
Flash back Off
"Selamat Siang Fattan." Ucap Laras tiba tiba masuk kedalam ruangan kerja Fattan saat jam kerja.
"Kamu itu mau ngapain kesini hah?" Tanya Fattan sambil menatap tidak suka Laras.
"Tentunya aku kesini cuma buat kasih makanan untukmu." Jawab Laras.
"Kamu bisa enggak sih sekali saja jangan ganggu saya hah? Apalagi ini jam kerja loh." Ucap Fattan sambil menatap tajam Laras.
"Loh emangnya kenapa kalau ini jam kerja? Lagian tidak ada salahnya dong cuma ngasih makanan doang kok." Laras sambil menatap Fattan.
"Percuma kamu ngasih makanan juga, makanan yang kamu kirim tuh Saya kasih tuh sama Ariff." Ucap Fattan.
"A-apaan kamu bawa bawa saya hah? Lagian kamu sendiri yang memberi makanan tersebut sama Saya, ya sudah saya ambil saja." Gerutu Ariff yang tiba tiba masuk kedalam ruangan Fattan dan mendengar perdebatan mereka.
"Kamu kenapa sih Fattan, bisa tidak menghargai aku sekali saja. Aku cape cape masakin makanan buat kamu loh, tapi kamu malah ngasih sama dia." Ucap Laras sambil menatap Ariff.
"Eh maaf, kayaknya Saya salah masuk ya hehe. Ya sudah saya permisi dulu." Pamit Ariff memilih untuk mencari aman.
"Emangnya siapa suruh kamu masak makanan buat saya hah? Kamu tuh harusnya sadar diri dong. Dan jangan berpikir kalau Saya bakal balik lagi sama kamu. Tidak akan pernah Laraaass!!" Ucap Fattan dengan tegas.
"Saya pikir dengan aku memasak makanan kesukaan kamu bisa sedikit senang dan kembali membuka hatimu untukku." Ucap Laras.
"Kamu jangan mimpi Laras, kamu tuh jadi orang jangan bodoh sehingga kamu seperti orang gila tahu." Sindir Fattan.
"Iya emang, aku bodoh dan gila karena kamu Fattan!! Emang aku akui salah. Dulu aku sudah menghianati kamu Fattan. Aku benar menyesal Fattan." Ucap Laras.
"Aku enggak salah dengarkan kamu bilang menyesal? Kenapa baru nyadar sekarang hah? Dulu kemana saja Laras. Sudahlah aku sudah enggak ada waktu buat berbicara lagi dengan kamu. Sekarang keluar dari ruanganku!" Ucap Fattan sambil menatap tajam Laras.
"Oke, aku akan keluar dari ruangan kamu. Tapi ingat, jika aku tidak bisa memilikimu jangan harap kamu dan Istrimu bahagia Fattan." Ucap Laras sambil tersenyum sinis dan melangkah pergi dari ruangannya. Namun tiba tiba Fattan menahan langkah Laras.
"Maksud kamu, apa bicara begitu hah? Kamu jangan macam macam sama Istriku ya. Jika sesuatu terjadi sama Istriku maka aku tidak akan memaafkanmu Laraaas!!" Bentak Fattan sambil mencengkram lengan Laras.
"Aww.. sakit Fattan. Lepasin enggak tangan aku hah?" Ucap Laras sambil menatap tajam Fattan.
"Aku ingetin lagi sama kamu, jangan sekali kali kamu macam macam sama Istriku!!" Ucap Fattan dengan tegas sambil melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Laras.
"Kamu itu benar benar ya jadi orang. Sakit tahu lenganku." Laras sambil berlalu pergi meninggalkan Fattan. Namun saat melangkah pergi, tiba tiba Laras pingsan.
Buugh.. Suara tubuh terjatuh ke bawah.
Laras? Ucap Fattan merasa terkejut saat melihat Laras tiba tiba terjatuh ke lantai. Lalu Fattan pun segera menghampiri Laras. Dan Fattan sangat terkejut tiba tiba dihidung Laras mengeluarkan darah.
Darah? Bagaimana bisa ini terjadi. Padahal tadi baik baik saja, tidak ada sesuatu yang terluka. Saya harus segera membawa Laras ke ruangan Uks gerutu Fattan pada diri sendiri lalu membawa Laras keruangan Uks.
"Apa yang terjadi dengan Dokter Laras Pak?" Tanya Perawat yang ada di Uks.
