
Lalu Ariff dan Adi pun berjalan menghampiri Nurul. Dengan tiba tiba Adi pun mengantikan posisi satpam untuk mengendong Nurul unit kesehatan yang ada diperusahaan.
"Sini pak, biar saya saja yang bawa Nurul." Ucap Adi sambil menatap Leo sang satpam.
"Tidak perlu Di, biar saya saja yang membawa Nurul kesana. Lebih baik kamu kembali bekerja dan pantau seluruh Line." Ariff sambil menatap Adi.
"Baiklah pak, kalau begitu." Ucap Adi kembali ke tempat pekerjaannya untuk menjalankan perintah dari Ariff.
Dengan segera Ariff pun, membawa Nurul ke tempat unit kesehatan yang ada di perusahaan.
Kayaknya itu kak Arif deh. Terus siap yang pingsan? Dan siapa wanita yang kini sedang digendong kak Ariff?" Ucap Syiffa yang kini sedang berada di jalan menuju kantin. Awalnya Fattan menolak istrinya untuk ke kantin sendiri dan lebih baik memerintah OB saja. Tapi Syiffa kekeuh menolak dan bilang sama suaminya, katanya Ibu hamil itu harus banyak berjalan kaki biar lahirannya lancar dan cepat ke bawah. Dan akhirnya Fattan pun menuruti kemauan istrinya.
"Oya pak, siapa itu yang pingsan?" Tanya Syiffa kepada Satpam yang kini sedang berjalan melewati dirinya.
"Itu Bu, yang pingsan Mbak Nurul." Jawab Leo satpam yang menolong Nurul tadi.
"Nurul? Ya sudah, terima kasih ya pak." Ucap Syiffa.
"Sama sama Bu. Ya sudah, kalau begitu saya permisi ya Bu." Pamit Leo kepada Syiffa.
"Iya pak." Jawab Syiffa. Lalu dengan segera Leo pun meninggalkan Syiffa dan berjalan menuju gudang.
Nurul? Apakah yang dimaksud pak Leo, Nurul sahabat saya? Ya sudah, mending saya samperin pak Ariff saja ucap Syiffa sambil berjalan menuju unit kesehatan.
"Loh pak Ariff, Nurul kenapa?" Tanya dokter Shinta kepada Ariff. Saat Ariff sudah berada di unit kesehatan dan mentidurkan Nurul di atas kasur yang ada diruangan tersebut.
"Saya juga tidak Dok. Tadi tiba tiba Nurul pingsan begitu saja." Ucap Ariff.
"Baiklah, kalau begitu biar saya periksa dulu pak." Dokter Shinta.
"Iya silahkan Dok. Kalau begitu saya tunggu di luar ya Dok." Ucap Arif.
" Ya silakan Pak." Ucap dokter Shinta.
Lalu Ariff pun berjalan menuju keluar dan dokter Shinta pun dengan segera memeriksa keadaan kondisi Nurul.
"Kak Ariff?" Panggil Syiffa.
"Eh Syiffa. Kamu ada disini ternyata?" Tanya Ariff.
"Iya kak. Oya kak tadi yang pingsan siapa kak?" Tanya Syiffa.
"Nurul, Syiff." Jawab Ariff.
"Apa, Nurul? Emangnya kenapa dia kak?" Tanya Syiffa.
"Mana saya tahu Syiff, tiba tiba saja Nurul pingsan begitu saja." Ucap Ariff.
"Ya ampun, bagaimana bisa Nurul seperti itu." Ucap Syiffa.
"Entahlah." Jawab Ariff.
Tiba tiba dokter Shinta pun keluar. Syiff dan Ariff pun berjalan mendekati dokter Shinta.
__ADS_1
"Gimana Dok, keadaan Nurul?" Tanya Syiffa.
"Eh Bu Syiffa, ternyata ada disini ya." Ucap dokter Shinta menatap Syiffa.
"Jangan panggil Ibu, Dok. Panggil saja Syiffa." Protes Syiffa.
"Lagian bentar kamu bakal jadi Ibu tuh. Ck, masih protes." Gerutu Ariff sambil menatap Syiffa.
