Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.180


__ADS_3

Keesokan Harinya


Pagi pun telah tiba, fajar pun menyongsong disebelah timur dan mengeluarkan cahaya yang menembus jendela kamar pengantin baru. Kemudian Syiffa pun terbangun dan langsung melihat jam dinding.


Ya ampun sudah siang, hari ini kan harus pergi mengantarkan Ibu pulang ke kampung halaman gerutu Syiffa lalu bangun dari tempat tidurnya kemudian  menatap suaminya yang masih tertidur pulas lalu Syiffa pun tersenyum.


Aww.. sakit sekali ini, semua gara gara ulah suamiku ini akibat kejadian semalaman sampai dini hari gerutu Syiffa sambil berjalan memunguti bajunya yang berantakan dilantai lalu berjalan ke bathroom.


Byuur.. suara air membasahi tubuhnya kemudian Syiffa pun mengambil sabun dan shampoo lalu merendam seketika untuk merefleksasikan pikirannya dan tubuhnya yang sedikit lelah dengan aroma wangi bunga sakura yang menempel ditubuhnya.


Segar banget nih tubuhku apalagi nih aroma sabunnya wangi banget membuat pikiran ku jadi refleks nih. Aku enggak menyangka akan menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dinegeri ini. Kalau aku pikir pikir padahal banyak wanita cantik dan kaya raya kenapa Kak Fattan lebih memilih aku jadi Istrinya? Tapi sudahlah jangan dipikirin mungkin ini sudah jodohnya aku di atur oleh sang maha Kuasa. Yang penting sekarang aku harus jadi Istri yang bisa berguna bagi suamiku dan selalu nurut kepada Fattan Adijaya hahaha tawa Syiffa sambil keluar dari bathroom.


"Kenapa kamu tertawa sendiri di dalam?" Tanya Fattan saat melihat Istrinya kelaur dari kamar mandi.


"Eh Kakak? Ternyata sudah bangun Kak?" Tanya Syiffa merasa kaget saat melihat suaminya berada di balik pintu.


"Seperti yang kamu lihat, pastinya sudah bangun. Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku hah?" Tanya Fattan sambil menatap Istrinya.


"Emangnya harus dijawab ya Kak? Lagian saya tertawa karena lucu saja mengingat-"


"Pasti mengingat kejadian tadi malam kan? Malam yang penuh hot dan sensasi hahaha." Ucap Fattan memotong pembicaraan Istrinya dan sambil menaikan dua alisnya.


"Iss so tahu lagi. Lagian Kakak sekarang pikirannya mesum mulu ah. Sudah Kakak minggirlah saya mau pakai baju nih sudah siang," ucap Syiffa sambil mendorong tubuh suaminya.


"Iss Istriku ini masih bar bar banget ya. Emangnya kamu enggak mau nih lakuinnya lagi nih seperti semalam?" Teriak Fattan yang kini masih berada di balik pintu.


"Enggak!!" Ucap Syiffa sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil bajunya dan menyiapkan baju suaminya.


"Ck, dasar Istriku ini ya. Bilang saja enggak mau bentar kan, pinginnya lama hahaha," tawa Fattan sambil tersenyum lalu masuk ke dalam bathroom.


Dasar Fattan Adijaya menyebalkan sekali, dia malah menuduhku yang enggak enggak gerutu Syiffa yang kini sudah selesai memakai baju dress berlengan pendek dan panjang sampai sebawah lutut berwarna biru muda lalu menyisir rambut panjangnya setelah itu memakaikan sedikit lipstitn dan sedikit alas bedak.


"Sayang mana bajunya, sudah kamu siapinkan?" Tanya Fattan sambil  mengusap usap rambut basahnya dengan memakai handuk.


"Sudah saya siapin kok Kak, ini baju sama celananya," ucap Syiffa sambil menyodorkannya.

__ADS_1


"Terima kasih sa-" ucapan Fattan tergantung saat menatap Istrinya. Dia begitu terpesona dengan penampilannya dan wajahnya yang sangat cantik.


"Haloo.. Kak kenapa bengong sih? Ini baju sama celananya." Ucap Syiffa menyadarkan lamunan suaminya.


"Eh iya sayang, terima kasih," ucap Fattan sambil mengambil baju dan celananya yang sudah disiapakan oleh Istrinya.


"Iya Kak," jawab Syiffa sambil tersenyum.


"Oya sayang, kamu cantik banget hari ini tapi sayangnya kecantikanmu mungkin bukan buat saya, pasti buat orang lainkan?" Tuduh Fattan.


"Iss Kakak ini apa apaan sih nuduh orang sembarangan saja. Ya tentu sajalah ini demi Kakak, lagian saya baru kali ini loh dandan seperti ini supaya tidak memalukan orang  saja kalau Kakak punya Istri cantik." Gerutu Syiffa.


"Iya juga sih emang bagus. Tapi Kakak enggak suka bila kamu harus memperlihatkan tubuh indahmu dengan memakai pakaian seperti ini. Dan apa kamu lupa ya lihat masih ada kelihatan kissmart dilehermu," ucap Fattan sambil menatap leher jenjang Syiffa.


"Oya Kak, saya lupa hehe.. lagian kenapa sih saya tidak diperbolehkan baju seperti ini?" Tanya Syiffa yang kini sudah menggantikan bajunya dengan pakaian panjang dan celana jeasnnya.