"Saya juga tidak tahu, tiba tiba saja Laras pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah." Jawab Fattan sambil menatap Lulu.
Kemudian Lulu pun memeriksa detak jantung Laras. Dan denyut nadi Laras.
"Pak kayaknya Dokter Laras mengalami penyakit serius nih Pak." Ucap Lulu sang perawat.
__ADS_1
"Terus apa yang harus saya lakukan?" Tanya Fattan.
"Pak Fattan harus segera membawa Dokter Laras ke rumah sakit, kayanya Dokter Laras memiliki riwayat penyakit serius dan harus segera ditangani oleh ahlinya." Ucap Lulu.
"Riwayat penyakit serius? Emangnya punya penyakit apa dia, aneh sekali masa seorang Dokter bisa terkena penyakit juga sungguh lucu sekali." Fattan sambil menatap sinis Laras.
"Saya juga enggak tahu Pak Fattan, makanya suruh buat Dokter Laras dibawa ke rumah sakit biar bisa tanyakan sama ahlinya Pak. Lagian Pak, Dokter Laras manusia juga. Enggak semua Dokter sehat terus Pak, pasti ada yang sakit Pak. Apalagi kalau tuhan sudah berkehendak seseorang itu harus memiliki riwayat penyakit yang serius kan tidak ada yang bisa menolak Pak." Ucap Lulu mencoba menjelaskan.
"Sudah ceramahnya?" Tanya Fattan sambil menatap Lulu.
"Ya ampun Pak, Saya bukan maksud menasehati Pak Fattan tapi..-"
"Sudahlah, ayo tolong carikan Satpam untuk membawa Laras ke dalam mobil." Perintah Fattan dan memotong pembicaraan Lulu.
"Ke dalam mobil? Emang mobil apaan Pak?" Tanya Lulu.
"Ke dalam mobil jenazah. Sudah pahamkan." Ucap Fattan.
"Emangnya, Dokter Laras meninggal apa Pak? Tega banget harus dibawa ke dalam mobil jenazah." Gerutu Lulu.
"Sudah jangan banyak protes!! Saya pecat kamu sekarang juga." Ucap Fattan.
"Jangan dong Pak, iya saya akan laksanakan perintah Bapak." Ucap Lulu sambil berjalan keluar dari Uks. Dan segera mencari Satpam.
Aduh, aku bodoh banget sama Pimpinanku. Banyak protes dan malah banyak nanya balik. Untung saja tidak langsung di pecat huh gerutu Lulu sambil mengeluarkan napas kasarnya.
"Pak Ello, Pak Bro, sini." Teriak Lulu.
Lalu kedua Satpam pun berjalan mendekati Lulu.
"Saya disuruh untuk memangil kalian oleh Pak Fattan. Ayo ikutin saya." Jawab Lulu. Lalu Pak Bro dan Pak Ello pun segera mengikuti langkah Lulu.
"Ini Pak, Satpamnya sudah ada." Ucap Lulu.
"Ya sudah, tolong kamu bawakan dia kedalam mobil sekarang juga." Perintah Fattan.
"Baik Pak." jawab Pak Ello dan Pak Bro bersamaan.
"Oya Pak, ngomong ngomong mobil mana ya Pak?" Tanya Pak Ello.
"Mobil ambulan." Jawab Fattan dengan datar.
"Apa mobil ambulan? Yang benar saja Pak." Protes Pak Ello.
"Sudah jangan banyak protes. Segera lakukan perintah Saya." Ucap Fattan.
"Eh Iya baik Pak." Jawab Pak Ello.
Lalu dengan segera Pak Ello dan Pak Bro pun membawa Laras ke dalam mobil ambulans.
Benar benar itu ya Pak Fattan. Sungguh terlalu sekali. Tapi terserah dia saja deh, lagian dia yang punya perusahaan ini ucap Lulu lalu berjalan masuk keruangan Uks.
Satu jam kemudian...
__ADS_1
Kini mobil ambulan yang ditumpangi Laras pun sudah sampai dirumah sakit. Kemudian Pak Ello dan Pak Bro pun dengan segera membawa keluar Laras dan membawa masuk ke dalam rumah sakit.
"Maaf Tuan, harap tunggu dulu diluar biar kami periksa dulu Pasiennya." Ucap Dokter tersebut.
"Baik." Jawab Fattan.