"Enggak usah ikut campur, ini urusan saya!" Ucap Syiffa sambil menatap tajam Ariff.
"Ck, menyebalkan sekali semenjak dia hamil." Ucap Ariff.
Lalu Syiffa pun tidak memperdulikan ucap Ariff.
"Oya Dok, gimana kabar Nurul?" Tanya Syiffa.
"Eh iya, saya lupa tadi tidak menjawab perkataan Syiffa.
"Dia baik baik saja kok Syiff, tapi...." ucapan dokter Shinta sengaja digantung karena sangat bingung harus menjelaskannya.
"Tapi kenapa Dok?" Tanya Syiffa sambil mengerutkan keningnya dan penasaran dengan ucapan dokter Shinta yang digantung.
"Saya mau tanya sama kamu Syiff, apakah Nurul sudah menikah?" Tanya dokter Shinta.
"Belum Dok. Emangnya kenapa Dok?" Tanya Syiffa.
"Nurul hamil Syiff," ucap dokter Shinta.
Deg. Jantung Ariff pun serasa berhenti berdenyut. Sesak di dalam dada tiba tiba. Seharusnya kehamilan Nurul tidak ada yang boleh mengetahui, hanya Nurul dan Ariff yang tahu. Tapi harus gimana lagi, ini sudah terjadi.
Kayaknya ada sesuatu yang tidak beres sama Nurul. Saya harus segera bertanya sama Nurul, kenapa Nurul tidak pernah bercerita tentang semua ini. " Oya Dok, bolehkah saya masuk ke dalam?" Tanya Syiffa.
"Tentu saja, boleh kok Syiff." Jawab dokter Shinta.
"Baiklah Dok. Kak Ariff, ayo kita masuk ke dalam." Ajak Syiffa.
"Eh iya Syiff. Kamu saja duluan masuk ke dalam, nanti saya menyusul ke dalam." Ucap Arif.
"Baiklah, kalau begitu kak." Jawab Syiffa sambil berjalan masuk ke dalam ruangan, dimana Nurul berada.
"Ya sudah pak Ariff, saya permisi dulu ya." Pamit dokter Shinta
"Iya silahkan Dok," jawab Ariff.
Kemudian dokter Shinta pun, meninggalkan Ariff sendirian.
Bagaimana ini? Tamat sudah riwayat saya. Sial, kenapa ini bisa terjadi seperti ini. Harus menjawab apa, bila Syiffa dan Fattan mengetahui kalau anak yang dikandungan Nurul adalah anakku. Arrggh.... sudahlah Riff sabar, kamu pasti bisa menghadapi mereka dan apa salahnya juga, saya menyanggupi untuk menikahi Nurul ucap Ariff pada diri sendiri lalu menghembuskan napas kasarnya dan berjalan masuk ke dalam ruangan dimana Nurul dan Ariff berada.
"Nurul," panggil Syiffa.
"Eh Syiff, kamu ada sini?" Tanya Nurul.
"Iya Nur, saya ada disini. Bosen dirumah mulu, jadi ikut suami saja kesini." Jawab Syiffa sambil berjalan menghampiri Nurul.
__ADS_1
"Oh, gitu ya Syiffa. Lalu bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Nurul.
"Hari ini, lagi izin untuk tidak masuk. Lagi males mau mau kuliahnya." Gerutu Syiffa.
"Beuh, mau sukses gimana dirimu jika kau males begitu haha." Tawa Nurul.
"Tapi enggak tiap hari kali Nur, bolos kuliahnya. Senang banget ya kamu, bila saya tidak sukses hah?" Tanya Syiffa sambil menatap sebal Nurul.
"Iss siapa bilang hah? Lagian aku cuma bercanda kali Syiff. Lagian aku pasti senang kamu sukses dan semua cita citamu tercapai dan aku doakan semuanya lancar dan sukses selalu," ucap Nurul sambil tersenyum kepada Syiffa.
"Iya Nurul, terima kasih." Syiffa sambil memeluk sahabatnya.
"Iya sama sama Syiff," Nurul sambil menguraikan pelukannya.
