
Flash back off.
Satu bulan sebelumnya.
Ada seorang pria yang kini sedang duduk ditempat ballroom, dengan baju kaos oblong dan celana levis sebawah lutut sedang santai sambil mendengarkan musik di dari laptop.
Asyik nih, kalau lagi libur gini muterin musik dengan keras. Untuk saja Ibu sama Ayah sedang berada diluar kota. Lalu dimana si Luna? Entahlah, itu punya adik susah banget kalau diomongin keras kepala. Ngapain dipikirin mending nikmati saja, hari libur ini dengan memutar musik hoby aku nih ucap Arif pada sendiri lalu merebahkan tubuhnya disofa dan sembari memejamkan matanya.
"Selamat siang kak," ucap Luna sambil menghampiri kakaknya yang kini sedang merebahkah di atas sofa.
Namun Ariff tidak menjawab perkataan Luna. Ariff masih asyik mendengarkan lagu favoritnya dengan mata terpenjam.
"Kak, bangun kak. Ini ada kekasih Luna kesini nih," Luna sambil membangunkan kakaknya yang kini masih asyik mendengarkan lagu.
"Kamu ngapain sih, ganggu kakak mulu. Lagi asyik nih dengerin musik." Gerutu Ariff sambil menatap Luna.
"Ih kak Arif mah salah mulu. Katanya kak Ariff bilang, kalau punya kekasih harus dibawa kerumah untuk dikenalin sama kakak. Nih Luna sudah bawa kekasih Luna nih, buat dikenalin sama kakak." Ucap Luna sambil menatap kakaknya.
Kemudian Ariff pun menatap seorang pria, yang Luna sebut sebagai kekasihnya.
"Jadi dia, pacar kamu?" Tanya Ariff.
"Iya kak. Kenalin kak, namanya Dewa." Ucap Luna sambil memperkenalkan kekasihnya kepada kakaknya.
"Dewa apaan? Dewa cintakah atau Dewa pencabut nyawa haha." Ariff sambil tertawa.
"Iss kakak ini apaan sih, enggak lucu ah malah bercanda." Gerutu Luna sambil menatap sebal Kakaknya.
"Bercanda adikku sayang. Kenalin, saya Ariff kakaknya Luna."
"Maaf ya kak, kedatangan saya menganggu kakak." Ucap Dewa sambil menatap Ariff.
"Tentu saja, kamu itu mengganggu saya. Saya ini lagi asyik santai dengerin musik, tapi kalian malah mengacaukan acara santaiku." Gerutu Ariff sambil menatap Luna dan Dewa.
"Ih kak Ariff, menyebalkan sekali kalau bicara. Kan Luna cuma mau mengenalkan pacar Luna sama kakak jadi tidak bermaksud untuk menganggu kakak." Ucap Luna sambil mencubit pinggang kakaknya.
"Luna.... sakit tahu. Main cubit saja. Lagian kakak cuma bercanda." Ucap Ariff sambil menatap Luna.
"Tapi enggak lucu tahu, bercandanya. Sungguh terlalu." Luna sambil menatap kesal Ariff.
"Jangan marah gitu dong, kan kelihatan enggak cantik lagi tuh. Nanti kekasihmu kabur lagi dan mencari wanita lain." Ucap Ariff sambil menatap Dewa.
"Iss kata siapa kak. Saya orangnya setia nih sama adik kakak, Luna tersayang." Ucap Dewa.
"Emmzz.... bulsit ah. Sudah ah, mending kakak mau pergi dulu." Gerutu Ariff sambil pergi meninggalkan adiknya dengan kekasihnya.
"Kakak mau kemana?" Teriak Luna saat Ariff berjalan menuju keluar.
"Mau pergi ke rumah teman. Dan kalian ingat, jaga batasan kalian. Jangan sampai melakukan yang membuat kakak marah." Ucap Ariff menatap sekilas adiknya lalu pergi meninggalkan Luna dan Dewa.
"Siap kak." Jawab Luna.
Satu jam kemudian.
Kini Ariff pun sudah sampai disebuah cafe. Lalu dengan segera Ariff pun keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju cafe tersebut.
"Hey Bro, tumben kamu kesini hah? Sudah sekian lama tidak pernah kesini lagi." Ucap Rizal sang pemilik cafe tersebut.
"Aku lagi pingin saja kesini. Jenuh, bosen dirumah mulu. Tidak apa apalah main kesini juga." Gerutu Ariff.
"Tentu saja boleh, emangnya siapa yang melarang tidak boleh kesini hah?" Tanya Rizal.
"Tidak ada sih hehe," Ariff cengengesan.
__ADS_1
"Tumben kamu sendirian kesininya, Fattan kemana? Biasanya kalau kesini suka bareng sama Fattan." Ucap Rizal sambil menatap Ariff.