"Karena Kakak enggak suka orang lain melihat keindahan tubuhmu. Kamu itu milikku, semua yang ada pada dirimu milikku jadi jangan sampai kamu memperlihatkan keindahanmu terhadap orang lain." Ucap Fattan sambil menarik pinggang Istrinya sehingga mata mereka saling berhadapan dan hidung mereka bersentuhan.


"Ba-baiklah kalau begitu Kak, kalau pakai baju ini gimana?" Tanya Syiffa sambil mendorong tubuh suaminya.


"Ya sudah mari kita ke bawah Kak, kasihan mereka pasti nungguin kita." Ucap Syiffa sambil menatap suaminya.


"Baiklah, ayo!!" Ajak Fattan sambil menyelipkan tangannya ke tangan Istrinya.


Lalu mereka pun berjalan ke bawah tangga dan menuju meja makan.


"Selamat pagi semuanya," sapa Syiffa pada orang orang yang ada di meja makan lalu tersenyum.


"Selamat pagi juga Nak, sini duduk Nak. Kebetulan Bi Ati dan Ibu kamu sudah memasak makanan yang banyak nih buat kita." Ucap Bu Angel sambil menatap besannya.


"Benarkah itu Ibu?" Tanya Syiffa pada Ibunya sendiri.


"Iya betul Nak. Ya sudah Nak Fattan, Nak Syiffa, mari duduk cobain masakan ala Ibu siapa tahu pada suka," Ajak Bu Nina sambil menatap menantunya dan anaknya kemudian menatap Besannya Bu Angel dan Ayah Anwar. Lalu Syiffa dan Fattan pun berjalan menuju meja makan dan duduk dikursi yang kosong.


"Oya Bu Nina, ini makanannya enak sekali ya Bu. Kenapa enggak mencoba usaha bisnis saja misalnya membuka warung makan gitu Bu," ucap Bu Angel memberikan solusi. Karena Bu Angel merasa selama Bu Nina tinggal disini suka ikut memasak dan masakannya pun enak sekali.

__ADS_1


"Ya benar Bu Nina apa yang dikatakan oleh Istriku itu, ada baiknya Bu Nina membuka usaha warung makan kan sangat disayangkan makanannya selalu enak tapi tidak dikembangkan bakatnya." Ucap Ayah Anwar sambil menatap Bu Nina.


"Ya maunya sih gitu Bu Angel, Ayah Anwar, itu sudah impian saya dari dulu tapi mau gimana lagi kan Ibu Angel sama Ayah Anwar tahu sendiri, saya ini hanya orang biasa jadi mustahil bisa membuka warung makan," ucap Bu Nina sambil menatap Ibu Angel, Ayah Anwar kemudian Syiffa dan Fattan.


"Kalau masalah itu Ibu tidak usah khawatir Bu, biar Fattan yang akan membelikan tempat yang bagus untuk membuka usaha Ibu." Ucap Fattan sambil menatap Bu Nina.


"Enggak usah Nak, kamu enggak perlu repot repot. Biarkan saja nanti kalau Ibu ada rezekinya insya allah Ibu akan membukanya sendiri." Ucap Bu Nina menatap kembali Fattan.


"Jangan berkata begitulah Bu, sekarang Fattan kan anak Ibu, jadi enggak salahkan bila Fattan membelikan tempat usaha buat Ibu," ucap Fattan.


"Ya enggak sih Nak, tapi-"


"Sudahlah Bu Nina terima saja tawaran Fattan, lagian enggak baik loh menolak rezeki. Apalagi yang dikatakan Fattan benar, dia sudah menjadi anak Ibu juga jadi enggak ada salahnya kan seorang anak  memberikan sebuah tempat usaha untuk Ibunya." Ucap Ayah Anwar memotong pembicaraan Bu Nina.


"Gimana ya?" Ucap Bu Nina merasa bingung sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Sudahlah Bu Nina terima saja, enggak perlu merasa bingung gitu, kita disini satu keluarga Bu demi kebaikan masa depan Ibu juga." Ucap Bu Angel lalu terseyum pada Bu Nina.


"Ya betul Ibu apa yang ucap oleh Bu Angel tapi ini terserah Ibu, kita tidak memaksa ko," ucap Syiffa sambil menatap Ibunya.


"Ya sudah kalau begitu, sebelumnya Ibu ucapkan terima kasih kepada Bu Angel, Ayah Anwar dan juga Nak," Bu Nina sambil tersenyum.


"Jadi Ibu menerimanya?" Tanya Fattan untuk memastikan dulu.


"Iya Nak," jawab Bu Nina sambil menganggukan kepala.


"Syukurlah kalau begitu, besok Fattan akan membelikan lahan untuk tempat membuka warung makan ya Bu," ucap Fattan.


"Iya Nak terima kasih." ucap Bu Nina.


"Iya Bu," jawab Fattan sambil tersenyum.


"Ya sudah mari kita lanjutin lagi  makannya, mumpung masih hangat kalau sudah dingin tidak enak," ucap Bu Nina.


Lalu mereka pun mulai menikmati sarapan paginya tanpa ada yang berbicara satu pun.

__ADS_1


__ADS_2