
Di tempat lain.
"Makasih ya Fattan, selama ini kamu sudah menemaniku disini." Ucap Laras yang kini sedang duduk diatas kursi roda.
"Iya sama sama Laras. Kamu cepat sembuh ya, supaya nanti bisa kumpul lagi bersama keluarga kamu disana. Emangnya kamu tidak kangen sama mereka?" Tanya Fattan sambil menatap Laras yang kini berada dihalaman rumah sakit.
"Tentu saja aku kangen sama mereka. Aku juga begitu pastinya pingin sembuh, tapi apalah daya mungkin umurku tidak akan lama lagi." Ucap Laras dengan wajah sedih.
"Ssstt.. kamu tidak boleh berbicara begitu Laras. Kamu tidak boleh pesimis, kamu harus yakin, kamu pasti sembuh." Fattan mencoba menyemangati Laras.
"Iya ya bawel. Ternyata kamu tidak pernah berubah dari dulu, selalu saja membuatku gemas. Inilah yang sangat aku rindukan darimu Fattan." Ucap Laras sambil menatap Fattan.
"Sudahlah Laras, kamu jangan bahas masa lalu kita. Kamukan sudah janji sama Saya. Lagian yang lalu biarlah berlalu, kini biarlah Saya bersama masa depan Saya." Ucap Fattan sambil tersenyum kepada Laras.
"Iya Tan." Jawab Laras.
"Ya sudah, yuk kita balik lagi keruangan tidak baik lama lama diluar apalagi anginnya kencang banget tidak sehat buat tubuh kamu." Ucap Fattan.
"Iya." Jawab Laras sambil mengganggukan kepala.
Lalu Fattan pun mendorong kursi roda yang kini diduduki oleh Laras dan berjalan menuju ruangannya.
"Maaf ya Tan, aku sudah merepotkanmu." Ucap Laras merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa kok Laras. Malahan saya senang, bisa menyemangati kamu agar kamu cepat sembuh." Ucap Fattan.
"Terima kasih Tan. Oya aku bisa minta tolong enggak sama kamu?" Tanya Laras.
"Tentu saja boleh kok. Emangnya kamu mau minta tolong apaan?" Tanya balik Fattan.
"Tolong bantuin aku, untuk duduk di atas kasur." Ucap Laras.
"Oh iya, saya lupa kalau kamu ini kan masih belum bisa untuk berjalan maaf ya." Ucap Fattan.
"Tidak apa apa kok, emang aku pantas untuk tidak bisa berjalan." Ucap Laras.
"Larasss!! Saya tidak suka ya, jika kamu terus bersikap kayak begini. Kamu tuh harus optimis pasti kamu sembuh Laras. Percuma saja Saya menemani kamu disini tapi kamu selalu tetap pesimis dan tidak selalu berharap untuk kemauan sembuh." Ucap Fattan merasa kesal dan marah.
__ADS_1
"Maaf ya Tan, bukan maksud begitu dan bukan maksud membuatmu marah. Tapi aku merasa percuma hidup juga tapi tidak ada yang memperdulikanku Tan." Ucap Laras tidak terasa airmatanya mengalir membasahi pipinya.
"Kamu bilang tidak ada yang peduli sama kamu hah? Terus buat apa saya setiap hari selalu menemani kamu bahkan sampai belain pulang kerja sengaja mampir kesini hah? Itu karena Saya peduli sama kamu, Laras. Saya pingin menyemangati kamu supaya cepat sembuh. Tapi kenapa kamu bilang begitu tadi? Oke, jika kamu tidak mau saya untuk membantu kamu lagi ya sudah Saya pergi saja dari sini." Ucap Fattan yang kini semakin marah dan merasa kecewa.
"Jangan pergi Fattan!! Tetaplah disini temani aku. Kamulah satu satunya orang yang selalu membuat aku semangat. Tetaplah disini temaniku." Laras sambil menahan lengan Fattan untuk tidak pergi lalu memeluknya.
Lalu Fattan pun hanya diam saja, kemudian menguraikan pelukannya.
"Kamu harus janji ya, untuk tidak berbicara seperti itu lagi. Saya paling enggak suka bila ada seseorang yang suka menyalahkan diri sendiri." Ucap Fattan sambil mengusap airmata Laras yang membasahi pipinya.
"Iya, aku janji kok." Laras sambil tersenyum.
Lalu datanglah seorang perawat sambil memberikan sebuah makanan untuk makan malam Laras.
"Permisi maaf ganggu ya. Ini makanan malam buat Dokter Laras." Ucap Perawat tersebut sambil menyimpan makanannya diatas meja.
"Ya terima kasih Jeni." Ucap Laras sambil menatap perawat tersebut.
"Iya sama sama Dok. Ya sudah kalau gitu saya permisi Dok, Pak." Ucap Jeni.
Lalu Jeni pun dengan segera keluar dari ruangan inap Laras dan kini hanya ada Fattan dan Laras di dalam ruangan tersebut.
"Sini biar Saya suapin." Ucap Fattan sambil mengambil makanan yang tadi perawat kasih.
"Tidak usah Tan, biar aku saja makan sendiri." Laras sambil menatap Fattan.