"Sekarang beda lagi, Fattan sudah punya istri. Apalagi sekarang istrinya lagi hamil, manja banget. Mana si Fattan jadi posesif orangnya, nempel mulu sama istrinya." Gerutu Ariff sambil menatap Rijal.
"Ya begitulah rata rata kalau orang yang lagi hamil. Lagian kamu masih betah saja sendiri hah, kapan mau nikahnya? Keburu umurmu sudah tua tuh, nanti keramat ajaibmu tidak tajam lagi dan tidak dapat bikin anak." Bisik Rijal.
"Sial loh. Kalau bicara jangan sembarangan, mentang mentang sudah menikah jadi seenaknya menghina aku." Ariff sambil menatap Rijal.
Hhaha.... "Sory Rif, lagian aku cuma bercanda kok." Ucap Rijal.
"Enggak lucu tahu. Oya ada minuman bir kah disini?" Bisik Ariff.
"Tentu saja, ada kok. Emangnya kenapa?" Tanya Rijal.
"Aku mau bir nya, dua botol." Ucap ariff.
"Apa? Yang benar saja kamu mau minum bir, dua botol." Rijal merasa kaget.
"Sudah jangan banyak bicara. Sekarang bawakan aku bir. Aku pingin mencobanya kembali, setelah sekian lama tidak menikmatinya lagi," ucap Ariff sambil menatap tajam Rijal.
"Baiklah, kalau begitu." Jawab Rizal sambil memerintahkan pegawainya untuk mengambil bir untuk Ariff.
Kemudian pegawai pun tiba tiba datang menghampiri Rijal dan Ariff dengan membawakan dua botol bir.
"Ini pak, birnya." Ucap Tiko sang pegawainya lalu menaruhnya diatas meja.
"Terima kasih," ucap Ariff.
"Sama sama pak." Jawab Tiko sambil berlalu pergi untuk melayani yang lain.
"Riff, kamu yakin mau menghabiskan dua botol bir?" Tanya Rijal.
"Tentu saja. Kamu meremehkanku hah? Lagian aku sengaja, untuk bersenang senang dan menghilangkan kejenuhan." Ucap Ariff.
"Ya sudah, terserah kamu saja deh Rif. Oya aku permisi dulu, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Ucap Rijal.
Kemudian Rijal pun, meninggalkan Arif sendirian. Dan Ariff pun mulai menuangkan birnya ke dalam gelas.
Hingga apa yang dikatan Ariff benar, dia mampu meminum dua botol bir.
"Pelayan?" Teriak Ariff dengan ciri khas orang mabok.
"Iya ada apa pak?" Tanya seorang pelayan menghampiri Ariff.
"Ini uang untuk membayar bir, dan kembaliannya ambil saja." Ucap Ariff sambil berlalu pergi menuju keluar dengan jalan bersempoyongan.
"Terima kasih pak. Apakah pak Arif baik baik saja?" Tanya pegawai tersebut saat melihat Ariff berjalan bersempoyongan.
"Tentu saja baik baik saja kok, tidak perlu dikhawatirkan." Ucap Ariff sambil berjalan meninggalkan cafe tersebut.
Pusing sekali diriku ini, ternyata meminum itu tidak seperti aku bayangkan. Pikirinku jadi tambah kacau gerutu Ariff pada diri sendiri dan sambil berjalan keluar.
Seorang wanita cantik dengan baju berlengan pendek berwarna biru dan celana jeans turun dari motornya. Wanita tersebut seperti biasanya, kalau hari libur pasti suka berkunjung ke cafe tersebut untuk menikmati santainya di dalam cafe itu. Kemudian wanita tersebut segera berjalan menuju cafe. Tapi tiba tiba menghentikan langkahnya, saat mengenal seseorang.
Bukannya itu pak Ariff ya? Dia lagi ngapain disini? Kok jalannya bersempoyongan? Wah gawat, kayaknya pak Ariff mabuk tuh. Harus aku samperin nih pak Arif ucap Nurul pada diri sendiri lalu berjalan menghampiri Ariff.
"Pak Ariff, baik baik sajakan?" Tanya Nurul saat sudah dekat dengan Ariff.
"Tentu saja baik baik saja kok. Kamu siapa?" Tanya Ariff. Karena mata Arif saat melihat Nurul ada bayangan tiga, jadi tidak terlalu kenal.
"Saya Nurul pak, temannya Syiffa." Jawab Nurul.
"Oh iya saya baru ingat." Jawab Ariff.
__ADS_1
Hoek.... hoek.... Ariff pun tiba tiba muntah.
"Iss jorok sekali," gerutu Nurul dengan berbicara pelan.
Bruuukkg..... tiba tiba Ariff pun pingsan.