Kini Fattan pun sedang berada diluar sambil menunggu keputusan Dokter yang memeriksa Laras. Sedangkan Pak Bro dan Pak Ello sudah pergi pamit untuk kembali lagi bekerja keperusahaan.
Tiba tiba Dokter yang memeriksa Laras pun keluar dan dengan segera Fattan pun berjalan mendekati Dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi keadaan Dia?" Tanya Fattan kepada Dokter yang tadi memeriksa Laras.
"Apakah Tuan keluarga dari Dokter Laras?" Tanya balik Dokter Auli.
"Bukan Dok, Saya cuma temannya Laras. Kebetulan Laraskan bekerja diperusahaan Saya sekarang." Jawab Fattan.
"Oh cuma teman ya Tuan dan sekarang Dokter Laras bekerja diperusahaan Tuan." Ucap Dokter Auli. Sebenarnya Laras dibawa ke rumah sakit dimana Laras dulu bekerja sebagai Dokter disini. Makanya para Dokter dan perawat pun tahu terhadap Laras.
"Iya Dok. Gimana keadaan Laras sekarang Dok? Dan sebenarnya apa yang terjadi dengan Laras?" Tanya Fattan.
"Sekarang Laras sudah baik baik saja kok. Sebenarnya Laras terkena penyakir kanker otak." Jawab Doktee Auli.
"Apa kanker otak?" Tanya Fattan merasa terkejut dengan ucapan Dokter Auli.
"Iya benar Tuan Fattan. Makanya mungkin ada sedikit kemungkinan Dokter Laras bisa hidup. Mungkin hanya orang orang yang Dokter Laras cintai yang bisa membuat beliau semangat untuk mempunyai keinginan untuk sembuh dan bertahan hidup." Ucap Dokter Auli.
"Oh begitu ya Dokter. Terima kasih atas informasinya." Ucap Fattan sambil tersenyum terhadap Dokter Auli.
"Ya sudah, kalau begitu Saya permisi Tuan." Pamit Dokter Auli.
"Iya silahkan." Jawab Fattan.
Lalu dengan perlahan lahan, Fattan pun membuka pintu ruangan dimana Laras dirawat. Kemudian masuk ke dalam.
"Kamu mau ngapain kesini hah? Jangan mentang mentang kamu sudah tahu penyakit Saya, kamu mau menghina saya, bukankah begitu hah?" Ucap Laras sambil menatap tajam Fattan.
"Kamu kalau bicara jangan sembarangan Laras. Seharusnya kamu berterima kasih sama saya yang telah membawa kamu kesini. Kalau tidak mungkin tidak tahu apa yang terjadi." Ucap Fattan yang kini berjalan mendekati Laras.
"Lagian biarkan saja saya mati Fattan. Aku sudah bosan hidup. Percuma saja saya hidup hanya membawa penyakit yang membuat orang membenciku." Ucap Laras.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu Laras. Ingat masih ada orang orang yang sangat mencintaimu dan menyayangimu yaitu keluargamu." Ucap Fattan.
"Iya itu sudah pasti Fattan. Tapi yang aku inginkan kamu Fattan. Kamulah yang bisa membuat hidupku lebih semangat lagi." Ucap Laras.
"Maaf aku tidak bisa Laras. Kamu sendiri sudah tahu sekarang hatiku sudah menjadi milik Istriku." Ucap Fattan.
"Iya aku ngerti. Tapi aku mohon sama kamu Fattan, izinkanlah aku selalu ada disisimu dan menghabiskan sisa sisa hidup terakhirku denganmu Fattan. Anggap saja kita sebagai Adik Kakak. Aku butuh seseorang yang bisa membuat hidupku lebih berarti dan semangat untuk sembuh." Ucap Laras.
Lalu Fattan pun hanya diam saja dan menatap Laras dengan tatapan yang susah di artikan.
"Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai adikku. Dan akan selalu ada untuk menyemangati Adikku ini. Cepat sembuh ya dan kamu pasti kamu sembuh kok." Ucap Fattan.
"Baiklah Kak." Jawab Laras.
__ADS_1
Inilah alasannya kenapa Fattan bersedia untuk menemani Laras. Bukan berarti Fattan sudah membuka hatinya untuk Laras tapi Fattan sudah menganggap Laras seperti adiknya dan Fattan pun hanya ingin memberikan semangat terhadap Laras supaya dia mempunyai keinginan untuk sembuh dan sehat kembali. Berbeda dengan Laras yang ternyata hanya memanfaatkan Fattan.
Flach back on