"Sudah, biar Saya saja. Buka mulutnya a.. " ucap Fattan sambil memberikan sesendok makanan tersebut kemulut Laras. Lalu Laras pun dengan segera membuka mulutnya.
"Terima kasih Tan." Ucap Laras.
"Heem." Jawab Fattan kemudian menyuapkan lagi makanannya kemulut Laras begitulah seterusnya hingga selesai.
Aku enggak apa apa tidak bisa memilikimu, yang penting kamu selalu ada disini seperti ini disisiku. Apakah aku harus seperti ini selamanya biar bisa kamu selalu disisiku? Kenapa penyesalan itu datangnya akhir, aku sungguh menyesal telah mensia sia kanmu. Andai waktu bisa diputar tidak akan aku ulangi lagi seperti itu batin Laras tiba tiba mengeluarkan airmatanya.
"Loh, kamu kenapa menangis?" Tanya Fattan sambil mengusap airmata yang mengalir dipipi Laras.
"Enggak kenapa napa kok. Makasih ya Fattan atas semuanya." Ucap Laras.
__ADS_1
"Iya Laras." Jawab Fattan.
"Ya sudah, ini makan obat dulu terus Istirahat tidur biar cepat sembuh." Ucap Fattan sambil menyodorkan obatnya kemudian Laras meminum obat tersebut.
"Heem." Jawab Laras sambil mengganggukan kepala.
"Oya, mungkin besok Saya tidak bisa menemanimu lagi disini." Ucap Fattan.
"Loh, kenapa? Emangnya sibuk kerja ya?" Tanya Laras.
"Enggak kok. Cuma besok Saya harus pulang dulu ke Indonesia, untuk mengecek juga perusahaan disana." Jawab Fattan.
"Kenapa enggak Ariff saja yang suruh balik kesana." Ucap Laras dengan sedikit kesal.
"Ya tidak bisa begitulah, biarkan Ariff sama Della disini saja. Dan Saya akan kesana sekalian mau ketemu Istriku disana." Ucap Fattan sambil menatap Laras.
"Bilang saja kangen mau ketemu Istrimu kan? Jangan basa basi mau ngecek perusahaan disana." Ucap Laras.
"Ya lebih tepatnya begitu sih. Tapi emang benar sambil mengecek kondisi perusahaan disana." Ucap Fattan.
"Oh.. jangan lama lama disana ya Fattan, sungguh kamu penyemangat hidupku. Jadi tetaplah ada disisiku selamanya sebelum hidupku berakhir." Ucap Laras.
"Maaf Laras, mungkin Saya tidak bisa menemani kamu selamanya. Saya punya Istri jadi mana mungkin bisa tapi Saya sebisa mungkin akan selalu mengunjungi kamu kesini sampai kamu sembuh. Sekarang tidur ya. Jangan bicara begitu Laras, kamu pasti sembuh. Sudahlah sekarang kamu tidur, biar cepat sembuh." Ucap Fattan.
"Baiklah." Ucap Laras. Kemudian menyadarkan kepalanya diatas bantal. Dengan perlahan lahan Laras pun tertidur.
Kenapa kamu masih mengharapanku Laras. Andai saja dulu kamu tidak menghianatiku mungkin kita bisa bersatu sampai sekarang. Saya bingung sekarang apa yang harus Saya lakukan bila kamu terus hadir dikehidupan Saya dan Syiffa. Masa Saya harus menceraikan Syiffa? Agar kita bisa bersatu lagi Batin Fattan sambil menatap Laras yang kini sudah tertidur lelap.
Sudah jam sepuluh malam, hoammss.. ngantuk banget, mungkin lebih baik tidur saja disini sampai menunggu besok orangtua Laras datang kesini ucap Fattan. Lalu Fattan pun tertidur dengan tangan sendiri sebagai bantal sambil duduk dikursi dan disamping Laras ala ala film film begitu.
Tiba tiba handphone Fattan pun berbunyi, pertanda ada panggilan masuk. Laras pun terbangun saat mendengar suara handphone dan menatap handphone milik Fattan yang berbunyi.
Ck, ternyata dia lagi yang menelpon. Selama Suamimu ada disini menemaniku, kamu tidak akan bisa mengobrol dengan Suamimu. Ini saat yang sangat bagus Fattan bisa selalu ada disisiku ucap Laras sambil tersenyum sinis. Kemudian mengambil handphone Syiffa dan mematikan sambungan teleponnya. Kemudian menghapus daftar riwayat masuk panggilan dan pesan yang dikirim oleh Syiffa. Beginilah tiap hari kalau Fattan menemani Laras tepat handponennya selalu ada di Laras dan Laras pun melakukan hal seperti tadi.
Maafkan diriku Syiffa harus melakukan hal ini. Lagian salah kamu sendiri kenapa harus hadir dikehidupan aku dan Fattan batin Laras. Kemudian Laras pun mengembalikan handphone milik Fattan seperti semula dan menatap Fattan yang sedang tertidur lalu mengusap lembut rambut milik Fattan. Karena masih mengantuk, Laras pun kembali tidur kembali.
*terima kasih, yang sudah mampir dikaryaku yang baru menetes ini. Jangan lupa Kakak yang baik hati, sholehah kasih like dan comennya. Terima kasih 🙏😍😍
__ADS_1