"Waduh gawat nih? Gimana ini? Kalau aku tinggalin pak Ariff, kasihan sama pak Ariff. Kalau Aku mengantar pulang, enggak tahu dimana rumahnya." Ucap Nurul merasa panik.
Oh iya, aku punya ide. Lihat saja di dalam dompet kan ada alamatnya.
Dengan segera Nurul pun, mengambil dompet, pak Ariff untuk mengambil ktp.
Maaf ya pak, sudah lancang. Habisnya bingung harus gimana gerutu Nurul sambil mengambil ktp Ariff lalu mengembalikan dompetnya ke celana Ariff.
Nurul pun kini sudah dapat Alamat Ariff, kemudian Nurul pun meminta tolong seseorang untuk membantu menaikan Ariff ke atas motornya. Setelah semuanya beres dengan segera Nurul pun, menjalankan motornya menuju Alamat rumah Ariff.
Setengah jam kemudian.
Kini Nurul pun, sudah sampai dikediaman rumah Ariff. Setelah sampai Nurul pun menuntun Ariff berjalan yang masih belum sadar.
"pak satpam?" Teriak Nurul saat melihat pekerja di rumah Ariff.
Lalu dengan segera pak satpam pun, berjalan menghampiri Nurul.
"Loh, kenapa ini Den Ariff?" Tanya Roni sang satpam yang berkerja dirumah Ariff.
"Dia mabuk pak. Sekarang bawa nih majikanmu nih kedalam." Ucap Nurul.
"Baik Neng. Terima kasih sudah mengantarkan Den Ariff." Ucap Roni.
"Iya pak." Jawab Nurul.
Lalu dengan segera Roni membawa majikannya ke dalam.
Semuanya sudah beres nih, waktunya pulang ucap Nurul sambil kembali menghidupkan motornya kembali.
Eh tunggu dulu Nurul! Handphonenya punya pak Ariff belum dikasih? Ucap Nurul baru sadar. Kebetulan tadi ketika pingsan handphone Arif terjatuh. Dengan segera Nurul pun berjalan masuk ke dalam rumah Ariff.
Lumayan bagus juga sih rumahnya. Mewah terus rapi gerutu Nurul saat masuk melihat keseluruh ruangan tersebut. Kemudian Nurul pun berjalan mengikuti pak Roni yang kini sedang menuntun majikannya ke dalam kamar.
"Ini kamarnya pak Ariff pak?" Tanya Nurul saat sudah berada dikamar milik Ariff.
"Iya Neng. Ya sudah, kalau begitu saya permisi." Pamit Roni sambil pergi meninggalkan Nurul sendirian.
Lagian ngapain aku lama lama disini, nanti difitnah sama orang tuh ucap Nurul sambil menyimpan handpone punya Ariff di sampingya. Lalu Nurul pun dengan segera berjalan keluar meninggalkan Ariff. Tapi tiba tiba ada yang menarik tangan Nurul begitu saja.
"Kamu jangan pergi," ucap Ariff yang kini sudah membukakan matanya.
"Eh pak Ariff, sudah sadar ya pak? Syukurlah kalau begitu. Maaf pak saya sudah lancang masuk ke dalam kamar pak Ariff, cuma mau mengembalikan handphone punya kak Ariff kok." Ucap Nurul sambil menatap Ariff.
Tiba tiba Ariff pun beranjak dari kasurnya dan langsung memeluk Nurul.
"Sayang, kamu jangan pergi. Kamu tega sekali mengakhiri hubungan kita. Aku sudah terlanjur cinta sama kamu Fitri." Ucap Ariff.
"Pak lepasin, saya Nurul bukan Fitri." Ucap Nurul.
"Kamu itu Fitri sayang. Aku enggak salah lihat kok." Ariff sambil menguraikan pelukannya lalu menatap Nurul. Karena masih dalam pengaruh alkohol, jadi Nurul seperti bayangan kekasihnya.
"Bukan saya Nurul, temannya Syiffa pak. Pak Ariff sudah-" ucapan Nurul terpotong saat Ariff mencium lembut bibir mungil milik Nurul.
Humpzz... Nurul mencoba memberontak, dan menghempaskan dada bidang Ariff tapi sayangnya gagal. Karena tenaganya tidak sebanding dengan Ariff. Setelah puas mencium Nurul yang disangka Fitri dengan segera Ariff pun menggendong Nurul ke atas ranjang.
Nurul pun semakin ketakutan, saat Ariff mentidurkan dirinya diatas ranjang.
__ADS_1
"Pak jangan, saya ini Nurul bukan Fitri pak hiks hiks. Pak sadarlah." Ucap Nurul mencoba mendorong tubuh Ariff. Sayangnya tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Ariff. Ariff tidak memperdulikan ocehan Nurul. Karena hasratnya sudah memuncak dengan segera Ariff pun membuka satu persatu baju milik Nurul dan dirinya. Sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Nurul.
Flash back on