"Oya Nur, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Syiffa sambil menatap Nurul.
"Tentu saja boleh Syiff, emangnya mau bertanya apa Syiff?" Tanya Nurul.
"Emm, apakah kamu benar hamil?" Tanya Syiffa dengan hati hati.
Deg. Jantung Nurul pun serasa berhenti berdenyut. Dan merasa terkejut dengan pertanyaan Syiffa. Bagaimana bisa Syiffa mengetahui kehamilannya.
"Maksud kamu apa sih Syiff, kenapa kamu bertanya seperti itu. Lagian siapa yang hamil hah? Ngaco kamu kalau bicara." Ucap Nurul sambil menggelengkan kepala dan mencoba biasa saja, seolah olah tidak ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
"Nurul, aku bertanya serius loh. Aku tahu kamu lagi hamilkan? Sekarang kamu jujur sama aku, siapa orang yang sudah merebut kesucianmu Nurul!" Tanya Syiffa.
"Kamu tahu dari siapa kalau aku hamil hah? Emangnya penting ya jika kamu mengetahuinya." Ucap Nurul sambil menatap Syiffa dan sekilas menatap Ariff.
"Tentu saja ini sangat penting bagi aku, karena kamu itu sahabatku. Jadi aku tidak mau melihat sahabatku terluka. Dan aku tahu dari dokter Shinta kalau kamu hamilkan? Apa salahnya sih Nur, kamu jujur saja sama aku hah? Dan siapa Ayah dari bayi tersebut." Tanya Syiffa.
"Maaf Syiffa, saya tidak bisa memberitahumu. Biarkan kehamilan ini saya sendiri yang tahu." Ucap Nurul.
"Kamu tidak boleh berbicara begitu Nurul. Kamu harus mengatakan siapa bayi yang ada didalam kandunganmu Nurul! Kamu jangan membiarkan bayimu lahir tanpa seorang Ayah Nur." Syiffa mencoba membujuk Nurul supaya Nurul mau memberitahu bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Aku tidak bisa memberitahumu Syiff, maaf aku benar benar tidak bisa hiks hiks....." Nurul tiba tiba menangis.
"Kenapa tidak bisa Nurul? Apakah kamu, sudah tidak menganggapku sahabat lagi iya?" Ucap Syiffa tiba tiba meneteskan airmatanya.
"Kamu jangan menangis Syiff, bairkan ini saya yang mengatasi semuanya. Jadi kamu enggak usah dipikirin Syiff." Nurul mencoba agar Syiffa mengerti.
"Tidak bisa Nur, aku begitu sakit hati jika melihatmu seperti ini. Aku mau memberi pelajaran kepada pria brengsek yang sudah menghamilimu Nur. Asalkan kamu kasih tahu, siapa pria tersebut." Ucap Syiffa sambil mengusap airmata Nurul yang terus membasahi pipinya.
Tiba tiba Fattan pun datang menghampiri ruangan, dimana Syiffa, Nurul dan Ariff berada. Dan betapa terkejutnya saat melihat Syiffa dan Nurul meneteskan airmatanya. Lalu dengan segera Fattan pun berjalan menghampiri istrinya dengan amarah yang memuncak.
"Sayang kamu kenapa? Siapa yang sudah membuat istriku menangis hah? Coba katakan, siapa orangnya sayang!" Ucap Fattan dengan emosi dan langsung memeluk istrinya.
"Tidak kak, Syiffa tidak menangis karena disakiti oleh seseorang kok." Ucap Syiffa.
"Kamu jangan bohong sayang. Enggak mungkin kamu menangis, kalau tidak ada orang yang menyakitimu. Sekarang coba kamu katakan siapa yang sudah menyakitimu?" Tanya Fattan sekali lagi.
"Syiffa menangis bukan disakiti seseorang, tapi Syiffa menangis karena melihat Nurul yang sedang hamil tanpa pria tersebut bertanggung jawab kak dengan anak yang ada di kandungan Nurul ." Ucap Syiffa.
"Apa, Nurul hamil?" Tanya Fattan merasa terkejut dan merasa tidak percaya.
__ADS_1