingat jangan berani menghina Istriku, dan asal kamu tahu Syiffa ada orang yang selalu membuat ku salut dengan sikapnya, juga orang yang selalu mengajarkan aku tentang kesabaran serta bagaimana belajar hidup menghargai seseorang! Jadi sekali lagi kamu menghina Istriku, aku akan langsung pecat kamu dari perusahaanku!!" Gerutu Fattan dengan kesal lalu pergi meninggalkan Laras dan menyusul Ariff dan Della yang terlebih dulu berjalan.
Ya ampun, aku lupa kalau Fattan kan sebagai Pimpinan diperusahaan ini. Bodoh banget aku sampai menghina Istrinya. Aku harus berhati hati lagi dalam bersikap. Oke, sekarang aku gagal untuk mendekati kamu. Tapi lihat saja suatu saat nanti aku akan bikin hubungan kalian berantakan ucap Laras pada diri sendiri lalu menyeringai senyum tipia dan pergi berjalan ke ruangan pekerjaannya.
"Ayo kita jalan!!" Perintah Fattan.
"Kamu baik baik sajakan Tan?" Tanya Ariff merasa ada sesuatu terjadi hingga melihat wajah Fattan begitu kesal.
"Sudahlah jangan banyak bicara dan jangan bahas si Laras itu. Bagi mana bisa Pak Ramzi menerima Laras sebagai Dokter diperusahaan ini." Gerutu Fattan sambil melonggarkan dasinya yang merasa sesak.
"Tapi saya pernah dengar, kalau waktu itu lagi membutuhkan seorang Dokter untuk bekerja diperusahaan kita. Dan Dokter yang dulu memilih mengundurkan diri dan pensiun." Ucap Ariff sambil menatap Fattan dari kaca depan mobil.
"Iya kenapa harus Laras juga yang jadi Dokter pribadi diperusahaan kita, kan pasti banyak tuh disana yang bersedia jadi Dokter di perusahaan kita." Ucap Fattan.
"Sudahlah Kak, apa salahnya sih Kak Laras bekerja diperusahaan kita? Selama Kak Laras tidak .. " ucapan Della sengaja digantung lalu menatap Ariff dan Fattan dari kaca depan mobil.
"Kenapa kamu malah menatapku? Coba lanjutkan lagi tuh bicaranya. Selama tidak apa hah?" Tanya Ariff sambil menatap Della.
"Iya selama Kak Laras tidak mengganggu Kak Fattan diluar masalah pribadinya." Ucap Della dengan hati hati.
"Benar tuh Tan, Saya setuju apa yang diucapkan Della." Ucap Ariff.
"Kan sudah saya bilang, cukup jangan bahas dia lagi!" Ucap Fattan.
"Baiklah." Jawab Della dan Ariff bersamaan.
"Kita mau restoran mana nih?" Tanya." Ariff saat sudah berada di dua tempat restoran.
"Yang disana saja." Jawab Fattan sambil menunjuk tempat restoran yang di maksud.
"Baiklah." Ariff sambil berjalan menuju restoran yang dimaksud.
__ADS_1
Lalu Fattan, Ariff dan Della pun keluar dari mobilnya ketika sudah sampai direstoran yang dituju. Kemudian berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.